BAB 12 ORANG YANG MENIKAHKAN ANAKNYA, SEDANGKAN SI ANAK TIDAK SUKA

March 7, 2015 at 11:30 pm | Posted in Syarah Kitab Nikah min Sunan Ibnu Majah | Leave a comment

بَابُ مَنْ زَوَّجَ ابْنَتَهُ وَهِيَ كَارِهَةٌ

Bab 12 Orang yang Menikahkan Anak Perempuannya,

sedangkan si Anak Tidak Suka

 

Penjelasan Bab :

Tidak boleh seorang wali baik itu ayahnya atau kerabat lainnya untuk menikahkan wanita yang berada dibawah kewaliannya, tanpa adanya ridho dari sang wanita. Sebagaimana juga tidak boleh seorang wali untuk menolak atau menggantinya dengan calon laki-laki lain, jika si wanita telah memilih calon laki-laki yang ia senangi, padahal ia sekufu. Karena Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ

Jika datang kepada kalian laki-laki yang diridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dihasankan oleh Imam Al Albani).

Demikian perkataan asy-Syaikh Sholih al-Munajid dalam Fatawa Sual wal Jawab (no. 47439).

Imam Ibnu Majah berkata :

1873 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، وَمُجَمِّعَ بْنَ يَزِيدَ الْأَنْصَارِيَّيْنِ، أَخْبَرَاهُ: «أَنَّ رَجُلًا مِنْهُمْ يُدْعَى خِذَامًا أَنْكَحَ ابْنَةً لَهُ، فَكَرِهَتْ نِكَاحَ أَبِيهَا، فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَتْ لَهُ، فَرَدَّ عَلَيْهَا نِكَاحَ أَبِيهَا» ، فَنَكَحَتْ أَبَا لُبَابَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُنْذِرِ وَذَكَرَ يَحْيَى «أَنَّهَا كَانَتْ ثَيِّبًا»

29). Hadits no. 1873

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah ia berkata, haddatsanaa Yaziid bin Haaruun dari Yahya bin Sa’id, bahwa  al-Qoosim bin Muhammad mengabarinya, bahwa Abdur Rokhman bin Yaziid dan Mujammi’ bin Yaziid rodhiyallahu anhumaa keduanya Anshori ia mengabarinya bahwa ada seorang ayah yang memanggil seorang pembantu untuk dinikahkan dengan anak perempuannya, namun si wanita tidak suka dengan pilihan bapaknya, lalu ia mendatangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan menyebutkan permasalahannya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam menolak perjodohan bapaknya, lalu ia menikah dengan Abu Lubaabah bin Abdil Mundzir”.

Yahya menyebutkan bahwa wanita tersebut masih gadis.

 

 

 

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya adalah perowi tsiqoh, perowi Bukhori Muslim, kecuali 2 sahabat diatas hanya disebutkan dalam riwayat Bukhori.

Hadits ini Shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip di HR. Bukhori (no. 5139).

 

Imam Ibnu Majah Berkata :

1874 – حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: ” إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ، لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ: قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي، وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الْآبَاءِ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ “

30). Hadits no. 1874

Haddatsanaa Hannaad ibnus Suriy ia berkata, haddatsanaa Wakii’ dari Kahmas ibnul Hasan dari ibnu Buraidah dari Bapaknya beliau berkata : “seorang pemudi mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam lalu berkata : “bapakku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk mengankat kedudukannya”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “urusannya adalah terserah kepadamu”. Pemudi tadi berkata : “aku telah memaafkan apa yang dilakukan bapakku, namun aku hanya ingin tahu apakah wanita memiliki hak atas bapaknya (untuk menolak perjodohan dari bapaknya-pent.)”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya adalah perowi tsiqoh, perowi Bukhori Muslim.

Hadits ini shahih lighoirihi, imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth mengatakan hadits ini syadz,  Alasannya karena Hannaad bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Abdullah bin Buraidah dari Bapaknya, dalam riwayat Nasa’i (no. 3269) dari jalan Ali Bin Ghuroob dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah dari Aisyah rodhiyallahu anha. Namun kata Imam Daruquthni Abdullah bin Buraidah tidak pernah mendengar dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha.

Asy-Syaikh Muhammad bin Ali dalam Syarah al-Mujtaba menilai hadits diatas shahih dengan alasan (yang kami ringkas) sebagai berikut :

  • Dalam shahih muslim terdapat riwayat Abdullah bin Buraidah yang bersambung dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha dan beliau sezaman dengan ummul mukminin Aisyah Rodhiyallahu ‘anha.
  • Terdapat penguat/syawaahid dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang dihasankan oleh Syaikh dan dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu.

 

Imam Ibnu Majah Berkata :

1875 – حَدَّثَنَا أَبُو السَّقْرِ يَحْيَى بْنُ يَزْدَادَ الْعَسْكَرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرُّوذِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَتْ لَهُ أَنَّ «أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَ: أَنْبَأَنَا مُعَمَّرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّقِّيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ حَبَّانَ، عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

31). Hadits no. 1875

Haddatsanaa Abus Saqr Yahya bin Yazdaad al-‘Askariy ia berkata, haddatsanaa al-Husain bin Muhammad al-Marruudziy ia berkata, haddatsani Jariir bin Haazim dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa budak wanita yang masih gadis mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu ia menyebutkan bahwa ayahmya telah menikahkan namun ia tidak menyukainya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memberi pilahan kepadanya (apakah dilanjutkan pernikahannya atau dibatalkan-pent.).”.

Haddatsanaa Muhammad ibnus Shobbaah ia berkata, anba’anaa Mu’ammar bin Sulaiman ar-Roqqiy dari Zaid bin Habbaan dari Ayyub as-Sikhtiyaaniy dari Ikrimah dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam semisal diatas.

 

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya adalah perowi tsiqoh, perowi Bukhori Muslim, kecuali Yahya bin Yazdaad seorang perowi maqbul.

Adapun sanad yang kedua, semua perowinya tsiqoh, kecuali Ibnus Shobbaah dan Zaid bin Habbaan adalah perowi shoduq.

Hadits ini Shahih lighoirihi, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Penguatnya adalah dalan riwayat Abu Dawud (no. 2096) dari jalan Ustman bin Abi Syaibah dari Husain dst. Utsman perowi tsiqoh, yang dipakai Bukhori dan Muslim.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Tidak boleh adanya paksaan dalam pernikahan.
  2. Asy-Syaikh Abdullah al-Basaam dalam Taudhihul Ahkam (5/277) berkata :

وقال الشيخ محمَّد بن إبراهيم آل الشيخ: لا يخفى أنَّ من شروط صحة النكاح الرضا، ولو كانت البنت بكرًا، فليس لأبيها إجبارها، وأدلة هذا القول واضحة، وقد اختاره شيخ الإِسلام، وابن القيم. قال في الفائق: وهو أصح، قال الزركشي: وهو أظهر. وهو مذهب الأوزاعي، والثوري، وأبي ثور، وأصحاب الرأي، وابن المنذر، وهو الصحيح.

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh berkata : ‘tidak samar lagi bahwa diantara syarat sahnya pernikahan adalah keridhoan, sekalipun anak perempuannya masih gadis. Orang tua tidak boleh memaksanya dalil pendapat ini sangat jelas. Ini adalah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim. Dalam al-Faiq : ‘ini pendapat yang rajih’. Az-Zarkasyi berkata : ‘pendapat ini lebih jelas’. Ini adalah madzhabnya al-Auza’ I, ats-Tsauri, Abu Tsaur, ashabur Ro’yu dan ibnul Mundzir dan ini pendapat yang rajih.

  1. Masih dalam halaman yang sama, asy-Syaikh Alu Basam berkata :

وفي الحديث دليل على أنَّ النكاح إذا لم يعقد على الوجه الشرعي، فإنَّه يجب فسخه، وأنَّ الذي يفسخه هو الحاكم الشرعي.

Dalam hadits ini dalil bahwa pernikahan jika tidak sesuai dengan syariat, maka wajib mem-fasakh-nya dan yang berhak mem-fasakh-nya adalah hakim syariat.

  1. Asy-Syaikh Muhammad bin Ali dalam Dakhirotul Uqba’ berkata :

وإنما فعلت ذلك لتَعلم، وتتبيّن هل النساء لهنّ حقّ في أمر نكاحهنّ، بحيث لا يحلّ تزويجهنّ إلا برضاهنّ، أو ليس لهنّ من الأمر شيء، وإنما هو للأولياء فقط، يزوّجوهنّ كيف شاءوا، فبيّن النبيّ – صلى اللَّه عليه وسلم – أن الأمر لهنّ، لا للأولياء، فلا يحلّ لهم أن يزوّجوهنّ إلا برضاهنّ

Hanyalah budak wanita tersebut melakukan hal itu untuk mengetahui penjelasannya apakah wanita memiliki hak dalam pernikahannya yang mana tidak halal pernikahan, kecuali dengan keridhoannya atau tidak memiliki hak apapun, hak itu hanya dimiliki wali, sehingga mereka dapat menikahkan dengan siapapun yang mereka sukai?. Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjelaskan bahwa hak ada pada wanita bukan kepada walinya, maka tidak boleh menikahkannya tanpa keridhoannya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: