TAFSIR SURAT AL IKHLAS

March 15, 2015 at 5:45 am | Posted in Tafsir | Leave a comment
Tags: , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

 Mufrodat Ayat

قُلْ” {Katakanlah} ini adalah Fi’il ‘Amr (kata kerja perintah) dan yang diperintah disini adalah Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam. Yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan nabi kita sholallahu alaihi wa salam untuk mengatakan sebagaimana ayat berikutnya.

هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” {Dia-lah Allah, Yang Maha Esa} Zamakhsyariy dalam Tafsirnya berkata :

{ هُوَ } ضمير الشأن ، و { الله أَحَدٌ } هو الشأن

“huwa” adalah dhomir asy-Sya’n dan “Allahu Ahad” adalah Sya’n-nya.

Kemudian beliau menjelaskan dari sisi I’rob bahwa “huwa” adalah mubtada’, sedangkan khobar-nya adalah kalimat “Allahu Ahad”. Kemudian “Ahad” sendiri bermakna Wahid (tunggal), Imam Baghowi dalam Tafsirnya berkata :

أي واحد، ولا فرق بين الواحد والأحد، يدل عليه قراءة ابن مسعود: قل هو الله الواحد

“yakni wahid, tidak ada perbedaan antara al-Wahid dengan Al Ahad, dalilnya adalah qiro’ah Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu : {Qul Huwallahul Waahid}”.

Imam Baihaqi dalam kitabnya Asma wa Shifat menetapkan bahwa “Al-Ahad” adalah salah satu dari Asma’ul Husna, kemudian beliau menukil perkataan al-Muhalimiy :

قال الحليمي : وهو الذي لا شبيه له ولا نظير ، كما أن الواحد هو الذي لا شريك له ولا عديد ، ولهذا سمى الله عز وجل نفسه بهذا الاسم

“Dia (Allah) adalah Dzat yang tidak ada yang serupa dan tandingannya, sebagaimana Dia adalah Tunggal tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya, oleh karenanya Allah Azza wa Jalla menamakan Dirinya dengan nama Ahad ini”.

Adapun dari sisi Qiro’ah, Imam Ahmad bin Musa yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ibnu Mujahid (w. 324 H) dalam kitabnya as-Sab’u fiil Qiro’ah menyebutkan beberapa perbedaan bacaan qiro’ah untuk ayat ini. Ibnu Katsiir, Naafi’, ‘Aashim, Ibnu ‘Aamir, Hamzah dan al-Kisaa’i membaca Ahad dengan mentanwin huruf dal-nya, sedangkan Abu ‘Amr membacanya tanpa tanwiin. Abu ‘Amr menyarankan untuk waqof (berhenti) ketika membaca “Ahad”, lalu dilanjutkan membaca “Allahush Shomad”, kemudian jika seorang ingin me-Washol-kannya (langsung menyambung), maka ada 2 riwayat dari beliau, yang satu mengatakan mentanwiin “Ahad” dan riwayat satunya lagi, tidak perlu mentanwiin.

اللَّهُ الصَّمَدُ” {Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu}, makna “Ash Shomad” sebagaimana dikatakan ibnul Anbariy yang dinukil Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsirnya yaitu :

وقال ابن الأنباري : لا خلاف بين أهل اللغة أن الصمد : السيد الذي ليس فوقه أحد يصمد إليه الناس في أمورهم وحوائجهم .

“tidak ada perbedaan diantara ahli bahasa bahwa makna Ash Shomad adalah As-Sayyid (tuan) yang tidak adalah diatasnya seorang pun yang digunakan manusia sebagai tempat bergantung dalam semua urusan dan kebutuhan mereka”.

Kemudian Ash Shomad juga termasuk salah satu Asma’ul Husna, sebagaimana ditetapkan oleh Imam Ibrohim ibnus Suriy az-Zujaaj dalam kitabnya Tafsiiru Asmaa’illahil Husnaa (hal. 58 –cet. Daaruts Tsaqofah al-‘Arobiyyah).

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ” {Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan}, “Lam” adalah huruf jazm dan nafyun. Makna ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu adalah :

لم يلد فيكون والداً ، ولم يولد فيكون ولداً ، قاله ابن عباس

“tiada beranak, sehingga Dia merupakan seorang anak dan tidak diperanakan, sehingga menjadi seorang Bapak” (dinukil oleh Imam Mawardi dalam Tafsirnya).

Orang-orang Kristen memiliki keyakinan yang batil dengan aqidah Trinitasnya, dimana mereka mengatakan bahwa Isa alaihi salam adalah anak Allah dan Allah sendiri adalah tuhan Bapa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya sangat murka dengan aqidah yang batil tersebut, Dia berfirman :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (QS. Al Maidah : 73).

Demikian juga orang-orang Yahudi, mereka memiliki keyakinan batil juga bahwa Uzair adalah anak Allah, sebagaimana informasi dari Al Qur’an :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At Taubah : 30).

Demikian juga kelakuan orang-orang Musyrik, mengatakan hal yang sama, Al Qur’an telah menginformasikannya :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan (QS. Al An’aam : 100).

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ” {dan tidak ada seorangpun yang setara dengan}, Imam Thobari dalam Tafsirnya mengatakan tentang makna ayat ini :

ليس كمثله شيء، فسبحان الله الواحد القهار

“tidak ada yang semisal dengan-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?.” Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (QS. Ar Ra’du : 16).

Adapun dari segi qiro’ah, maka terdapat beberapa variasi terkait bacaan ayat ini. Imam Ibnu Mujahid dalam kitabnya As-Sab’u (hal. 701-702-cet. Daarul Ma’aarif) menyebutkan bahwa Ibnu Katsiir, Ibnu ‘Aamir, al-Kisaa’i dan Abu ‘Amr dalam riwayat az-Zubaidiy dan Abdul Warits membaca dengan “كُفؤًا” yaitu mendhomahkan huruf Kaaf dan Faa, lalu hamzah Kufuan.

Lalu Imam Utsman ad-Daaniy (w. 444 H) dalam kitabnya at-Taisir fii Qiro’aatis Sab’i (hal. 226-cet. Daarul Kitaabil ‘Arobiy) menyebutkan bahwa Imam Hafsh membacanya dengan “كفوا” yakni mendhomahkan huruf Kaaf dan Faa, lalu memfathahkan wawu, jadi dibaca Kufuwan. Sedangkan Imam Hamzah membacanya dengan mensukunkan huruf Faa dan mengganti wawu dengan hamzah, sehingga dibaca Kuf’an.

Imam Thobari setelah menyebutkan ragam qiro’ah yakni beliau menyebutkan 2 versi bacaan yaitu dengan Kufuwan dan Kuf’an, lalu berkata :

والصواب من القول في ذلك: أن يقال: إنهما قراءتان معروفتان، ولغتان مشهورتان، فبأيَّتِهِما قرأ القارئ فمصيب

“yang benar dari ragam bacaan tersebut adalah keduanya merupakan qiro’ah yang ma’ruf dan bahasa yang masyhur, maka mana saja membaca salah satunya, ia benar”.

Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Surat ini berisi Penegasan tentang kemurnian keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dan menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya (tim penerjemah Depag RI).

Faedah Ayat

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Maha Esa dan termasuk Namanya yang Husna adalah Al Ahad dan Al Wahid.
  2. Tidak selayaknya seorang hamba bergantung kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam semua urusan dan kebutuhannya, karena satu-satunya tempat bergantung yang hakiki adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki nama Ash Shomad.
  3. Batilnya akidah orang-orang kafir dan musyrik yang meyakini bahwa Allah memiliki anak atau adanya tuhan yang diperanakan, dan agama Islam datang untuk melurukan penyimpangan yang sesat ini.
  4. Tidak ada satu pun makhluknya yang sepadan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari semua sisinya, sehingga sangat tidak pantas apa yang dilakukan oleh seseorang yang menjadikan sekutu bagi Allah.
  5. Barangsiapa yang meyakini isi kandungan surat ini, berarti ia telah meyakini sepertiga Al Qur’an, karena secara umum Al Qur’an berisi 3 bagian yaitu tauhid, kisah dan hukum.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: