BAB 7 TENTANG MALU

February 12, 2015 at 8:10 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي الْحَيَاءِ

Bab 7 Tentang Malu

 

Penjelasan Bab :

Sifat malu adalah suatu sifat yang terpuji yang menjadi hiasan seorang Muslim. Bagaimana tidak Nabi sholallahu alaihi wa salam sendiri disifati sebagai seorang yang pemalu, tentu saja dalam makna yang benar yaitu malu kepada Allah dalam bermaksiat kepada-Nya. Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu pernah mensifati Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan perkataannya :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam lebih sangat pemalu dibandingkan seorang perawan yang dipingit didalam rumahnya. Beliau jika tidak menyukai sesuatu, kami mengenalinya dari perubahan wajahnya (Muttafaqun ‘alaih).

Kemudian malu ini adalah sebagai akhlak terbesar dari agama ini, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

Sesunggunya setiap agama terdapat akhlak dan akhlaknya Islam adalah malu (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Imam Abu Dawud berkata :

4795 – حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ»

23). Hadits no. 4795

Haddatsanaa al-Qo’nabiy dari Malik dari ibnu Syihaab dari Saalim bin Abdillah dari ibnu Umar bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam melewati melewati seorang sahabat Anshor yang sedang marah kepada saudaranya karena ia pemalu, Nabi bersabda kepadanya : “Biarkan ia, sesungguhnya malu bagian dari Iman”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan oleh HR. Bukhori (no. 6118) dan HR. Muslim (no. 69).

 

 

Penjelasan Hadits :

  1. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyebutkan bahwa malu adalah sebagian dari keimanan, sehingga seorang Mukmin tidak absen dirinya dari berhias dengan rasa malu. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Keimanan itu ada lebih dari 76 cabang dan malu salah satu cabang dari keimanan (Muttafaqun ‘alaih).

  1. Jika ada yang bertanya bahwa malu adalah sebuah tabiat yang terkadang dimiliki oleh seseorang, namun kenapa hal ini dimasukkan sebagai cabang keimanan? Maka Al Hafidz dalam kitabnya Fathul Bari telah menjawabnya, kata beliau :

أُجِيبَ بِأَنَّهُ قَدْ يَكُون غَرِيزَة وَقَدْ يَكُون تَخَلُّقًا ، وَلَكِنَّ اِسْتِعْمَاله عَلَى وَفْق الشَّرْع يَحْتَاج إِلَى اِكْتِسَاب وَعِلْم وَنِيَّة ، فَهُوَ مِنْ الْإِيمَان لِهَذَا ، وَلِكَوْنِهِ بَاعِثًا عَلَى فِعْل الطَّاعَة وَحَاجِزًا عَنْ فِعْل الْمَعْصِيَة

Dijawab bahwa terkadang malu ada sebuah tabiat dan terkadang juga sebuah akhlak, namun penerapannya yang sesuai dengan syariat butuh kepada usaha, ilmu dan niat, maka disinilah letak keimanannya, ketika malu ini sebagai trigger yang membangkitkan semangat untuk berbuat ketaatan dan menjadi warning dalam berbuat kemaksiatan.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4796 – حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: كُنَّا مَعَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، وَثَمَّ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ، أَوْ قَالَ: الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ ” فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا نَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً، وَوَقَارًا، وَمِنْهُ ضَعْفًا، فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ وَأَعَادَ بُشَيْرٌ الْكَلَامَ قَالَ: فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَقَالَ: «أَلَا أُرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُحَدِّثُنِي عَنْ كُتُبِكَ» قَالَ: قُلْنَا يَا أَبَا نُجَيْدٍ: إِيهٍ إِيه

24). Hadits no. 4796

Haddatsanaa Sulaiman bin Harb, haddatsanaa Hammaad dari Ishaaq bin Suwaid dari Abi Qotadah ia berkata : ‘kami sedang bersama ‘Imroon bin Khushoin rodhiyallahu anhu dan disana juga ada Busyair bin Ka’ab. Kemudian ‘Imroon bin Khushoin rodhiyallahu anhu menyampaikan hadits, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “malu itu baik seluruhnya atau malu itu seluruhnya baik”.

Busyair bin Ka’ab berkata : ‘kami mendapatkan disebagian kitab bahwa malu itu termasuk ketenangan dan kewibawaan dan sebagiannya ada yang lemah’. Maka ‘Imroon mengulang kembali hadits tersebut dan Busyair juga mengulangi lagi ucapannya. Akhirnya marahlah ‘Imroon rodhiyallahu anhu .sehingga memerah matanya, lalu berkata : “bukankah aku telah menunjukkan kepadamu hadits dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, namun engkau malah membantahnya dari bukumu”. Maka kami pun berkata kepada : ‘wahai Abu Nujaid (Imroon rodhiyallahu anhu) iih..iih..’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali Hammaad yakni ibnu Salamah hanya dipakai Bukhori sebagai mu’alaq dan Abu Qotadah yang bernama asli Tamiim bin Nadziir hanya dipakai Muslim.

Busyair bin Ka’ab, seorang Tabi’i kabiir, perowi tsiqoh yang dipakai oleh Imam Bukhori.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Imam Al Albani. Lafadz yang mirip dalam HR. Muslim (no. 60).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Na’am malu adalah baik seluruhnya, karena syariat mengungkapkannya sebagai bagian dari keimanan. Bahkan malu dapat mengantarkan pemiliknya kedalam jannah dan jannah baik seluruhnya tidak ada kejelakan didalamnya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ، وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ

Malu termasuk keimanan dan Iman tempatnya di jannah, sedangkan kekejian adalah kekeringan (kaku) dan kekeringan tempatnya di neraka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

  1. Kemarahan Imroon rodhiyallahu anhu dipicu oleh pernyataan Busyair yang mengatakan bahwa ada sebagian malu yang merupakan sifat kekurangan, seperti karena beralasan malu seorang enggan mengahadiri majelis ilmu. Maka Imroon rodhiyallahu anhu merasa marah karena sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam dibenturkan dengan ucapan orang lain.
  2. Kemudian perkataan jamaah yang hadir kepada Imroon rodhiyallahu anhu : iih..iih maka maksudnya adalah agar Imroon menghentikan kemarahannya, karena hal tersebut tidak masalah dan Busyair adalah kawan anda juga, ia bukanlah ahlu bid’ah atau orang yang menyimpang. Dalam lafadz Muslim, jamaah berkata :

فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ، إِنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ

Busyair senantiasa bersama kita wahai Abu Nujaid (Imroon rodhiyallahu anhu) hal tersebut tidak masalah.

Demikian penjelasan penulis kitab Aunul Maubud syarah Sunan Abu Dawud.

 

 

 

 

 

Imam Abu Dawud berkata :

4797 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ»

25). Hadits no. 4797

Haddatsanaa Abdullah bin Maslamah, haddatsanaa Syu’bah dari Manshuur dari Rib’iy bin Khiroosy dari Abi Mas’ud rodhiyallahu anhu beliau berkata : Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sesungguhnya apa yang diketahui orang-orang dari ucapan nibuwah yang pertamakali adalah jika engkau tidak tahu malu, maka lakukanlah sesuai yang engkau kehendaki”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip dalam HR. Bukhori (no. 6120).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Taliqnya terhadap Sunan Abu Dawud menukil penjelasan Imam al-Khothobiy, kata beliau :

وقال الخطابي في” معالم السنن ” 4/ 109، معنى قوله “النبوة الأولى”: أن الحياء لم يزل أمره ثابتاً واستعماله واجباً منذ زمان النبوة الأولى، وأنه ما من نبي إلا وقد ندب إلى الحياء، وحث عليه، وأنه لم ينسخ فيما نسخ من شرائعهم، ولم يبدل فيما بدل منها، وذلك أنه أمر قد عُلِمَ صوابُه، وبأن فضلُه، واتفقت العقولُ على حسنه، وما كان هذا صفته لم يجز عليه النسخ والتبديل.

Al-Khothoobiy berkata dalam Ma’aalimus Sunan (4/109) tentang makna nubuwah pertamakali : ‘sesungguhnya malu senantiasa perintahnya tsabit dan penerapannya wajib, semenjak zaman kenabian yang pertamakali, dan bahwasanya tidak ada seorang Nabi pun, kecuali dianjurkan untuk malu dan didorong untuk bersikap punya rasa malu. Sifat malu tidaklah dihapus seperti sebagian syariat yang dimansukh hukumnya dan tidak juga digantikan dengan sesuatu yang lain. Dengan demikian perkara malu menjadikan diketahuinya sebuah kebenaran, keutamaanya dan kesepakatan orang yang berakal sehat tentang kebaikannya, berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak boleh sifat malu dihapus hukumnya dan diganti.njadikan diketahuinya sebuah kebenaran, keutamaanya dan kesepakatan orang yang berakal sehat tentang keb

  1. Kemudian asy-Syaikh juga menukil ucapan Imam Ibnu Rojab tentang makna “lakukanlah sesuai yang engkau mau” :

قال ابن رجب في “جامع العلوم والحكم” 1/ 497 في معناه قولان: أحدهما: أنه ليس بمعنى الأمران يصنع ما شاء، ولكنه على معنى الذم، والنهي عنه، وأهل هذه المقالة لهم طريقان، أحدهما: أنه أمر بمعنى التهديد والوعيد، والمعنى: إذا لم يكن لك حياء، فأعمل ما شث، فإن الله يجازيك عليه، كقوله: {اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [فصلت: 40] وقوله {فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ} [الزمر: 15] وقول النبي -صلى الله عليه وسلم-: “من باع الخمر فليشقص الخنازير” يعني ليقطعها إما لبيعها أو لأكلها وأمثلته متعددة.

والطريق الثاني: أنه أمر ومعناه الخبر، والمعنى أن من لم يستحي صنع ما شاء، فإن المانع من فعل القبائح الحياء، فمن لم يكن له حياء انهمك في كل فحشاء ومنكر، وما يمتنع من مثله من له حياء.

Ibnu Rojab dalam “Jaami’ul Uluumil Wal Hikam” (1/497) berkata tentang maknanya ada 2 pengertian, bukan maksudnya perintah untuk melakukan saja sekehendaknya, namun maksudnya sebagai celaan dan larangan terhadapnya. Ulama yang berpendapat seperti ini memiliki 2 pandangan :

  1. Perintah tersebut bermakna Tahdiid dan Wa’iid (ancaman), maksudnya jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sekehendakmu, karena pasti Allah akan membalasmu, seperti Firman-Nya : {Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan} (QS. Fushilat : 40) dan : {Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia} (QS. Az Zumar : 15), kemudian sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “Barangsiapa yang menjual minuman keras, maka hendaknya potong babi”. Yakni memotongnya bisa untuk dijual atau dimakan atau yang selainnya.
  2. Perintah tersebut maknanya adalah khobar, yakni orang yang tidak tahu malu ia akan melakukan semaunya, karena yang menghalangi seseorang melakukan sesuatu yang buruk adalah karena malu, maka orang yang tidak memiliki rasa malu, ia akan tenggelam dalam setiap perbuatan keji dan mungkar, dan melakukan apa saja yang tidak dilakukan oleh orang yang punya rasa malu.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: