SHOLAT SAMBIL BERPEGANGAN

March 28, 2015 at 9:35 am | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

 

Sholat sambil bersandar

Imam Al Albani berkata tentang rukhshoh bagi orang yang sudah lanjut usia untuk sholat berdiri dengan bersandar kepada sesuatu, seperti tiang, tongkat dan semisalnya, kata beliau :

ولما أسن صلى الله عليه وسلم وكبر اتخذ عمودا في مصلاه يعتمد عليه

Ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam berusia lanjut, beliau menjadikan tiang di tempat sholatnya untuk digunakan sebagai sandaran (ketika sholat) (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi) –selesai-.

Imamunaa Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam al-Umm (1/100) juga mengisyaratkan hal ini, kata beliau :

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى ذَلِكَ إلَّا بِأَنْ يَعْتَمِدَ عَلَى شَيْءٍ اعْتَمَدَ عَلَيْهِ مُسْتَوِيًا، أَوْ فِي شِقٍّ، ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ رَفَعَ، ثُمَّ سَجَدَ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى السُّجُودِ جَلَسَ أَوْمَأَ إيمَاءً

Jika tidak mampu karena sakitnya (untuk berdiri), kecuali dengan berpegang kepada sesuatu, maka berpeganglah kepadanya dengan lurus atau disisinya, lalu ruku’, lalu bangkit dari ruku’, lalu sujud, dan jika tidak mampu sujud, maka ia duduk dan berisyarat ketika sujudnya –selesai-.

Imam Al Albani menukil  dalam al-Ashlu (1/103) ucapan Imam Syaukani dalam Nailul Author (2/284) :

الحديث يدل على جواز الاعتماد في الصلاة على العمود والعصا ونحوهما، لكنْ مقيداً بالعذر المذكور؛ وهو الكبر وكثرة اللحم، ويلحق بهما الضعف، والمرض، ونحوهما، وقد ذكر جماعة من العلماء أن من احتاج في قيامه إلى أن يتكئ على عصا، أو عكاز، أو يسند إلى حائط، أو يميل على أحد جنبيه من الألم؛ جاز له ذلك. وجزم جماعة من أصحاب الشافعي باللزوم، وعدم جواز القعود مع إمكان القيام مع الاعتماد “. اهـ.

Hadits ini menunjukkan bolehnya bersandar ketika sholat di tiang, atau tongkat atau semisalnya, namun terkait dengan adanya udzur sebagaimana yang disebutkan, yaitu karena usia lanjut dan kegemukan, dimasukkan juga orang yang lemah dan sakit atau semisalnya. Sejumlah ulama telah menyebutkan bahwa orang yang berdirinya butuh untuk bersandar kepada tongkat, atau ikaz atau tembok atau memiringkan sisi tubuhnya bersandar ke sesuatu, maka hal tersebut diperbolehkan. Sekelompok ulama Syafi’I menegaskan keharusannya, yakni tidak boleh sholat dengan duduk, selama memungkinkan baginya berdiri dengan menggunakan pegangan –selesai-.

Ini adalah terkait dengan sholat secara umum baik fardhu, maupun nafilah. Adapun terkait dengan sholat nafilah, maka Imam Nawawi menukil adanya ijma tentang bolehnya bersandar, beliau berkata (3/265) :

واما الاتكاء على العصي فَجَائِزٌ فِي النَّوَافِلِ بِاتِّفَاقِهِمْ إلَّا مَا حُكِيَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ مِنْ كَرَاهَتِهِ

Adapun bersandar dengan tongkat, maka ini boleh dalam sholat nawafil berdasarkan kesepakatan ulama, kecuali apa yang dihikayatkan dari Ibnu Siriin yang memakruhkannya –selesai-.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: