TAFSIR QS. AN NAAS

February 1, 2015 at 12:45 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An Naas : 1-6).

 

  1. Mufrodat Ayat

قُلْ” {Katakanlah} ini adalah Fi’il ‘Amr (kata kerja perintah) dan yang diperintah disini adalah Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam. Yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan nabi kita sholallahu alaihi wa salam untuk mengatakan sebagaimana ayat berikutnya. Sebagian mufasirin ketika menafsirkan kata Qul dalam ayat Al Qur’an yang mana khithob (obyek bicara) adalah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mereka mengatakan “wahai Muhammad”, yakni langsung menyebut nama. Oleh karenanya asy-Syaikh Muhammad Haamid al-Faqqiy melakukan kritikan kepada para ahli tafsir yang hanya menyebutkan nama Nabi kita secara langsung ketika menafsirkan kata ganti yang ditujukan terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala Qul. Kata asy-Syaikh dalam catatan kakinya terhadap kitab Fathul Majid (hal. 103 –cet. As-Sunnah al-Muhammadiyyah, Mesir) :

يستعمل المفسرون هذا الخطاب كثيرا; تفسيرا لخطاب الله. ولكن يلاحظ أن الله لم يخاطب رسوله ولا مرة واحدة بهذا الخطاب “يا محمد”، بل كل خطاب الله “يا أيها النبي يا أيها الرسول ” فينبغي أن يكون ذلك كذلك; والله أعلم.

Para ahli tafsir banyak menggunakan khithob ini (yakni wahai Muhammad-pent) ketika menafsirkan obyek yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun yang perlu dicatat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah sekalipun mengajak bicara kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dengan khithob “wahai Muhammad”, namun seluruh khithob menggunakan kalimat “wahai Nabi..wahai Rasul”, sehingga selayaknya untuk meniru hal tersebut. Wallahu A’lam.

Berdasarkan faedah dari asy-Syaikh kita tersebut, maka kami tuliskan bahwa yang dimaksud untuk diajak bicara pada Firman Allah disini adalah “Wahai Rasulullah katakanlah….” dan seterusnya pada ayat-ayat berikutnya.

أَعُوذُ” {aku berlindung} adapun makna Ta’awudz telah kami sampaikan dalam tafsir Ta’awudz, silakan merujuknya kesana.

بِرَبِّ” {kepada Tuhan}, makna ar-Robb juga telah kami jelaskan di tafsir Al Fatihah ayat yang pertama.

النَّاسِ” {manusia}, ar-Rozi dalam Tafsirnya mengatakan bahwa para ulama qiro’ah telah bersepakat untuk tidak boleh membaca Imalah (yaitu bacaan alif agak disamarkan seperti membaca yaa) pada kata an-Naas.

Kemudian ar-Rozi menyebutkan suatu faedah yang menarik, yakni telah kita ketahui bersama bahwa Allah adalah Rabb semesta alam, namun dalam ayat ini hanya dikhususkan penyebutan Rabb an-Naas, maka kata ar-Rozi ada 3 alasan untuk menjawab maksud dibalik itu, yakni :

  1. Bahwa yang diminta perlindungan dalam ayat ini adalah dari was-was yang terjadi di dada manusia, sehingga seolah-olah kita katakan : ‘aku minta perlindungan dari was-was yang ditimpakan ke manusia kepada Rabbnya manusia yang memiliki mereka yang mengatur dan menjaganya, yang mana Rabb tersebut adalah sembahan manusia.
  2. Makhluk yang termulia di alam semesta ini adalah manusia, sehingga kata Rabb di-mudhof-kan kepada mereka.
  3. Yang meminta perlindungan dalam surat ini adalah manusia, maka jika seorang manusia membaca surat ini, seolah-olah ia mengatakan : ‘wahai Rabbku, wahai Rajaku, wahai Ilahku’.

مَلِكِ النَّاسِ  إِلَهِ النَّاسِ” { Raja manusia, Sembahan manusia}, kata ar-Rozi kedua ayat diatas adalah athof bayaan dari kata Ar-Robb. Imam asy-Syaukani dalam Tafsirnya menjelaskan yang dimaksud dengan athof bayaan pada firman Allah tersebut, kata beliau :

وقوله : { مَلِكِ الناس } عطف بيان جيء به لبيان أن ربيته سبحانه ليست كربية سائر الملاك لما تحت أيديهم من مماليكهم ، بل بطريق الملك الكامل ، والسلطان القاهر . { إله الناس } هو أيضاً عطف بيان كالذي قبله لبيان أن ربوبيته ، وملكه قد انضمّ إليهما المعبودية المؤسسة على الألوهية المقتضية للقدرة التامة على التصرف الكلي بالاتحاد والإعدام

Firman-Nya : {Raja Manusia} ini adalah athof bayaan bahwa Rububiyyah-Nya Subhanahu Wa Ta’ala tidak seperti tarbiyahnya raja dunia terhadap orang-orang yang dibawah kekuasaannya, namun tarbiyah-Nya Allah adalah kerajaan yang Maha Sempurna dan Kerajaan Yang Maha Kuasa.

{Sembahan Manusia} ini juga athof Bayaan seperti sebelumnya bahwa tarbiyah dan kerajaan-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala keduanya tergabung dalam sesembahan yang memberikan pengaruh kepada ilahiyah yang konsekuensinya adalah Kekuasaan yang Sempurna untuk mengatur keseluruhannnya dengan gabungannya atau tidak.

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ” {Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi}, al-waswaas kata az-Zamakhsyariy dalam Tafsirnya :

{ الوسواس } اسم بمعنى الوسوسة ، كالزلزال بمعنى الزلزلة . وأمّا المصدر فوسواس بالكسر كزلزال . والمراد به الشيطان ،

{al-Waswaas} adalah isim yang maknanya adalah al-waswasah, seperti az-zalzaal maknanya az-Zalzalah. Adapun mashdarnya adalah wiswaasa dengan kasroh seperti zilzaala, yang dimaksud disini adalah setan.

Imam ats-Tsa’aalabiy dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Jawaahiurul Khisaan berkata tentang al-Waswaas, kata beliau :

{ الوسواس } : اسم مِنْ أسماء الشيطانِ

{al-Waswaas} adalah nama dari nama-nama setan.

Waswas itu sendiri adalah suara yang tersembunyi (bisikan), sebagaimana yang dikatakan oleh az-Zamakhsyariy. Dan memang kebiasaan setan adalah memberikan was-was kepada manusia sebagaiman Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga) (QS. Al A’raf : 20).

Nabi sholallahu alaihi wa salam juga pernah bersabda :

الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ فَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ وَإِذا غفَلَ وسوس

Syaitan tinggal didalam hati anak Adam, jika manusia berdzikir kepada Allah, syaithon bersembunyi, namun jika lalai, ia menebarkan was-was (HR. Al Hakim dan selainnya, dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi).

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ” {yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia}, az-Zamakhsyariy memberikan saran kepada pembaca Al Qur’an ketika melewati ayat ini, kata beliau :

ويحسن أن يقف القارىء على { الخناس } ويبتدىء { الذى يُوَسْوِسُ }

Baiknya pembaca untuk waqof (berhenti) di al-Khonnaas, lalu memulai lagi di al-ladzi yuwaswisu.

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ” {dari (golongan) jin dan manusia}. Az-Zamakhsyariy berkata :

{ مِنَ الجنة والناس } بيان للذي يوسوس ، على أن الشيطان ضربان : جنى وإنسي ، كما قال { شياطين الإنس والجن }

Penjelasan siapa yang memberikan was-was dan bahwa setan ada 2 jenis yaitu bangsa jin dan manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : {yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin} (QS. Al An’aam : 112).

Imam Ibnu Katsiir dalam tafsirnya menyebutkan sebuah pertanyaan, apakah yang diberikan was-was oleh syaithon itu manusia dan jin juga?, lalu beliau menyebutkan ada 2 pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa jin terkadang masuk kedalam pembahasan manusia pada umumnya, sehingga was-was dari setan mengenai juga jin. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa ini hanya untuk manusia saja. Dan kelihatannya Imam Ibnu Katsiir condong kepada pendapat yang kedua.

Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan bagaimana bentuk was-was yang ditiupkan oleh jin dan manusia kepada kita, kata beliau :

أما وسوسة الجن فظاهر لأنه يجري من ابن آدم مجرى الدم، وأما وسوسة بني آدم فما أكثر الذين يأتون إلى الإنسان يوحون إليه بالشر، ويزينونه في قلبه حتى يأخذ هذا الكلام بلبه وينصرف إليه.

Adapun was-was jin, maka sangat jelas karena ia berjalan di aliran darah anak Adam. Sedangkan was-was anak Adam alangkah banyaknya yang mana seorang membisikkan kepada orang lain kejelekan lalu menghias-hiasinya dengan sesuatu yang indah didalam hati, sehingga akhirnya ia mengambil bisikan tersebut dan condong kepadanya.

 

  1. Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Sebagai seorang hamba yang lemah, maka sudah seharusnya ia memohon kepada Rabbnya yang membimbing, mengusai dan mengaturnya agar bisa selamat dari semua kejahatan makhluknya, terutama dari faktor internal yaitu berupa bisikan-bisikan untuk berbuat kejelekan dari makhluknya yang terkutuk yaitu setan, musuhnya Bapak kita Adam yang sekaligus menjadi musuh abadi manusia. Baik setan tersebut dalam wujud jin maupun dalam wujud manusia.

 

  • Faedah Ayat
  1. Manusia dalam memohon perlindungan wajib kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, jangan sampai seorang insan memohon perlindungan kepada selain Allah dalam perkara-perkara yang hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang mampu memberikannya. Imam Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Syarah Tsalatsatul Ushul membagi Isti’adzah menjadi beberapa macam :
  2. Istiadzah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ini terkandung didalamnya kebutuhan kepada-Nya dan keyakinan bahwa hanya Dia yang mampu memberikan perlindungan yang sempurna.
  3. Istiadzah dengan Sifat dan Kalam Allah, seperti dalam hadits Muslim bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا، فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ

Jika kalian tinggal disuatu tempat ucapkanlah : “A’udzu bikalimaatillahi at-Tammaat min Syarriy maa kholaq (aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan seluruh makhluknya), maka tidak ada yang membahayakannya sedikitpun, sampai meninggalkan tempat tersebut”.

  1. Istiadzah kepada orang yang sudah meninggal atau kepada yang hidup, namun tidak hadir atau tidak mampu memberikan perlindungan dari yang kita minta, maka ini adalah kesyirikan, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS. Al Jin : 6).

  1. Meminta perlindungan kepada makhluk yangmana mereka mampu melakukannya, maka ini adalah boleh, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

Barangsiapa yang ingin mendapatkan tempat berlindung, maka lindungilah ia (muttafaqun ‘alaih).

  1. Dalil-dalil rububiyyah-Nya Allah, menunjukkan kepada uluhiyyah-Nya, karena dalam surat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendahulukan rububiyyah-Nya dibandingkan dengan uluhiyyah-Nya.
  2. Penulis mendapatkan sebuah faedah dari salah satu guru penulis –yang penulis tidak ingat sekarang siapa yang mengatakannya- bahwa dalam surat ini ketika kita meminta perlindungan kepada Allah kita menyebutkan 3 sifat Allah yaitu Rabb an-Naas, Maliki an-Naas, dan Ilaahi an-Naas. Sedangkan pada surat al-Falaq yang sama-sama disebut sebagai al-Mu’awidzatain hanya satu kali disebutkan yaitu Rabb al-Falaq. Hikmahnya adalah bahwa dalam surat Al-Falaq jika diperhatikan kita memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan-gangguan eksternal dalam mengarungi kehidupan ini, sedangkan dalam surat An Naas kita memohon kepada Allah dari gangguan yang disebabkan oleh faktor internal dalam diri kita. Dan diketahui bahwa faktor internal lebih berpengaruh dibandingkan faktor eksternal, maksudnya adalah jika seorang memiliki keimanan kuat yang ada didalam dirinya maka gangguan dari luar sehebat apapun tidak berpengaruh baginya, dibandingkan jika sebaliknya. Oleh sebab itu Nabi Yusuf alaihi salam mampu menahan dirinya dari berbuat maksiat, padahal didepannya telah terpampang soerang wanita cantik yang menggoda dengan pose menggiurkan, namun karena faktor keimanan yang kuat dalam dirinya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Yusuf alaihi salam dari perbuatan keji. Allah abadikan kisah ini dalam Kitab-Nya :

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (24) وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (25) قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ (28) يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ (29)

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.  Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini[751], dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS. Yusuf :  23-29).

 

  1. Perbanyaklah zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena sebagian ulama menyebutkan bahwa jika seorang rajin berdzikir kepada Allah, maka setan yang bersemayam dalam darah kita akan bersembunyi dan absen dari memberikan was-was kepada kita. Imam ats-Tsa’aalabiy dalam Tafsirnya menukil ucapan Imam Nawawi kata beliau :

قال النَّوَوِيُّ : قال بعضُ العلماءِ : يُسْتَحَبُّ قَول : لا إله إلا اللَّهِ لِمَنِ ابتلي بالوَسْوَسَةِ في الوضوءِ والصلاةِ وشِبْهِهِمَا؛ فإن الشيطان إذا سمع الذِّكرَ ، خَنَسَ

An-Nawawi berkata : ‘sebagian ulama berkata, dianjurkan untuk mengucapkan Laa Ilaaha illallah bagi yang diuji dengan was-was didalam wudhu, sholat dan semisalnya, karena syaithon jika mendengar dzikir, ia akan bersembunyi’.

  1. Hendaknya seorang tidak usah mengungkapkan kalimat was-was yang berisi kejelekan kepada orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan dishahihkan oleh Imam Al Albani, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ»

Datang seorang laki-laki kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam lalu ia berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang diantara kami ada sesuatu dalam dirinya untuk mengatakan sesuatu. Namun rasa malu lebih ia senangi daripada mengutarakan bisikan tadi?”. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipuan was-was setan”.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud berkata :

أن الإنسان لم يتكلم بهذا الشيء ولم يتابع هذا الشيء ولم يتلفظ به فيحقق للشيطان ما يريده، بل استعظم ذلك في نفسه ولم يتكلم به، فيكون بذلك رد كيد الشيطان.

Seorang jangan mengatakan dan mengikuti bisikan setan, karena hal tersebut akan menuruti setan dari apa yang diinginkannya, namun hendaknya ia membesarkan jiwanya dan menahan diri dari mengucapkannya, karena hal tersebut dapat mencegah tipu daya setan.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: