JANGAN GAMPANG MEMVONIS BID’AH DALAM KHILAF ILMIYYAH

March 29, 2015 at 1:05 am | Posted in Nasehat | Leave a comment

VONIS BID’AH DALAM MASALAH IJTIHAD

 

Kali ini saya ingin mengangkat tentang vonis bid’ah dalam masalah ijtihad, yakni apakah diperbolehkan memvonis suatu amalan ibadah itu bid’ah, ketika kita menganggap amalan ibadah tersebut marjuh (pendapatnya tidak kuat)?, maka jawabannya akan saya nukil penjelasan ulama tentang hal tersebut –bi idznillah-.

Imam Ibnu Utsaimin dalam Majmu Fatawanya (13/160 –cet. Daar Ats-Tsuraya) pernah ditanya sebagai berikut :

سئل فضيلة الشيخ – حفظه الله تعالى -: قرأت في أحد الكتب عن كيفية صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بأن وضع اليدين على الصدر بعد الرفع من الركوع بدعة ضلالة، فما الصواب جزاكم الله عنا وعن المسلمين خيراً؟

فأجاب فضيلته بقوله

أولاً: أنا أتحرج من أن يكون مخالف السنة على وجه يسوغ فيه الاجتهاد مبتدعاً، فالذين يضعون أيديهم على صدورهم بعد الرفع من الركوع إنما يبنون قولهم هذا على دليل من السنة، فكوننا نقول: إن هذا مبتدع؛ لأنه خالف اجتهادنا، هذا ثقيل على الإنسان، ولا ينبغي للإنسان أن يطلق كلمة بدعة في مثل هذا؛ لأنه يؤدي إلى تبديع الناس بعضهم بعضاً في المسائل الاجتهادية التي يكون الحق فيها محتملاً في هذا القول أو ذاك، فيحصل به من الفرقة والتنافر ما لا يعلمه إلا الله. فأقول: إن وصف من يضع يده بعد الركوع على صدره بأنه مبتدع، وأن عمله بدعة هذا ثقيل على الإنسان، ولا ينبغي أن يصف به إخوانه.

Asy-Syaikh pernah ditanya sebagai berikut : ‘aku membaca sebuah kitab tentang tatacara sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang menyebutkan bahwa meletakkan tangan (bersedekap) di dada setelah bangkit dari ruku’ (waktu I’tidal) adalah bid’ah dholalah. Maka apakah ini betul?

Asy-Syaikh menjawab : ‘yang pertama, aku keberatan jika yang (dianggap) menyelisihi sunah yang mau tidak mau itu adalah perkara ijtihad disebut sebagai ahli bid’ah. Orang yang bersedekap di dada setelah bangkit dari ruku’, pendapat mereka berlandaskan atas dalil sunah, maka jika kita mengatakan : ‘ini adalah ahli bid’ah, karena menyelisihi  ijtihad kita, maka ini sesuatu yang berat bagi seseorang. Oleh karenanya, seyogyanya seorang tidak memutlakkan kalimat bid’ah untuk kasus seperti ini, karena ini mengakibatkan sesama Muslim saling membid’ahkan dalam permasalahan ijtihadiyah yang kebenarannya masih relative, entah pendapatnya atau pendapat lawannya. Ini akan menghasilkan perselisihan dan membuat lari (dakwah) yang tidak diketahui efeknya, kecuali oleh Allah. Maka aku katakan : ‘pensifatan orang yang meletakkan tangan (bersedekap) setelah ruku’ adalah ahli bid’ah dan amalan tersebut termasuk bid’ah, ini akan memberatkan seseorang, dan hendaknya tidak mensifati saudaranya dengan sifat seperti ini … –selesai-.

Imam bin Baz dalam fatwanya juga pernah menyebutkan bahwa vonis bid’ah dalam masalah yang masyhur diperselisihkan oleh ulama tidak teranggap, berikut fatwanya (http://www.binbaz.org.sa/mat/882) :

ما حكم سكتة الإمام بعد الفاتحة، وقد سمعت أنها بدعة؟

الثابت في الأحاديث سكتتان: إحداهما: بعد التكبيرة الأولى، وهذه تسمى سكتة الاستفتاح، والثانية: عند آخر القراءة قبل أن يركع الإمام وهي سكتة لطيفة تفصل بين القراءة والركوع. وروي سكتة ثالثة بعد قراءة الفاتحة، ولكن الحديث فيها ضعيف، وليس عليها دليل واضح فالأفضل تركها، أما تسميتها بدعة فلا وجه له؛ لأن الخلاف فيها مشهور بين أهل العلم، ولمن استحبها شبهة فلا ينبغي التشديد فيها، ومن فعلها أخذا بكلام بعض أهل العلم لما ورد في بعض الأحاديث مما يدل على استحبابها، فلا حرج في ذلك، ولا ينبغي التشديد في هذا كما تقدم. والمأموم يقرأ الفاتحة في سكتات إمامه، فإن لم يكن له سكتة قرأ المأموم الفاتحة ولو في حالة قراءة الإمام، ثم ينصت للإمام لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لعلكم تقرءون خلف إمامكم)) قلنا: نعم، قال: ((لا تفعلوا إلا بفاتحة الكتاب فإنه لا صلاة لمن لم يقرأ بها)) رواه الإمام أحمد والترمذي بإسناد حسن. وهذا في الجهرية، أما في السرية فيقرأ المأمومون الفاتحة وما تيسر معها من القرآن في الأولى والثانية من الظهر والعصر. والله الموفق.

Soal : apa hukum diamnya Imam setelah membaca Al Fatihah, aku pernah mendengar bahwa itu adalah bid’ah?

Jawab : yang tsabit dalam hadits-hadits bahwa ada 2 diam, yang pertama setelah takbirotul ikhrom, ini disebut diamnya untuk melakukan doa istiftah dan yang kedua ketika akhir membaca surat sebelum imam ruku’, ini adalah diam yang sebentar untuk memisahkan antara membaca surat dengan ruku’.

Diriwayatkan diam yang ketiga yaitu setelah membaca Al Fatihah, namun haditsnya dhoif, tidak ada dalil yang jelas terkait hal tersebut, maka yang lebih utama untuk ditinggalkan. Adapun penamaan diam ini dengan bid’ah, maka tidak berdasar sama sekali, karena perselisihan tentang hal ini masyhur dikalangan ulama. Bagi Orang yang menganjurkannya ada syubhat, sehingga hendaknya tidak keras padanya. Dan bagi yang mengerjakan ini, karena berpegang kepada pendapat sebagian ulama, beranggapan adanya hadits yang menunjukkan atas sunahnya, maka tidak masalah, dan jangan terlalu ekstrim menyikapi hal ini sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Makmum membaca Al Fatihah pada saat Imam diam, jika Imam ternyata tidak diam, maka makmum membaca Al Fatihah, walaupun Imam sedang membaca surat, lalu ia diam menyimak Imam berdasarkan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “mungkin kalian membaca dibelakang Imam kalian?”, maka para sahabat menjawab : “benar”, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam melanjutkan : “jangan kamu lakukan kecuali sekedar membaca Al Fatihah, karena tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad hasan). Ini adalah pada saat sholat Jahriyyah, adapun pada saat sholat Sirriyyah, maka makmum membaca Al Fatihah dan surat yang mudah baginya pada rokaat pertama dan kedua pada sholah Dhuhur dan Ashar –selesai-.

Asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri dalam (http://www.alukah.net/sharia/0/36/) menukil ucapan Imam adz-Dzahabi yang berkata :

ويقول الإمام الذهبي: “ولو أنا كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد المسائل خطأُ مغفور له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه، لم سلم معنا ابن نصر، ولا ابن مندة، ولا من هو أكبر منهما،

Seandainya kita setiap kali mendapatkan kesalahan Aimah dalam ijtihadnya dalam salah satu permasalahan yang kekeliruannya dimaafkan, lalu kita bersikap, kita bid’ahkan dan kita hajr dirinya, niscaya tidak akan ada yang selamat dari diri kita, tidak Ibnu Nashr, tidak juga Ibnu Mandah, maupun yang lebih senior dari mereka –selesai-.

Asy-Syaikh Hamud berkata :

أما المسائل الكبار التي استبانت بالكتاب والسنة وأجمع عليها سلف الأمة، فلا عذر للمخالف فيها، وهذا النوع لا وجود له – ولله الحمد والمنة – بين أهل السنة.

Adapun permasalahan besar yang diambil dari kitab dan sunah serta ijma salaf umah, maka tidak ada udzur bagi yang menyelisihinya. Ini adalah jenis yang tidak ada –walhamdulillah wal minnh- dikalangan ahlus sunah –selesai-.

Asy-Syaikh menguatkan pernyataannya diatas dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang beliau nukil :

عم من خالف الكتاب المستبين، والسنة المستفيضة أو ما أجمع عليه سلف الأمة خلافًا لا يعذر فيه، فهذا يعامل بما يعامل به أهل البدع“.

Na’am, orang yang menyelisihi Al Qur’an yang sudah jelas dan sunah yang sudah gambling dan ijma salaf umat dengan perselisihan yang tidak ada uzur padanya, maka ini yang berlaku didalam pergaulan ahlu bid’ah (pada umumnya) –selesai-.

Asy-Syaikh menjelaskan semua hal diatas dibawah pasal :

الخطأ في دقائق المسائل وآحادها لا يلزم منه التبديع والتضليل

Kesalahan pada permasalahan yang rumit dan person tertentu tidak mengharuskan tabdi’ (vonis bid’ah) dan vonis sesat.

Kesimpulannya adalah tidak boleh gampang memberikan vonis bid’ah pada masalah ijtihadiyyah yang mau tidak mau harus terjadi perselisihan ijtihadiyyah padanya. Dan batasan dari yang dimaksud yaitu tidak adanya nash yang tegas dan gamblang dari Kitabullah dan Sunah Rasulnya serta ijma para salaf. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: