JENIS-JENIS JIN

April 2, 2015 at 12:10 am | Posted in Aqidah | Leave a comment
Tags: , , ,

JENIS-JENIS JIN

 

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ الْجِنَّ ثَلَاثَةَ أَصْنَافٍ صِنْفٌ حَيَّاتٌ وَعَقَارِبُ وَخَشَاشُ الْأَرْضِ، وَصِنْفٌ كَالرِّيحِ فِي الْهَوَاءِ، وَصِنْفٌ عَلَيْهِمُ الْحِسَابُ وَالْعِقَابُ

Allah Azza wa Jalla menciptakan jin menjadi 3 jenis : (1) jenis ular, kalajengking dan tumbuh-tumbuhan bumi; (2) jenis seperti angin di udara; (3) jenis yang mereka akan dihisab dan dihukum.

Takhrij Hadits :

Hadits diatas dikeluarkan oleh Imam Bushiri dalam Ittihaful Khoiroh al-Mahiroh biz Zawaaidil Masaniidil ‘Asyiroh (no. 5600), Imam Abu Syaikh al-Asbahan dalam al-‘Udhmah (no. 1639) & Thobaqotul Muhadittsiin (no. 330), Imam Ibnu Abid Dunya dalam Makaaidus Syaithon (no. 1), dan Imam Ibnu Hibban dalam al-Majruhiin (no. 1187) semuanya dari jalan Abu Usamah dari Yaziid bin Sinaan ar-Rohawiy dari Abul Muniib al-Himshiy dari Yahya bin Abi Katsiir dari Abi Salamah dari Abid Dardaa’ rodhiyallahu anhu secara marfu’ dari Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Semua perowinya perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Yaziid bin Sinaan dan Abul Muniib. Yaziid bin Sinaan, didhoifkan oleh Imam Ahmad, Imam Ali ibnul Madini, Imam Nasa’i, Imam Abu Dawud, Imam Daruquthni, dan Imam al-Jauzajaniy (lihat tahdzibain), oleh karenanya al-Hafidz Ibnu Hajar tidak ragu lagi mendhoifkan beliau dalam kitabnya at-Taqriib. Imam Ibnu Hibban memasukkan Yaziid bin Sinaaan kedalam perowi yang majruh dalam kitabnya al-Majruhiin.

Sedangkan Abul Muniib al-Himshiy, saya belum menemukan biografinya. Imam Al Albani dalam adh-Dhoifah (no. 3549) mengatakan bahwa Abul Muniib tersebut adalah Ubaidillah bin Abdullah, dinilai shoduq yukhthi’u oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib. Namun Ubaidillah tersebut nisbatnya adalah al-‘Atkiy al-Marwaziy, bukan al-Himshiy sebagaimana yang disebutkan dalam sanad diatas.

Kelemahan lain adalah hadits ini mursal, karena Abu Salamah tidak mendengar dari Abu Dardaa’. Abu Salamah lahir pada tahun 20-an lebih, sedangkan Abu Darda wafat pada tahun 32 H atau sebelumnya. Al Hafidz telah mengisyaratkan hal ini dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib.

Sebagaimana dapat dilihat hadits ini dhoif, dengan sebab kedhoifan Yaziid bin Sinaan, salah satu perowi hadits ini dan keterputusan antara Abu Salamah dengan Abu Darda rodhiyallahu anhu. Hadits ini didhoifkan oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Ahaadits adh-Dhoifah (no. 3549).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: