TAFSIR QS. AL HADIID AYAT 16

December 7, 2014 at 7:43 am | Posted in Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim | Leave a comment

1 – بَابٌ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ} [الحديد: 16]

Bab 1 Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : {Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah } (QS. Al Hadiid : 16)

 

Imam Muslim berkata :

24 – (3027) حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” مَا كَانَ بَيْنَ إِسْلَامِنَا وَبَيْنَ أَنْ عَاتَبَنَا اللهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ: {أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ} [الحديد: 16] إِلَّا أَرْبَعُ سِنِينَ “

24). Hadits no. 3027

Haddatsani Yunus bin Abdul A’laa ash-Shodafiy, akhbaronaa Abdullah bin Wahab, akhbaroni ‘Amr bin al-Haarits dari Sa’id bin Abi Hilaal dari ‘Aun bin Abdillah dari Bapaknya bahwa ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu berkata : “jarak waktu antara keislaman kami dengan peringatan Allah kepada kami dalam ayat ini : {Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah} (QS. Al Hadiid : 16) adalah selama 4 tahun.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Syaikh Abdul Karim Yunus al-Khothiib dalam kitabnya Tafsirul Qur’an lil Qur’an, setelah menyebutkan bahwa jumhur ulama memahami khithob (obyek) dalam ayat tersebut adalah bagi kaum mukminin. Namun beliau memiliki pendapat yang berbeda, kata beliau :

والذي ينظر فى الآية الكريمة، وفى سياقها مع ما سبقها من آيات، يجد أنها خطاب تهديدىّ لهؤلاء المنافقين الذين كانو يعيشون فى مجتمع المؤمنين ويحسبون منهم..

Bagi yang memperhatikan ayat yang mulia ini dan konteks kalimatnya bersama ayat sebelumnya, maka didapati bahwa obyek ayat ini adalah sindiran tajam kepada mereka kaum munafiqiin yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, dengan persangkaan bahwa orang-orang munafik tersebut merupakan bagian dari kaum Muslimin…

Kami setuju dengan pendapat asy-Syaikh, ketika melihat keterkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya dan ini juga pendapatnya Imamul Mufasiriin Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Jauzi dalam Tafsirnya. Kemudian berikut ayat-ayat sebelumnya :

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آَمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14) فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (15)

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali (QS. Al Hadiid : 13-15).

  1. Namun tidak ada salahnya bagi seorang Mukmin untuk intropeksi diri, jangan sampai seiring bertambahnya waktu, keistiqomahan pada dirinya juga semakin pudar. Oleh karenanya ketika turun ayat 112 surat Hud :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkomentar :

شَيَّبَتْنِي هُود وَأَخَوَاتهَا

Surat Hud dan sejenisinya telah membuat rambutku beruban.

Hadits ini dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Ahaadits ash-Shahihah (no. 955).

  1. Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الْخُشُوعُ

Sesungguhnya yang pertama kali diangkat dari dada manusia adalah rasa khusyu’.

Syaikh Saamiy bin Muhammad Salamah, pentahqiq kitab Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan takhrij hadits diatas :

رواه الطبري في تفسيره (27/131) ووصله الطبراني في المعجم الكبير (7/295) فرواه من طريق عمران القطان، عن قتادة، عن الحسن، عن شداد بن أوس مرفوعًا به، وعمران القطان متكلم فيه

Diriwayatkan oleh Thabariy dalam Tafsirnya (27/113), lalu disambungkan sanadnya oleh Thabrani dalam Mu’jam al-Kabiir (7/295) dari jalan ‘Imroon al-Qothoon dari Qotadah dari al-Hasan (al-Bashri) dari Syadaad bin Aus secara marfu’. Namun ‘Imroon al-Qothoon diperbincangkan oleh para ulama –selesai-.

Lalu saya mendapatkan mutaba’ah untuk ‘Imroon ini dari Sa’id bin Basyiir yang dinilai shoduq oleh Imam adz-Dzahabi setelah beliau mempertimbangkan jarh dan ta’dil kepadanya. Riwayatnya ditulis juga oleh Imam Thabrani dalam Musnad asy-Syaamiyyiin (no. 2397) dari jalan Sa’id bin Basyiir dari Qotadah dari al-Hasan dari Syadaad rodhiyallahu anhu secara marfu’. Namun sekalipun sudah mendapatkan mutaba’ah, tidak lantas hadits ini naik derajatnya, karena masih tersisa cacat, yaitu al-Hasan tidak pernah mendengar dari Syadaad rodhiyallahu anhu, apalagi beliau dikenal sebagai seorang mudallis, sehingga ini termasuk hadits munqothi’.

Kemudian saya mendapatkan lagi riwayat ini dalam kitab az-Zuhud wa Roqoiq (no. 175) karya Imam Ibnul Mubarok dari jalan Jariir bin Khaazim (perowi tsiqoh) bahwa ia mendengar Abu Yazid al-Madaniy berkata, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al-Hadits”.

Hadits ini mursal karena Abu Yaziid seorang Tabi’i, syaikh Shoolih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam catatan kakinya terhadap kitab Irwaul Gholil,  berkata :

ولكنى لم أجد فى الصحابة أبا زيد المدنى , وإنما يعرف من التابعين أبو يزيد المدنى روى له البخارى والنسائى , روى عنه أيوب , وثقه يحيى بن معين وأحمد.

Namun aku tidak mendapati sahabat yang bernama Abu Zaid al-Madaniy, hanyalah yang diketahui dari kalangan Tabi’in yang bernama Abu Yazid al-Madaniy, haditsnya diambil oleh Bukhori dan Nasa’i, Ayyub meriwayatkan darinya, ditsiqohkan oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad.

Semoga dengan adanya penguat dari hadits mursal ini, menyebabkan hadits dalam bab ini naik menjadi hasan lighoirihi –Wallahu A’lam-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: