SHOLATNYA ORANG YANG SAKIT DENGAN DUDUK

March 20, 2015 at 5:57 pm | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

Sholatnya Orang yang Sakit dengan Duduk

Apabila seseorang sakit dan tidak mampu baginya sholat dengan berdiri, maka syariat memberinya keringanan untuk sholat dengan duduk. Imam Al Albani membawakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan selainnya, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لم تستطع فعلي جنب

Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu, maka dengan duduk, jika tidak mampu juga, maka berbaringlah.

Imam Syafi’i dalam al-Umm (1/99) berkata tentang sholatnya orang yang sakit, kata beliau :

وَإِذَا لَمْ يُطِقْ الْقِيَامَ صَلَّى قَاعِدًا وَرَكَعَ وَسَجَدَ إذَا أَطَاقَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Jika tidak mampu untuk berdiri, sholatlah dengan duduk, dan ruku’ serta sujud (seperti biasa –pent.), jika mampu untuk ruku’ dan sujud.

Kemudian Imamunaa berkata lagi (1/100) tentang orang yang tidak mampu sholat dengan duduk, kata beliau :

فَإِنْ لَمْ يُطِقْ الْمُصَلِّي الْقُعُودَ وَأَطَاقَ أَنْ يُصَلِّيَ مُضْطَجِعًا صَلَّى مُضْطَجِعًا وَإِنْ لَمْ يُطِقْ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ صَلَّى مُومِئًا وَجَعَلَ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنْ إيمَاءِ الرُّكُوعِ

Jika tidak mampu sholat dengan duduk, dan ia mampu untuk sholat dengan berbaring, maka sholatlah dengan berbaring. Jika ia tidak mampu ruku’ dan sujud, maka sholatlah dengan berisyarat dan jadikan sujud lebih rendah isyaratnya dibandingkan ruku’.

Apa yang disebutkan oleh Imam Syafi’i tentang isyarat ruku’ dan sujud, disebutkan juga oleh Imam Al Albani (hal. 78) dengan membawakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, al-Bazar, Ibnu Samak dan Baihaqi dengan sanad yang dishahihkan oleh beliau, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

صل على الأرض إن استطعت وإلا فأوم إيماء واجعل سجودك أخفض من ركوعك

Sholatlah diatas tanah jika mampu, namun jika tidak mampu maka berisyaratlah dan jadikan isyarat sujudmu lebih rendah dari ruku’mu.

Kemudian dalam al-Ashlu (1/92), Imam Al Albani menyebutkan pendapat syafi’iyyah tentang kriteria masyaqoh (keberatan) yang diperbolehkan bagi seseorang untuk sholat tidak dengan berdiri, kata beliau :

والمعروف عند الشافعية أن المراد بنفي الاستطاعة وجود المشقة الشديدة بالقيام، أو خوف زيادة المرض أو الهلاك، ولا

يكتفى بأدنى مشقة

Yang ma’ruf dikalangan syafi’yyah bahwa yang dimaksud dengan penafian kemampuan adalah adanya keberatan yang sangat ketika sholat dengan berdiri, atau khawatir sakitnya bertambah atau malah kritis, tidak cukup hanya sekedar keberatan yang ringan.

Sebelumnya, Imam Al Albani menyebutkan bahwa pahala orang yang sholat dengan duduk, adalah setengahnya pahala orang yang sakit. Beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

Barangsiapa yang sholat dengan berdiri, maka itu lebih utama dan barangsiapa yang sholat dengan duduk, maka ia mendapatkan setengah pahalanya orang yang sholat dengan berdiri, serta barangsiapa yang sholat dengan tidur (berbaring), maka ia mendapatkan pahalanya orang yang sholat dengan duduk.

Imam Al Albani membawa konteks hadits ini bahwa yang dimaksud adalah orang yang sakit, kata beliau (hal. 78) :

والمراد به المريض

Yang dimaksud (hadits diatas) adalah orang yang sakit.

Namun sekilas, ketika saya melihat kitab-kitabnya Aimah Syafi’yyah mereka membawa makna hadits diatas kepada sholat Nafilah. Imam Al Abani sendiri dalam kitabnya al-Ashlu (1/95) pun sudah mengetahui hal tersebut, beliau berkata :

والحديث حمله جمهور العلماء على المتنفل

Mayoritas ulama membawa hadits ini kepada sholat nafilah.

Hanyalah Imam Al Albani membawa hadits ini kepada makna orang sakit juga, berdasarkan keterangan Imam al-Khothobiy yang beliau sebutkan di kitabnya al-Ashlu (1/95), kata beliau melanjutkan keterangan sebelumnya :

وحمله الخطابي على المفترض على التفصيل الآتي. والظاهر أن الحديث يشمل النوعين؛ فقال الخطابي: ” المراد بحديث عمران: المريض المفترض الذي يمكنه أن يتحامل فيقوم مع مشقة، فجعل أجر القاعد على النصف من أجر القائم؛ ترغيباً له في القيام، مع جواز قعوده “.

Al-Khothobiy membawanya kepada sholat wajib berdasarkan perincian berikut. Yang Nampak hadits mencakup dua jenis sholat, al-Khothobiy berkata : ‘yang dimaksud hadits Imroon adalah orang sakit yang menunaikan sholat wajib yang mungkin baginya untuk berdiri, sekalipun ada kesulitan, maka dijadikan pahala orang yang duduk setengah pahala orang yang berdiri, sebagai dorongan agar sholat dengan berdiri, sekalipun diperbolehkan baginya sholat dengan duduk.

Imam Al Albani juga menguatkan bahwa yang dimaksud tercakup didalamnya juga orang yang sakit dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَاسٍ وَهُمْ يُصَلُّونَ قُعُودًا مِنْ مَرَضٍ فَقَالَ: ” إِنَّ صَلَاةَ الْقَاعِدِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ صَلَاةِ الْقَائِمِ “

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam keluar dan melewati orang-orang yang sedang sholat dengan duduk karena sakit, maka Beliau bersabda : “sesungguhnya sholat orang yang duduk itu (pahalanya) setengah orang yang sholat dengan berdiri”.

Imam Al Albani dalam al-Ashlu (1/97) mengatakan tentang status hadits diatas :

[أخرجه] ابن ماجه (1/370) ، وأحمد (3/214 و 240) من طرق عن عبد الله ابن جعفر عن إسماعيل بن محمد بن سعد عن أنس بن مالك به. وهذا سند صحيح. رجاله رجال مسلم.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/370) dan Ahmad (3/214 & 240) dari jalan Abdullah bin Ja’far dari Ismail bin Muhammad bin Sa’ ad dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu dst. Sanad ini shahih, perowinya adalah perowi Muslim.

Kemudian saya mendapatkan penilaian senada dari Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Taliqnya terhadap Musnad Ahmad (no. 13236) :

إسناده صحيح على شرط مسلم، رجاله ثقات رجال الشيخين غير عبد الله بن جعفر -وهو ابن عبد الرحمن بن المسور المخْرمي- فمن رجال مسلم. إسماعيل بن محمد: هو ابن سعد بن أبي وقاص.

Sanadnya shahih atas syarat Muslim, perowinya tsiqot, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Abdullah bin Ja’far –yaitu ibnu Abdir Rokhma bin al-Musawwir al-Makhrumiy – termasuk perowi Muslim. Ismail bin Muhammad yaitu ibnu Sa’ad bin Abi Waqqoosh.

Namun setelah melalui pembahasan, saya berkesimpulan bahwa pahala sholat orang yang duduk setengah dari pahalanya orang yang berdiri adalah terkait dengan sholat sunnah, yang memang diperbolehkan untuk sholat dengan duduk secara mutlak –yang akan dibahas selanjutnya, bi idznillah-. Adapun orang yang sakit, yang karena sakitnya, membuat dirinya tidak mampu sholat dalam keadaan berdiri, maka ia tetap mendapatkan pahala sholat secara utuh, sama seperti keadaan normalnya. Sehingga apa yang disampaikan oleh Imam Al Albani dengan membawa 2 hadits yang diatas mencakup juga orang yang sakit yang karena sakitnya tidak mampu sholat dengan berdiri, kurang tepat dengan alasan sebagai berikut :

  1. Asy-Syaikh Muhammad Syamsul Haq al-‘Adhim al-Abadiy dalam ‘Aunul Maubud (3/163-cet. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah) berkata :

قَالَ فِي النَّيْل : وَاخْتَلَفَ شُرَّاح الْحَدِيث فِي الْحَدِيث هَلْ هُوَ مَحْمُول عَلَى التَّطَوُّع أَوْ عَلَى الْفَرْض فِي حَقّ غَيْر الْقَادِر ، فَحَمَلَهُ الْخَطَّابِيُّ عَلَى الثَّانِي وَهُوَ مَحْمَل ضَعِيف ، لِأَنَّ الْمَرِيض الْمُفْتَرِض الَّذِي أَتَى بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ الْقُعُود وَالِاضْطِجَاع يُكْتَب لَهُ جَمِيع الْأَجْر لَا نِصْفه . قَالَ اِبْن بَطَّال : لَا خِلَاف بَيْن الْعُلَمَاء أَنَّهُ لَا يُقَال لِمَنْ لَا يَقْدِر عَلَى الشَّيْء لَك نِصْف أَجْر الْقَادِر عَلَيْهِ بَلْ الْآثَار الثَّابِتَة عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ مَنَعَهُ اللَّه وَحَبَسَهُ عَنْ عَمَله بِمَرَضٍ أَوْ غَيْره يُكْتَب لَهُ أَجْر عَمَله وَهُوَ صَحِيح . اِنْتَهَى

Dalam an-Nail : ‘para pensyarah hadits berselisih tentang hadits ini (riwayat Bukhori-pent.), apakah dibawa kepada sholat tathowu’ atau sholat wajib bagi yang tidak mampu (sholat berdiri). Al-khothobiy membawanya kepada yang kedua (yaitu sholat wajib), maka ini adalah takwil yang lemah, karena orang yang sakit yang melaksanakan sholat wajib dengan apa yang harus ia lakukan berupa sholat dengan duduk dan berbaring, tetap baginya ditulis pahala utuh bukan setengahnya. Ibnu Bathol berkata : ‘tidak ada perselisihan diantara ulama bahwa tidak dikatakan bagi orang yang tidak mampu atas sesuatu, bahwa engkau mendapatkan pahala setengah orang yang mampu, namun atsar yang tsabit dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa seseorang yang Allah tahan untuk melakukan sesuatu karena sakitnya atau sebab lainnya, tetap ditulis pahala amalnya, seperti pada saat ia sehat –selesai-.

Barangkali atsar tsabit yang dimaksud oleh Imam Ibnu Bathol adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 2996-cet. Daaru Thuqin Najaah) dari Abu Musa Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka akan ditulis baginya pahala, seperti pada saat ia beramal dalam keadaan mukim dan sehat.

Imam ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyaadhus Sholihin (2/189-cet. Daarul Wathon) berkata menjelaskan hadits diatas :

يعني أن الإنسان إذا كان من عادته أن يعمل عملاً صالحاً، ثم مرض فلم يقدر عليه، فإنه يكتب له الأجر كاملاً. والحمد لله على نعمه.

إذا كنت مثلاً من عادتك أن تصلي مع الجماعة، ثم مرضت ولم تستطيع أن تصلي مع الجماعة، فكأنك مصل مع الجماعة، يكتب لك سبع وعشرون درجة

Yakni seseorang jika termasuk kebiasaannya melakukan sebuah amal sholih, lalu ia sakit, sehingga tidak mampu melakukan kebiasaanya tersebut, maka tetap ditulis baginya pahala secara utuh. Segala puji bagi Allah atas segala nikmatnya.

Misalnya, jika kebiasaan seseorang sholat bersama jama’ah, lalu ia sakit, sehingga tidak bisa sholat bersama jama’ah, maka tetap saja ia seperti sholat bersama jama’ah, akan ditulis bagimu keutamaan 27 derajat –selesai-.

Berdasarkan permisalan yang dikatakan Imam ibnu Utsaimin, maka kita bisa katakana, bahwa kebiasaan seorang yang sholat ketika sehat adalah berdiri, lalu ketika ia sakit, sehingga tidak mampu baginya berdiri, tetap akan ditulis baginya pahala utuh, seperti pahalanya orang yang normal sehat dengan berdiri.

  1. Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya al-Istidzkaar memastikan bahwa yang dimaksud dari hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam Al Abani tentang setengahnya pahala orang yang duduk dibandingkan orang yang sholat berdiri adalah pada sholat sunnah, bagi orang yang sebenarnya mampu untuk sholat dengan berdiri. Imam Ibnu Abdil Bar berkata dalam kitab diatas (2/180-cet. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah) :

فدل هذا على أن المعنى الذي خرج عليه الحديث صلاة النافلة

 وأوضح ذلك الإجماع الذي لا ريب فيه فإن العلماء لم يختلفوا أنه لا يجوز لأحد أن يصلي منفردا أو إماما قاعدا فريضته التي كتبها الله عليه وهو قادر على القيام فيها وأن من فعل ذلك ليس له صلاة وعليه إعادة ما صلى جالسا فكيف يكون له أجر نصف القائم وهو آثم عاص لا صلاة له

Ini menunjukkan bahwa makna yang dimaksud hadits tersebut adalah sholat nafilah. Yang menguatkan hal ini bahwa ijma yang tidak ada keraguan lagi padanya, bahwa para ulama tidak berselisih pendapat terkait tidak bolehnya seorang yang sholat baik sendirian atau bermakmum untuk sholat dengan duduk pada saat menunaikan sholat wajib yang telah diwajibkan oleh Allah, sedangkan ia mampu untuk berdiri. Bagi orang yang melakukan sholat dengan duduk –padahal mampu berdiri- maka tidak sah sholatnya, dan ia wajib mengulangi sholatnya yang dikerjakan dengan duduk, maka bagaimana ia mendapatkan pahala setengah orang yang berdiri, sedangkan ia berbuat dosa dan bermaksiat, tidak sah sholatnya.

  1. Kemudian hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad yang dibawakan oleh Imam Al Albani dari perkataan Anas bin Malik rodhiyallahu anhu bahwa ketika itu para sahabat sholat dengan duduk karena sakit, maka jika kita lihat keseluruhan jalan-jalan haditsnya, maka dapat ditarik sebuah benang merah, bahwa asbabul wurud dari sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa orang yang sholat dengan duduk mendapatkan pahala setengah orang yang sholat dengan berdiri, adalah ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam masuk ke kota Madinah, mereka mendapati para sahabat sholat Sunnah dengan duduk, karena wabah penyakit yang menimpa. Imam Suyuthi dalam kitabnya al-Lam’u fii Asbaabil Wurudil Hadits (1/38) menyebutkan :

سبب : أخرج عبد الرزاق في المصنف وأحمد عن أنس قال : لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة وهي محمة ، فحم الناس ، فدخل النبي صلى الله عليه وسلم المسجد والناس قعود يصلون فقال : النبي صلى الله عليه وسلم : ” صلاة القاعد نصف صلاة القائم “. فتجشم الناس الصلاة قياما.

وأخرج عبد الرزاق عن عبد الله بن عمرو قال : قدمنا المدينة فنالنا وباء من وعك المدينة شديد ، وكان الناس يكثرون أن يصلوا في سبحتهم جلوسا ، فخرج النبي صلى الله عليه وسلم عند الهاجرة وهم يصلون في سبحتهم جلوسا فقال ” صلاة الجالس نصف صلاة القائم “.

قال : فطفق الناس حينئذ يتجشمون القيام.

Asbabul wurudnya : dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam al-Mushonaf dan Ahmad dari Anas rodhiyallahu anhu beliau berkata : “ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam datang ke Madinah dan Beliau dalam kondisi demam, orang-orang juga demam, lalu Beliau masuk masjid, sedangkan orang-orang sholat sambil duduk, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sholatnya orang yang duduk, setengah sholatnya orang yang berdiri”. Maka orang-orang segera sholat dengan berdiri.

Diriwayatkan oleh Abdur Rozaq dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu beliau berkata : “kami datang ke Madinah dan waktu itu sedang terjadi wabah karena musim panas yang menyengat di Madinah, manusia kebanyakannya melakukan sholat sabhah dengan duduk, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam keluar ketika hijrah dan mendapati mereka sholat sabhah dengan duduk, maka Beliau bersabda : “sholat orang yang duduk setengah pahalanya orang yang sholat dengan berdiri”. Maka orang-orang segera bangkit sholat dengan berdiri –selesai-.

Dan yang dimaksud dengan sholat sabhah adalah sholat Nafilah, sebagaimana ditafsirkan juga oleh Imam Al Albani dalam al-Ashlu (1/97) :

وفيه أن صلاتهم كانت سبحة – أي: نافلةً –

Dan didalamnya bahwa sholat mereka adalah sabhab yakni Nafilah.

Kesimpulannya bahwa pahala orang yang sakit, kemudian akibat sakitnya ia hanya mampu sholat dengan duduk atau berbaring, maka pahalanya tetap utuh, sebagaimana ketika sholat dengan berdiri, dan ini adalah pendapatnya jumhur ulama. Wallahu Ta’aalaa A’lam bish Showab.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: