SUNAN ABU DAWUD : BAB 10 TENTANG KELEMBUTAN

March 28, 2015 at 9:37 am | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي الرِّفْقِ

Bab 10 Tentang Kelembutan

 

Penjelasan Bab :

Al Hafidz dalam Fathul Bari berkata tentang makna ar-Rifqu, kata beliau :

الرِّفْق بِكَسْرِ الرَّاء وَسُكُون الْفَاء بَعْدهَا قَاف هُوَ لِين الْجَانِب بِالْقَوْلِ وَالْفِعْل ، وَالْأَخْذ بِالْأَسْهَلِ ، وَهُوَ ضِدّ الْعُنْف

Ar-Rifqu dengan mengkasroh huruf “Roo”, mensukunkan huruf “Faa” dan setelahnya “Qoof” adalah lembut dari sisi ucapan dan perbuatan dan mengambil yang lebih mudah dan ini lawan dari al-‘Unfu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengajarkan kepada Rasul-Nya sholallahu alaihi wa salam agar belaku lembut kepada umatnya, sehingga hal ini dapat mendorong mereka untuk memeluk agama yang hak ini, Firman-Nya :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imroon : 159).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4807 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ يُونُسَ، وَحُمَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ: يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ “

35). Hadits no. 4807

Haddatsanaa Musa bin Ismail, haddatsanaa Hammaad dari Yunus dan Humaid dari al-Hasan dari Abdullah bin Mughoffal rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan, diberikan pahala kepada (orang yang lembut), tidak sebagaimana yang diberikan kepada (orang) yang kasar.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali Hammaad yakni ibnu Salamah, hanya dipakai Bukhori sebagai mu’alaq. Yunus adalah ibnu Ubaid dan Humaid adalah ath-Thowiil. Hasan al-Bashri seorang mudallis, namun Imam Ahmad menegaskan bahwa Hasan pernah mendengar Abdur Rokhman bin Mughoffal rodhiyallahu anhu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip ada di Sunan Ibnu Majah (no. 3688).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Salah satu nama Allah yang Husna adalah Ar Rofiiq, berdasarkan hadits diatas sebagaimana ditetapkan oleh Imam Nasa’i dalam kitabnya an-Nu’ut al-Asmaa’ was Shifaat.
  2. Allah Maha Lembut dan menyukai hambanya untuk berbuat lembut, sehingga seorang hamba yang bersikap lembut di dunia akan diberikan kemudahan hidup dan di akhirat akan diberikan pahala yang besar.
  3. Kebalikannya sikap kasar, akan menyebabkan di dunia sengsara dan layak mendapatkan siksaan di akhirat.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4808 – حَدَّثَنَا عُثْمَانُ، وَأَبُو بَكْرٍ، ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ، قَالُوا: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنِ الْبَدَاوَةِ، فَقَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْدُو إِلَى هَذِهِ التِّلَاعِ، وَإِنَّهُ أَرَادَ الْبَدَاوَةَ مَرَّةً فَأَرْسَلَ إِلَيَّ نَاقَةً مُحَرَّمَةً مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَقَالَ لِي: «يَا عَائِشَةُ، ارْفُقِي فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ» قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ فِي حَدِيثِهِ: مُحَرَّمَةٌ يَعْنِي لَمْ تُرْكَبْ

36). Hadits no. 4808

Haddatsanaa Utsman dan Abu Bakar keduanya anak Abi Syaibah, serta Muhammad ibnus Shobbaah al-Bazaaz mereka berkata, haddatsanaa Syariik dari al-Miqdaam bin Syuraih dari Bapaknya ia berkata, aku bertanya kepada Aisyah rodhiyallahu anha tentang al-Badawah, maka beliau menjawab : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam keluar ke tempat air terjun ini, dan Beliau bertujuan  ke perkampungan, lalu Beliau mengirimkan Unta merah kepadaku, yang merupakan Unta zakar, lalu Beliau berkata kepadaku : “wahai Aisyah, berlemah lembutlah, sesungguhnya kelembutan tidak terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan hilang pada sesuatu, kecuali ia akan menjelekkannya”.

Ibnus Shobbaah berkata tentang hadits ini, bahwa yang dimaksud unta merah adalah unta yang tidak dijadikan tunggangan.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, dari Utsman sampai Syariik adalah perowi Bukhori-Muslim. Namun Syariik jelek hapalannya.

Sedangkan al-Miqdaam bin Syuraih dan Bapaknya adalah perowi tsiqoh, yang dijadikan hujjah oleh Muslim.

Hadits ini shahih lighoirihi, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Sanad ini sebenarnya lemah dengan sebab jeleknya hapalan salah satu perowinya yakni Syariik bin Abdullah al-Qodhi. Namun beliau mendapatkan mutaba’ah dari Amirul Mukimin fiil hadits pada zamannya, yakni Imam Syu’bah bin Hajjaaj yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2594).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud berkata :

يدلنا على فضل الرفق، وعلى أن الرفق محمود وأن ضده مذموم.

Hadits ini menunjukkan kepada kita, keutamaan kelembutan dan bahwa kelembutan itu terpuji, sedangkan lawannya adalah tercela.

  1. Sikap tidak lembut akan merusak perkara yang dimasukinya, misalnya adalah dakwah dengan keras, padahal disitu dibutuhkan kelembutan, akan membuat lari orang-orang yang mendengarnya dan bahkan antipati terhadap dakwah tersebut, padahal yang disampaikannya adalah kebenaran, namun cara menyampaikannya tidak benar. Oleh karenanya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah menegur para sahabatnya yang berlaku kasar :

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahhlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat lari (muttafaqun ‘alaih).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4809 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ جَرِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ»

37). Hadits no. 4809

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah dan Wakii’ dari al-A’masy dari Tamiim bin Salamah dari Abdur Rokhman bin Hilaal dari Jariir rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “barangsiapa yang diharamkan kelembutan akan diharamkan kebaikan seluruhnya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali Tamiim dan ibnu Hilaal hanya dipakai Muslim.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan oleh HR. Muslim (no. 2592).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Ibnul Jauzi berkata tentang makna hadits ini dalam kitabnya kasyful Musykil min hadits ash-Shahihain (1/280) :

وهذا لأن عموم الأشياء لا تتم إلا بالرفق فإذا حرمه الإنسان لم يكد غرضه يتم

Ini karena keumuman segala sesuatu tidak sempurna, kecuali dengan kelembutan, maka jika seseorang diharamkan darinya, tujuan yang ingin dicapai hampir tidak sempurna.

  1. Imam Ibnu Utsaimin mengomentari hadits tersebut dalam Syarah Riyadhus Sholihin (3/592) :

وهذا شيء مجرب ومشاهد أن الإنسان إذا صار يتعامل بالعنف والشدة؛ فإنه يحرم الخير ولا ينال الخير

Ini adalah sesuatu yang nyata dan terbukti bahwa seorang jika bergaul dengan kaku dan keras, maka akan terhalangi atau tidak mendapatkan kebaikan.

  1. Alangkah ruginya orang yang mendapatkan kejelekan, karena sifat kasar dan kakunya. Ini sifat jelek yang dimiliki orang kafir, yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala singgung dalam surat Al Qolam :

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ

yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya (QS. Al Qolam : 13).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4810 – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الْأَعْمَشُ، عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ، قَالَ: الْأَعْمَشُ وَقَدْ سَمِعْتُهُمْ يَذْكُرُونَ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ الْأَعْمَشُ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «التُّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ»

38). Hadits no. 4810

Haddatsanaa al-Hasan bin Muhammad ibnus Shobbaah, haddatsanaa ‘Affaan, haddatsanaa Abdul Wahid, haddatsanaa Sulaimaan al-A’masy dari Malik bin al-Harits ia berkata, al-A’masy dan aku mendengar mereka menyebutkan dari Mus’ab bin Sa’ad dari bapaknya – al-A’masy berkata, aku tidak mengetahui kecuali dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda : “pelan-pelan pada segala sesuatu, kecuali terkait amal akhirat”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali al-Hasan, hanya dipakai Bukhori dan Malik hanya dipakai Muslim.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth.

 

Penjelasan Hadits :

  1. At-Tuadah ditafsirkan oleh asy-Syakh Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Ta’lq Sunan Ibnu Majah dengan :

التأني وترك التعجيل

Hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

  1. Asy-Syaikh Syamsul Haq dalam ‘Aunul Maubud mengatakan bahwa pengecualian Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan perkara akhirat, karena menunda-nunda beramal untuk akhirat adalah suatu keluputan.
  2. Asy-Syaikh Abdul Muhsin juga menguatkan makna diatas dengan perkataannya dalam Syarah Sunan Abu Dawud :

أن أمور الدنيا يتأنى الإنسان ويتروى فيها، وأما بالنسبة لأمور الآخرة فلا يتأنى فيها، بل يقدم ويسارع،

Perkara dunia, hendaknya seseorang berhati-hati dan waro’ terhadapnya. Adapun perkara akhirat, maka tidak berhati-hati, bahkan didahulukan dan dipercepat.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. Al Hadiid : 21).

  1. Namun dasar manusia, kebanyakan mereka selalu tergesa-gesa, apalagi jika menghadapim perkara dunia dan ini adalah tabiat asli mereka, sebagaimana Firman-Nya :

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa (QS. Al Anbiyaa’ : 37).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: