TIDAK WAJIB TAAT KEPADA PENGUASA YANG MELAKUKAN KEMUNGKARAN?

April 10, 2015 at 11:39 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TIDAK WAJIB TAAT KEPADA PENGUASA

YANG MELAKUKAN KEMUNGKARAN?

 

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا تَعْرِفُونَ وَيَعْمَلُونَ مَا تُنْكِرُونَ , فَلَيْسَ لِأُولَئِكَ عَلَيْكُمْ طَاعَةٌ

Kelak kalian akan dipimpin penguasa yang memerintahkan sesuatu yang kalian tidak ketahui, dan melakukan apa yang kalian ingkari, maka tidak wajib bagi kalian untuk menaati mereka.

Takhrij Hadits :

Hadits diatas dikeluarkan oleh Imam Abu Bakar ibnu Abi Syaibah (w. 235 H) dalam al-Mushonaf (7/526 no. 37721 –cet. Maktabah Ar Rusydi) dari jalan :

خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ، عَنِ الْأَعْشَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مُكَمِّلٍ، عَنْ أَزْهَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ أَقْبَلَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاجًّا مِنَ الشَّامِ فَقَدِمَ الْمَدِينَةَ , فَأَتَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فَقَالَ: يَا عُثْمَانُ , أَلَا أُخْبِرُكَ شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى , قُلْتُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

Dalam sanad diatas Syariik meriwayatkan dari al-A’syaa dari Mukammil dari Azhar, namun Imam Bukhori dalam Taarikh Kabiir (1/458 no. 1464 –cet. Daarul Fikr) menulis sanadnya :

قال خالد بن مخلد حدثنا سليمان بن بلال عن شريك بن أبي نمر عن الأعشى بن مكمل عن الأزهر بن عبد الله أن عبادة قال لعثمان سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول

Kita lihat Syariik meriwayatkan dari al-A’syaa bin Mukammil dari al-Azhar bin Abdullah. Namun berdasarkan pemaparan biografi yang ditulis oleh para Aimah yang benar adalah sanad Imam Bukhori diatas, yaitu al-A’syaa bin Abdur Rokhman bin Mukammil. Biografinya disebutkan oleh Imam ibnu Abu Hatim dalam Jarh wa Ta’dil (no. 1282), Imam Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqoot (no. 6811), Imam al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamaal (no. 2316), Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdziib (no. 98) & Taqriibut Tahdziib (no. 2354),  dan selain mereka.

Status perowi hadits :

  • Khoolid bin Makhlad (w. 213 H), perowi Bukhori-Muslim.
  • Sulaimaan bin Bilaal (w. 177 H), perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim.
  • Syariik (w. 140 H), perowi Bukhori-Muslim.
  • Al-A’syaa, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, sehingga Al Hafidz dalam at-Taqriib, menilainya Maqbul, yaitu layyin haditsnya jika sendirian, dan hanya dipakai sebagai penguat.
  • Azhar bin Abdullah, Al Hafidz mengatakan ada yang menyebutnya dengan Azhar bin Said (w. 128/129 H), lalu beliau menilainya Dalam kitabnya Lisaanul Miizan (no. 1049), Al Hafidz menukil bahwa Imam Abu Hatim tidak mengetahuinya, sedangkan Imam Ibnu Hibban memasukkannya kedalam kitab ats-Tsiqootnya.
  • Ubaadah ibnush Shamit rodhiyallahu anhu (w. 34 H), sahabat yang masyhur.

Berdasarkan keterangan diatas, hadits ini dhoif/lemah dengan sebab minimalnya ada 2 :

  1. Layyin-nya al-A’syaa, dan dalam hal ini beliau tidak ada yang menguatkannya.
  2. Azhar bin Abdullah, dikatakan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, bahwa beliau tidak mendengar dari Ubaadah rodhiyallahu anhu, sehingga sanadnya munqothi’ (terputus).
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: