JANJI PALSU PEMERINTAH

April 11, 2015 at 5:19 pm | Posted in Hadits | 4 Comments

JANJI PALSU PEMERINTAH

 

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُونَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُونَكُمْ فَيَكْذِبُوا لَكُمْ وَيَعْمَلُونَ فَيُسِيئُونَ لَا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيحَهُمْ وَتُصَدِّقُوا كَذِبَهُمْ فَأَعْطُوهُمُ الْحَقَّ مَا رَضُوا بِهِ

Kelak akan ada bagi kalian, para pemimpin yang menguasai kalian, mereka berbicara/berjanji kepada kalian, namun mereka mendustakannya, mereka bekerja, tapi sangat jelek kualitas pekerjaannya, mereka tidak suka kepada kalian, sampai kalian mau memuji kejelekan dan membenarkan kedustaan mereka, maka berikanlah hak yang membuat mereka ridho.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani (w. 360 H) dalam Mu’jamul Kabiir (no. 934 –cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo), Imam Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shohabat (no. 6224) dengan tambahan lafadz :

فإذا تجوزوه إليه ، فقاتلوهم ، فمن قتل على ذلك فهو مني وأنا منه

Jika mereka melewati batas, maka perangilah mereka, barangsiapa yang terbunuh karena hal tersebut, maka ia termasuk aku dan aku termasuk dirinya.

Kemudian juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar dalam al-Istii’aab (1/538) dengan lafadz yang ringkas, dan juga Imam Bukhori dalam al-Kunaa’ (no. 356) dengan tambahan lafadz :

فإن جاوزوا إليكم فقاتلوهم فمن قتل على ذلك فهو شهيد

Jika mereka melewati batas, maka perangilah mereka, barangsiapa yang terbunuh karena hal tersebut, ia mati syahid.

Semua Aimah hadits diatas meriwayatkan dari Hakkaam bin Salam, dari ‘Anbasah bin Sa’id al-Asadiy, dari ‘Aashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Ubaidillah (dalam riwayat Abu Nu’aim & Bukhori Abdullah bin Abdullah, dan dalam riwayat Ibnu Abdil Bar Abdullah bin Abdur Rokhman), dari Abi Salaalah as-Sulamiy rodhiyallahu anhu secara marfu’.

Kedudukan perowi :

  • Hakkaam (w. 190 H), perowi tsiqoh, dipakai oleh Imam Muslim.
  • ‘Anbasah, perowi yang dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.
  • ‘Aashim bin Ubaidillah (w. 132 H), dinilai dhoif oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.
  • Abdullah, telah berlalu terjadi perbedaan ulama dalam menisbatkan bapaknya. Saya belum menemukan biografinya dan pendapat yang terkuat siapa dia sebenarnya.
  • Abu Salaalah as-Sulamiy, dikatakan juga Abu Sulaalah al-Aslamiy atau Abu Salaam as-Sulamiy rodhiyallahu anhu, sebagaimana dikatakan oleh Imam ibnul Atsiir dalam Asadul Ghobah. Dan haditsnya hanya satu ini saja, berdasarkan apa yang dituliskan oleh Imam Bukhori dalam al-Kunaa dibawah pasal al-Wahid (satu hadits).

Berdasarkan keterangan diatas, hadits ini dhoif/lemah, minimal alasan kelemahannya adalah kedhoifan ‘Aashim bin Ubaidillah. Imam al-Haitsaimi (w. 807) dalam Majmuz Zawaid (5/275) berkata tentang hadits diatas :

رواه الطبراني وفيه عاصم بن عبيد الله وهو ضعيف.

Diriwayatkan oleh Thabrani, didalamnya ada ‘Aashim bin Ubaidillah, perowi dhoif –selesai-.

Kemudian saya mendapatkan syahid (penguat dari jalan sahabat lain), dengan lafadz :

إِنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Sesungguhnya akan datang setelahku para penguasa, barangsiapa yang membenarkan kedustaan dan membantu kezhaliman mereka, ia bukan termasuk aku, dan aku bukan termasuk dirinya, serta ia tidak akan mendatangi telagaku. Dan barangsiapa yang tidak membenarkan kedustaan dan tidak membantu kezhaliman mereka, maka ia termasuk aku dan aku termasuk dirinya, serta ia akan mendatangi telagaku.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. 4207), Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 2259), Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 18126), dan selain mereka dari Ka’ab bin ‘Ujroh rodhiyallahu anhu. Riwayat diatas adalah lafadz dalam Sunan Nasa’i. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth.

Asy-Syaikh Muhammad Ali bin Adam dalam Dakhirotul Uqbaa’ (32/334) yang merupakan tulisan beliau terhadap syarah Sunan Nasa’i berkata tentang makna kedustaan mereka :

(بِكَذِبِهمْ) الباء بمعنى “فِي” أي أنهم يكذبون فِي الكلام، فمن صدّقهم فِي كلامهم ذلك

Huruf ba, bermakna fii, yaitu mereka berdusta dalam ucapannya, maka (maksudnya) barangsiapa yang membenarkan kedustaan ucapan mereka –selesai-.

Dalam riwayat Musnad Ahmad melalui jalan lain, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyebutnya dengan penguasa yang tolol. Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 14441) meriwayatkan dari jalan Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ: ” أَعَاذَكَ اللهُ  مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ “، قَالَ: وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ ؟، قَالَ: ” أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي، لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي، وَلَسْتُ مِنْهُمْ، وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ،  وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ، وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada Ka’ab bin ‘Ujroh rodhiyallahu anhu : “berlindunglah kepada Allah dari para pemimpin tolol!”, Ka’ab berkata : “siapa itu pemimpin tolol?”, jawab Nabi sholallahu alaihi wa salam : “para pemimpin setelahku, yang tidak mengikuti petunjukku, tidak meniti sunahku, maka barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezhaliman mereka, maka mereka bukan termasuk aku dan aku bukan termasuk mereka, serta mereka tidak akan mendatangi telagaku, dan barangsiapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu kezhaliman mereka, maka mereka termasuk aku dan aku termasuk mereka, serta kelak mereka akan mendatangi telagaku (dikatakan shahih lighoirihi oleh Imam Al Albani, dan dikatakan sanadnya kuat, oleh Syaikh Syu’aib Arnauth).

Barangkali termasuk kedustaan yang mereka lakukan adalah, sebelum menjabat mereka banyak berjanji kepada masyarakat, namun setelah memerintah janji-janji tersebut didustakannya. Dan Qodarullah, kita menjadi saksi atas kebenaran sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam tersebut –wallahul musta’aan. Mari kita aminkan doa yang disebutkan oleh Imam Sakhowi (w. 902 H) dalam al-Maqosidul Hasanah (1/520 –cet. Darul Kitaabil Arobiy) :

وفي المأثور من الدعوات: اللَّهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يرحمنا.

Dalam doa yang ma’tsur : “Ya Allah, janganlah engkau kuasakan kepada kami, orang-orang yang tidak menyayangi kami, akibat dosa-dosa yang telah kami lakukan”.

Amiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tulisan yang sangat bagus.
    Izin share.
    Barakallahu fiikum

    Like

  2. tafadhol,

    wa fiik barokallah

    Like

  3. Kapan negara kita dapat pemimpin yang tidak lupa daratan ,yang hanya mengumbar janji manis untuk membuat kita yakin untuk memilik sosok pemimpin, dan ketika sudah menjadi pemimpin semua janji nya di lupakan ,dan rakyat kecil hanya di lihat dengan sebelah mata..

    Like

  4. Sabar

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: