ISTIDRAJ

March 28, 2015 at 9:15 am | Posted in Hadits | Leave a comment
Tags: , ,

ISTIDRAJ

 

Istidraj didefinisikan oleh Imam Abdur Rouf al-Munawiy dalam Faidhul Qodiir (1/354 –cet. Maktabah at-Tijaariyyah al-Kubro) dengan :

أي أخذ بتدريج واستنزال من درجة إلى أخرى فكلما فعل معصية قابلها بنعمة وأنساه الاستغفار فيدنيه من العذاب قليلا قليلا ثم يصبه عليه صبا

Yaitu ia terdegradasi dari satu derajat ke derajat lainnya, setiap kali ia melakukan maksiat, ia menerima juga kenikmatan, sehingga lalai dari meminta ampun terhadap dosa-dosanya, maka ia didekatkan kepada azab sedikit demi sedikit, kamudian menimpa kepadanya azab tersebut.

Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu mengatakan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44]

Jika engkau melihat Allah memberi kenikmatan dunia kepada seorang hamba apa yang disenanginya, atas kemaksiatannya, maka itu hanyalah sebagai istidraj. Lalu Beliau membaca : {Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa} (QS. Al An’aam : 44).

Takhrih Hadits :

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 17311 –cet. Ar-Risalah) dari jalan Risydiin bin Sa’ad dari Harmalah bin Imroon dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam dst. Semua perowinya tsiqoh kecuali Risydiin, dinilai dhoif oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.

Namun Risydiin mendapatkan Mutaba’ah dari :

  1. Abdullah bin Shoolih dalam Mu’jam Kabiir (no. 14327), beliau dinilai sebagai Hasanul hadits oleh Imam Abu Zur’ah, sebagaiman dinukil oleh Imam adz-Dzahabi.
  2. Abdullah bin Wahhaab, seorang perowi yang tsiqoh, salah satu Aimah yang masyhur, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirmya (no. 7320) melalui riwayat keponakannya Ahmad bin Abdur Rokhman bin Wahhaab, salah seorang perowi shoduq.
  3. Abdullah bin Mubarok, salah satu Aimah yang masyhur, meriwayatkan dalam kitabnya Az-Zuhud war Roqoiq (no. 321), namun secara maqtu kepada Uqbah bin Muslim, yang digolongkan sebagai Tabi’in.
  4. Syihaab bin Khirosy, dinilai shoduq oleh Al Hafidz Ibnu Hajar. Ditulis riwayatnya oleh Imam Baihaqi dalam kitabya al-Qodho wal Qodar (no. 322).
  5. Abdullah bin Luhai’ah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 413), yang ditulis riwayatnya oleh Imam Ibnu Abid Dunya dalam asy-Syukur (hal. 9).

Kesimpulan akhir status hadits ini, dikatakan oleh Imam Al Albani dalam kitabnya diatas adalah :

و هو عندي صحيح بالمتابعة المذكورة فإن ابن لهيعة ثقة في نفسه و إنما يخشى من سوء حفظه فإذا تابعه ثقة فذلك دليل على أنه قد حفظ . و الله أعلم .

Menurutku hadits ini shahih dengan penguat yang telah disebutkan, karena ibnu Luhaiah tsiqoh sebenarnya, hanyalah dikhawatirkan terkadang jelek hapalannya saja. Maka jika ia menguatkan perowi tsiqoh, yang demikian menunjukkan atas hapalannya. Wallahu A’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: