APA ITU MAKKIYAH DAN MADANIYAH?

March 16, 2015 at 11:58 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

MAKKIYAH DAN MADANIYAH

 maki

Sering kalau kita membaca tafsir Al Qur’an, kita akan mendapatkan komentar dari ulama tafsir tersebut bahwa surat atau ayat ini adalah Makkiyah atau ia termasuk Madaniyah. Pertanyaannya apa yang dimaksud dengan surat atau ayat Makkiyah/Madaniyah?. Asy-Syaikh Manna’ al-Qohththan dalam kitabnya Mabaahits fii Uluumil Qur’an menyebutkan 3 pendapat ulama berkaitan pembedaan Makkiyah dan Madaniyah, yaitu :

  1. Dibedakan berdasarkan waktu turunnya, yakni surat atau ayat diturunkan sebelum Nabi sholallahu alaihi wa salam hijrah dinamakan Makkiyah, sedangkan setelah hijrah dinamakan Madaniyah, sekalipun ayat tersebut turun pada saat Nabi sholallahu alaihi wa salam berada di Mekkah. Contohnya ayat ketiga dari Surat Al Maidah, disebut Madaniyah, sekalipun turunnya ayat tersebut di Mekkah pada saat Nabi sholallahu alaihi wa salam menunaikan haji Wada’, setelah beliau menaklukkan kota Mekkah.
  2. Berdasarkan tempat turunnya, maka Makkiyah adalah yang diturunkan di Kota Mekkah dan sekitarnya, sedangkan Madaniyah adalah yang diturunkan di kota Madinah dan sekitanya. Namun pendapat ini memiliki kelemahan yaitu ayat yang diturunkan pada saat perang Tabuk misalnya, akhirnya tidak memiliki status yang jelas digolongkan dalam pembagian Makkiyah atau
  3. Dibedakan berdasarkan sasaran seruannya, surat atau ayat yang seruannya kepada penduduk Mekkah, maka disebut Makkiyah dan untuk penduduk Madinah disebut

Namun lazimnya banyak para ulama menggunakan pendapat pertama dalam menentukan sebuah surat atau ayat itu Makkiyah atau Madaniyah. Dalam tulisan tentang tafsir, saya juga menggunakan metode pendapat pertama terkait pembagian tersebut.

Kemudian asy-Syaikh juga menjelaskan cara mengetahui dan menentukan Makkiyah dan Madaniyah, yaitu ada 2 cara :

  1. Dengan sima’i naqli (dalil nash), cara pertama didasarkan riwayat shahih dari para sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu atau dari para tabi’in yang menerima informasi dari para sahabat, terkait kapan turunnya surat atau ayat tersebut. Kebanyakan penentuan Makkiyah dan Madaniyah menggunakan cara pertama ini.
  2. Dengan cara ijtihadi didasarkan kepada ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyah, apabila dalam suatu surat atau ayat terkandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka dikatakan itu Madaniyah dan seterusnya.

Namun melakukan pembedaan suatu surat atau ayat itu termasuk Makkiyah atau Madaniyah bukan termasuk kewajiban bagi umat secara umum. Asy-Syaikh menukil perkataan al-Qodhi Abu Bakar bin ath-Thayyib al-Baqilani dalam al-Intishar : “pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah itu mengacu kepada hafalan para sahabat dan Tabi’in. Tidak ada satu pun keterangan yang datang dari Rasulullah mengenai hal itu, dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai kewajiban umat. Bahkan sekalipun sebagian pengetahuannya dan pengetahuan mengenai sejarah nasikh dan mansukh itu wajib bagi ahli ilmu, tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nash dari Rasulullah” (Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, hal. 72 cet. Pustaka Al-Kautsar, cet. Pertama, April 2006).   

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: