BOLEHKAH MENGAMBIL PENDAPAT YANG MARJUH?

March 29, 2015 at 1:15 pm | Posted in Nasehat | Leave a comment

BOLEHKAH MENGAMBIL PENDAPAT MARJUH (YANG TIDAK KUAT) KETIKA ADA KEMASLAHATAN PADANYA

 

Dalam kehidupan bermasyarakat akan sangat sulit untuk menerapkan amalan ibadah kita dengan hanya berpegang kepada pendapat-pendapat yang rajih, pada kondisi tertentu ada tuntutan untuk melakukan pendapat yang marjuh karena dianggap ada kemaslahatan dalam mengerjakannya. Tentu saja bahasan kita adalah terkait dengan masalah-masalah amaliyah fiqhiyyah, adapun akidah semampu mungkin tidak mengerjakan perbuatan yang marjuh, karena berpotensi menggugurkan keislaman kita. Untuk menjawab pertanyaan dalam judul artikel diatas, pertama akan saya serahkan kepada al-‘Alamah al-Muhadits asy-Syaikh Rabii bin Hadi dalam fatwanya berikut ini :

إذا كان في المسألة قول راجح وقول مرجوح هل يجوز أن يأخذ بالمرجوح إذا كانت هناك مصلحة

 الجواب

المرجوح لا يجوز الأخذ به في حال من الأحوال، فإن المرجوح قام على حديث مثلا ضعيف، أو عارض آية، فإن هذا لا يجوز به الأخذ بحال من الأحوال، والمصلحة لا تتحقق إلا بالحكم الراجح، فإن ديننا قائم على المصالح، فمن وراء كل حكم حِكمة، من وراء حكم لله حِكمة ومصلحة، فديننا يراعي المصالح، ويحذِّر من المفاسد، ويحاربها، فمستحيل أن يكون هناك رأي مرجوح فيه مصلحة أرجح من المصلحة القائمة والناشئة عن الحكم الراجح.

Soal : Jika dalam permasalahan ada pendapat yang rajih dan pendapat yang marjuh, bolehkah mengambil pendapat yang marjuh jika ada kemaslahatan didalamnya?

Jawab : pendapat marjuh tidak boleh diambil dalam kondisi apapun, karena yang marjuh misalnya berdasarkan hadits dhoif atau bertentangan dengan sebuah ayat, maka ini tidak boleh mengambil yang marjuh dalam kondisi apapun. Kemaslahatan tidaklah terealisir kecuali dengan hukum yang rajih, dan agama kita tegak diatas kemaslahatan, maka dibelakang setiap hukum ada hikmah, dibalik hukum Allah ada hikmah dan kemaslahatan, agama kita menjaga kemaslahatan dan mengingatkan serta memerangi kerusakan, maka mustahil disana pendapat yang marjuh menghasilkan kemaslahatan yang lebih dibandingkan dengan menerapkan dan menggalakkan hukum yang rajih.

(http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=36&id=404)

Apa yang difatwakan oleh asy-Syaikh Rabii adalah salah satu pendapat didalam masalah ini. Asy-Syaikh Abdullah Alu Hunain telah menulis sebuah kitab yang berjudul al-Fatawa fii Syariatil Islam, dan permasalahan kita ini adalah salah satu yang dibahas dalam kitabnya, saya akan ringkaskan berdasarkan apa yang tertulis dalam http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=154876, sebagai berikut :

Para ulama berbeda pendapat terkait mengambil pendapat yang marjuh didalam berfatwa, menjadi 3 pendapat :

  • Pendapat pertama, melarang mengambil pendapat yang marjuh, sekalipun disana ada hajat atau darurat. Ini dikatakan oleh al-Maziri (w. 536 H) dan asy-Syatibyi dari kalangan Malikiyyah.
  • Pendapat kedua, seorang mufti boleh mengambil pendapat yang marjuh untuk dirinya saja, namun tidak diperbolehkan untuk difatwakan kepada selainnya, ini adalah pendapatnya sebagian Malikiyyah dan sebagian Syafi’iyyah.
  • Pendapat ketiga, bolehnya mengambil dan beramal dengan pendapat yang marjuh ketika ada kebutuhan dan darurat padanya. Ini adalah pendapatnya jumhur ulama, dari kalangan Hanafiyyah, kebanyakan Malikiyyah, pendapat lain dari Syatibi, sebagian Syafi’iyyah dan madzhabnya Hanabilah.

Kemudian asy-Syaikh Abdullah Alu Hunain merajihkan pendapat yang terakhir diatas.

Pendapat yang ketiga dikuatkan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (24/195-196 –cet. Darul Wafaa’) yang berkata :

وَلِذَلِكَ اسْتَحَبَّ الْأَئِمَّةُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ أَنْ يَدَعَ الْإِمَامُ مَا هُوَ عِنْدَهُ أَفْضَلُ ، إذَا كَانَ فِيهِ تَأْلِيفُ الْمَأْمُومِينَ ، مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ فَصْلُ الْوِتْرِ أَفْضَلَ ، بِأَنْ يُسَلِّمَ فِي الشَّفْعِ ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةَ الْوِتْرِ ، وَهُوَ يَؤُمُّ قَوْمًا لَا يَرَوْنَ إلَّا وَصْلَ الْوِتْرِ ، فَإِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ إلَى الْأَفْضَلِ كَانَتْ الْمَصْلَحَةُ الْحَاصِلَةُ بِمُوَافَقَتِهِ لَهُمْ بِوَصْلِ الْوِتْرِ أَرْجَحَ مِنْ مَصْلَحَةِ فَصْلِهِ مَعَ كَرَاهَتِهِمْ لِلصَّلَاةِ خَلْفَهُ ، وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ مِمَّنْ يَرَى الْمُخَافَتَةَ بِالْبَسْمَلَةِ أَفْضَلُ ، أَوْ الْجَهْرُ بِهَا ، وَكَانَ الْمَأْمُومُونَ عَلَى خِلَافِ رَأْيِهِ ، فَفِعْلُ الْمَفْضُولِ عِنْدَهُ لِمَصْلَحَةِ الْمُوَافَقَةِ وَالتَّأْلِيفِ الَّتِي هِيَ رَاجِحَةٌ عَلَى مَصْلَحَةِ تِلْكَ الْفَضِيلَةِ كَانَ جَائِزًا حَسَنًا .

وَكَذَلِكَ لَوْ فَعَلَ خِلَافَ الْأَفْضَلِ لِأَجْلِ بَيَانِ السُّنَّةِ وَتَعْلِيمِهَا لِمَنْ لَمْ يَعْلَمْهَا كَانَ حَسَنًا ، مِثْلَ أَنْ يَجْهَرَ بِالِاسْتِفْتَاحِ أَوْ التَّعَوُّذِ أَوْ الْبَسْمَلَةِ لِيَعْرِفَ النَّاسُ أَنَّ فِعْلَ ذَلِكَ حَسَنٌ مَشْرُوعٌ فِي الصَّلَاةِ

Oleh karenanya Imam Ahmad dan selaiannya menganjurkan seorang Imam (sholat) untuk meninggalkan perbuatan yang dianggap afdhol (rajih), jika padanya terdapat hal yang dapat menyatukan kaum mukminin, misalnya tentang memisahkan sholat witir, yang afdhol adalah untuk bersalam setiap 2 rakaat , lalu dilanjutkan melaksanakan satu rakaat lagi. Namun jika ia mengimami suatu kaum yang  berpendapat untuk menyambung sholat witir (dilaksanakan 3 rakaat sekaligus -pent), maka si Imam tidak mungkin untuk memimpin sholat dengan cara yang  afdhol (2 + 1 rokaat witir), dimana yang maslahat adalah mengimami sholat sesuai dengan kebiasaan  jamaahnya yang menyambung witir, daripada ia harus sholat witir dengan memisahkannya. Demikian juga seandainya ia adalah orang yang berpendapat basmalah dibaca dengan pelan lebih utama atau sebaliknya jahr lebih utama, sedangkan makmumnya menyelisihi pendapatnya, maka mengerjakan yang mafdhul (marjuh) ketika itu untuk kemaslahatan menyatukan hati, maka ini boleh dan perbuatan yang bagus.

Demikian juga seandainya mengerjakan yang tidak afdhol untuk menjelaskan sunah dan mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu, maka itu bagus, misalnya menjaharkan doa istiftah atau taawudz atau basmalah untuk mengajarkan manusia bahwa perbuatan ini dianjurkan dan disyariatkan dalam sholat –selesai-.

(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=154876).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: