Bab 11 Yang Membolak-Balikkan Hati

March 2, 2015 at 12:10 am | Posted in Syarah Kitab Tauhid min Shahih Bukhori | Leave a comment

بَابُ مُقَلِّبِ القُلُوبِ

Bab 11 Yang Membolak-Balikkan Hati

 

Penjelasan Bab :

Tidak ada seorang pun yang tahu kondisi keimanannya pada waktu lampau, saat ini dan yang akan datang. Seorang hanya bisa merasakan ia lebih istiqomah dibandingkan waktu lampau atau sebaliknya, misalnya. Namun tidak ada yang menjamin dirinya akan mampu senantiasa beristiqomah sampai akhir hayatnya. Oleh karena itu Nabi sholallahu alaihi wa salam ketika dimintai nasehat oleh salah seorang sahabatnya, Beliau berkata :

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ

Katakanlah : ‘aku beriman kepada Allah, lalu beristiqomalah’ (HR. Muslim).

Asy-Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi berkata dalam Ta’liq Shahih Muslim menukil perkataan Qodhi Iyaadh tentang hadits diatas, kata beliau :

قال القاضي عياض رحمه الله هذا من جوامع كلمه صلى الله عليه وسلم إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا أي وحدوا الله وآمنوا به ثم استقاموا فلم يحيدوا عن التوحيد والتزموا طاعته سبحانه وتعالى إلى أن توفوا على ذلك

Al-Qodhiy ‘Iyaadh berkata : ‘ini adalah jaami’u kalamnya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bahwa mereka yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, lalu mereka istiqomah yakni mentauhidkan-Nya dan beriman kepada-Nya, lalu beristiqomah tidak menyimpang dari tauhid dan senantiasa mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampai mereka meninggal dunia’.

Na’am dengan datangnya fitnah yang semakin dahsyat dari semua sisinya baik yang berkaitan dengan syahwat maupun syubhat, maka betapa banyak orang-orang yang dulu dikenal istiqomah, kemudian menjadi berubah haluannya, mulai banyak terlihat penyimpangan-penyimpangan syariat dalam dirinya. Hal ini telah disinyalir oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam haditsnya :

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal, (sebelum datang) fitnah seperti potongan malam yang gelap, pagi hari seorang masih beriman, sore harinya sudah kafir atau sore hari masih beriman, pagi harinya sudah kafir, ia menjual agamanya dengan kepentingan dunia (HR. Muslim).

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita senantiasa mencoba istiqomah dalam mengarungi hidup ini dan juga selalu memohon pertolongan kepada Allah agar hati-hati kita tidak dibalikkan sehingga menjadi orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Sesungguhnya hati anak Adam semuanya diantara jari-jemari Ar Rokhman, seperti hati yang satu, Dia memalingkannya sesuai yang dikehendaki-Nya, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Ya Allah yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk mentaati-Mu” (HR. Muslim).

 

Imam Bukhori berkata :

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ} [الأنعام: 110]

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : {Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka } (QS. Al An’aam : 110).

Imam ath-Thobari berkata didalam menafsirkan ayat diatas, kata beliau :

وأولى التأويلات في ذلك عندي بالصواب أن يقال: إن الله جل ثناؤه، أخبر عن هؤلاء الذين أقسموا بالله جهدَ أيمانهم لئن جاءتهم آية ليؤمنن بها: أنَّه يقلب أفئدتهم وأبصارهم ويصرِّفها كيف شاء، وأنّ ذلك بيده يقيمه إذا شاء، ويزيغه إذا أراد

Penafsiran yang terbaik menurutku adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengabarkan tentang mereka yang bersumpah dengan nama Allah dengan sebenar-benarnya, seandainya datang ayat kepada mereka untuk beriman, maka mereka akan beriman, (namun kenyataannya mereka berpaling). Allah membolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sesuai yang dikehendaki-Nya dan di-Tangan-Nya-lah mereka akan lurus jika Dia menghendaki dan menyesatkannya jika Dia menghendakinya juga.

Ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya yakni bunyi lengkapnya sebagai berikut :

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آَيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا قُلْ إِنَّمَا الْآَيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ (109) وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (110)

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.” Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat (QS. Al An’aam : 109-110).

Tim penerjemah DEPAG RI memberikan catatan kaki terhadap ayat ke-109, kata mereka :

Maksudnya: orang-orang musyrikin bersumpah bahwa kalau datang mukjizat, mereka akan beriman, karena itu orang-orang muslimin berharap kepada Nabi agar Allah menurunkan mukjizat yang dimaksud. Allah menolak pengharapan kaum mukminin dengan ayat ini.

Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Muhammad al-Wahidiy (w. 468 H) dalam kitabnya Asbaabun Nuzulul Qur’an meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qurodhi beliau berkata :

كَلَّمَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قُرَيْشٌ فَقَالُوا: يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ تُخْبِرُنَا أَنَّ مُوسَى عَلَيْهِ

السَّلَامُ كَانَتْ مَعَهُ عَصًا ضَرَبَ بِهَا الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا، وَأَنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يُحْيِي الْمَوْتَى، وَأَنَّ ثَمُودَ كَانَتْ لَهُمْ نَاقَةٌ، فَأْتِنَا بِبَعْضِ تِلْكَ الْآيَاتِ حَتَّى نُصَدِّقَكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – “أَيُّ شَيْءٍ تُحِبُّونَ أَنْ آتِيَكُمْ بِهِ” فَقَالُوا: تَجْعَلُ لَنَا الصَّفَا ذَهَبًا، قَالَ: “فَإِنْ فَعَلْتُ تُصَدِّقُونِي”، قَالُوا: نَعَمْ وَاللَّهِ لَئِنْ فَعَلْتَ لَنَتَّبِعَنَّكَ أَجْمَعِينَ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَدْعُو، فَجَاءَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَالَ: إِنْ شِئْتَ أَصْبَحَ الصَّفَا ذَهَبًا، وَلَكِنِّي لَمْ أُرْسِلْ آيَةً فَلَمْ يُصَدَّقْ بِهَا إِلَّا أَنْزَلَتِ الْعَذَابَ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُمْ حَتَّى يَتُوبَ تَائِبُهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – “اتْرُكْهُمْ حَتَّى يَتُوبَ تَائِبُهُمْ” فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا} إِلَى قَوْلِهِ: {مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ}

Orang Quraisy berkata kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam : ‘wahai Muhammad engkau telah menceritakan kepada kami bahwa Musa ‘alaihi as-Salaam mempunyai tongkat yang digunakan untuk memukul batu, lalu darinya terpancar 12 mata air dan Isa ‘alaihi as-Salaam dapat menghidupkan yang mati, lalu Tsamuud ‘alaihi as-Salaam memiliki Unta, maka tunjukkan kepada kami sebagian mukjizat, sehingga kami akan membenarkanmu, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkata : “mukjizat apa yang kalian inginkan?”, mereka menjawab : ‘jadikan shofa bukit emas’. Nabi menjawab : “jika aku melakukannya apakah engkau akan membenarkanku?”, mereka menjawab : ‘iya, demi Allah, jika engkau melakukannya kami semua akan mengikutimu’. Maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berdiri berdoa untuk mendatangkan mukjizat tersebut, lalu datanglah Jibril ‘alaihi as-Salaam berkata : “jika engkau mau, besok shofa akan menjadi bukit emas, namun aku tidak menurunkan mukjizat, lalu mereka tidak membenarkannya, kecuali akan turun adzab kepada mereka, jika engkau mau maka tinggalkanlah hingga bertaubat diantara mereka orang-orang yang bertaubat”. Maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “biarkan mereka hingga bertaubat orang-orang yang bertaubat”, lalu Allah menurunkan ayat : Al An’aam ayat 109-111.

Riwayat ini dhoif, karena Muhammad bin Ka’ab seorang Tabi’in kibar sehingga mursal, namun pentahqiq kitab diatas yakni asy-Syaikh ‘Ishoom bin Abdul Muhsin berkata :

أخرج ابن جرير (8/14) من طريق علي بن أبي طلحة عن ابن عباس رضي الله عنهما بمعناه، وإسناده صحيح، ويشهد له: ما أخرجه ابن جرير (8/13) من طريق هارون بن عنترة عن أبيه عن ابن عباس أيضًا نحوه. ولا بأس بإسناده.

Dikeluarkan oleh Ibnu Jariir (8/14) dari jalan Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dengan maknanya dan sanadnya shahih. Dikuatkan juga dengan yang diriwayatkan oleh Ibnu Jariir (13/8) dari jalan Haruun bin ‘Antarah dari Bapaknya dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu semisalnya dan sanadnya laa ba’sa.

 

Imam Bukhori berkata :

7391 – حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنِ ابْنِ المُبَارَكِ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: أَكْثَرُ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْلِفُ: «لاَ وَمُقَلِّبِ القُلُوبِ»

21). Hadits no. 7391

Haddatsani Sa’id bin Sulaiman dari ibnul Mubaarok dari Musa bin ‘Uqbah dari Saalim dari Abdillah (bin Umar) Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “yang paling banyak digunakan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk bersumpah adalah : “tidak, demi Yang Membolak-balikkan hati”.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Abul Waliid Sulaiman bin Kholaf al-Baajiy (w. 474 H) dalam kitabnya al-Muntaqo syarah Muwatho menjelaskan alasan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam banyak bersumpah dengan lafadz sebagaimana hadits diatas, kata beliau :

وَلَعَلَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوَاظِبُ عَلَى ذَلِكَ تَنْبِيهًا عَلَى مَا يَنْفَرِدُ بِهِ تَعَالَى مِنْ تَقْلِيبِ الْقُلُوبِ مِنْ الرِّضَا بِالشَّيْءِ إِلَى الْكَرَاهِيَةِ وَمِنْ الْعَزْمِ عَلَى الْفِعْلِ إِلَى الْعَزْمِ عَلَى التَّرْكِ وَفِي ذَلِكَ مَعْنًى آخَرُ

Mungkin Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam banyak menggunakan lafadz tersebut sebagai pengingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa dapat membolak-balikkan hatinya yang tadinya ridho terhadap sesuatu menjadi tidak senang dengannya atau yang tadinya berazam untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu ternyata berubah azamnya.

  1. Kata Imam al-Baaji juga, bolehnya bersumpah dengan Asma Allah atau sifat-Nya, selain lafadz Allah, seperti demi yang menciptakan makhluk, demi yang membentangkan rezeki dan semisalnya.
  2. Imam ibnu Bathol dalam Syarah Bukhori berkata :

ومر فيه أن تقليبه لقلوب عباده صرفه لها من إيمان إلى كفر، ومن كفر إلى إيمان وذلك كله مقدور لله تعالى وفعل له، بخلاف قول القدرية.

Telah berlalu sebelumnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa mampu membolak-balikkan hati para hamba-Nya yang tadinya beriman menjadi kafir atau dari kafir menjadi beriman, semua itu telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’alaa, berbeda dengan keyakinannya Qodariyyah.

  1. Akhirnya kita berdoa supaya Allah Subhanahu wa Ta’alaa menetapkan hati kita diatas keimanan dan agama yang diridhoinya, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku diatas agama-Mu (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: