BERSIKAP OBYEKTIF

November 27, 2014 at 3:56 pm | Posted in Nasehat | Leave a comment

BERSIKAP OBYEKTIF

 

Wahai ikhwah yang mulia, salah satu sifat terbaik yang dimiliki oleh seorang Mukmin adalah al-Inshof (sikap obyektif). Al-Inshof adalah keadilan, bersikap obyektif dan adil adalah satu-kesatuan. demikian kalimat pembuka artikel al-Inshof yang ditulis oleh asy-Syaikh DR. Muhammad Rotib an-Nablusi dalam webiste beliau http://www.nabulsi.com.

Rabbunaa Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum Mukminin agar mereka bersikap adil, bahkan kepada orang-orang yang ia benci, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al Maidah : 8).

Imam Ibnu Katsiir dalam Tafsirnya mengomentari Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” dengan perkataanya :

لَا يَحْمِلْنَكُمْ بُغْض قَوْمٍ عَلَى تَرْكِ الْعَدْلِ فِيهِمْ، بَلِ اسْتَعْمِلُوا الْعَدْلَ فِي كُلِّ أَحَدٍ، صَدِيقًا كَانَ أَوْ عَدُوًّا

Janganlah kalian terbawa karena kebencian kepada suatu kaum, sehingga kalian rela meninggalkan sikap adil kepada mereka, namun hendaknya kalian tetap berlaku adil pada siapapun baik kepada kawan maupun lawan.

Imam Abu Nu’aim dalam Hilyaatul Aulia (7/291) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan bin ‘Uyyainah bahwa beliau berkata :

«سُئِلَ عَلِيٌّ، عَنْ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» {§إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ} [النحل: 90] قَالَ: الْعَدْلُ: الْإِنْصَافُ

Ali rodhiyallahu anhu pernah ditanya tentang firman Allah Azza wa Jalla : {Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan} (QS. An Nahl : 90), maka beliau rodhiyallahu anhu berkomentar : “keadilan adalah al-Inshof (bersikap obyektif)”.

Namun terkadang kecintaan yang berlebihan sehingga menimbulkan fanatisme atau kultus individu menyebabkan seorang tidak bisa berlaku adil kepada orang yang ia cintai atau sukai, ia tidak bisa melihat kesalahan orang yang ia cintai sebagai sebuah kesalahan, sehingga ia menolaknya dan bahwa tidak sering ia membabi-buta dalam membela kesalahannya, dengan harapan agar orang yang ia cintai, ditampilkan tanpa cela.

Begitu juga sebaliknya, terkadang kebencian yang berlebihan kepada seseorang menyebabkan ia melihat kebaikan orang yang ia benci, tetap sebagai sebuah kesalahan, sehingga barangkali ia memaksakan dirinya untuk menutupi atau memalingkan kebaikan orang tersebut kepada kejelakan, dengan harapan agar orang yang ia benci, ditampilkan penuh dengan borok dan cacat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (11/15-Cet. Daarul Wafaa’) berkata :

وَكَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ إذَا عَلِمَ مِنْ الرَّجُلِ مَا يُحِبُّهُ أَحَبَّ الرَّجُلَ مُطْلَقًا وَأَعْرَضَ عَنْ سَيِّئَاتِهِ وَإِذَا عَلِمَ مِنْهُ مَا يُبْغِضُهُ أَبْغَضَهُ مُطْلَقًا وَأَعْرَضَ عَنْ حَسَنَاتِهِ

Kebanyakan manusia jika mengenal seseorang dengan apa yang dicintainya yangmana kecintaannya secara mutlak, maka ia akan menolak kesalahan-kesalahan dari orang tersebut, begitu juga jika ia mengenal seseorang dengan apa yang dibencinya yang mana kebenciannya secara mutlak, maka ia akan menolak kebaikkan-kebaikkannya.

Sebagaimana yang disampaikan di awal bahwa sikap obyektif adalah sifat yang dimiliki oleh seorang mukmin, yang seharusnya seorang yang mengaku sebagai ahlu sunnah memiliki sikap ini, maka hal ini menunjukkan bahwa sikap tidak obyektif atau tidak fair adalah sifatnya orang kafir atau ahli bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Mihajus Sunnah (4/183) berkata :

والكلام في الناس يجب أن يكون بعلم وعدل ،لا بجهل وظلم ، كحال أهل البدع

Mengomentari seseorang itu wajib butuh kepada ilmu dan sikap adil, bukan dengan kebodohan dan kedholiman, sebagaimana kondisinya ahlu bid’ah.

Alangkah bagusnya ucapan Imam adz-Dzahabi dalam Siyaar A’lamin Nubalaa’ (14/376), kata beliau :

ولو أن كل من أخطأ في اجتهاده – مع صحة إيمانه وتوخيه لإتباع الحق – أهدرناه وبدعناه، لقل من يسلم من الأئمة معنا، رحم الله الجميع بمنه وكرمه

Seandainya setiap orang yang keliru dalam ijtihadnya –bersama dengan kebenaran keimanan dan kesungguhannya dalam mengikuti kebenaran-, kemudian kita tahdir dan kita ahlu bid’ah-kan, niscaya akan sedikit sekali para Aimah yang selamat dari tahdir dan peng-ahlu bid’ah-an kita. Semoga Allah merahmati para Aimah semuanya dengan karunia dan kemulian-Nya. (dinukil via http://abou-abdalaziz.blogspot.com/2013/11/blog-post_1643.html)

Dan anehnya, sekalipun sikap obyektif ini adalah suatu sifat standar yang harus dimiliki oleh seorang mukmin atau ahlu sunnah, namun kenyataannya sangat sedikit orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai ahlus sunnah untuk bersikap obyektif. Kemudian ternyata ini tidak hanya dikeluhkan pada zaman penuh fitnah sekarang ini, namun ternyata ini sudah disounding oleh para salaf kita, setidaknya Imam Malik pernah berkata, sebagaimana dinukil dalam kitab ath-Thuyuuriyaat (3/982) karya Imam Abu Thohir as-Silafiy dengan sanadnya sampai kepada Imam Malik bahwa beliau berkata :

لَيْسَ فِي النَّاسِ شَيْءٌ أَقَلُّ مِنَ اْلإِنْصَافِ

Tidak ada pada manusia (zaman ini) sesuatu yang lebih sedikit daripada sikap obyektif (pentahqiq kitab mengatakan para perowinya tsiqot, kecuali ada salah satu perowi yang pentahqiq belum menemukan biografinya).

Dalam lafadz lain yang terdapat di kitab karya Imam Ibnu Abdil Barr yakni Jaamiuil Bayaan, dinukil bahwa Imam Malik bin Anas berkata :

مَا فِي زَمَانِنَا شَيْءٌ أَقَلُّ مِنَ الْإِنْصَافِ

Tidak ada pada zaman kita sekarang ini, sesuatu yang sangat sedikit/jarang daripada sikap obyektif –selesai-.

Lihat bagaimana Imam Malik menyampaikan kepada orang-orang pada zamannya, bahwa sikap obyektik telah menjadi barang langka, maka bagaimana lagi jika Imam Malik hidup pada zaman ini, bisa jadi mungkin beliau mengatakan bahwa sikap obyektif telah punah, hanya tinggal namanya saja, tanpa ada realisasinya.

Namun bukan berarti ketika kebanyakan manusia, sekalipun itu adalah mereka yang menisbatkan dirinya kepada sunnah, tidak bisa bersikap obyektif, lantas hal ini menyebabkan kita latah mengikuti mereka. Seharusnya diri kita tidak bergeming untuk tetap senantiasa bersikap obyektif. Imam al-Jauzajaaniy dalam Ahwaalur Rijaal (h. 397) berkata :

إن الإنصاف خلة يجب استعمالها وإن كانت قليلة في الناس

Sesungguhnya sikap obyektif adalah suatu kebutuhan yang wajib direalisasikan, sekalipun sangat sedikit manusia yang merealisasikan.

Imam Ahmad dalam Taarikh Baghdaad (6/237) pernah berkata :

ما أحسن الإنصاف في كل شيء

Alangkah bagusnya sikap obyektif pada segala sesuatu.

(dinukil dari : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=301406)

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: