TAFSIR QS. AN NAJM AYAT 62

December 25, 2014 at 8:12 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH

 

Ayat berikut yang menjadi tempat sujud tilawah adalah ayat 62 dari surat An Najm, yakni Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Para ulama berselisih pendapat apakah ayat diatas merupakan tempat sujud tilawah atau bukan?, Imam Qurthubi dalam Tafsirnya berkata :

قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا) قِيلَ: الْمُرَادُ بِهِ سُجُودُ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ. وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ.

Firman-Nya Subhaanahu wa Ta’aalaa : { Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)}, dikatakan yang dimaksud adalah sujud tilaawah al-Qur’an, ini adalah pendapatnya Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu dan juga pendapatnya Abu Hanifah dan Syafi’i.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya dan selainnya dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، وَسَجَدَ مَعَهُ المُسْلِمُونَ وَالمُشْرِكُونَ وَالجِنُّ وَالإِنْسُ

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam sujud pada saat melewati surat An Najm, lalu ikut sujud bersama beliau kaum Muslimin, Musryikin, Jin dan manusia.

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu, masih dari kitab yang sama, beliau berkata :

أَوَّلُ سُورَةٍ أُنْزِلَتْ فِيهَا سَجْدَةٌ وَالنَّجْمِ، قَالَ: فَسَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَجَدَ مَنْ خَلْفَهُ إِلَّا رَجُلًا رَأَيْتُهُ أَخَذَ كَفًّا مِنْ تُرَابٍ فَسَجَدَ عَلَيْهِ “، فَرَأَيْتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ قُتِلَ كَافِرًا، وَهُوَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ

Awal pertamakali surat yang diturunkan yang terdapat didalamnya sujud adalah surat An Najm. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah sujud (ketika membacanya) dan orang-orang yang dibelakang Beliau, juga ikut sujud, kecuali satu orang yang aku melihatnya mengambil satu genggam tanah, lalu sujud diatasnya. Kemudian setelah beberapa waktu aku melihatnya sebagai seorang yang terbunuh dalam keadaan kafir, yaitu Umayyah bin Kholaf.

Imam ibnu Bathol dalam Syarah Bukhori  menyebutkan pendapat kelompok ulama lain yang mengatakan tidak ada sujud tilawah pada surat An Najm, beliau berkata :

وقالت طائفة: لا سجود فى النجم ولا فى المفصل، روى ذلك عن عمر بن الخطاب، وأبى بن كعب، وابن عباس، وأنس، وعن سعيد بن المسيب، والحسن، وعطاء، وطاوس، ومجاهد، وقال يحيى بن سعيد: أدركت القراء لا يسجدون فى شىء من المفصل، وهو قول مالك،

Sekelompok ulama berkata, tidak ada sujud pada surat An Naj, juga surat-surat al-Mufashol, diriwayatkan pendapat ini dari Umar bin Khothob, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Anas rodhiyallahu anhum, Said ibnul Musayyib, al-Hasan, ‘Athoo’, Thawus, Mujahid, dan Yahya bin Sa’id berkata : ‘aku mendapati para ahli Al Qur’an tidak melakukan sujud apapun ketika melewati surat al-Mufashol. Ini juga pendapatnya Malik.

Dalil mereka adalah riwayat Imam Bukhori-Muslim dalam masing-masing kitab shahihnya dari Zaid bin Tsaabit rodhiyallahu anhu beliau berkata :

قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّجْمِ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا

Ana membaca dihadapan Nabi sholallahu alaihi wa salam surat An Najm, maka Beliau tdak sujud padanya.

Barangkali pendapat yang rajih adalah pendapat yang menyatakan adanya sujud tilawah pada akhir surat An Najm, dengan alasan yang disebutkan oleh penulis kitab ‘Aunul Maubud syarah Sunan Abi Dawud  ketika menjawab dalil yang dibawakan oleh kelompok kedua, kata beliau :

أُجِيبَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ تَرْكَهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلسُّجُودِ فِي هَذِهِ الْحَالَة لَا يَدُلُّ عَلَى تَرْكِهِ مُطْلَقًا لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ السَّبَبُ فِي التَّرْكِ إِذْ ذَاكَ إِمَّا لِكَوْنِهِ كَانَ بِلَا وُضُوءٍ ، أَوْ لِكَوْنِ الْوَقْت كَانَ وَقْتَ كَرَاهَةٍ ، أَوْ لِكَوْنِ الْقَارِئِ لَمْ يَسْجُدْ ، أَوْ كَانَ التَّرْك لِبَيَانِ الْجَوَازِ

Dijawab bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam meninggalkan sujud pada waktu itu, hal ini tidak lantas menunjukkan untuk tidak sujud secara mutlak, karena ada beberapa kemungkinan tentang hal ini, bisa jadi Beliau tidak sujud karena tidak dalam kondisi wudhu, atau karena itu adalah waktu terlarang untuk sujud, atau karena (Zaid rodhiyallahu anhu) yang membaca surat ini tidak sujud, atau hal ini sebagai pengajaran bahwa meninggalkan sujud tilawah adalah hal yang diperbolehkan.

Kemudian di akhir pembahasan Shohib Aunul Maubud,  menukil sebuah hadits yang menguatkan pendapat disyariatkannya sujud tilawah pada penutup surat An Najm, kata beliau :

وَرَوَى اِبْن مَرْدَوَيْهِ بِإِسْنَادٍ حَسَّنَهُ الْحَافِظُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة أَنَّهُ سَجَدَ فِي خَاتِمَةِ النَّجْمِ فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُ رَأَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ فِيهَا ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَة إِنَّمَا أَسْلَمَ سَنَةَ سَبْعٍ مِنْ الْهِجْرَة

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dengan sanad yang dihasankan oleh Al Hafidz dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa beliau sujud di akhir surat An Najm, maka beliau ditanya tentang hal itu, kemudian beliau menjawab :

Ana melihat Nabi sholallahu alaihi wa salam sujud padanya.

Telah berlalu bahwa Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu masuk Islam setelah tahun ke-7 dari hijrahnya Nabi sholallahu alaihi wa salam.

 

 

Tafsir ayat 62 surat An Najm

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

 

Makna ayat ini :

Sebagian mufasirin menyebutkan sebuah kisah yang dikenal dengan nama kisah ghoronik yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih fatwanya (no. 22950 tanggal 21 Rajab 1423) ketika ditanya tentang apa yang dimaksud dengan kisah ghoronik, kata beliau :

فأصل القصة كما يذكرها بعض المفسرين أن النبي صلى الله عليه وسلم لما شق عليه إعراض قومه عنه تمنى ألا ينزل عليه شيء ينفرهم عنه لحرصه على إيمانهم، فكان ذات يوم جالسا في ناد من أنديتهم، وقد نزل عليه سورة: والنجم إذا هوى. فأخذ يقرأها عليهم حتى بلغ قوله تعالى: أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى* وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى [لنجم].

وكان ذلك التمني في نفسه فجرى على لسانه بما ألقاه الشيطان عليه.. تلك الغرانيق العلى وإن شفاعتهن لترجى. فلما سمعت قريش ذلك فرحوا ومضى رسول الله صلى الله عليه وسلم في قراءته حتى ختم السورة، فلما سجد في آخرها سجد معه جميع من في النادي من المسلمين والمشركين فتفرقت قريش مسرورين بذلك وقالوا: ذكر محمد آلهتنا بأحسن الذكر. فأتاه جبريل فقال: ما صنعت تلوت على الناس ما لم آتك به عن الله! فحزن رسول الله صلى الله عليه وسلم وخاف خوفاً شديداً فأنزل الله عليه: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [الحج:52].

Asal kisah sebagaimana disebutkan oleh sebagian mufasirin bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam ketika merasa berat ditinggal oleh kaumnya, Beliau berharap agar tidak ditimpakan sesuatu (adzab) apapun kepada mereka, karena berpaling dari keimanan. Pada suatu hari Beliau sholallahu alaihi wa salam duduk di tempat yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan Musyrikin Quraisy. Pada saat itu turun juga surat : {Demi bintang ketika terbenam}, Beliau terus membaca surat yang turun, sampai kepada ayat : {Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?}.

Karena terbawa sugesti keinginan Beliau yang mendalam agar mereka mau beriman, Nabi sholallahu alaihi wa salam sempat terpeleset lidahnya dengan sesuatu yang dibisikkan setan kepadanya, sehingga tanpa disadari Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “itu adalah al-Ghorooniik yang pertama dan syafaat mereka sangat diharapkan. Maka ketika orang-orang Quraisy mendengar hal itu mereka sangat senang sekali, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tetap membaca surat ini (tanpa menyadari adanya kekeliruan-pent.) sampai akhir surat, ketika Beliau sujud di akhirnya, maka semua orang yang bersamanya yang ada di tempat pertemuan tersebut baik dari kalangan kaum Muslimin, maupun Musyrikin ikut sujud. Orang-orang Quraisy bubar setelah itu dalam keadaan senang, sambil berkata : ‘Muhammad telah menyebutkan tuhan-tuhan kita dengan penyebutan yang sangat baik. Kemudian Jibril alaihi salam mendatangi Beliau dan berkata : “apa yang telah engkau lakukan, engkau membacakan kepada manusia apa yang tidak aku bacakan dan juga tidak dari Allah?. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pun bersedih sangat ketakutan, lalu turunlah ayat : {Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana} (QS. Al Hajj : 52).

Namun para ulama mengatakan kisah ini sangat batil dan sangat diduga merupakan pemalsuan yang dilakukan oleh kaum Zindik untuk memberikan keragu-raguan bahwa Al Qur’an yang disampaikan melalui lisan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ada potensi terjadi kesalahan yang merupakan sisipan dari setan atau pemikiran pribadi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Bagaimana tidak, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa mengatakan sendiri bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam tidaklah berbicara dari hawa nafsunya :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya (QS. An Najm : 3).

Allah sendiri langsung mengancam dengan keras, apabila Nabi sholallahu alaihi wa salam membuat-buat Al Qur’an dari diri pribadinya :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ* لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ* ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya (QS. Al Haqqoh : 44-46).

Disamping itu juga dari sisi riwayat-riwayat haditsnya baik dari sisi sanad maupun matannya, sangat bermasalah. Barangkali diantara ulama yang terbaik yang menulis perihal kepalsuan kisah ini ini adalah Imam Al Albani dalam sebuah kitab yang beliau beri judul Nashbul Majaanik li Nisfi Qishotil Ghorooniik.

Kemudian mungkin tersisi pertanyaan di benak kita, bahwa telah tsabit riwayat kaum Musyrikin ikut sujud bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam, sebagaimana kami sebutkan diatas, jika bersujud bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam bukan kebiasaan mereka, dan alasan sujudnya sebagaimana disebutkan dalam kisah Ghorooniik diatas juga tidak shahih, lantas apa sebab sebenarnya yang mendorong mereka untuk sujud?, jawabannya dapat ditemukan di kitab Imam Al Albani tadi, beliau menulis :

Jawabannya apa yang dikatakan oleh peneliti yang bernama Imam Al Aluusiy setelah menyebutkan ucapan yang kami nukilkan tadi :

‘tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan bahwa sujudnya musyrikun menunjukkan bahwa dalam surat ini ada sesuatu yang jelas menunjukkan pujian kepada mereka, jika tidak lalu kenapa mereka sujud?, karena kita katakan bisa jadi mereka sujud karena dahsyatnya apa yang menimpa perasaan mereka dan ketakukan yang sangat ketika mendengar Firman yang dibacakan : {dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),  dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,  dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. air mani, apabila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan, dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra. dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama } (QS. An Najm 40-50).

Mereka merasa turun persis seperti kondisi mereka, mungkin mereka belum pernah mendengar sebelum itu, sesuatu yang seperti ini dari Nabi sholallahu alaihi wa salam. Beliau menegakkan perintah Rabbnya untuk mengingatkan seluruh manusia, sehingga musyrikin menyangka termasuk urutan perintah adalah bersujud atas peringatan yang telah disebutkan, dan sujud mereka sekalipun tidak didasari keimanan cukup untuk menolak apa yang mereka duga akan mengenai diri mereka…

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: