BERSAMA NABI DI SURGA DENGAN MENGHIDUPKAN SUNAHNYA

March 21, 2015 at 2:59 am | Posted in Hadits | Leave a comment

MENGHIDUPKAN SUNNAH NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

 

Nabi sholallahu alaihi wa salam menjanjikan melalui haditsnya orang yang menghidupkan sunahnya akan bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam di jannah, Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa menghidupkan sunahku, maka berarti ia mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku, maka berarti ia bersamaku di jannah.

Takhrij Hadits :

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam Sunannya (no. 2678) dari jalan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا بُنَيَّ، إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ» ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الجَنَّةِ»

Haddatsanaa Muhammad bin Abdullah al-Anshoriy dari Bapaknya dari Ali bin Zaid dari Sa’id ibnul Musayyib ia berkata, Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata kepadaku : “wahai anakku, jika engkau mampu pada waktu pagi dan petang, tidak ada sedikitpun di hatimu dengki kepada seseorang pun, maka lakukanlah”. Kemudian Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “wahai anakku yang demikian termasuk sunnahku, barangsiapa yang menghidupkan sunahku, maka berarti ia mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku, maka berarti ia bersamaku di jannah”.

Lalu Imam Tirmidzi melakukan penilaian sendiri terhadap hadits ini, kata beliau :

«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيُّ ثِقَةٌ، وَأَبُوهُ ثِقَةٌ، وَعَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ صَدُوقٌ إِلَّا أَنَّهُ رُبَّمَا يَرْفَعُ الشَّيْءَ الَّذِي يُوقِفُهُ غَيْرُهُ»

Ini hadits hasaan ghorib dari jalan ini, Muhammad bin Abdullah al-Anshoriy perowi tsiqoh, bapaknya juga tsiqoh, Ali bin Zaid shoduq, namun terkadang ia memarfu’kan sebuah hadits yang tidak disepakati oleh perowi lainnya.

Imam Syatibiy dalam kitabnya al-I’tishom pun menghasankan hadits diatas.

Namun Imam Al Albani dalam Silsilah Ahaadits adh-Dhoifah (no. 4538) menilai Ali bin Zaid bin Jud’an adalah perowi dhoif, sehingga dalam ta’liqnya terhadap Sunan Tirmidzi, beliau menilainya sebagai hadits dhoif. kemudian beliau menyebutkan juga jalan-jalan lain yang semuanya beliau nilai dhoif, silakan merujuk pada kitab diatas bagi yang ingin penjelasan lebih.

Ketika kelemahan ada pada Ali bin Zaid, maka kita perlu melihat biografi beliau untuk menentukan apakah memang beliau perowi dhoif yang tidak bisa dijadikan hujjah hadits, atau pertengahan, sehingga bisa dihasankan haditsnya. Nama beliau adalah Ali bin Zaid bin Abdullah bin Zuhair bin Abdullah bin Jud’aan, namun beliau sering dinisbatkan kepada kakeknya yang terakhir sehingga disebut dengan Ali bin Zaid bin Jud’aan. Beliau berasal dari Mekkah, kemudian pindah ke Bashroh dan meninggal disana pada tahun 131 H. Beliau pernah berguru kepada Imam Bashroh pada waktu itu yaitu Hasan al-Bashri. Imam Muslim memakai hadits beliau dalam kitab shahihnya. Diantara yang memberi penilaian positif kepada beliau, selaian Imam Tirmidzi adalah :

  1. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisaanul Miizaan (7/311 no. 4109 cet. Muasasah al-A’lamiy) mensifati Ali bin Jud’aan dengan al-Haafidh.
  2. Imam al-‘Ijli berkata tentang beliau : “كان يتشيع، لا بأس به” (beliau condong kepada syi’ah, tidak mengapa riwayatnya), sebagaimana dinukil dalam Maghoonil Akhyar.
  3. Imam Ibnu Adiy menilainya, sebagaimana dinukil dalam kitab yang sama diatas :

لم أر أحدًا من البصريين وغيرهم امتنعوا من الرواية عنه، وكان يغلى فى التشيع فى جملة أهل البصرة مع ضعفه يُكتب حديثه

aku tidak melihat seorang pun ulama bashroh dan selain mereka yang melarang untuk meriwayatkan darinya, beliau ghulu dalam syi’ah sebagaimana kebanyakan penduduk Bashroh, bersama dengan kelemahannya, beliau dapat ditulis haditsnya.

  1. Imam as-Saaji, sebagaimana dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib berkata :

كان من أهل الصدق ، و يحتمل لراوية الجلة عنه ، و ليس يجرى مجرى من أجمع على ثبته .

beliau termasuk perowi shoduq, mungkin (dihasankan) karena periwayatan para pembesar ulama darinya, beliau tidak seperti perowi yang telah disepakati ketsabatannya.

  1. Dalam Tahdzibul Kamal dinukil ucapan Imam Ya’qub bin Syaibah tentang beliau : “ثقة ، صالح الحديث ، وإلى اللين ما هو .” (tsiqoh, sholihul hadits, lebih dekat ke layyin).
  2. Imam adz-Dzahabi memasukkan beliau dalam kitabnya yang berjudul man takallama fiihi wahuwa mautsuq, lalu memberikan komentar :

صويلح الحديث قال أحمد ويحيى ليس بشيء وقواه غيرهما

Shuwailihul hadits, Ahmad dan Yahya menilainya : ‘tidak ada apa-apanya’. Namun selain mereka berdua menguatkannya.

Kesimpulannya, tidak berlebihan jika haditsnya Ali bin Zaid bin Jud’aan dapat dikategorikan sebagai hadits hasan, selama matannya tidak mengandung kemungkaran. Wallahu A’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: