MENGHADAP KIBLAT

March 9, 2015 at 11:53 pm | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

 

Menghadap Kiblat

Sifat sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam yang pertama disebutkan oleh Imam Al Albani (w. 1420 H) adalah terkait seorang yang sholat untuk menghadap kiblat. Beliau berkata (hal. 75-cet. Maktabah al-Ma’aarif) :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة استقبل الكعبة في الفرض والنفل وأمر صلى الله عليه وسلم بذلك

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam jika berdiri untuk sholat, Beliau menghadap ka’bah baik dalam sholat fardhu (wajib) maupun sholat nafilah (tambahan/sunnah), dan Beliau sholallahu alaihi wa salam memerintahkan (kepada yang lainnya) untuk melakukan hal tersebut.

Sementara itu Imamunaa Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w. 204 H) juga berkata hal yang senada dalam kitabnya al-Umm (1/114-cet. Daarul Ma’rifah) :

فَالْفَرْضُ عَلَى كُلِّ مُصَلِّي فَرِيضَةً، أَوْ نَافِلَةً، أَوْ عَلَى جِنَازَةٍ، أَوْ سَاجِدٍ لِشُكْرٍ، أَوْ سُجُودِ قُرْآنٍ أَنْ يَتَحَرَّى اسْتِقْبَالَ الْبَيْتِ إلَّا فِي حَالَيْنِ أَرْخَصَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِمَا سَأَذْكُرُهُمَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.

Maka wajib bagi orang yang sholat baik itu sholat wajib atau nafilah atau jenazah atau sujud syukur atau sujud qur’an (tilawah) untuk menghadap ke baitullah, kecuali pada 2 keadaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan keringanan padanya, yang akan saya sebutkan –In Sya Allah Ta’aalaa-.

Imam Yahya bin Syarof an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (3/189-cet. Daarul Fikr) berkata :

اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ شَرْطٌ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ إلَّا فِي الْحَالَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ عَلَى تَفْصِيلٍ يَأْتِي فِيهِمَا فِي مَوْضِعِهِمَا وَهَذَا لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةُ

Menghadap kiblat adalah syarat sahnya sholat, kecuali dalam 2 kondisi yang akan disebutkan perinciannya pada tempatnya. Ini adalah masalah yang tidak ada perselisihan dikalangan ulama (terkait menghadap kiblat) dari sisi globalnya.

Imam Al Albani kemudian kelihatannya ingin menyampaikan bahwa ada pengecualian tertentu bagi orang yang sholat untuk tidak menghadap kiblat, pertama beliau berkata (hal. 75) :

كان صلى الله عليه وسلم في السفر يصلي النوافل على راحلته ويوتر عليه حيث توجهت به [شرقا وغربا] كان – أحيانا – إذا أراد أن يتطوع على ناقته استقبل بها القبلة فكبر ثم صلى حيث وجهه ركابه

Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam safarnya sholat nawafil diatas kendaraan dan Beliau menghadap kemana saja kendaraannya bergerak baik arah timur maupun barat, dan terkadang jika akan sholat tathowu’ diatas kendaraannya, Beliau menghadap kiblat lalu bertakbir, kemudian sholat menghadap sesuai dengan arah kendaraannya melaju.

Sedangkan yang kedua (hal. 76) beliau berkata :

وأما في صلاة الخوف الشديد فقد سن صلى الله عليه وسلم لأمته أن يصلوا (رجالا قياما على أقدامهم أو ركبانا مستقبلي القبلة أو غير مستقبليها

Adapun sholat khouf yang sangat mencekam, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mensunahkan kepada umatnya agar mereka sholat baik dalam kondisi berjalan, berdiri atau berada diatas kendaraannya, baik menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat.

Kelihatannya Imam Al Albani menyebutkan 2 kondisi yang diberikan keringanan bagi orang yang sholat untuk tidak menghadap kiblat, sebagaimana disinggung oleh Imam Syafi’i. Kemudian kita rujuk kepada kitabnya Imam Syafi’i tentang 2 kondisi tersebut yang telah diisyaratkan sebelumnya oleh beliau. Imamunaa berkata (1/117) :

وَأَنَّ الْخَوْفَ الْآخَرَ الَّذِي أَذِنَ لَهُمْ فِيهِ أَنْ يُصَلُّوا رِجَالًا وَرُكْبَانًا لَا يَكُونُ إلَّا أَشَدَّ مِنْ الْخَوْفِ الْأَوَّلِ وَذَلِكَ عَلَى أَنَّ لَهُمْ أَنْ يُصَلُّوا حَيْثُ تَوَجَّهُوا مُسْتَقْبِلِي الْقِبْلَةَ وَغَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا فِي هَذِهِ الْحَالِ

sholat khouf lain yang diizinkan untuk sholat dalam kondisi berjalan atau berkendaraan, tidaklah itu terjadi kecuali ketika khoufnya lebih mencekam dari khouf yang pertama (khouf biasa). Dengan demikian mereka sholat menghadap kemana saja, baik menghadap kiblat maupun tidak pada kondisi tersebut.

Sedangkan kondisi yang kedua, Imamunaa berkata (1/117-118) :

وَدَلَّتْ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى أَنَّ لِلْمُسَافِرِ إذَا تَطَوَّعَ رَاكِبًا أَنْ يُصَلِّيَ رَاكِبًا حَيْثُ تَوَجَّهَ (قَالَ) : وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ مُسَافِرًا مُتَطَوِّعًا رَاكِبًا صَلَّى النَّوَافِلَ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ وَصَلَّاهَا عَلَى أَيِّ دَابَّةٍ قَدَرَ عَلَى رُكُوبِهَا حِمَارًا، أَوْ بَعِيرًا، أَوْ غَيْرَهُ وَإِذَا أَرَادَ الرُّكُوعَ، أَوْ السُّجُودَ، أَوْمَأَ إيمَاءً وَجَعَلَ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ مُسَافِرًا وَلَا مُقِيمًا

Sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menunjukkan bahwa bagi musafir, jika sholat tathowu’  dalam kondisi diatas tunggangan, maka ia sholat diatas tunggangan dengan menghadap kemana saja. Jika seorang musafir sholat tathowu’ dalam keadaan berkendaraan, maka ia sholat menghadap kemana saja tungganganya berjalan. Sholatnya diatas binatang apa saja yang dapat dinaiki baik itu keledai atau unta atau selainnya, jika ia mau ruku’ atau sujud maka ia menggunakan isyarat dan menjadikan sujudnya lebih rendah dari ruku’. Dan yang diperbolehkan sholat menghadap kiblat adalah musafir bukan orang yang mukim.

Imam Ibrohim bin Ali asy-Syairoziy (w. 476 H) dalam kitabnya al-Muhadzdzab fii Fiqhil Imaam asy-Syafi’I menyampaikan dengan ringkas (1/129-cet. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah) :

استقبال القبلة شرط في صحة الصلاة إلا في حالين في شدة الخوف وفي النافلة في السفر

Menghadap kiblat adalah syarat sahnya sholat, kecuali dalam 2 kondisi yaitu pada saat khouf sangat mencekan dan sholat nafilah dalam perjalanan.

Dari perkataan Imam Al Albani ada tambahan penjelasan bahwa terkadang Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menghadap kiblat dulu baru kemudian melanjutkan sholat dengan menghadap kearah tunggangannya bergerak sekalipun tidak menghadap kiblat. Imam Zakariya bin Muhammad al-Anshoriy (w. 926 H) dalam kitabnya Asaanil Mathoolib fii Syarhi Roudhotul Muthoolib, berkata menjelaskan sebagaimana yang disampaikan diatas (1/134-cet. Daarul Kitaabil Islaamiy) :

(فَرْعٌ لَوْ رَكِبَ سَرْجًا وَنَحْوَهُ) مِمَّا لَا يَسْهُلُ مَعَهُ الِاسْتِقْبَالُ فِي جَمِيعِ الصَّلَاةِ وَإِتْمَامِ الْأَرْكَانِ (لَزِمَهُ الِاسْتِقْبَالُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ فَقَطْ) «لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ وَجَّهَهُ رِكَابُهُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ وَلِيَكُونَ ابْتِدَاءُ صَلَاتِهِ بِصِفَةِ الْكَمَالِ ثُمَّ يُخَفِّفُ دَوَامًا لِلْمَشَقَّةِ كَمَا فِي النِّيَّةِ فِي الْعِبَادَةِ هَذَا (إنْ كَانَتْ الدَّابَّةُ سَهْلَةً غَيْرَ مَقْطُورَةٍ) بِأَنْ كَانَتْ وَاقِفَةً أَوْ سَائِرَةً وَزِمَامُهَا بِيَدِهِ (أَوْ يَسْتَطِيعُ) رَاكِبُهَا (الِانْحِرَافَ) إلَى الْقِبْلَةِ (بِنَفْسِهِ) فَإِنْ كَانَتْ عَسِرَةً أَوْ مَقْطُورَةً أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ الِانْحِرَافَ لِعَجْزِهِ فَلَا يَلْزَمُهُ الِاسْتِقْبَالُ فِي التَّحْرِيمِ أَيْضًا لِلْمَشَقَّةِ

Seandainya ia naik pelana kuda atau sejenisnya yang membuat tidak mudah baginya untuk menghadap kiblat dan menyempurnakan rukun sholat pada semua gerakannya, maka mengharuskannya untuk menghadap kiblat ketika takbirotul ihrom saja, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam jika bersafar dan hendak melaksanakan sholat tathowu’ , Beliau menghadapkan Untanya ke kiblat, lalu bertakbir kemudian sholat menghadap kemana tunggangan mengarah. (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

Hal ini bertujuan agar ia memulai sholat secara sempurna, kemudian diberi keringanan karena adanya masyaqoh (kesulitan), sebagaimana niat dalam ibadah. Ini jika binatang tunggangannya mudah diarahkan tidak liar yaitu tali kekang ada di tangannya atau pengendaranya mampu untuk memalingkan kearah kiblat.

Namun jika hal tersebut sulit atau tidak mampu diarahkan binatang tunggangannya, maka tidak mengharuskan mengarahkannya ke kiblat pada saat takbirotul ihrom karena adanya kesulitan.

Kemudian Imam Al Albani  mengatakan bahwa untuk sholat fardhu, maka tidak ada pengecualian tetap harus menghadap kiblat, kata beliau (hal. 75) :

كان إذا أراد أن يصلي الفريضة نزل فاستقبل القبلة

Nabi sholallahu alaihi wa salam jika hendak sholat wajib, Beliau turun dari kendaraanya lalu sholat menghadap kiblat.

Salah satu penulis kitab tentang fiqih ibadah berdasarkan madzhab syafi’i yakni asy-Syaikh Najaah al-Halabiy berkata dalam kitabnya Fiqih Ibadah Syafi’i (hal. 282 –www.l-mustofaa.com) :

والمراد بقولنا النافلة : الراتبة والمؤقتة فيخرج به المنذورة فهي كالفريضة لا بد فيها من استقبال القبلة وكذلك صلاة الجنازة فهي فرض ولو على الكفاية وصلى الصبي فهي فريضة ولو صورة والمعادة من الفرائض فلا بد في هذه الصلوات كلها من استقبلا القبلة

Yang dimaksud ucapan kami Nafilah adalah sholat rowatib yang tertentu waktunya, maka keluar darinya sholat nadzar yaitu seperti sholat wajib, wajib untuk menghadap kiblat, demikian juga sholat jenazah adalah wajib sekalipun kifayah, lalu sholatnya anak kecil yang wajib sekalipun bentuk dan tatacaranya (belum sempurna), maka semua sholat tersebut wajib menghadap ke kiblat.

Imam Al Albani dalam kitabnya Ashlu Sifat Sholat Nabi yang merupakan induk dari kitab Sifat Sholat Nabi dan kitab Ashlu ini baru diterbitkan setelah beliau wafat oleh para murid beliau, karena faedah yang besar yang terkandung dalam kitab tersebut, dimana beliau membahas hadits yang dibawakan dan pendapat para ulama terkait tatacara sholat yang terkandung dalam hadits tersebut. Imam Al Albani berkata dalam catatan kakinya terhadap pembahasan diatas, setelah menyebutkan riwayat Imam Bukhori dan selainnya bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam ketika hendak melaksanakan sholat wajib, Beliau turun dari kendaraanya lalu sholat menghadap kiblat, beliau menukil perkataan Imam Ibnu Bathol salah satu Aimah madzhab Malikiyyah dalam kitabnya Syaroh Bukhori, berikut nukilannya (1/66-cet. Maktabah al-Ma’aarif) :

قال الحافظ في ” الفتح “: ” قال ابن بطال: أجمع العلماء على اشتراط النزول للفريضة، وأنه لا يجوز لأحد أن يصلي الفريضة على الدابة من غير عذر، حاشا ما ذكر في صلاة شدة الخوف “.

Al-Hafidz berkata dalam “al-Fath” : ‘Ibnu Bathool berkata : ‘para ulama sepakat bahwa disyaratkan turun dari kendaraan untuk sholat wajib, tidak boleh bagi seseorang untuk sholat wajib diatas kendaraan tanpa adanya uzur, kecuali apa yang telah kami sebutkan terkait sholat khouf yang sangat mencekam’.

 

Catatan :

Barangkali yang dimaksud udzur oleh Imam Ibnu Bathol, termasuk didalamnya jika kita melakukan perjalanan dengan bis atau kereta api atau sejenisnya yang tidak memungkinkan kita turun dari kendaraan dan jika sholat dilakukan setelah kendaraan sampai di tujuan, maka kita kehilangan waktu sholat, maka ulama membolehkan bagi kita sholat diatas kendaraan. Lihat artikel kami berikut untuk mendapatkan penjelasan lebih :

https://ikhwahmedia.wordpress.com/2014/09/16/sholat-diatas-bis/

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: