TAFSIR QS AN NAAS (MUKADIMAH)

February 1, 2015 at 12:23 am | Posted in Tafsir | Leave a comment
Tags:

سورة الناس

Surat An Naas

 

  1. Penamaan An Naas

Dinamakan surat ini dengan surat An Naas karena An Naas disebut berungkali dalam surat ini, sebagaimana dikatakan oleh tim penerjemah Depag RI. Dalam sebuah hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam biasanya menyebutnya dengan “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” yakni ayat pertama dalam surat ini, seperti dalam riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 264) Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ، قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Apakah kamu tidak memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini, yang tidak ada yang semisal dengannya sedikitpun yaitu Qul A’uudzu bi Robbil Falaq (surat Al Falaq) dan Qul A’uudzu bi Robbin Naas (surat An Naas).

Nabi juga menamakan surat ini dengan al-Mu’awwidzatain bersama dengan surat Al Falaq. Dalam riwayat Imam Muslim selanjutnya (NO. 265) ‘Uqbaah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu berkata :

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُنْزِلَ، أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ، الْمُعَوِّذَتَيْنِ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda kepadaku : “diturunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak ada yang semisal dengannya sedikitpun yaitu al-Mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).

Tim penerjemah Depag RI mengatakan surat An Naas diturunkan setelah surat Al Falaq dan ia adalah Makkiyyah artinya diturunkan sebelum Rasulullah sholallahu alaihi wa salam hijrah. Namun Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Durorul Mantsuur menukil :

أخرج ابن مردويه عن عبد الله بن الزبير رضي الله عنه قال : أنزل بالمدينة { قل أعوذ برب الناس }

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin az-Zubair rodhiyallahu anhu beliau berkata : “diturunkan di Madinah surat Qul A’uudzu bi Robbin Naas (surat An Naas)”.

Terdapat sebuah hadits yang masyhur tentang tersihirnya Nabi sholallahu alaihi wa salam oleh seorang Yahudi yang bernama Labiid ibnul A’shoom, kisah tersihirnya Nabi sholallahu alaihi wa salam ini terjadi setelah Beliau hijrah ke Madinah. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata :

أَخْرَجَهُ عَنْهُ اِبْن سَعْد بِسَنَدٍ لَهُ إِلَى عُمَر بْن الْحَكَم مُرْسَل قَالَ ” لَمَّا رَجَعَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْحُدَيْبِيَة فِي ذِي الْحَجَّة وَدَخَلَ الْمُحَرَّم مِنْ سَنَة سَبْع جَاءَتْ رُؤَسَاء الْيَهُود إِلَى لَبِيد بْن الْأَعْصَم – وَكَانَ حَلِيفًا فِي بَنِي زُرَيْق وَكَانَ سَاحِرًا –

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dengan sanad sampai kepada Umar ibnul Hakam secara mursal beliau berkata : ‘ketika Rasulullah sholallahu alaihi wa salam kembali dari perjanjian Hudaibiyyah pada bulan Dzulhijjah sampai masuk bulan Muharrom pada tahun ke-7 (setelah hijrah), telah datang ketua suku Yahudi kepada Labiid ibnul A’shom –ia berasal dari Bani Zuraiq dan seorang tukang sihir-…

Kemudian dalam kisah sihir tersebut, Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalain Nubuwwah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu yang didalamnya terdapat lafadz :

فإذا فيها وتر  فيه إحدى عشرة عقدة فأنزلت عليه هاتان السورتان فجعل كلما قرأ آية انحلت عقدة : ( قل أعوذ برب الفلق) ، ( وقل أعوذ برب الناس )

Didalam sumur terdapat tali / buhul yang terdapat sebelas ikatan, maka turunlah 2 surat tersebut (yaitu Al Falaq dan An Naas –yang total semuanya terdiri dari 11 ayat-pent.), maka setiap Nabi sholallahu alaihi wa salam membaca satu per satu ayat lepaslah ikatan tadi satu per satu.

Hanya saja Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Talkhiisul Khobiir (6/2690) berkata tentang status hadits diatas :

أخرج البيهقي في “الدلائل”  معنى ذلك بسند ضعيف

Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam “Ad-Dalaail” makna yang demikian dengan sanad dhoif.

Sehingga karena riwayat turunnya surat Al Falaq dan An Naas setelah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam hijrah ke Madinah adalah dhoif, maka barangkali yang rojih adalah surat tersebut Makkiyyah berdasarkan ciri-ciri umum dari surat Makkiyyah yang berisi ayat-ayat yang pendek.

 

  1. Faedah Surat An Naas
  2. Bersama dengan surat Al Falaq, Nabi sholallahu alaihi wa salam mengungkapkannya sebagai 2 buah surat yang tidak ada bandingannya, sebagaimana dalam riwayat Muslim yang telah kami sebutkan sebelumnya.
  3. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengungkapkan surat An Naas bersama dengan surat Al Falaq sebagai 2 surat yang terbaik, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Nasa’i dalam Sunannya masing-masing dari ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu beliau berkata :

كُنْتُ أَقُودُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عُقْبَةُ، أَلَا أُعَلِّمُكَ خَيْرَ سُورَتَيْنِ قُرِئَتَا؟» فَعَلَّمَنِي قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

aku mengikuti Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada saat Beliau safar, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata kepadaku : “wahai ‘Uqbah, maukah aku ajarkan kepadamu 2 buah surat yang terbaik ketika dibaca?”, lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam mengajariku surat Al Falaq dan An Naas (dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Surat An Naas bersama dengan surat Al Falaq dan surat Al Ikhlash disebut juga dengan al-Mu’awwidzaat, barangsiapa yang membaca ketiga surat ini sebanyak 3 kali pada waktu pagi dan petang, maka Allah akan mencukupinya, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bacalah al-Mu’awwidzaat ketika pagi dan petang sebanyak 3 kali, niscaya engkau akan dicukupkan dari segala sesuatu (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dengan sanad yang dihasankan oleh Imam Al Albani).

  1. Surat An Naas dan Al Falaq adalah kedua surat yang paling utama untuk dijadikan perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu :

يَا ابْنَ عَابِسٍ أَلَا أَدُلُّكَ – أَوْ قَالَ: – أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا يَتَعَوَّذُ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ؟ ” قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ»

Wahai Ibnu Abbas maukah aku tunjukkan atau Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “maukah aku beritahu sesuatu yang lebih utama untuk dijadikan perlindungan bagi orang-orang yang mengharap perlindungan?”, aku berkata : ‘tentu wahai Rasulullah’. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “bacalah Al Falaq dan An Naas, itulah kedua surat tersebut yang dijadikan perlindungan” (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam terkadang mengimami sholat Subuh dengan membaca kedua surat ini, kata ‘Uqbah rodhiyallahu anhu :

فَأَمَّنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهِمَا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ

Rasulullah mengimami kami pada waktu sholat Subuh dengan kedua surat tersebut (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Kedua surat ini diperintahkan untuk dibaca setiap habis sholat, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Uqbah rodhiyallahu anhu :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالمُعَوِّذَتَيْنِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkanku untuk membaca al-Mu’awwidzatain pada setiap akhir sholat (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

 

Peringatan :

Terdapat sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu yang tidak memasukkan al-Mu’awwidzatain sebagai surat dalam Al Qur’an. Imam Ahmad dalam al-Musnad meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdur Rokhman bin Yaziid, ia berkata :

كَانَ عَبْدُ اللهِ، ” يَحُكُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ مِنْ مَصَاحِفِهِ، وَيَقُولُ: إِنَّهُمَا لَيْسَتَا مِنْ كِتَابِ اللهِ

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu menghapus al-Mu’awwidzatain dari mushafnya, lalu berkata : “kedua surat ini bukan termasuk Kitabullah” (dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth).

Dalam riwayat al-Bazzaar dan selainnya dari ‘Alqomah bin Qois ia berkata :

أنه كان يحك المعوذتين من المصاحف، ويقول: إنما أمر رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أن يتعوذ بهما. ولم يكن عبد الله يقرأ بهما

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu menghapus al-Mu’awwidzatain dari mushafnya, lalu berkata : “hanyalah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkan untuk berlindung dengan keduanya”. Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu tidak pernah membacanya (dalam sholat).

Terhadap permasalahan ini, Al Hafidz Ibnu Hajar telah menjelaskannya dengan sangat baik dalam kitab monumentalnya Fathul Baariy, beliau menukil ucapan Imam al-Bazzar :

وَلَمْ يُتَابِع اِبْن مَسْعُود عَلَى ذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَة . وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَهُمَا فِي الصَّلَاة

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu tidak didukung oleh satu pun sahabat lainnya, telah shahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau membaca kedua surat ini dalam sholatnya.

Kemudian Al Hafidz menyebutkan bahwa sebagian ulama mencela penshahihan riwayat dari Ibnu Mas’ud tentang pendapat Beliau rodhiyallahu anhu yang tidak memasukkan al-Mu’awwidzatain sebagai bagian dari Al Qur’an, diantara mereka adalah Imam Ibnu Hazm, Imam Nawawi dan Ar-Rozi yang mengatakan atsar Ibnu Mas’ud ini dusta dan batil. Namun Al Hafidz tidak setuju dengan pendustaan atsar ini, karena secara sanad terbukti shahih.

Ar-Rozi kesulitan memahami pendapat Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu jika shahih bahwa beliau rodhiyallahu anhu mengingkari kedua surat ini, sbagai bagian dari Al Qur’an katanya :

إِنْ قُلْنَا إِنَّ كَوْنهمَا مِنْ الْقُرْآن كَانَ مُتَوَاتِرًا فِي عَصْر اِبْن مَسْعُود لَزِمَ تَكْفِير مَنْ أَنْكَرَهَا ، وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ كَوْنهمَا مِنْ الْقُرْآن كَانَ لَمْ يَتَوَاتَر فِي عَصْر اِبْن مَسْعُود لَزِمَ أَنَّ بَعْض الْقُرْآن لَمْ يَتَوَاتَر قَالَ : وَهَذِهِ عُقْدَة صَعْبَة

Jika kami katakan bahwa keuda surat ini adalah bagian dari Al Qur’an secara mutawatir pada masa Ibnu Mas’ud, maka ini mengharuskan pengkafiran kepada yang mengingkarinya, namun jika kami katakan bahwa kedua surat ini belum mutawatir pada masanya Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu, maka ini melazimkan ada sebagian Al Qur’an yang tidak mutawatir. Ini adalah masalah yang pelik.

Kemudian Al Hafidz Ibnu Hajar dengan tenang mencoba mendudukan masalah ini, kata beliau :

وَأُجِيبَ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ كَانَ مُتَوَاتِرًا فِي عَصْر اِبْن مَسْعُود لَكِنْ لَمْ يَتَوَاتَر عِنْد اِبْن مَسْعُود فَانْحَلَّتْ الْعُقْدَة بِعَوْنِ اللَّه تَعَالَى

Maka dapat dijawab dengan kemungkinan bahwa kedua surat tersebut mutawatir pada masa Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, namun kedua surat ini menurut pengetahuan Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu tidak mutawatir, sehingga lepaslah darinya kepelikan dalam memahami masalah ini dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Yang menguatkan bahwa bisa jadi kedua surat ini tidak dimasukkan Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu sebagai bagian dari Al Qur’an adalah pendapat pribadi beliau yang barangkali informasi bahwa kedua surat ini telah shahih dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa itu adalah bagian dari Al Qur’an belum sampai ke telinga Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, sehingga dalam hal ini beliau diberikan udzur. Terbukti tidak ada satu pun murid-murid beliau yang utama dan bermulazamah lama dengan beliau, mengikuti pendapatnya untuk mengatakan bahwa al-Mu’awwidzatain bukan bagian dari Al Qur’an. Asy-Syaikh DR. Naashir bin Muhammad al-Majid, salah satu staff pengajar Universitas Ibnu Sa’ud telah berkata dalam fatwanya tertanggal 24/2/1425 H :

كذلك لم ينقل عن أحد من تلاميذ ابن مسعود رضي الله عنه ـ مع كثرتهم وجلالة قدرهم ـ أنه تابعه على قوله هذا، بل ثبت عن بعضهم مخالفته صراحة فقد روى ابن أبي شيبة(30197) عن النخعي قال : قلت للأسود بن يزيد ـ وكان من أعلم أصحاب ابن مسعود رضي الله عنه من القرآن هما؟ قال: نعم، يعني المعوذتين.

Demikian juga tidak dinukil dari salah seorang pun murid Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu –padahal banyak dan pakar dalam bidang tafsir- bahwa mereka mengikuti pendapat gurunya, bahkan telah tsabit dari sebagian murid beliau yang sangat jelas menyelisihi gurunya, Imam ibnu Abi Syaibah meriwayatkan (no. 30197) dari an-Nakho’iy ia berkata : ‘aku bertanya kepada al-Aswad bin Yaziid –beliau murid Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu yang paling pandai-, apakah al-Mu’awwidzatain termasuk dari Al Qur’an?’, beliau menjawab : ‘iya’.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: