BERMANFAAT BAGI AGAMA, NUSA DAN BANGSA

April 10, 2015 at 12:14 am | Posted in Nasehat | 2 Comments

BERMANFAAT BAGI AGAMA, NUSA DAN BANGSA

 

Pada waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, bapak/ibu guru kami meminta kepada kami semua untuk menulis cita-citanya. Maka masing-masing telah menuliskan cita-citanya, ada yang ingin jadi Dokter, jadi pilot, tentara, polisi dan sebagainya. Teman-teman saya banyak juga yang menulis cita-citanya adalah bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa, dan entah siapa yang mengajarkannya, kelihatannya pada waktu itu cita-cita ini baik, karena mau jadi apapun posisi kita, yang terpenting adalah mampu memberikan kontribusi bagi agama, nusa dan bangsa.

Kemudian setelah saya mempelajari hadits, ternyata Nabi sholallahu alaihi wa salam telah memotivasi umatnya agar dapat berguna bagi orang lain, mampu memberikan kontribusi positif bagi kemaslahatan manusia pada umumnya dan kaum Muslimin pada khususnya. Beliau sholallahu alaihi wa salam mengatakan :

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Takhrij Hadits :

Hadits ini memang tidak terdapat dalam kitab induk hadits yang utama, yakni dalam kutubut tis’ah (Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, Darimi, Ahmad). Namun diriwayatkan melalui jalur dari beberapa sahabat sebagai berikut :

  1. Dari Jaabir rodhiyallahu anhu secara marfu’, dengan potongan lafadz seperti hadits diatas. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 5949), Imam asy-Syihaab al-Qodho’i dalam al-Musnad (no. 123), dan Imam Abu Said an-Nuqoosy dalam Fawaid Iroqiyyin (no. 98), semuanya dari jalan Ali bin Bahroom, dari Abdul Malik bin Abi Kariimah dari Ibnu Juraij dari Athoo’, dari Jaabir rodhiyallahu anhu.

Kedudukan perowi :

Ali bin Bahroom, Imam al-Haitsami dalam Majmuz Zawaid, mengatakan tidak mengetahuinya. Kemudian Imam Al Albani dalam adh-Dhoifah (no. 403) menemukan bahwa Ali bin Bahroom ini disebutkan boigrafinya oleh Imam al-Khothib al-Baghdadiy dalam  Tarikhnya (11/353), bahwa beliau memiliki beberapa murid, namun tidak disebutkan jarh maupun ta’dil kepadanya, sehingga dikategorikan sebagai perowi majhul haal.

Abdul Malik bin Abi Kariimah, ditsiqohkan oleh beberapa ulama, seperti Imam Abu Thohir ibnus Saroh, Imam Abul Arob dan Imam Ahmad bin Abi Kholid (lihat tahdzibain).

Abdul Malik bin Abdul Aziz ibnu Juraij, perowi tsiqoh yang mudallis, dan disini beliau meriwayatkan dengan sighot tadlis (‘an’anah).

‘Athoo’ bin Abi Robaah salah satu Aimah Tabi’in yang masyhur.

Sehingga kesimpulannya, hadits ini lemah dengan sebab kemajhulan Ali dan tadlisnya Ibnu Juraij.

 

  1. Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu secara marfu’ dengan lafadz sama seperti diatas, diriwayatkan oleh Imam al-Bushiri dalam Zawaid Musnad Asyiroh (no. 5176) dari jalan haddatsanaa Jabaaroh, haddatsanaa Abdus Shomad bin Azroq, akhbaroni Sikiin ibnu Abi Sirooj, dari Abdullah bin Diinaar dari Maimun bin Mihroon, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu.

Kedudukan perowi :

Jabaaroh adalah ibnu al-Mugholis, dinilai dhoif oleh Al Hafidz dalam At-Taqriib.

Abdus Shomad, dinilai oleh Imam Bukhori sebagai Mungkarul hadits dalam ad-Dhu’afaa ash-Shoghiir.

Sukain, Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 906) menyebutkan penilaian ulama terhadapnya, dimana Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa Sikiin meriwayatkan hadits-hadits palsu, begitu juga Imam Bukhori, menilainya sebagai mungkarul hadits.

Abdullah bin Diinar, perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

Maimun bin Mihroon, perowi tsiqoh, dipakai oleh Imam Muslim.

Berdasarkan keterangan diatas, hadits ini sangat lemah, dengan sebab Sukain, perowi yang muttahim (tertuduh memalsukan hadits), disamping kelemahan perowi lainnya.

 

  1. Dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu secara marfu’, dan potongan lafadz yang menjadi syahid dalam bab ini dengan lafadz :

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 665 & 13468), Imam aj-Jurjaani dalam Tartiibul Amaaliy (no. 2298), semuanya dari jalan al-Qoosim bin Haasyim as-Simsaar, haddatsanaa Abdur Rokhman bin Qois adh-Dhobiy, haddatsanaa Sukain bin Abi Sirooj, haddatsanaa ‘Amr bin Diinaar, dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu.

Kedudukan Perowi :

Sebagaimana diatas, sanadnya sangat dhoif.

 

  1. Dari sebagian sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan lafadz seperti haditsnya Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam ibnu Abid Dunya dalam Qodhoil Hajat (no. 36) dari jalan Bakr bin Khunais dari Abdullah bin Diinaar dari sebagian sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Kedudukan perowi :

Bakr bin Khunais, dinilai oleh Al Hafidz dalam At Taqriib, sebagai perowi shoduq lahu aghlaath (memiliki kesalahan). Namun sebagian Aimah Jarh wa Ta’dil melemahkannya, seperti Imam Nasa’i, Imam Abu Hatim, Imam Ali ibnul Madini, Imam al-Bazar, Imam Uqoili, Imam Abu Zur’ah dan lain-lain. Sebagian menilainya matruk, seperti Imam Daruquthni, bahkan Imam Ibnu Hibban menuduhnya sebagai perowi hadits-hadits palsu. (lihat tahdzibain). Disamping itu juga sebagian ulama memberikan penilaian positif, seperti Imam Yahya bin Ma’in, Imam al-‘Ijli dan lain-lain. Barangkali yang pertengahan bahwa beliau adalah ahlu syawahid/mutaba’ah.

Berdasarkan hal ini, haditsnya layyin.

Namun barangkali haditsnya Bakr ini, dapat dikuatkan dengan haditsnya Jaabir rodhiyallahu anhu (no. 1), karena perowi yang majhul hal dapat digunakan sebagai penguat, sehingga minimalnya dengan saling menguatkan ini, haditsnya menjadi Hasan.

Imam Al Albani dalam Silsilah ahaadits ash-Shahihah telah melakukan takhrij hadits dalam bab ini. Di nomor 426 dengan lafadz : “sebaik-sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dan di nomor 906 dengan lafadz : “yang paling dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Imam Al Albani menghasankan semua lafadz diatas berdasarkan baik sangka kepada Bakr bin Khunais dan penguat dari jalan lainnya, sebagaimana disebutkan diatas.

Selain Imam Al Albani yang menghasankan hadits ini, Imam Sakhowi dalam Maqosidul Hasanah juga menguatkan hadits ini, sebagaimana dinukil oleh Imam Al Albani sendiri. Kemudian saya mendapati juga asy-Syaikh Baari’ Irfan Taufik dalam Kunuuzus Sunah Nabawiyyah menghasankan hadits diatas. Asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih juga menyetujui penghasanan Imam Al Albani dalam beberapa fatwanya. Wallahu A’lam.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Syukron
    Barakallahu fiikum

    Like

  2. Wa fiika Barokallahu

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: