BAB 9 DIBENCINYA MEMUJJI SECARA BERLEBIHAN

February 19, 2015 at 11:29 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي كَرَاهِيَةِ التَّمَادُحِ

Bab 9 Dibencinya Memuji secara Berlebihan

 

Penjelasan Bab :

Ada sebuah pepatah arab yang populer yang berbunyi :

حب الظهور يقطع الظهور

Cinta popularitas akan mematahkan punggung.

Maknanya adalah terkadang seorang yang cinta popularits akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, tidak peduli lagi apakah perbuatan itu diridhoi oleh Allah atau tidak, karena ridhonya ketika itu bergantung kepada mayoritas manusia yang membuatnya populer. Tentu sikap ini akan membinasakannya, apalagi jika ia seorang ulama, kebenaran yang seharusnya ia sampaikan akan ditutupi karena itu tidak populer dihadapan manusia, ia hanya akan mengeluarkan pendapat-pendapat yang membuat para pemujanya senang, sekalipun itu bertabrakan dengan syariat. Dalam sebuah hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah (walaupun) manusia tidak suka, maka Allah akan mencukupkannya dari gangguan manusia. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia (sekalipun membuat) Allah marah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyerahkannya kepada manusia (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Berkaitan dengan judul bab, Al Hafidz Ibnu Hajar menerangkan dari sisi bahasa dalam kitabnya Fathul Bari, yang mana Imam Bukhori dalam shahihnya juga menulis judul bab yang sama, kata beliau :

هُوَ تَفَاعُل مِنْ الْمَدْح أَيْ الْمُبَالَغ ، وَالتَّمَدُّح التَّكَلُّف وَالْمُمَادَحَة أَيْ مَدْح كُلّ مِنْ الشَّخْصَيْنِ الْآخَر

Ia adalah wazan Tafaa’ul dari kata al-Madh yakni memuji terlalu berlebihan. At-Tamadduh adalah berlebih-lebihan, sedangkan al-Mumaadahah adalah seorang memuji orang lain.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4804 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ هَمَّامٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ فَأَثْنَى عَلَى عُثْمَانَ فِي وَجْهِهِ، فَأَخَذَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ تُرَابًا فَحَثَا فِي وَجْهِهِ، وَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا لَقِيتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ»

32). Hadits no. 4804

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa Wakii’, haddatsanaa Sufyaan dari Manshuur dari Ibrohim dari Hammaam ia berkata : ‘ada seorang laki-laki yang memuji Utsman rodhiyallahu anhu dihadapannya. Lalu al-Miqdaad ibnul Aswad rodhiyallahu anhu mengambil tanah dan ditaburkan di mukanya, beliau berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “jika engkau bertemu dengan orang yang suka memuji-muji, maka taburkan debu di mukanya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Sufyan adalah ats-Tsauri, Manshuur adalah ibnu Mu’tamir, Ibrohim adalah ibnu Yaziid dan Hamaam adalah ibnul Haarits.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani. Lafadz yang mirip ada di shahih Muslim (no. 3002).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4805 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا أَثْنَى عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ: «قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: ” إِذَا مَدَحَ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: إِنِّي أَحْسِبُهُ، كَمَا يُرِيدُ أَنْ يَقُولَ، وَلَا أُزَكِّيهِ عَلَى اللَّهِ “

33). Hadits no. 4805

Haddatsanaa Ahmad bin Yunus, haddatsanaa Abu Syihaab dari Khoolid al-Khidzaa’ daro Abdur Rokhman bin Abi Bakrah dari Bapaknya bahwa seseorang memuji orang lain disisi Nabi sholallahu alaihi wa salam, maka Beliau berkata : “engkau telah memotong urat leher temanmu” (3 kali), lalu berkata : “jika kalian memuji temannya dan memang harus memujinya, maka ucapkanlah : “aku menyangkanya demikian –sebagaimana yang ingin ia katakan- dan aku tidak memtazkiyahnya dihadapan Allah”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Abu Syihaab adalah Abdu Robbihi bin Nufa’i.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan oleh HR. Bukhori (no. 2662) dan HR. Muslim (no. 3000).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4806 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا بِشْرٌ يَعْنِي ابْنَ الْمُفَضَّلِ، حَدَّثَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ مُطَرِّفٍ، قَالَ: قَالَ أَبِي: انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَقُلْنَا: أَنْتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: «السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى» قُلْنَا: وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا، فَقَالَ: «قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ»

 

34). Hadits no. 4806

Haddatsanaa Musaddad, haddatsanaa Bisyir yakni ibnul Mufadhdhol, haddatsanaa Abu Maslamah Sa’id bin Yazid dari Abi Nadhroh dari Muthorrif ia berkata, bapakku berkata : “aku pergi bersama utusan Bani ‘Aamir menemui Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, kami berkata : “engkau adalah sayyid kami”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersaabda : “as-Sayyid adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Kami berkata lagi : “orang yang sangat utama, dan orang yang sangat agung”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam mengomentarinya : “ucapkanlah dengan ucapan kalian atau sebagian ucapan kalian, namun jangan sampai setan membawa kalian”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali Musaddad bin Musarhid hanya dipakai oleh Bukhori, dan Abu Nadhroh Mundzir bin Maalik hanya dipakai Muslim.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Ibnu Bathol menukil ucapan Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu :

المدح هو الذبح

Pujian adalah penyembelihan.

  1. Imam Muhammad Syamsul Haq dalam ‘ Aunul Maubud berkata :

وردت الأحاديث في النهي عن المدح وقد جاءت أحاديث كثيرة في الصحيحين بالمدح في الوجه  قال العلماء ووجه الجمع بينهما أن النهي محمول على المجازفة في المدح والزيادة في الأوصاف أو على من يخاف عليه فتنة من إعجاب ونحوه إذا سمع المدح وأما من لا يخاف عليه ذلك لكمال تقواه ورسوخ عقله ومعرفته فلا نهي في مدحه في وجهه إذا لم يكن فيه مجازفة بل إن كان يحصل بذلك مصلحة كنشطه للخير أو الازدياد منه أو الدوام عليه أو الاقتداء به كان مستحبا

Telah datang hadits-hadits tentang larangan pujian, namun ada juga hadits-hadits yang sangat banyak dalam shahihain tentang pujian. Ulama berkata : ‘sisi pengkompromian antara hadits larangan dibawa kepada pengertian terlalu berlebihan dalam memuji atau memberikan sifat yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah ujub dan semisalnya, jika ia mendengar pujian. Adapun orang yang tidak dikhawatirkan terkena fitnah, karena sempurna ketakwaannya, mendalam  akal dan ilmunya, maka tidak terlarang memujinya jika tidak berlebihan dan menghasilkan kemaslahatan, seperti memberi semangat kebaikan atau meningkatkankan kebaikan atau senantiasa dalam kebaikan atau untuk meneladani kebaikannya, maka ini adalah sesuatu yang bagus.

  1. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam juga tidak suka dipuji secara berlebihan yang mengakibatkan kesyirikan tanpa disadari, Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah bersabda :

لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ

Janganlah berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang nashroni berlebihan memuji Ibnu Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, maka kalian cukup mengatakan, hamba Allah dan Rasul-Nya (HR. Bukhori).

  1. Syaikh Sulaiman bin Abdullah al-Qoshiir dalam jawabannya terhadap masalah memuji seseorang, beliau merincinya menjadi 4 keadaan :
  • Memujinya dengan sesuatu perbuatan baik yang dilakukannya dan pujian ini menyebabkan ia lebih kuat berpegang dengan kebaikan dan akhlak yang baik.
  • Memujjinya dengan kebaikan untuk menjelaskan keutamaanya kepada orang lain. Dua keadaan ini diperbolehkan, berdasarkan hadits pujian Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam kepada para sahabatnya.
  • Memuji dengan kebaikan yang ada padanya, namun dikhawatirkan pujiannya ini menyebabkan ia terfitnah dan merasa diatas orang lain.
  • Memuji secara berlebihan atau sesuatu yang tidak layak baginya. Maka dua kondisi terakhir ini diharamkan, bahkan point yang keempat ada tambahan pelarangannya, karena ia telah melakukan kedustaan dan penipuan.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: