TAFSIR QS. AL FALAQ

February 10, 2015 at 11:30 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.

 

  • Mufrodat Ayat

قُلْ” {Katakanlah} ini adalah Fi’il ‘Amr (kata kerja perintah) dan yang diperintah disini adalah Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam. Yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan nabi kita sholallahu alaihi wa salam untuk mengatakan sebagaimana ayat berikutnya.

أَعُوذُ” {aku berlindung} adapun makna Ta’awudz telah kami sampaikan dalam tafsir Ta’awudz, silakan merujuknya kesana.

بِرَبِّ” {kepada Tuhan}, makna ar-Robb juga telah kami jelaskan di tafsir Al Fatihah ayat yang pertama.

الْفَلَقِ” {waktu subuh}, Imam ibnul Jauzi dalam Tafsirnya menyebutkan 6 pendapat dari kalangan ahlu tafsir tentang makna Al-Falaq, yaitu :

  1. Waktu Subuh, ini dikatakan oleh Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, Hasan al-Bashri, Said bin Jubair, Mujahid, Qotadah, al-Qurodhiy, Ibnu Zaid dan para pakar bahasa.
  2. Makna adalah makhluk, ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dan dikatakan oleh adh-Dhohaak.
  3. Penjara di Jahannam, diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu juga.
  4. Tumbuhan di Neraka, dikatakan oleh Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu.
  5. Semua yang muncul dari sesuatu seperti Subuh, biji tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan serta semisalnya, ini dikatakan oleh al-Hasan. Pendapat ini juga dikuatkan oleh al-Utsaimin dalam
  6. Nama dari nama-nama neraka jahanam, dikatakan oleh Abu Abdur Rokhman Abdullah bin Yazid.

Dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan (QS. Al An’aam : 95).

Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu juga berkata :

أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ: «اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى مُنْزِلَ التوراةِ والإِنجيل والقرآنِ أعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَاغْنِنِي مِنَ الْفَقْرِ»

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam jika menuju pembaringan berdoa : “Ya Allah Rabbnya langit dan Rabbnya bumi, Rabb segala sesuatu, yang menumbuhkan biji-bijian, yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelakan setiap yang memiliki. Engkau yang memegang ubun-ubun mereka. Engkau yang Awal tidak ada sebelum-Mu, Engkau yang Akhir tidak ada sesudah-Mu, Engkau yang Dhohir tidak ada diatas-Mu dan Engkau yang Bathin tidak ada dibawah-Mu sesuatu pun. Lunasilah hutangku dan cukupkan aku dari kemiskinan (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani).

Berdasarkan hal ini, barangkali pendapat yang rajih untuk makna al-Falaq adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Utsaimin dalam Tafsirnya :

ويجوز أن يكون أعم من ذلك أن الفلق كل ما يفلقه الله تعالى من الإصباح، والنوى، والحب

Bisa juga untuk memaknai dengan lebih umum dari (waktu subuh) yakni bahwa al-Falaq adalah semua yang Allah munculkan dari waktu subuh, biji tumbuhan dan bijii buah.

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ” { dari kejahatan makhluk-Nya }, Imam Ibnul Jauzi menukil dari Ibnul Musaifi’ dan Ibnu Ya’mar bahwa keduanya membaca kholaq dengan mendhomahkan huruf kho-nya dan mengkasrohkan huruf lam-nya, sehingga dibaca khuliqo. Namun barangkali qiro’ah mereka berdua tidak populer karena dalam Qiro’ah Sab’ah dan Qiro’ah ‘Asyrah tidak dinukil bacaan seperti itu, Imam Husain bin Ahmad (w. 370 H) dalam kitabnya al-Hujjah fii Qiro’atis Sab’i (hal. 378-cet. Daarus Syuruuq) berkata :

ومن سورة الفلق لا خلاف فيا إلّا ما رواه «أحمد بن موسى» عن «أبي عمرو» حاسِدٍ  بالإمالة، والمشهور عنه التفخيم

Dalam surat Al Falaq tidak ada perbedaan dalam membacanya, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Musa dari Abi ‘ Amr yang membaca Haasid dengan Imaalah, sedangkan yang masyhur darinya adalah dengan tafkhiim.

Kemudian Imam Ibnul Jauzi mengatakan ada 3 makna untuk ayat diatas, yaitu :

  1. Maknanya umum yakni semua kejahatan makhluknya.
  2. Kejahatan Iblis dan keturunannya, ini dikatakan oleh al-Hasan.
  3. Maknanya adalah neraka jahanam, ini dikatakan oleh al-Mawaardiy.

Imam Syinqithiy dalam Tafsirnya menyebutkan syubhat Mu’tazilah seputar ayat ini, kata beliau :

وللمعتزلة في هذه الآية كلام حول خلق أفعال العباد ، وأن الله لا يخلق الشر ، وقالوا : كيف يخلقه ويقدره ، ثم يأمر بالاستعاذة به سبحانه مما خلقه وقدره؟

وأجيب من أهل السنة : بأنه لا مانع من ذلك ، كما في قوله صلى الله عليه وسلم : « أعوذ بك منك » .

وقد قال تعالى : { الله خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ } [ الرعد : 16 ]

Mu’tazilah memiliki syubhat seputar penciptaan perbuatan para hamba, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa tidak menciptakan kejelekan. Mereka berkata : ‘bagaimana Allah menciptakan kejelekan dan mentakdirkannya, lalu memerintahkan kepada kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari apa yang Dia ciptakan dan takdirkan tersebut?’.

Maka ahlus Sunnah menjawab : ‘bahwa tidak ada halangan untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “aku memohon perlindungan kepada-Mu dari-(kejelekan yang telah engkau ciptakan dan takdirkan)”. Dan Allah Subhanahu wa Ta’alaa juga berfirman : {Allah adalah Pencipta segala sesuatu} (QS. Ar Ra’du : 16).

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ” {dan dari kejahatan malam apabila telah gelap}, Imam Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Ghoosiq memilik 4 makna yaitu :

  1. Bulan, berdasarkan hadits dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظَرَ إِلَى القَمَرِ، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ اسْتَعِيذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، فَإِنَّ هَذَا هُوَ الغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ»

Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam melihat ke bulan, lalu berkata : “wahai Aisyah, mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelakan bulan, karena ia adalah al-Ghoosiq jika telah gelap” (HR. Tirmidzi dikatakan hasan shahih oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

  1. Artinya adalah bintang, ini dikatakan Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dengan memarfukannya kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, sebagaimana dalam riwayat Imam Thobari, namun Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa haditsnya tidak shahih.
  2. Maknanya adalah malam, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

أَقِمِ الصلاة لِدُلُوكِ الشمس إلى غَسَقِ الليل

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam (QS. Al Israa’ : 78).

Ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, al-Hasan, Mujaahid, al-Qurodhiy, al-Faroo’, Abu Ubaid, Ibnu Qutaibah dan az-Zujaaj.

  1. Maknanya adalah bintang suraya ketika jatuh, hal ini dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Namun tidak ada salahnya juga bahwa makna ayat ini adalah umum, sebagaimana dikatakan Imam as-Sa’diy dalam Tafsirnya, kata beliau :

من شر ما يكون في الليل، حين يغشى الناس، وتنتشر فيه كثير من الأرواح الشريرة، والحيوانات المؤذية.

Dari kejelakan yang terjadi pada malam hari, ketika manusia terlelap, karena kebanyakan pada waktu itu bertebaran arwah-arwah jelek dan hewan-hewan yang mengganggu.

Begitu juga Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya mengatakan :

الغاسق قيل: إنه الليل. وقيل: إنه القمر، والصحيح إنه عام لهذا وهذا

Al-Ghoosiq dikatakan maknanya adalah malam, ada juga yang mengatakan bulan dan yang rajih adalah umum mencakup ini dan itu.

Adapun Waqob, maka Imam Syinqithi dalam tafsirnya mengatakan maknanya adalah Dakhola (masuk), jadi makna ayat adakah kita berlindung dari kejelekan apa yang terjadi pada malam hari ketika telah masuk waktunya. Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya  terkait makna Waqob, kata beliau :

{إذا وقب} أي: إذا دخل. فالليل إذا دخل بظلامه غاسق، وكذلك القمر إذا أضاء بنوره فإنه غاسق، ولا يكون ذلك إلا بالليل

{idzaa waqob} yakni jika telah masuk (waktu malam). Malam jika telah larut kegelapannya maka ia ghoosiq, demikian juga bulan jika telah larut sinarnya maka ia ghoosiq, hal ini tidak terjadi kecuali pada malam hari.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ” {dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul}, Imam Thobari dalam Tafsirnya menafsirkan ayat ini dengan perkataannya :

ومن شرّ السواحر الّلاتي ينفُثن في عُقَد الخيط، حين يَرْقِين عليها

Dari kejelakan tukang sihir yang menghembuskan sesuatu pada buhul-buhul tali, ketika membacakan mantra padanya.

Dalam ayat ini kata an-Naffaatsaat menggunakan jamak mu’anas Saalim, yang berarti maknanya adalah wanita-wanita tukang sihir. Namun ayat ini berlaku umum kepada wanita dan pria yang berprofesi sebagai tukang sihir, hanyalah penyebutan tukang sihir dengan wanita ingin menunjukkan keumuman yang terjadi pada waktu itu, Imam Ibnu Utsaimin dalam Tafsirnya berkata :

وذكر الله النفاثات دون النفاثين؛ لأن الغالب أن الذي يستعمل هذا النوع من السحر هن النساء، فلهذا قال: {النفاثات في العقد} ويحتمل أن يقال: إن النفاثات يعني الأنفس النفاثات فيشمل الرجال والنساء

Allah menyebutkan an-Naffaatsaat bukan an-Naffaatsiin, karena umumnya yang melakukan jenis sihir ini adalah wanita, oleh karena Dia berfirman : { wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul } mungkin untuk dikatakan bahwa an-Naffaatsaat adalah person-person yang menghembuskan buhul, maka mencakup didalamnya laki-laki dan wanita.

Sesungguhnya sihir itu tidak dapat memberikan mudhorot kepada siapapun, kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sebagaimana Firman-Nya :

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah (QS. Al Baqoroh : 102).

Imam as-Sa’di menafsirkan ayat diatas dengan perkataannya :

وفي هذا دليل على أن السحر له حقيقة، وأنه يضر بإذن الله، أي: بإرادة الله، والإذن نوعان: إذن قدري، وهو المتعلق بمشيئة الله، كما في هذه الآية، وإذن شرعي كما في قوله تعالى في الآية السابقة: { فَإِنَّهُ نزلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ } وفي هذه الآية وما أشبهها أن الأسباب مهما بلغت في قوة التأثير، فإنها تابعة للقضاء والقدر ليست مستقلة في التأثير، ولم يخالف في هذا الأصل من فرق الأمة غير القدرية في أفعال العباد، زعموا أنها مستقلة غير تابعة للمشيئة، فأخرجوها عن قدرة الله، فخالفوا كتاب الله وسنة رسوله وإجماع الصحابة والتابعين.

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sihir memiliki hakikat, dan ia akan memberikan mudhorot dengan izin Allah yakni dengan kehendak Allah. Karena izin ada dua macam, yaitu izin qodariy yakni terkait dengan kehendak Allah sebagaimana dalam ayat ini dan izin syar’I sebagaimana dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah} (QS. Al Baqoroh : 97).

Dalam ayat ini dan yang semisalnya bahwa sebab sekalipun memiliki pengaruh yang sangat kuat, maka ia tetap mengikuti qodho dan qodar, tidak memiliki pengaruh yang berdiri sendiri. Tidak ada yang menyelisihi pokok keyakinan ini dari seluruh kelompok Islam, kecuali sekte Qodariyyah terkait perbuatan hamba, mereka mengklai bahwa sebab tidak terikat dengan kehendak, mereka mengecualikannya dari qudrohnya Allah. Mereka menyelisihi Kitabullah, Sunnah Rasulullah, ijma sahabat dan tabi’in.

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ  ” {dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki}. Pada keterangan sebelumnya kami nukilkan perkataan Imam Husain bahwa terjadi perbedaan qiro’ah pada kata Haasid. Hal ini disampaikan juga oleh Imam Ahmad bin Musa (w. 324 H) dalam kitabnya as-Sab’u fiil Qiro’aat (hal. 703-cet. Daarul Ma’aarif) kata beliau :

قَرَأَ ابْن كثير وَنَافِع وَأَبُو عَمْرو وَابْن عَامر وَعَاصِم وَحَمْزَة والكسائى {حَاسِد} بِفَتْح الْحَاء

وحدثنى الْجمال عَن أَحْمد بن يزِيد عَن روح عَن أَحْمد بن مُوسَى عَن أَبى عَمْرو {حَاسِد} بِكَسْر الْحَاء

Ibnu Katsiir, Naafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Aamir, ‘Aashim, Hamzah dan al-Kisaa’I membaca Haasid dengan memfathahkan huruf khaa-nya.

Haddatsani al-Jamaal dari Ahmad bin Yaziid dari Ruuh dari Ahmad bin Musa dari Abi ‘Amr beliau membacanya dengan mengkasrohkan huruf khaa-nya.

Imam Abu Ja’far an-Nakhkhaas (w. 338 H) dalam kitabnya I’robul Qur’an mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pendengki adalah :

قال ابن زيد: هم اليهود، وقال غيره: هو لبيد بن أعصم وبناته هنّ السواحر

Ibnu Zaid berkata, mereka (pendengki) adalah yahudi, sedangkan ulama lainnya mengatakan mereka adalah Labiid bin A’shom dan anak-anak perempuannya yang berprofesi sebagai tukang sihir.

Sedangkan Imam as-Sa’di lebih umum menafsirkan ayat ini sebagaimana perkataannya :

والحاسد، هو الذي يحب زوال النعمة عن المحسود فيسعى في زوالها بما يقدر عليه من الأسباب، فاحتيج إلى الاستعاذة بالله من شره، وإبطال كيده، ويدخل في الحاسد العاين، لأنه لا تصدر العين إلا من حاسد شرير الطبع، خبيث النفس، فهذه السورة، تضمنت الاستعاذة من جميع أنواع الشرور، عمومًا وخصوصًا.

Orang yang hasad adalah orang yang senang hilangnya nikmat dari orang yang dihasadinya, ia mencoba berupa melakukan cara yang ia mampu untuk merealisasikan hal tersebut. Oleh karena sangat perlu memohon perlindungan dari kejelekannya dan membatalkan tipu dayanya. Tercakup dalam makna orang hasad adalah orang yang memiliki ‘ain, karena tidaklah ain mengenai seseorang kecuali bersumber dari kejelekan orang yang hasad yang dirinya kotor. Maka surat ini mencakup memohon perlindungan dari seluruh jenis kejelekan baik secara umum maupun secara khusus.

Hasad dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kerugian diri sendiri bahwa hasad ini dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, sehingga sangat dikhawatirkan kebaikan yang telah dilakukannya akan habis akibat sikap hasad. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ ». أَوْ قَالَ « الْعُشْبَ »

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering)“ (HR. Abu Dawud, hadits hasan, kami telah melakukan takhrij terhadap hadits diatas).

Kemudian hasad dapat merugikan orang lain, misalnya orang yang hasad tersebut memiliki ‘ain, sehingga ketika ia melihat orang yang dihasadinya, dengan izin Allah orang tersebut bisa terkena ‘ain darinya. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

الْعَيْنُ حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

‘Ain itu benar adanya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Ta’liq Sunan Ibni Majah berkata :

والمقصود بيان قوة ضرر العين وشدته

Maksudnya adalah penjelasan kuat dan kerasnya kemudhorotan ‘ain.

Imam ibnul Jauzi dalam Zaadul Maisir berkata :

وأولُ معصية عُصِيَ الله بها في السماء حَسَدُ إبليس لآدم ، وفي الأرض حَسَدُ قابيلَ هَابيلَ

Pertamakali terjadi kemaksiatan kepada Allah di langit adalah hasadnya Iblis kepada Adam ‘alaihi as-Salaam dan di bumi adalah hasadnya Qoobiil kepada Haabiil.

  •  Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Sebagai seorang hamba yang lemah, maka sudah seharusnya ia memohon kepada Rabbnya yang menguasai alam semesta ini untuk melindungi dirinya dari kejelekan yang ditimbulkan oleh makhluk-Nya baik secara umum maupun secara khusus, karena kemudhorotan yang ditimpakan oleh makhluk-Nya tidak dapat terjadi, tanpa izin dari Yang Menciptakan mereka. Hanya Allah semata yang mampu memberikan perlindungan yang maha sempurna dari kejahatan semua itu.

 

  • Faedah Ayat
  1. Permohonan perlindungan dalam surat ini secara umum adalah dari godaan dan kejahatan factor eksternal pada diri seseorang.
  2. Pada surat ini pertamakali kita memohon dari semua kejelekan makhluknya secara umum, kemudian kita memohon juga dari jenis kejelekan mereka secara khusus. Apa faedah dari hal tersebut? Az-Zamakhsyariy telah menjawab pertanyaan ini bagi kita, katanya :

قوله : { مِن شَرّ مَا خَلَقَ } تعميم في كل ما يستعاذ منه ، فما معنى الاستعاذة بعده من الغاسق والنفاثات والحاسد؟ قلت : قد خص شرّ هؤلاء من كلّ شر لخفاء أمره ، وأنه يلحق الإنسان من حيث لا يعلم ، كأنما يغتال به

Firman-Nya : {dari kejelekan makhluk-Nya} ini adalah umum terkait semua hal yang mohon perlindungan darinya, maka apa maksud dari mohon perlindungan sesudahnya berupa al-Ghoosiq (kejelekan malam hari), tukang sihir dan orang yang hasad?, maka aku jawab : ‘dikhususkan kejelekan-kejelekan tersebut karena tersamarkan perkaranya, ia menyebabkan kemudhorotan seseorang tanpa diketahui sebelumnya, sehingga seolah-olah ini adalah sebuah kecurangan.

  1. Malam hari adalah waktu yang tidak baik bagi seseorang untuk bergadang, baik dari segi keselamatan dimana banyak kejahatan yang dilakukan oleh makhluk-Nya maupun dari sisi kesehatan yang mana udara malam dapat menyebabkan seorang menjadi sakit. Terutama bagi anak-anak, jangan sampai membiarkan mereka keluar rumah setelah matahari tenggelam, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ، أَوْ أَمْسَيْتُمْ، فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ

Jika malam telah gelap atau senja, maka tahanlah anak-anak kalian, karena syaithon bertebaran pada waktu itu (muttafaqun ‘alaih).

Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Ta’liq Shahih Muslim berkata :

ومعناه أنه يخاف على الصبيان ذلك الوقت من إيذاء الشياطين لكثرتهم حينئذ

Maknanya dikhawatirkan anak-anak pada waktu itu akan disakiti setan yang pada waktu itu sangat banyak bertebaran.

  1. Orang-orang kafir pada dasarnya sangat hasad kepada orang yang beriman. Imam Syinqithi dalam tafsirnya menyebutkan bukti hasadnya mereka dalam Al Qur’an. Pertama adalah hasadnya ahlu kitab, Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الكتاب لَوْ يَرُدُّونَكُم مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الحق

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran (QS. Al Baqoroh : 109).

Kemudian orang Musyrik juga hasad kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, sebagaimana firman-Nya :

أَمْ يَحْسُدُونَ الناس على مَآ آتَاهُمُ الله مِن فَضْلِهِ

ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya (QS. An Nisaa’ : 54).

  1. Az-Zamakhsyariy menyebutkan keutamaan surat Al Falaq dan An Naas dimana bagi yang membaca kedua surat ini seolah-olah telah membaca seluruh Kitabullah. Az-Zamakhsyari membawakan hadits marfu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

مَنْ قرأَ المعوذتينِ فكأنَّما قرأَ الكتبَ التي أنزلَهَا الله تعالَى

Barangsiapa yang membaca al-Mu’awidzatain, maka seolah-olah ia telah membaca semua kitab yang telah Allah Subhanahu wa Ta’alaa turunkan.

Al Hafidz Ibnu Hajar telah melakukan takhrij hadits ini dalam kitabnya Takhrih Ahaadits al-Kasyaaf, kata beliau :

قلت رَوَاهُ الثَّعْلَبِيّ من حَدِيث أبي عصمَة نوح بن أبي مَرْيَم عَن زيد الْعمي عَن أبي نَضرة عَن ابْن عَبَّاس عَن أبي بن كَعْب عَن النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ من قَرَأَ المعوذتين … إِلَى آخِره

وَرَوَاهُ ابْن مرْدَوَيْه فِي تَفْسِيره بسنديه فِي آل عمرَان وَرَوَاهُ الواحدي فِي الْوَسِيط بِسَنَدِهِ الْمُتَقَدّم فِي يُونُس

Kukatakan diriwayatkan ole hats-Tsa’labiy dari hadits Abi ‘Ishmah Nuuh bin Abi Maryam dari Zaid al-‘Aamiy dari Abi Nashroh dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dari Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : al-Hadits.

Diriwayatkan Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya dengan sanadnya dalam surat Ali Imron dan al-Wahidiy dalam al-Washit dengan sanad yang terdahulu dalam surat Yunus.

Disini Al Hafidz tidak memberikan status terhadap hadits ini, namun beliau barangkali telah menjelaskan kondisi rantai periwayatan ini dan menilainya dhoif, sebagaimana dikatakan oleh tim pentahqiq kitab Mathoolibul ‘Aaliyah karya Al Hafidz Ibnu Hajar, kemudian yang menguatkan bahwa hadits ini lemah adalah penilaian yang diberikan oleh Imam al-Munawi dalam kitabnya al-Fath as-Samaawiy bitakhrijil Ahaadits al-Qodhi al-Baidhowiy, kata beliau ketika mentakhrij hadits diatas :

الثَّعْلَبِيّ وَابْن مرْدَوَيْه والواحدي بأسانيدهم إِلَى أبي بن كَعْب، وَقد تقدم أَن كلهَا مَوْضُوعَة وَالله اعْلَم.

Diriwayatkan ats-Tsa’labiy, Ibnu Mardawaih dan al-Wahidiy dengan sanadnya sampai kepada Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu, dan telah berlalu bahwa semuanya adalah palsu. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: