BAB 12 TENTANG SALAB

March 1, 2015 at 10:36 pm | Posted in Syarah Kitab Siyar min Sunan Tirmidzi | Leave a comment

بَابُ مَا جَاءَ فِي مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا فَلَهُ سَلَبُهُ

Bab 12 Tentang Orang yang Membunuh Seorang Musuh Mendapatkan apa yang Dimiliki Musuh

 

Penjelasan Bab :

Asy-Syaikh Shoolih bin Abdul Aziz Alu Syaikh  dalam Syarah Arbain, berkata yang dimaksud dengan salabahu :

يعني ما عليه من السلاح، وما معه من المال أو كذا، يسلبه ويكون لهذا القاتل

Yakni apa yang dimiliki musuh seperti pedang atau hartanya, ini adalah rampasan yang didapatkan oleh si pembunuh musuh tersebut.

 

Imam Tirmidzi berkata :

1562 – حَدَّثَنَا الأَنْصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْنٌ قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ كَثِيرِ بْنِ أَفْلَحَ، عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ، مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا لَهُ عَلَيْهِ بَيِّنَةٌ فَلَهُ سَلَبُهُ»: «وَفِي الحَدِيثِ قِصَّةٌ» حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَفِي البَاب عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، وَخَالِدِ بْنِ الوَلِيدِ، وَأَنَسٍ، وَسَمُرَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو مُحَمَّدٍ هُوَ نَافِعٌ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ،  وَهُوَ قَوْلُ الأَوْزَاعِيِّ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ وقَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: لِلإِمَامِ أَنْ يُخْرِجَ مِنَ السَّلَبِ الخُمُسَ وقَالَ الثَّوْرِيُّ: النَّفَلُ أَنْ يَقُولَ: الإِمَامُ مَنْ أَصَابَ شَيْئًا فَهُوَ لَهُ، وَمَنْ قَتَلَ قَتِيلًا فَلَهُ سَلَبُهُ، فَهُوَ جَائِزٌ، وَلَيْسَ فِيهِ الخُمُسُ وقَالَ إِسْحَاقُ: السَّلَبُ لِلْقَاتِلِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ شَيْئًا كَثِيرًا فَرَأَى الإِمَامُ أَنْ يُخْرِجَ مِنْهُ الخُمُسَ، كَمَا فَعَلَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ

15). Hadits no. 1562

Haddatsana al-Anshoriy ia berkata, haddatsanaa Ma’nun ia berkata, haddatsanaa Malik bin Anas dari Yahya bin Sa’id dari Umar bin Katsiir bin Aflah dari Abi Muhammad –Maula Abi Qotaadah- dari Abu Qotadah rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “barangsiapa yang membunuh seorang musuh yang sudah jelas baginya, maka ia mendapatkan hartanya”.

Dalam hadits ini, terdapat kisahnya. Haddatsanaa ibnu Abi Umar ia berkata, haddatsanaa Sufyaan bin Uyyainah dari Yahya bin Sa’id dengan sanad diatas mirip matannya.

Dalam bab ini, terdapat juga hadits dari ‘Auf bin Maalik, Khoolid bin Walid, Anas dan Samurah rodhiyallahu anhum ajma’in.

Hadits ini hasan Shahih, Abu Muhammad adalah Naafi’ –maula Abi Qotadah-.

Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam dan selain mereka, ini adalah pendapatnya Auza’i, Syafi’i, dan Ahmad.

Sebagian ulama berkata : ‘bagi Imam wajib mengambil seperlima salabnya’.

Ats-Tsauri berkata : ‘harta rampasan, jika Imam mengatakan, barangsiapa yang mendapatkan sesuatu, maka itu untuknya dan bagi yang membunuh seorang musuh, maka ia mendatkan salabnya, ini adalah boleh dan tidak  perlu mengeluarkan seperlimanya’.

Ishaq berkata : ‘Salab bagi yang membunuh, kecuali jika hartanya banyak, maka Imam mengambil seperlimanya, sebagaimana dilakukan oleh Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu’.

 

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali al-Anshoriy yang bernama asli Ishaq bin Musa bin Abdullah, hanya dipakai Muslim.

Hadits ini Shahih, dishahihkan sendiri oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani. Lafadz yang mirip ada di HR. Bukhori (no. 2909) dan HR. Muslim (no. 3295).

Kemudian Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits sejenis diriwayatkan oleh beberapa orang sahabat, Imam Mubarokfuriy dalam Tuhfatul Ahwadziy berkata :

أما حديث عوف بن مالك وخالد بن الوليد فأخرجه مسلم ففيه عن عوف بن مالك أنه قال لخالد بن الوليد  أما علمت أن النبي صلى الله عليه و سلم قضى بالسلب للقاتل قال بلى وعن عوف وخالد أيضا أن النبي صلى الله عليه و سلم لم يخمس السلب رواه أحمد وأبو داود رضي الله عنهما

 وأما حديث أنس فأخرجه أحمد وأبو داود وأما حديث سمرة فلينظر من أخرجه

Adapun hadits ‘Auf bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu dan Khoolid bin Walid Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Muslim, didalamnya disebutkan bahwa Auf Rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada Khoolid Rodhiyallahu ‘anhu : “bukankah engkau mengetahui bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menetapkan salab kepada si pembunuh?”, Khoolid Rodhiyallahu ‘anhu menjawab : “iya betul”.

Dari Auf dan Khoolid Rodhiyallahu ‘anhuma juga bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak mengambil seperlima salab” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Adapun hadits Anas Rodhiyallahu ‘anhu dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, sedangkan hadits Samurah Rodhiyallahu ‘anhu, maka lihatlah siapa yang meriwayatkannya.

Alhamdulillah saya telah melihatnya, ternyata diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Al Albani.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Yang dimaksud keterangan yang jelas adalah bahwa yang dibunuh benar-benar musuh yang harus diperangi, jangan sampai karena hendak menginginkan harta seorang, lalu ia tidak hati-hati dalam membunuh pihak yang baru dugaan itu adalah musuh. Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah mengingatkan hal tersebut dalam Firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu : “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. An Nisaa’ : 94).

Saya telah menjelaskan surat tersebut dalam tulisan saya Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim (hadits no. 22).

  1. Dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama sebagai berikut :
  • Si pembunuh mendapatkan salab, baik pimpinan pasukan mengatakan : “barangsiapa yang dapat membunuh seorang musuh, maka ia mendapatkan salabnya” atau tidak mengatakan dalam semua medan pertempuran. Ini pendapatnya jumhur ulama, dan ini yang kami rajihkan, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda di banyak tempat dan sesudah peperangan berlangsung.
  • Hanafiyyah mengatakan hal tersebut jika Imam mempersyaratkan dalam perkataannya seperti diatas, jika tidak maka si pembunuh tidak mendapatkan salab.
  • Imam yang menentukan ia memberikan salab atau tidak, ini pendapatnya Qodhi Ismail.
  1. Kemudian Imam Mubarokfuriy menyebutkan bahwa para ulama berbeda didalam memaknai salab yang dimaksud, jumhur ulama mengatakan itu adalah pakaian yang dikenakan musuh dan selainnya, namun Imam Ahmad mengecualikan tunggangannya, sedangkan menurut Imam Syafi’i adalah alat perang yang dimilikinya.
  2. Kemudian para ulama berbeda pendapat, apakah dikeluarkan seperlima dari salab yang didapatkan oleh pembunuhnya?, sebagian ulama berpendapat tetap dikeluarkan seperlima sebagai bagian untuk Allah dan Rasul-Nya, berdasarkan keumuman ayat :

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul (QS. Al Anfaal : 41).

Namun sebagian ulama lagi mengatakan bahwa hadits Auf dan Kholid rodhiyallahu anhumaa sebagai pengkhususan ayat diatas yang mengatakan tidak dibayarkan seperlima dari salab yang didapatkan.

  1. Pemberian salab ini sebagai motivasi agar umat berjihad. Asy-Syaikh Shoolih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam Syarah Arbaiin membagi amal terkait dengan niat ikhlas kepada Allah kepada 2 macam, yaitu yang pertama amalan yang tidak diinginkan kecuali Allah dan tidak boleh hati mengharapkan balasan dunia, ini adalah kondisi kebanyakan amalan ibadah yang disyariatkan. Sedangkan yang kedua adalah amal ibadah yang syariat anjurkan dengan menyebutkan balasan dunia bagi yang melakukannya, diantara adalah masalah salab ini.
  2. Hadits ini menunjukkan bolehnya menafkahkan ghonimah yang didapatkan untuk mengarungi kehidupan ini.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: