BAB 9 NADHOR

February 1, 2015 at 12:29 am | Posted in Syarah Kitab Nikah min Sunan Ibnu Majah | Leave a comment
Tags:

بَابُ النَّظَرِ إِلَى الْمَرْأَةِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا

Bab 9  Melihat Calon Istri ketika Hendak Menikahinya

 

Penjelasan Bab :

Islam mewajibkan kaum wanitanya untuk mengenakan jilbab yang menutupi tubuhnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Ahzab : 59).

Tim penerjemah Depag RI mendefinisikan jilbab dengan sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Oleh karenanya tubuh wanita adalah aurat yang tidak halal dilihat oleh laki-laki ajnabiyyah (asing) yang bukan mahromnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS. An Nuur : 31).

Kemudian syariat juga membatasi pergaulan antara wanita dengan laki-laki yang bukan mahromnya agar mereka tidak terjerumus dalam perbuatan zina. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (QS. Al Israa’ : 32).

Oleh karena itu syariat melarang seorang laki-laki menyepi / menyendiri bersama seorang perempuan yang bukan mahromnya, khawatir mereka berdua jatuh dalam perangkap setan, sehingga melakukan perbuatan zina yang sangat besar dosanya. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam telah mewanti-wanti umatnya, Beliau berkata :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ

Janganlah sekali-kali laki-laki berkhalwat (menyepi) bersama seorang perempuan (muttafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Tirmidzi yang dishahihkan oleh Imam Al Albani, dengan lafadz :

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Janganlah sekali-kali laki-laki berkhalwat (menyepi) bersama seorang perempuan, kecuali yang ketiganya adalah setan.

Dengan penjagaan yang sangat ketat dari syariat terhadap kehormatan wanita, maka tata kehidupan masyarakat akan baik dan teratur, karena jika wanitanya tidak dijaga dengan baik, akan rusaklah sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki dibandingkan dengan firnah wanita (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam lafadz Imam Muslim dan selainnya :

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Hati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita, karena awal fitnah Bani Isroil terkait wanita.

Sehingga salah satu pencegahan bagi laki-laki agar tidak terjerumus kedalam fitnah wanita, syariat memerintahkan bagi para pemuda untuk segera menikah, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah dan bagi yang tidak mampu, maka berpuasalah, karena itu adalah perisai (Muttafaqun ‘alaih).

Tentunya seorang pemuda tidak asal menikahi seorang gadis, tapi perlu melihat beberapa kriteria yang telah dijelaskan oleh syariat dalam sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ

Wanita dinikahi karena 4 perkara : karena hartanya, keturunannya, kecantikkannya dan agamanya, pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung (Muttafaqun ‘alaih).

Tentu saja wanita yang baik agamanya adalah mereka yang menutup dirinya dengan jilbab yang tidak mengumbar kecantikkannya kepada sembarang laki-laki. Kecantikan hati dan badannya nanti akan diperuntukkan kepada laki-laki idaman pendamping hidupnya. Oleh karena itu ada kesulitan bagi laki-laki yang sholih, seandainya ia akan menikahi wanita yang dianggap sholihah, karena dirinya tidak tahu fisik dan kelakuan sehari-harinya, sedangkan ia tidak bisa melihat tubuhnya karena tertutup hijab dan senantiasa berada didalam rumahnya serta tidak pernah bergaul dengan dirinya, karena takut terjerumus kedalam kholwat yang dilarang. Untuk mengatasi salah pilih calon pendamping hidup dimana tujuan terbesar dari pernikahan selain beribadah kepada Allah adalah agar mendapatkan ketenangan dan kebahagian hidup, maka syariat memberikan keringanan bagi laki-laki yang hendak menikahi wanita untuk melihat sendiri calon pasangannya dengan batasan-batasan tertentu. Imam Shon’ani dalam Subulus Salam setelah menyebutkan hadits-hadits tentang nadhor, beliau berkata :

دَلَّتْ الْأَحَادِيثُ عَلَى أَنَّهُ يُنْدَبُ تَقْدِيمُ النَّظَرِ إلَى مَنْ يُرِيدُ نِكَاحَهَا ، وَهُوَ قَوْلُ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ

Hadits-hadits diatas menunjukkan atas dianjurkannya lebih dahulu melihat calon istri yang hendak dinikahinya dan ini adalah pendapatnya jumhur ulama.

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1864 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ حَجَّاجٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَمِّهِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ، قَالَ: خَطَبْتُ امْرَأَةً، فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهَا فِي نَخْلٍ لَهَا، فَقِيلَ لَهُ: أَتَفْعَلُ هَذَا وَأَنْتَ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِذَا أَلْقَى اللَّهُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ، فَلَا بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا»

20). Hadits no. 1864

Haddatsanaa Abu Bakar ibnu Abi Syaibah ia berkata, haddatsanaa Hafsh bin Ghiyaats dari Hajjaaj dari Muhammad bin Sulaimaan dari Pamannya Sahl bin Abi Khatsmah dari Muhammad bin Maslamah ia berkata : “aku melamar seorang wanita, lalu aku ingin melihat fisiknya, hingga aku dapat melihatnya dengan naik pohon Kurma yang ada didekat rumahnya”. Maka dikatakan kepadanya : ‘engkau melakukan hal itu, sedangkan engkau adalah sahabat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam?, maka beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “jika Allah melemparkan kepada hati seorang laki-laki untuk melamar seorang wanita, maka tidak mengapa untuk melihat calon istrinya”.

 

Penjelasan kedudukan hadits :

Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ibrohim yang dikenal dengan Ibnu Abi Syaibah dan Hafsh bin Ghiyats keduanya perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

Hajjaaj bin Arthooth dinilai oleh Imam al-Bushiri sebagai perowi dhoif yang mudallis dan disini beliau meriwayatkan dengan ‘an’anah.

Muhammad bin Sulaimaan hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, sehingga Al Hafidz hanya menilainya maqbul.

Pamannya, Sahl dan Muhammad bin Maslamah rodhiyallahu anhumaa, keduanya adalah sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Hadits ini Shahih lighorihi, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Sebenarnya sanad hadits diatas dhoif (lemah), Imam Al Albani telah mentakhrij hadits ini dalam Ash-Shahihah (no. 98), disana beliau menyebutkan alasan kelemahan sanad ini kata beliau :

قلت: وهذا إسناد ضعيف من أجل الحجاج فإنه مدلس وقد عنعنه.

Ana katakan, sanad ini dhoif karena al-Hajjaaj, ia perowi mudallis dan meriwayatkan hadits ini dengan ‘an’anah.

Namun Imam Al Albani telah menemukan jalan lain yang menjadi mutaba’ah bagi al-Hajjaaj perowi hadits diatas, kata beliau :

لكن للحديث طريقان آخران:

الأولى: عن إبراهيم بن صرمة عن يحيى بن سعيد الأنصاري عن محمد بن سليمان بن أبي حثمة به. أخرجه الحاكم (3 / 434) وقال: ” حديث غريب، وإبراهيم بن صرمة ليس من شرط هذا الكتاب “. قال الذهبي في ” تلخيصه “: ” قلت: ضعفه الدارقطني، وقال أبو حاتم: شيخ “.

الثانية: عن رجل من أهل البصرة عن محمد بن سلمة مرفوعا به. أخرجه أحمد (4 / 226) : حدثنا وكيع عن ثور عنه.

قلت: ورجاله ثقات غير الرجل الذي لم يسم. وبالجملة فالحديث قوي بهذه الطرق، والله أعلم.

Namun hadits ini memiliki 2 jalan lain yaitu :

  1. Dari Ibrohm bin Shormah dari Yahya bin Sa’ id al-Anshoriy dari Muhammad bin Sulaimaan bin Abi Khatsmah dst. Diriwayatkan oleh al-Hakim (3/434) lalu beliau berkata : ‘hadits ghoriib, Ibrohim bin Shormah bukan termasuk syarat perowi untuk kitab ini’. Adz-Dzahabi mengomentarinya dalam “at-Talkhiish” : ‘aku katakan, ia (Ibrohim bin Shormah) didhoifkan oleh Daruqutni, Abu Hatim berkata, Syaikh’.
  2. Dari seorang laki-laki penduduk Bashroh dari Muhammad bin Salamah secara marfu’. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/226) : haddatsanaa Wakii’ dari Tsaur dst. aku (Al Albani) katakan : ‘para perowinya tsiqoh, selain laki-laki yang tidak disebut namanya.

Kesimpulannya, hadits ini kuat dengan adanya jalan-jalan ini –Wallahu A’ lam-.

Sebenarnya terdapat kelemahan lagi pada sanad diatas yang mungkin lupa disinggung oleh Imam Al Albani yaitu Muhammad bin Sulaiman Abi Khatsmah yang meriwayatkan hadits ini dari pamannya Sahl bin Abi Khatsmah Rodhiyallahu ‘anhu. Syaikh Syu’aib Arnaut dalam Ta’liq Sunan Ibnu Majah menyebutkan kelemahan tersebut, kata beliau :

إسناده ضعيف لجهالة حال محمَّد بن سليمان – وهو ابن أبي حثمة، وحجاج -وهو ابن أرطأة- مدلس وقد عنعنه

Sanadnya lemah karena kemajhulan kondisi Muhammad bin Sulaiman –ibnu Abi Khatsmah- dan Hajjaaj –ibnu Artho’h- mudallis dan meriwayatkan dengan ‘an’anah.

Muhammad bin Sulaiman bin Abi Khatsmah tidak ada yang mentsiqohkannya, selain Imam Ibnu Hibban sebagaimana yang telah kami sebutkan. Namun sebagaimana yang dilihat pada jalan yang kedua, Imam Al Albani menyebutkan sanad tanpa melalui Hajjaaj dan Muhammad bin Sulaimaan, sekalipun perowi tersebut mubham yang berarti juga majhul. Namun majhul dikuatkan dengan majhul lain terkadang dapat saling menguatkan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al Albani atau selain beliau. Kemudian yang menguatkan makna hadits ini adalah hadits-hadits berikut yang nanti akan disampaikan oleh Imam Ibnu Majah.

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1865 – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ، وَزُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، قَالُوا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ ثابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَرَادَ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَأَةً، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا» ، فَفَعَلَ، فَتَزَوَّجَهَا، فَذَكَرَ مِنْ مُوَافَقَتِهَا

21). Hadits no. 1865

Haddatsanaa al-Hasan bin Ali al-Khollaal, Zuhair bin Muhammad, dan Muhammad bin Abdul Malik mereka berkata, haddatsanaa Abdur Rozzaaq dari Ma’mar dari Tsaabit dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu bahwa al-Mughiroh bin Syu’bah ingin menikahi seorang, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda kepadanya : “pergilah engkau, lalu lihat calon istrimu, karena ini lebih dapat melanggengkan hubungan kalian berdua”. Lalu al-Mughiroh Rodhiyallahu ‘anhu pun melakukannya, kemudian menikahi wanita tersebut dan memberitahukan waktu pernikahannya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya perowi tsiqoh, semuanya dipakai oleh Bukhori-Muslim, kecuali Zuhair dan al-Hasan.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Ibni Majah berkata :

صحيح، وهذا إسناد رجاله ثقات إلا أن بعض أهل العلم قد ضعف رواية معمر -وهو ابن راشد- عن ثابت -وهو ابن أسلم البناني- وقال الدارقطي: الصواب عن ثابت عن بكر. قلنا: يعني الطريق الآتية بعده.

Haditsnya shahih, sanad ini semua perowinya tsiqoh, namun sebagian ulama mendhoifkan riwayat Ma’mar –ibnu Roosyid- dari Tsaabit –ibnu Aslam al-Bunaaniy-. Daruquthni berkata : ‘yang benar riwayat dari Tsaabit dari Bakr’. Kami katakan, yaitu riwayat Imam Ibnu Majah berikutnya.

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1866 – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ قَالَ: أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ امْرَأَةً أَخْطُبُهَا، فَقَالَ: «اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا» ، فَأَتَيْتُ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ، فَخَطَبْتُهَا إِلَى أَبَوَيْهَا، وَأَخْبَرْتُهُمَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَأَنَّهُمَا كَرِهَا ذَلِكَ، قَالَ: فَسَمِعَتْ ذَلِكَ الْمَرْأَةُ، وَهِيَ فِي خِدْرِهَا، فَقَالَتْ: إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَكَ أَنْ تَنْظُرَ، فَانْظُرْ، وَإِلَّا فَأَنْشُدُكَ، كَأَنَّهَا أَعْظَمَتْ ذَلِكَ، قَالَ: فَنَظَرْتُ إِلَيْهَا فَتَزَوَّجْتُهَا، فَذَكَرَ مِنْ مُوَافَقَتِهَا

22). Hadits no. 1866

Haddatsanaa al-Hasan bin Abi ar-Robii’ ia berkata, anba’anaa Abdur Rozzaaq dari Ma’mar dari Tsaabit al-Bunaaniy dari Bakr bin Abdullah al-Muzanniy dari al-Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “aku mendatangi Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu aku memberitahu Beliau bahwa aku hendak meminang seorang wanita, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “pergilah dan lihat wanita tersebut, karena itu lebih melanggengkan hubungan kalian berdua”.

Lalu aku pun mendatangi wanita Anshor, aku meminangnya dihadapan kedua orang tuanya, lalu aku menyampaikan ucapan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka kedua orang tuanya seolah-olah tidak suka dengan hal tersebut. Namun sang wanita mendengar hal tersebut –sedangkan ia berada di kamar pingitannya-, ia berkata : “jika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang memerintahkanmu untuk melihatku, maka lihatlah, jika tidak, maka aku mohon kepadamu untuk tidak melakukannya –seolah-olah ia memandang besar perkara ini-. Lalu aku pun melihatnya dan jadi menikahinya. Lalu disebutkan waktu pelaksanaan pernikahannya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Al-Hasan bin Abi ar-Robii’ perowi shoduq, sedangkan Bakr bin Abdullah al-Muzaniy, tabi’I wasith perowi tsiqoh tsabat dipakai oleh Bukhori-Muslim. Sisa perowinya adalah perowi Bukhori-Muslim.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Ibni Majah berkata :

حديث صحيح إن صح سماع بكر بن عبد الله المزني من المغيرة، فقد نفاه ابن معين، وأثبته الدارقطي في “العلل” 7/ 139

Hadits Shahih jika sah pendengaran Bakr bin Abdullah dari al-Mughiiroh, hal ini telah dinafikan pendengaran Bakr kepada Mughiiroh Rodhiyallahu ‘anhu. Namun Daruquthni dalam al-‘Illal (7/139) menetapkan hal tersebut.

 

Imam Al Albani dalam Ash-Shahihah (no. 96) lebih meng-clear-kan masalah ini dengan perkataannya :

قلت : و رجاله كلهم ثقات إلا أن يحيى بن معين قال : ” لم يسمع بكر من المغيرة ” . قلت : لكن قال الحافظ في ” التلخيص ( ص 291 ) بعد أن عزاه إلى ابن حبان و بعض من ذكرنا : ” و ذكره الدارقطني في ” العلل ” و ذكر الخلاف فيه ، و أثبت سماع بكر بن عبد الله المزني من المغيرة ” . قلت : و لعله لذلك قال البوصيري في ” الزوائد ” ( ص 118 ) : ” إسناد صحيح رجاله ثقات ” . قلت : و على فرض أنه لم يسمع منه ، فلعل الواسطة بينهما أنس بن مالك رضي الله عنه ، فقد سمع منه بكر المزني و أكثر عنه ، و هو قد رواه عن المغيرة رضي الله عنهما .

Ana katakan : para perowinya tsiqoh, namun Yahya bin Ma’in berkata : ‘Bakr tidak mendengar dari al-Mughiiroh Rodhiyallahu ‘anhu’. Kukakatan, namun Al Hafidz dalam “at-Talkhiis” (hal. 291) berkata setelah menyandarkan kepada Ibnu Hibban dan sebagian ulama yang telah kami sebutkan : ‘Daruquthni menyebutkan dalam al-‘Illal lalu menyebutkan tentang perselisihan pendegaran Bakr dari Mughiroh Rodhiyallahu ‘anhu, lalu menetapkan pendengaran Bakr bin Abdullah al-Muzaniy kepada Mughiroh Rodhiyallahu ‘anhu’. Kukatakan, mungkin karena hal ini al-Bushiri berkata dalam az-Zawaaid (hal. 118) : ‘sanadnya shahih, para perowinya tsiqoh’.

Kukatakan, seandainya kita terima bahwa Bakr tidak pernah mendengar dari al-Mughiiroh, maka mungkin saja perantara diantara keduanya adalah Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, Bakr mendengar dari Anas, bahkan sangat banyak hadits yang didengar dan Anas Rodhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan hadits dari Mughiroh Rodhiyallahu ‘anhu.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Disyariatkan bagi seorang laki-laki yang hendak menikahi wanita untuk melihatnya terlebih dahulu. Adapun batasan yang boleh dilihat, tidak sedikit para ulama yang membawa hadits ini secara mutlak, yakni ia boleh melihat bagian mana saja dari tubuh wanita yang dapat membuatnya tertarik untuk menikahinya. Imam Shon’aniy dalam Subulus Salam berkata :

وَقَالَ دَاوُد يَنْظُرُ إلَى جَمِيعِ بَدَنِهَا ، وَالْحَدِيثُ مُطْلَقٌ فَيَنْظُرُ إلَى مَا يَحْصُلُ لَهُ الْمَقْصُودُ بِالنَّظَرِ إلَيْهِ

Dawud (adh-Dhohiri) berkata : ‘ia melihat kepada seluruh badannya, haditsnya mutlak, maka ia melihat kepada sesuatu yang dapat dihasilkan dengannya maksud dari melihat tersebut.

  1. Namun sebagai saddzu Dzariah (tindakan pencegahan) dari oknum laki-laki yang hanya ingin coba-coba melihat aurat wanita mukminat yang menutupi dirinya dengan hijab syar’I, maka hendaknya wali wanita tersebut atau sang wanita sendiri ketika ada laki-laki yang hendak menikahinya dan ingin menadhornya, maka ijinkanlah ia hanya melihat wajah dan kedua telapak tangannya saja. Imam Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan menukil ucapan 2 Imam besar, kata beliau :

قال الشافعي : ينظر إلى وجهها وكفيها ولا ينظر إلى ما وراء ذلك قال أحمد : وهذا لأن الله جل ثناؤه يقول : ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها  ، قيل عن ابن عباس ، وغيره : وهو الوجه والكفان

Syafi’I berkata : ‘ia melihat wajah dan kedua telapak tangannya dan jangan melihat selain dari itu’. Oleh karenanya Ahmad berkata : ‘ini karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : {dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya} (QS. An Nuur : 31). Dikatakan dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dan selainya yaitu wajah dan kedua telapak tangannya.

  1. Tujuan dari melihat wajah dan kedua telapak tangan, telah dikatakan oleh Imam Shon’aniy dalam kitabnya Subulus Salam :

وَالنَّظَرُ إلَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ لِأَنَّهُ يُسْتَدَلُّ بِالْوَجْهِ عَلَى الْجَمَالِ أَوْ ضِدَّهُ ، وَالْكَفَّيْنِ عَلَى خُصُوبَةِ الْبَدَنِ أَوْ عَدَمِهَا

Nadhor kepada wajah dan kedua telapak tangannya, karena wajah menunjukkan atas cantik tidaknya dan kedua telapak tangan atas putih tidaknya warna kulitnya.

  1. Namun yang bagus dan ini bisa tidak menyakiti hati wanita, jika ternyata setelah nadhor ia tidak jadi menikahinya adalah hendaknya ia nadhor tanpa diketahui oleh sang wanita, sebagaimana yang dilakukan Muhammad bin Maslamah Rodhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam riwayat yang pertama. Imam Shon’aniy dalam kitab yang sama menyebutkan :

قَالَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ نَظَرَ إلَيْهَا قَبْلَ الْخِطْبَةِ حَتَّى إنْ كَرِهَهَا تَرَكَهَا مِنْ غَيْرِ إيذَاءٍ بِخِلَافِهِ بَعْدَ الْخِطْبَةِ

Para pengikut Syafi’I berkata : ‘hendaknya ia nadhor sebelum mengkhitbahnya, hingga jika ia tidak suka, ia bisa meninggalkannya tanpa menyakiti hatinya, berbeda jika dilakukan setelah khitbah.

  1. Atau bisa juga ia mengutus ibunya atau kakak perempuannya untuk mengorek keterangan dari sang wanita yang ingin dinikahinya, baik dari segi perilaku maupun fisiknya, sehingga si wanita tidak merasa malu untuk dilihat oleh laki-laki yang belum menjadi halal bagi dirinya. Terdapat sebuah hadits dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang mengutus istrinya untuk melihat kondisi fisik seorang wanita yang hendak dinikahi oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam lagi, namun hadits ini dikatakan Mungkar oleh Imam Al Albani dalam adh-Dhoifah (no. 1273).
  2. Tujuan dari Nadhor, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk melanggengkan hubungan suami-istri selanjutnya jika mereka ditakdirkan menjadi pasangan hidup, karena salah satu pihak tidak merasa membeli “kucing dalam karung”.
  3. Keutamaan istri Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhu yang menerima sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, ketika al-Mughiiroh Rodhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam memerintahkan untuk melihat calon istrinya, sekalipun kedua orang tua sang wanita tidak suka dengan hal tersebut. Sehingga wajarlah melalui Rahim beliau Rodhiyallahu ‘anha lahirlah anak-anak al-Mughiroh yang sholih yang menjadi perowi hadits juga dari bapaknya, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz dalam kitabnya al-Ishobah bahwa ketiga anak al-Mughiiroh yaitu Urwah, ‘Aqoor dan Hamzah meriwayatkan hadits dari Bapaknya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: