TAFSIR QS. AN NUUR AYAT 33

December 8, 2014 at 3:39 pm | Posted in Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim | Leave a comment

3 – بَابٌ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ} [النور: 33]

Bab 3 Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : {Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran} (QS. An Nuur : 33)

 

Imam Muslim berkata :

26 – (3029) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، جَمِيعًا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ – وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ – حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: ” كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ يَقُولُ لِجَارِيَةٍ لَهُ: اذْهَبِي فَابْغِينَا شَيْئًا، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ} [النور: 33] لَهُنَّ {غَفُورٌ رَحِيمٌ} [البقرة: 173] “

26). Hadits no. 3029

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuroib semuanya dari Abi Mu’awiyyah –lafadz hadits milik Abu Kuroib-, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah, haddatsanaa al-A’masy dari Abi Sufyaan dari Jaabir rodhiyallahu anhu beliau berkata : “adalah Abdullah bin Ubay bin Saluul pernah berkata kepada budak perempuannya : ‘pergilah engkau melacur yang hasilnya untuk kami’. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menurunkan ayat : {Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu} (QS. An Nuur : 33) sampai {Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (QS. Al Baqoroh : 173).

 

Imam Muslim berkata :

27 – (3029) وحَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، ” أَنَّ جَارِيَةً لِعَبْدِ اللهِ بْنِ أُبَيٍّ ابْنِ سَلُولَ يُقَالُ لَهَا: مُسَيْكَةُ، وَأُخْرَى يُقَالُ لَهَا: أُمَيْمَةُ، فَكَانَ يُكْرِهُهُمَا عَلَى الزِّنَا، فَشَكَتَا ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَنْزَلَ اللهُ: {وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ} [النور: 33] إِلَى قَوْلِهِ: {غَفُورٌ رَحِيمٌ} [البقرة: 173] “

27). Hadits no. 3029

Haddatsani Abu Kaamil al-Jahdariy, haddatsanaa Abu ‘Awaanah dari al-A’masy dari Abi Sufyaan dari Jaabir rodhiyallahu anhu : “bahwa budak perempuan milik Abdullah bin Ubay bin Saluul yang bernama Musaikah dan satunya lagi bernama Umaimah, mereka berdua tidak senang berzina, lalu keduanya pun mengadu kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu Allah menurunkan ayat : {Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu} (QS. An Nuur : 33) sampai {Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (QS. Al Baqoroh : 173).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyebutkan kondisi bangsa arab dulu terkait dengan ayat ini, kata beliau :

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا كَانَ لِأَحَدِهِمْ أَمَةٌ، أَرْسَلَهَا تَزْنِي، وَجَعَلَ عَلَيْهَا ضَرِيبَةً يَأْخُذُهَا مِنْهَا كُلَّ وَقْتٍ. فَلَمَّا جَاءَ الْإِسْلَامُ، نَهَى اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ  عَنْ ذَلِكَ

Dahulu orang arab jahiliyyah, jika mereka memiliki budak perempuan, ia menyuruhnya untuk melacur, lalu mengambil bagian upah dari melacurnya setiap waktu. Maka ketika datang Islam, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa melarang kaum Muslimin melakukan hal tersebut.

  1. Ayat ini dan hadits kisah asbabun nuzulnya menjelaskan kepada kita kebejatan tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Saluul.
  2. Hadits diatas memberikan faedah diharamkannya memakan harta dari upah pelacur dan hal ini dipertegas lagi dengan hadits yang dikeluarkan oleh Syaikhon dari Abu Mas’ud rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang untuk mengambil harga anjing, upah pelacur dan upahnya dukun.

  1. Pada zaman jahiliyyah dulu yang menjadi pelajur adalah budak-budak, oleh karenanya ketika Hindun bin ‘Utbah rodhiyallahu anha, istri Abu Sufyaan rodhiyallahu anhu, setelah penaklukkan Mekkah berbait kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersama para wanita lainnya. Maka ketika Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyebutkan salah satu klausal baitnya agar para wanita jangan berzina, Hindun rodhiyallahu anha nyelutuk keheranan denlausal baitnya agar para wanita jangan berzina, Hindun raa a pertegas lagi dengan hadits yang dikeluarkagan berkata :

أَوَ تَزْنِي الْحُرَّةُ ؟

Apakah wanita merdeka ada yang berzina?

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shohabat (no. 7225), namun didalam sanadnya ada perowi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin Urwah, dinilai matruk oleh Al Hafidz dalam at-Talkhiis, sebagaimana dinukil oleh Imam Al Albani. Kemudian dalam Lisanul Mizan, Al Hafidz menukil pe-matruk-kannya dari Imam Abu Hatim.

Hadits ini terdapat juga dari jalan lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ya’laa dalam al-Musnad (no. 4631) dari jalan Ghibthoh Ummu ‘Amr dari bibinya dari neneknya dari Aisyah rodhiyallahu anha. Imam Al Albani dalam kitab ats-Tsamaarul Mutathoob (haddatsanaal. 311) telah menghasankan hadits Abu Dawud yang berisi silsilah perowi diatas, kata beliau :

وهذا حديث حسن أخرجه أبو داود في (السنن): ثنا مسلم بن إبراهيم: ثتني غبطة بنت عمرو المجاشيعة قالت: ثتني عمتي أم الحسن عن جدتها عنها

وهذا سند مسلسل بالمجهولات من النساء لكن قال الذهبي في (الميزان): (فضل في النسوة المجهولات: وما علمت في النساء من اتهمت ولا من تركوها)

Hadits ini hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya : haddatsanaa Muslim bin Ibrohim, haddatsani Ghibthoh bintu ‘ Amr al-Majaasyii’ ah ia berkata, haddatsani bibiku Ummul Hasan dari nenekku dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha.

Sanad ini rantai periwayatan majhul dari kalangan wanita, namun adz-Dzahabi berkata dalam al-Miizan : keeutamaan tentang perowi wanita yang majhul : aku tidak mengetahui ada perowi dari kalangan wanita yang tertuduh pendusta dan mereka yang ditinggalkan haditsnya.

Sehingga berdasarkan kaedah dari Imam Al Albani, kami condong mengatakan riwayat Hindun Rodhiyallahu ‘anha, bersanad Hasan –wallahu A’lam-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: