KAEDAH FIQIH : TIDAK BOLEH MEMUDHOROTKAN

April 12, 2015 at 11:06 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

TIDAK BOLEH MELAKUKAN KEMUDHOROTAN DAN

TIDAK BOLEH JUGA MEMUDHOROTKAN ORANG LAIN

 

Hadits Nabawi selain memiliki aspek Fiqih yang dapat digali oleh ilmuwan muslimin, ia juga bisa dijadikan sebagai kaedah fiqih, yaitu suatu kalimat yang mencakup fikih yang meliputi bagian-bagian (permasalahan fiqih) yang sangat banyak, karena kedudukan nash-nash yang meliputi banyak makna. (lihat Taisir ilmu Ushul Fiqih (hal. 13, cet. Maktabah ar-Royyan, karya asy-Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’). Diantara lafadz hadits yang langsung disebutkan oleh ulama sebagai kaedah fiqih adalah hadits yang berbunyi :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan kemudhorotan dan tidak boleh juga memudhorotkan orang lain.

Sebagai pengetahuan bahwa kaedah fiqih dibagi menjadi 2 dari sisi sumbernya, yaitu nash syar’i dan istinbat ijthadi (pengambilan kesimpulan berdasarkan hasil ijtihad). Kebanyakan kaedah fiqih berasal dari jenis yang kedua. Diantara contoh jenis yang pertama, yaitu kaedah fiqih langsung dari nash syar’i adalah kaedah yang sedang kita bahas ini. Demikian penjelasan asy-Syaikh Shoolih bin Muhammad al-Asmuriy dalam kitabnya al-Majmu’ah al-Fawaid al-Bahiyyah (hal. 21 –cet. Daarus Shuma’i).

Diantara para ulama yang menyebutkan kaedah ini sesuai dengan lafadz hadistnya adalah Imam Ibnu Rojab al-Hanbali dalam kitabnya al-Qoidah adz-Dzahabiyyah, asy-Syaikh az-Zurqoo dalam Syarah al-Qowaidul Fiqhiyyah, asy-Syaikh Ibrohim bin Musa al-Ghornaathiy dalam al-Muwaafaqoot, dan selain mereka.   

Sedangkan sebagian ulama lagi menjadikan kaedah fiqih dengan istinbat ijtihadi dari hadits dalam bab ini, yaitu mereka mengatakan kaedah “kemudhorotan harus dihilangkan”. Hal ini disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam al-Asybaah wa an-Nadhooir, asy-Syaikh Zakariyaa bin Ghulaam al-Bakistani dalam min Ushulil Fiqih alaa Manhaji Ahli Hadits, dan selain mereka.

Imam Suyuthi menjelaskan cakupan hadits diatas sebagai kaedah dalam fiqih dengan perkataannya dalam kitabnya diatas :

اعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ يَنْبَنِي عَلَيْهَا كَثِيرٌ مِنْ أَبْوَابِ الْفِقْهِ مِنْ ذَلِكَ : الرَّدُّ بِالْعَيْبِ ، وَجَمِيعُ أَنْوَاعِ الْخِيَارِ : مِنْ اخْتِلَافِ الْوَصْفِ الْمَشْرُوطِ ، وَالتَّعْزِيرِ ، وَإِفْلَاسِ الْمُشْتَرِي ، وَغَيْر ذَلِكَ ، وَالْحَجْرُ بِأَنْوَاعِهِ ، وَالشُّفْعَةُ ، لِأَنَّهَا شُرِعَتْ لِدَفْعِ ضَرَرِ الْقِسْمَةِ . وَالْقِصَاصُ ، وَالْحُدُودُ ، وَالْكَفَّارَاتُ ، وَضَمَانُ الْمُتْلَفِ ، وَالْقِسْمَةُ ، وَنُصُبُ الْأَئِمَّةِ ، وَالْقُضَاةِ ، وَدَفْعُ الصَّائِلِ ، وَقِتَالُ الْمُشْرِكِينَ ، وَالْبُغَاةِ ، وَفَسْخُ النِّكَاح بِالْعُيُوبِ ، أَوْ الْإِعْسَارِ ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ

Ketahuilah bahwa kaedah ini dibangun diatas banyak sekali bab fiqih, diantaranya : mengembalikan barang yang cacat, semua jenis khiyar karena perbedaan spech dan ketentuannya, ta’ziir, mem-pailit-kan pembeli dan semisalnya, hajr dengan segala macamnya, rekomendasi karena disyariatkan untuk mencegah kemudhorotan dalam membaginya, qishosh, hudud (pidana), kafarat (denda), tanggungan, pembagian, jatah pemimimpin, kehakiman, serangan balasan, membunuh musyrikin, pemberontakan, membatalkan pernikahan karena aib atau cacat dan semisalnya.

Imam Ibnu Rojab dalam kitabnya diatas menyoroti makna laa dhoror wa laa dhiroor, kata beliau ada 4 makna terkait kalimat tersebut yaitu :

1 – فمنهم من قال: (هما بمعنى واحد، على وجه التأكيد). والمشهور أن بينهما فرقا.

2 – ثم قيل: (إن الضرر: هو الاسم ، والضرار: الفعل)، فالمعنى: (أن الضرر نفسه، منتف في الشرع، وإدخال الضرر بغير حق، كذلك).

3 – وقيل: (الضرر: أن يدخل على غيره ضررا، بما ينتفع هو به، والضرار: أن يدخل على غيره ضررا، (بما لا ينتفع هو به)، كمن منع مالا يضره، ويتضرر به الممنوع). ورجح هذا القول، طائفة منهم، ابن عبد البر، وابن الصلاح.

4 – وقيل: (الضرر: أن يضر بمن لا يضره، والضرار. أن يضر بمن قد أضر به، على وجه غير جائز).

  1. Keduanya bermakna sama, kalimat kedua sebagai penguat saja. Namun yang masyhur makna kedua kalimat ini berbeda.
  2. Adh-Dhoror adalah isim, sedangkan adh-Dhiroor adalah fi’il, maka maknanya bahwa kemudhorotan itu sendiri dinafikan oleh syariat, dan begitu juga menyebabkan kemudhorotan tanpa alasan yang dibenarkan.
  3. Adh-Dhoror adalah dirinya mendapatkan keuntungan, namun menyebabkan kemudhorotan kepada orang lain. Sedangkan adh-Dhiroor adalah menyebabkan kemudhorotan bagi orang lain, tanpa adanya keuntungan bagi dirinya, sebagaimana seorang yang dilarang dari harta yang memudhorotkannya. Pendapat ini dirajihkan oleh sekelompok ulama, diantaranya Ibnu Abdil Bar dan Ibnu Sholah.
  4. Adh-Dhoror adalah mudhorot dengan sesuatu yang tidak memudhorotkannya, sedangkan adh-Dhiroor adalah mudhorot dengan sesuatu yang dapat memudhorotkannya, dengan sesuatu yang tidak boleh.

Sekarang kita takhrij hadits yang digunakan dan dijadikan dasar dalam kaedah fiqih yang kita bahas ini. Haditsnya dikeluarkan dari beberapa jalan dari para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum ajma’in, sebagai berikut :

  1. Dari Abu Sa’id al-Khudriy Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Daruquthni dalam Sunannya (no. 3124), Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok (no. 2305) semuanya dari jalan Abdul Aziz bin Muhamaad ad-Daroowardi, dari ‘Amr bin Yahya al-Maaziniy dari Bapaknya dari Abi Sa’id Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ dengan tambahan lafadz :

من ضار ضاره الله ، ومن شاق شاق الله عليه

Barangsiapa yang memudhorotkan, Allah akan memudhorotkannya dan barangsiapa yang menyesatkan, Allah akan menyesatkannya.

Status Sanad : (lemah) dhohirnya sanad ini shahih, namun Abdul Aziz diselisihi oleh Imam Malik bin Anas yang meriwayatkan hadits ini ‘Amr bin Yahya dari Bapaknya dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, sehingga sanadnya mursal dan ini yang rajih, karena Maalik lebih atsbat daripada Abdul Aziz.

  1. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Daruquthni dalam Sunannya (no. 4598) dari jalan Ahmad bin Yunus, haddatsanaa Abu Bakar bin ‘Ayaasy –ibnu Athoo’- dari bapaknya dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu.

Status Hadits : saya belum mendapatkan keterangan biografi perowi haditsnya. Imam Ibnu Rajab menilai sanad ini dalam kitab al-Qowaid :

وهذا الإسناد فيه شك. وابن عطاء، هو يعقوب، وهو ضعيف.

Sanad ini ada keraguan, ibnu ‘Athoo’ adalah Ya’quub ia perowi dhoif.

  1. Dari Ubaadah ibnus Shomit Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 2340) dari jalan Fudhoil bin Sulaiman, haddatsanaa Musa bin Uqbah, haddatsanaa Ishaq bin Yahya bin Walid dari Ubadah ibnus Shomit Rodhiyallahu ‘anhu.

Status hadits : (dhoif) Imam al-Bushiri dalam Az Zawaid mengatakan para perowinya tsiqoh, namun Ishaq bin Yahya tidak pernah bertemu dengan Ubaadah Rodhiyallahu ‘anhu, sehingga terputus sanadnya.

  1. Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath (no. 1045) dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Masmuul dari Abi Bakr bin Abi Sabroh, dari Naafi’ bin Malik, dari Abu Suhail, dari al-Qoosim bin Muhammad dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu.

Status Hadits : (sangat lemah), Abu Bakar bin Abi Sabroh, perowi yang tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar. Namun Imam Daruquhni (no. 4595) mendatangkan sanad lain dari jalan al-Waaqidiy, haddatsanaa Khoorijah bin Abdullah bin Sulaiman bin Zaid bin Tsaabit dari Abi ar-Rihaal dari ‘Amroh dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu. Namun al-Waaqidiy yang bernama asli Muhammad bin Umar bin Waaqid, dinilai matruk oleh Imam Bukhori dan selainnya (lihat Tahdzibain).

  1. Dari Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 11410), Imam Abu Ya’laa dalam al-Musnad (no. 2466), semuanya dari jalan Dawud ibnul Husain, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu.

Status Hadits : (dhoif) semua perowinya tsiqoh, hanya saja Dawud ibnul Husain, jika meriwayatkan dari Ikrimah, haditsnya mungkar, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali ibnul Madini dan Imam Abu Dawud (tahdzibul Kamal). Dawud mendapatkan mutaba’ah dari Jaabir bin Yaziid dalam riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 2341), Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 2865), dan Imam Thabrani diatas (no. 11641), namun Jaabir ini perowi dhoif seorang rofidhoh.

  1. Dari Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath (no. 5351) dari jalan Muhammad bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari pamannya Waasi’ bin Hibban dari Jaabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu.

Status Hadits : (dhoif), karena Muhammad bin Ishaq seorang mudallis, dan disini beliau melakukan ‘an’anah.

  1. Dari Tsa’labah bin Abi Maalik Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 1370, Imam Ibnu Abi ‘Aashim dalam al-Ahaad wal Matsaaniy (no. 1939), semuanya dari jalan Ya’quub bin Hamiid, dari Ishaaq bin Ibrohim dari Shofwaan bin Saliim dari Tsa’labah bin Abi Malik Rodhiyallahu ‘anhu.

Status Sanad : (dhoif), karena Ishaaq bin Ibrohim perowi layyin dan Tsa’labah masih diperselisihkan persahabatannya dengan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Imam al-‘Ijli menegaskan bahwa beliau adalah Tabi’I tsiqoh, sehingga sanad ini mursal.

Kesimpulannya, hadits ini minimal hasan dengan banyaknya jalan yang saling menguatkan. Imam Al Albani dalam Ash-Shahihah (no.250) setelah mentakhrij hadits ini berkata :

وبالجملة فهذه طرق كثيرة أشار إليها النووي في ” أربعينه ” ثم قال: ” يقوي بعضها بعضا “. ونحوه قول ابن الصلاح: ” مجموعها يقوي الحديث، ويحسنه، وقد تقبله جماهير أهل العلم واحتجوا به.

Kesimpulan jalan-jalan yang banyak ini, telah diisyaratkan oleh Nawawi dalam Arbain, lalu berkata : ‘saling menguatkan satu sama lainnya’. Seperti juga ucapan Ibnu Sholah : ‘gabungan jalan-jalannya menguatkan hadits, sehingga menghasankannya, dan telah diterima oleh mayoritas ulama yang mereka berhujjah dengan hadits ini.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: