BERDIRI

March 15, 2015 at 5:49 am | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment
Tags: , , ,

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

 

Berdiri

Sifat sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam berikutnya adalah berdiri. Imam Al Albani berkata (hal. 77) :

وكان صلى الله عليه وسلم يقف فيها قائما في الفرض والتطوع

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam senantisa berdiri ketika menunaikan sholat fardhu dan tathowu’.

Al Imam Syafi’i juga berkata dalam al-Umm (1/99) :

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ} [البقرة: 238] فَقِيلَ: وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ قَانِتِينَ مُطِيعِينَ وَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالصَّلَاةِ قَائِمًا

Allah Azza wa Jalla berfirman : {Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’} (QS. Al Baqoroh : 238), maka ditafsirkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih mengetahui orang-orang yang khusyu’ dan taat kepadanya lalu memerintahkan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam untuk sholat dengan kondisi berdiri.

Imam Nawawi menginformasikan kepada kita bahwa madzhab Syafi’i sangat tegas dalam masalah berdiri ini, beliau berkata dalam al-Majmu (3/258) :

فَالْقِيَامُ فِي الْفَرَائِضِ فَرْضٌ بِالْإِجْمَاعِ لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ مِنْ الْقَادِرِ عَلَيْهِ إلَّا بِهِ حَتَّى قَالَ أَصْحَابُنَا لَوْ قَالَ مُسْلِمٌ أَنَا أَسْتَحِلُّ الْقُعُودَ فِي الْفَرِيضَةِ بِلَا عُذْرٍ أَوْ قَالَ الْقِيَامُ فِي الْفَرِيضَةِ لَيْسَ بِفَرْضٍ كَفَرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ قَرِيبَ عَهْدٍ بِإِسْلَامٍ

Berdiri pada saat sholat fardhu adalah wajib dengan kesepakatan para ulama, tidak sah sholatnya bagi yang mampu, kecuali harus berdiri, sampai-sampai ashab kami mengatakan, seandainya ada seorang Muslim berkata : ‘saya membolehkan duduk dalam sholat fardhu tanpa ada udzur’, atau ia berkata : ‘berdiri pada sholat fardhu tidak wajib’, maka ia telah kafir, kecuali kalau dia baru masuk Islam.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan pengecualian untuk berdiri, sebagaimana pengecualian untuk menghadap kiblat, yaitu pada saat safar sholat nafilah diatas kendaraan dan pada saat khouf yang mencekam.

Imam Al Albani lalu menyebutkan bahwa bagi orang sakit boleh sholat dengan duduk, beliau berkata (hal. 77) :

صلى صلى الله عليه وسلم في مرض موته جالسا

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat dengan duduk pada saat sakit yang berujung kepada wafatnya.

Imam Syafi’I dalam al-Umm berkata (1/99) :

وَإِذَا لَمْ يُطِقْ الْقِيَامَ صَلَّى قَاعِدًا وَرَكَعَ وَسَجَدَ إذَا أَطَاقَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Jika tidak mampu berdiri, maka sholat dengan duduk dan tetap ruku’  dan sujud jika mampu untuk rukuk dan sujud.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan suatu permasalahan jika Imam sholat dengan duduk apakah makmum juga sholat dengan duduk, padahal mereka mampu berdiri, atau mereka tetap berdiri?, Al Albani berkata (hal.77-78) :

وصلاها كذلك مرة أخرى قبل هذه حين (اشتكى وصلى الناس وراءه قياما فأشار إليهم أن اجلسوا فجلسوا فلما انصرف قال: (إن كدتم آنفا لتفعلون فعل فارس والروم يقومون على ملوكهم وهم قعود فلا تفعلوا إنما جعل الإمام ليؤتم به فإذا ركع فاركعوا وإذا رفع فارفعوا وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا [أجمعون] )

Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan sholat pada kesempatan lain sebelumnya, ketika beliau sakit, Nabi sholallahu alaihi wa salam mengimami (dalam posisi duduk), dan orang-orang dibelakang Belliau sholat dengan berdiri, lalu Beliau mengisyaratkan agar mereka semuanya duduk, sehingga para sahabat pun duduk. Ketika selesai sholat, Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sesungguhnya kalian tadi hampir-hampir melakukan kebiasaan (jelek) orang Persia dan Romawi, mereka berdiri dihadapan raja-rajanya, padahal rajanya duduk. Janganlah kalian lakukan lagi seperti itu, karena Imam itu hanyalah dijadikan untuk diikuti, jika ia ruku’, maka kalian ikut ruku’, jika ia bangkit dari ruku’, maka kalian ikut bangkit, jika ia sholat dengan duduk, kalian ikut sholat dengan duduk semuanya.

Imam Al Albani menegaskan pendapatnya bahwa jika Imam sholat dengan duduk karena sakit, maka makmud dibelakangnya juga sholat dengan duduk, penegasan ini dapat diperoleh dalam kitabnya al-Ashlu (1/86-87) :

واعلم أَن في هذه الأحاديث دلالة على أن الإمام إذا صلى جالساً لمرض به؛ صلى مَن وراءه جالسين؛ ولو كانوا قادرين على القيام، والدليل على ذلك أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جعل اتباع الإمام في الجلوس من طاعة الأئمة الواجبة بكتاب الله تعالى، كم ا قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

” من أطاعني؛ فقد أطاع الله، ومن عصاني؛ فقد عصى الله، ومن أطاع الأمير؛ فقد أطاعني، ومن عصى الأمير؛ فقد عصاني، إنما الإمام جنة، فإن صلى قاعداً؛ فصلوا قعوداً، وإذا قال: سمع الله لمن حمده؛ فقولوا: اللهم ربنا! ولك الحمد. فإذا وافق قول أهل الأرض قولَ أهل السماء؛ غفر له ما مضى من ذنبه “.

أخرجه الطيالسي (336) ، ومن طريقه الطحاوي (1/235) ، و {أبو عوانة [2/109] } ، وأحمد (2/386 – 387 و 416 و 467) – واللفظ له -، من طرق عن يعلى بن عطاء قال: سمعت أبا علقمة يقول: سمعت أبا هريرة يقول: سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: … به.

وهذا سند صحيح على شرط مسلم. وأبو علقمة هذا – هو: المصري مولى بني هاشم -: لا يعرف إلا بكنيته  ، وهو ثقة – كما في ” التقريب ” -.

 Ketahuilah bahwa hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Imam jika sholat berdiri karena sakit, maka makmum yang sholat dibelakangnya juga duduk, sekalipun mereka mampu untuk berdiri. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjadikan mengikuti duduknya Imam dalam sholat sebagai ketaatan kepada para pemimpin yang wajib sesuai Kitabullah, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “barangsiapa yang mentaatiku, maka sungguh ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaatinya Amirnya, maka ia telah mentaatiku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Amirnya, berarti ia telah bermaksiat kepadaku. Sesungguhnya Imam itu dijadikan sebagai perisai, jika ia sholat dengan duduk, maka sholatlat dengan duduk, jika mereka mengucapkan “Sami’allahu liman Hamidah”, maka kalian mengucapkan : “Allahumma Robbanaa, wa lakal hamdu”. Jika ucapan penduduk bumi ini bertepatan dengan ucapannya penduduk langit, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”.

Diriwayatkan oleh Ath-Thoyalisiy (336) dari jalan ath-Thohawiy (1/235), Abu Awaanah (2/109), Ahmad (2/386-387, 416 dan 417) dan ini lafadznya dari jalan Ya’laa bin ‘Athoo’ ia berkata, aku mendengar Abu Alqomah berkata, aku mendengar Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “al-Hadits”.

Sanad ini Shahih, atas syarat Muslim, Abu Alqomah ini adalah al-Mishriy maula Bani Haasyim, tidak dikenal kecuali dengan nama kunyahnya, beliau tsiqoh, sebagaimana disebutkan dalam “at-Taqriib”.

Kemudian saya melihat kepada kitab Musnad Imam Ahmad cetakan Ar-Risalah, maka disana (no. 10037) pentahqiq kitab ini yakni asy-Syaikh Syu’aib Arnauth memberikan penilaian yang senada dengan mengatakan :

إسناده صحيح على شرط مسلم، رجاله ثقات رجال الشيخين غير يعلى بن عطاء، وأبي علقمة- وهو مولى بني هاشم- فمن رجال مسلم.

Sanadnya shahih atas syarat Muslim, semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Ya’laa bin ‘Athoo’ dan Abu Alqomah –maula bani Haasyim-, termasuk perowinya Muslim.

Sekarang kita akan melihat tanggapan madzhab kita dalam permasalahan diatas. Pertama, Imam Syafi’I dalam al-Umm (7/209) kelihatannya memberikan alternative solusi dengan khuruj minal khilaaf, yaitu beliau berkata :

وَإِنَّمَا اخْتَرْت أَنْ يُوَكِّلَ الْإِمَامُ إذَا مَرِضَ رَجُلًا صَحِيحًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَائِمًا

Sesungguhnya aku lebih memilih bagi seorang Imam yang sakit untuk mewakilkan kepada orang lain yang sehat untuk mengimami manusia dengan berdiri.

Adapun ketika Imam Syafi’i ditanya apakah orang yang sholat dibelakang Imam yang duduk karena sakitnya, mereka harus duduk atau berdiri, maka Al Imam menjawab :

يَأْمُرُ مَنْ يَقُومُ فَيُصَلِّي بِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ، وَإِنْ أَمَّهُمْ جَالِسًا، وَصَلَّوْا خَلْفَهُ قِيَامًا كَانَ صَلَاتُهُمْ وَصَلَاتُهُ مُجْزِيَةً عَنْهُمْ مَعًا

Sang Imam menyuruh orang lain untuk mengimami lebih aku sukai. Jika sang imam mengimami dengan duduk, maka makmum dibelakangnya sholat dengan berdiri, dan sholat imam dan sholat makmum sah semuanya.

Kemudian ketika Imam Syafi’I dikonfirmasi tentang hadits yang menyatakan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimamai dengan duduk dan memerintahkan makmum dibelakangnya, yang tadinya berdiri untuk duduk, sebagaimana dibawakan oleh Imam Al Albani, maka Imam Syafi’I hapal dan tahu hadits tersebut. Lalu ketika ditanya lagi, kenapa beliau tidak berbendapat dengan dhohirnya hadits tersebut, beliau menjawab :

هَذَا مَنْسُوخٌ بِفِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

Itu mansukh (terhapus hukumnya) dengan perbuatan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

Lalu Imam Syafi’I menyebutkan nasakhnya, yakni :

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالنَّاسِ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ جَالِسًا، وَالنَّاسُ خَلْفَهُ قِيَامًا لَمْ يَأْمُرْهُمْ بِجُلُوسٍ وَلَمْ يَجْلِسُوا» وَلَوْلَا أَنَّهُ مَنْسُوخٌ صَارُوا إلَى الْجُلُوسِ بِمُتَقَدِّمِ أَمْرِهِ إيَّاهُمْ بِالْجُلُوسِ وَلَوْ ذَهَبَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ لَأَمَرَهُمْ بِالْجُلُوسِ وَقَدْ صَلَّى أَبُو بَكْرٍ إلَى جَنْبِهِ بِصَلَاتِهِ قَائِمًا وَمَرَضُهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ آخِرُ فِعْلِهِ

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami manusia pada saat sakit yang membawa wafatnya dengan duduk, dan makmum dibelakangnya sholat dengan berdiri, Beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk, sehingga makmum pun tidak duduk. Sekiranya (hadits tentang isyarat agar duduk-pent.) tidak mansukh (terhapus hukumnya), niscaya para sahabat yang bermakmum kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan duduk, karena telah berlalu perintah kepada mereka untuk duduk, seandainya mereka lupa, niscaya akan diperintahkan lagi kepada mereka untuk duduk. Abu Bakar melaksanakan sholat disamping Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dengan berdiri pada saat Rasulullah sakit yang itu merupkan akhir dari perbuatan Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

Imam Nawawi dalam al-Majmu (4/265) menyampaikan perbandingan dengan madzhab lain, kata beliau :

فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا جَوَازُ صَلَاةِ الْقَائِمِ خَلْفَ الْقَاعِدِ الْعَاجِزِ وَأَنَّهُ لَا تَجُوزُ صَلَاتُهُمْ وَرَاءَهُ قُعُودًا وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو ثَوْرٍ وَالْحُمَيْدِيُّ وَبَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ واحمد واسحق وَابْنُ الْمُنْذِرِ تَجُوزُ صَلَاتُهُمْ وَرَاءَهُ قُعُودًا وَلَا تَجُوزُ قِيَامًا وَقَالَ مَالِكٌ فِي رِوَايَةٍ وَبَعْضُ أصحابه تَصِحُّ الصَّلَاةُ وَرَاءَهُ قَاعِدًا مُطْلَقًا

Kami telah menyebutkan bahwa madzhab kami (syafi’iyyah) membolehkan sholatnya orang yang berdiri dibelakang Imam yang duduk karena sakit, dan tidak boleh bagi makmum sholat dibelakangnya dengan duduk, ini juga pendapatnya ats-Tsauri, Abu Hanifah, Abu Tsaur, al-Humaidiy dan sebagian Malikiyyah.

Adapun Auza’I, Ahmad, Ishaq, dan Ibnul Mundzir membolehkan orang yang sholat dibelakangnya dengan duduk, dan tidak boleh baginya sholat dengan berdiri. Sedangkan Imam Malik dalam sebagai riwayat sahabatnya, menshahihkan sholat dibelakang Imam yang duduk secara mutlak (artinya boleh duduk atau berdiri-pent.).

Dalam kitabnya al-Ashlu, Imam Al Albani menyanggah pendapat yang mengatakan bahwa masalah wajibnya makmum sholat dengan duduk, ketika Imamnya duduk, telah dihapus hukumnya (mansukh), silakan merujuknya bagi yang ingin penjelasan lebih lengkapnya.

Namun saya pribadi condong kepada pendapatnya Imam Syafi’I bahwa hal tersebut mansukh, dan naasikhnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu dan ini lafadznya Muslim :

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ، قَالَتْ: فَأَمَرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ، قَالَتْ: فَلَمَّا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ وَجَدَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَقَامَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ، وَرِجْلَاهُ تَخُطَّانِ فِي الْأَرْضِ، قَالَتْ: فَلَمَّا دَخَلَ الْمَسْجِدَ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ حِسَّهُ، ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُمْ مَكَانَكَ، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقْتَدِي النَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ

Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia, lalu Abu Bakar pun diperintahkan untuk mengimami manusia, ketika sholat berlangsung, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam merasa ringan badannya, maka Beliau dipapah oleh dua orang dan kedua kakinya menempel di tanah. Ketika masuk masjid, Abu Bakar mendengar gerakan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Abu Bakar akan mundur, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berisyarat kepadanya untuk tetap berada di tempatnya, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berada disitu duduk disamping kiri Abu Bakar. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat mengimami manusia dengan duduk dan Abu Bakar sholat dengan berdiri bermakmum kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan manusia bermakmum kepada Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu.

Dalam hadits ini tersurat bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami sholat, karena Beliau berada disebelah kiri Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu, kemudian dalam kisah ini Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat dengan duduk, sedangkan Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu yang bermakmum kepada Beliau, sholat dengan berdiri. Imam Nawawi menyebutkan bahwa dalam salah satu jalan lainnya, Imam Muslim meriwayatkan dengan tegas dan jelas bahwa ketika itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang bertindak sebagai Imam :

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُهُمُ التَّكْبِيرَ

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami manusia, sedangkan Abu Bakar meneruskan suara takbir Beliau.

Imam Nawawi menjelaskan maksud Abu Bakar meneruskan suara takbir, kata beliau dalam al-Majmu (4/265) :

وَقَوْلُهُ يُسْمِعُهُمْ التَّكْبِيرَ يَعْنِي أَنَّهُ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ إذَا كَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا فَعَلَهُ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ ضَعِيفَ الصَّوْتِ حِينَئِذٍ بِسَبَبِ الْمَرَضِ

Yakni Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu mengeraskan suara takbir, ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bertakbir, hanyalah hal tersebut dilakukan karena suara Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sangat lemah, akibat sakit yang dideritanya.

Dari hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjadi Imam dengan duduk, namun Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu yang pada waktu itu menjadi makmum tetap sholat dengan berdiri, begitu juga makmum (para sahabat) lainnya. Seandainya sholat dengan berdiri dibelakang imam yang duduk tidak diperbolehkan, niscaya mereka akan segera duduk, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami mereka, atau seandainya para sahabat ketika itu semuanya lupa dengan perintah untuk duduk, niscaya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan mengingatkan mereka untuk duduk. So dengan tidak adanya perintah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam agar para makmum duduk atau persetujuan Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam kepada para sahabat yang bermakmum dengan berdiri, padahal Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sendiri sholatnya dengan duduk karena sakit, maka menunjukkan bahwa sholat dengan berdiri diperbolehkan dibelakang Imam yang sholat dengan duduk. Terlebih lagi bahwa kejadian ini adalah beberapa hari menjelang wafatnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, sehingga ini adalah perkara akhir yang menasakh (menghapus) perintah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sebelumnya kepada makmum untuk duduk, ketika sang imam sholat dengan duduk, mengimamai mereka –Wallahu A’lam-.

Kami tutup dengan perkataan Imam Nawawi (4/266) :

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَغَيْرُهُمْ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ هَذِهِ الرِّوَايَاتُ صَرِيحَةٌ فِي نَسْخِ الْحَدِيثِ السَّابِقِ

Syafi’I, para sahabatnya dan selain mereka dari kalangan muhaditsin dan fuqoha berkata, bahwa riwayat-riwayat yang jelas ini sebagai nasikh (penghapus) hadits sebelumnya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: