ABDUR RAKHMAN BIN AUF RODHIYALLAHU ANHU MASUK SURGA DENGAN MERANGKAK?

April 18, 2015 at 1:38 pm | Posted in Hadits | 2 Comments

ABDUR RAKHMAN BIN AUF RODHIYALLAHU ANHU MASUK SURGA DENGAN MERANGKAK?

 

Abdur Rokhman bin Auf rodhiyallahu anhu adalah salah satu sahabat besar, yang dilahirkan 10 tahun setelah peristiwa penyerangan pasukan Gajahnya Abrahah ke Ka’bah, dan wafat pada tahun 32 H. Beliau adalah salah satu dari 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, 1 dari 8 sahabat yang mula-mula masuk Islam, veteran perang Badar, perang Uhud dan peperangan lainnya bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Terlibat dalam musyawarah untuk pemilihan khalifah setelah terbunuhnya Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu. Dan kebaikkan-kebaikkan lainnya fii sabilah baik dengan tenaga, pikiran dan hartanya.

Namun sangat masyhur cerita yang dinisbatkan kepada Aisyah rodhiyallahu anha, bahwa beliau mendengar suaminya yang tercinta yaitu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah mengatakan bahwa, Nabi sholallahu alaihi wa salam melihat Abdur Rokhman bin Auf masuk surga dengan merangkak. Apa sebabnya? Dikatakan karena hartanya yang sangat banyak, sehingga beliau harus dihisab lebih lama. Akan tetapi sebelum membenarkan kisah tersebut, alangkah baiknya kita meneliti terlebih dahulu keabsahan kisahnya, agar kita tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar atas nama sahabat yang mulia ini.

Diriwayatkan Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata :

بَيْنَمَا عَائِشَةُ فِي بَيْتِهَا إِذْ سَمِعَتْ صَوْتًا فِي الْمَدِينَةِ، فَقَالَتْ: مَا هَذَا ؟ قَالُوا: عِيرٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَدِمَتْ مِنَ الشَّامِ تَحْمِلُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، قَالَ: فَكَانَتْ سَبْعَ مِائَةِ بَعِيرٍ ، قَالَ: فَارْتَجَّتِ الْمَدِينَةُ مِنَ الصَّوْتِ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: ” قَدْ رَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا “، فَبَلَغَ ذَلِكَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، فَقَالَ: إِنْ  اسْتَطَعْتُ لَأَدْخُلَنَّهَا قَائِمًا، فَجَعَلَهَا بِأَقْتَابِهَا ، وَأَحْمَالِهَا فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Ketika kami berada di rumah Aisyah rodhiyallahu anha, tiba-tiba beliau mendengar suara di Madinah, maka beliau bertanya : “apa itu?”, orang-orang menjawab : “rombongan dagang Abdur Rokhman bin Auf baru saja tiba dari Syam membawa barang dagangan apa saja, ada sekitar 700 Unta, sehingga Madinah sampai bergemuruh suaranya”. Lalu Aisyah rodhiyallahu anhu berkata : “aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata : “aku melihat Abdur Rokhman bin Auf masuk surga dengan merangkak”.

Ketika hal ini sampai kepada Abdur Rokhman bin Auf, beliau berkomentar : “jika aku mampu untuk masuk surga dengan berdiri, aku akan menyumbangkan seluruh tunggangan dan isinya di jalan Allah Azza wa Jalla”.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (No. 24842 –cet. Ar Risaalah), Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 264 & 5407 –cet. Maktabah al-‘Uluum wal Hikaam), Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Aulia (1/98 –cet. Daarul Kitaabil ‘Aroobiy), dan Imam al-Bazaar dalam al-Musnad (no. 6899 –cet. Maktabah al-‘Uluum wal Hikaam) semuanya dari jalan “عُمَارَةُ بْنُ زَاذَانَ، عَنْ ثابتٍ، عَن أَنَسٍ” (‘Umaaroh bin Zaadzaan, dari Tsaabit dari Anas rodhiyallahu anhu).

Kedudukan sanad :

‘Umaaroh ini para ulama jarh wa ta’dil berbeda dalam memberikan penilaian kepada beliau, ada yang memberikan penilaian positif dan ada yang negatif, serta pertengahan. Yang memberikan penilaian positif diantaranya :

  • Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh anaknya dan Imam Muslim mengomentari Umaaroh : “شيخ ثقة ما به بأس” (syaikh tsiqoh).
  • Imam Ya’qub bin Sufyan menilainya : “ثقة”.
  • Imam Abu Zur’ah menilainya : “لا بأس به”.
  • Imam Ibnu Adi berkata : “و هو عندى لا بأس به ، ممن يكتب حديثه” (beliau menurutku tidak mengapa, termasuk orang yang ditulis haditsnya).
  • Imam al-‘Ijli menilainya : “بصرى ، ثقة”.

Yang memberikan penilaian negatif, diantara mereka :

  • Imam Bukhori berkata : “ربما يضطرب فى حديثه” (terkadang terjadi kegoncangan dalam haditsnya).
  • Imam Abu Dawud berkata : “ليس بذاك” (tidak seperti itu).
  • Imam Daruquthni menilainya : “ضعيف” (lemah).
  • Imam Ibnu Amar al-Maushuliy menilainya : “ضعيف” (lemah).
  • Imam as-Saaji berkata : “فيه ضعف ، ليس بشىء ، و لا يقوى فى الحديث” (ada padanya kelemah, tidak ada apa-apanya, tidak dapat menguatkan haditsnya).

Yang memberikan penilaian pertengahan, diantara mereka :

  • Imam Yahya bin Ma’in menilainya : “صالح”.
  • Imam Abu Hatim menilainya : “يكتب حديثه و لا يحتج به ، ليس بالمتين” (ditulis haditsnya, namun tidak dijadikan hujjah, tidak kokok).
  • Al Hafidz dalam at-Taqriib menilainya : “صدوق كثير الخطأ” (jujur, banyak kelirunya).

Catatan : semua komentar para ulama diatas berasal dari kitab Tahdzibul Kamal karya Imam al-Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib karya Al Hafidz Ibnu Hajar.

Jika kita perhatikan ulama yang mentsiqohkannya adalah para ulama yang terkenal mutaasahil dalam tautsiq, kecuali Imam Ahmad dan Imam Abu Zur’ah. Namun Imam ibnu Abi Hatim dalam Jarh wa Ta’dil (no. 2017) menulis dengan sanadnya sampai Imam Ibnul Atsram, bahwa beliau bertanya :

قلت لابي عبد الله – عمارة بن زاذان كيف هو ؟ قال يروى عن انس احاديث مناكير

aku bertanya kepada Abu Abdillah –Imam Ahmad- tentang ‘Umaaroh bin Zaadzaan, bagaimana statusnya?, Imam Ahmad menjawab : ‘meriwayatkan dari Anas hadits-hadits mungkar’.

Adapun gurunya Tsaabit bin Aslam al-Bunaaniy adalah perowi tsiqoh yang ahli Ibadah, dipakai oleh Imam Bukhori dan Muslim.

Kesimpulannya, hadits diatas adalah mungkar. Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya al-Maudhuu’aat (2/13) menukil perkataan Imam Ahmad yang menilai hadits diatas dengan perkataanya : “هذا الحديث كذب منكر” (hadits ini dusta dan mungkar). Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim dalam al-Manaarul Muniif (1/135) mengomentari hadits ini : “قال شيخنا لا يصح عن النبي” (guru kami (Ibnu Taimiyyah) berkata bahwa hal ini tidak shahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (11/128) mengomentari hadits ini :

كَلَامٌ مَوْضُوعٌ لَا أَصْلَ لَهُ

Ucapan palsu, tidak ada asalnya.

Imam Syaukani dalam Fawaaid al-Majmu’ah  berkata :

قا ل ابن حجر : لم يتفرد به عمارة بن زاذان ، فقد رواه البزار من طريق أغلب بن تميم ، وأغلب شبيه عمارة بن زاذان في الضعف ، لكن لم أر من اتهمه بالكذب  ، وقد روى من طريق أخرى فيها متروك  . وقال النسائي : الحديث موضوع .

Ibnu Hajar berkata : ‘Umaaroh bin Zaadzaan tidak bersendirian dalam meriwayatkannya, telah diriwayatkan oleh Al Bazar dari jalan Aghlab bin Tamiim. Aglab ini semisal Umaaroh bin Zaadzaan dalam kedhoifan, namun aku tidak melihatnya ada yang menuduhnya sebagai pendusta. Telah diriwayatkan dari jalan lain, namun didalamnya ada perowi yang matruk. Imam Nasa’I berkata : ‘hadits ini palsu’.

Imam al-Haitsami dalam Ghoyaatul Maqooshid (3/379) berkata :

هذا إسناد ضعيف، وعلته عمارة بن زادان، ضعفه النسائى، والدارقطنى، وأحمد فى رواية الأثرم، فقد شهد عبد الرحمن بن عوف بدرًا، والحديبية، وشهد له رسول الله صلى الله عليه وسلم بالجنة.

Sanad ini dhoif, penyakitnya adalah Umaaroh bin Zaadzaan, didhoifkan oleh Imam Nasa’I, Imam Daruquthni, Imam Ahmad dalam riwayat al-Atsrom. Abdur Rokhman bin Auf adalah veteran perang Badar, ikut baiat Hudaibiyyah dan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mempersaksikannya dengan surga.

Asy-Syaikh Muhammad bin Darwiisy dalam Asaanil Mathoolib (1/181) berkata :

موضوع رواه الإمام أحمد في مسنده وهو معدود من عدة أحاديث في مسنده ليس لها أصل

Hadits palsu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dan ini termasuk yang dihitung dari hadits-hadits musnad Ahmad yang tidak ada asalnya.

Dan terakhir Imam Al Albani tidak ragu lagi untuk mengatakan hadits diatas palsu dalam Adh-Dhoifah (no. 6590).

Kemudian saya mendapati syahid untuk hadits ini dari Abdur Rokhman bin Auf rodhiyallahu anhu sendiri, dimana beliau berkata, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam berbicara kepadanya :

يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّكَ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ، وَلَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا زَحْفًا، فَأَقْرِضِ اللَّهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ» قَالَ ابْنُ عَوْفٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الَّذِي أَقْرِضُ اللَّهَ؟ قَالَ: «تَتَبَرَّأُ مِمَّا أَمْسَيْتَ فِيهِ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ كُلِّهِ أَجْمَعَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» فَخَرَجَ ابْنُ عَوْفٍ وَهُوَ مُهِمٌّ بِذَلِكَ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: مُرِ ابْنَ عَوْفٍ، فَلْيُضِفِ الضَّيْفَ، وَيُطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَلْيُعْطِ السَّائِلَ، وَيَبْدَأُ بِمَنْ يَعُولُ، فَإِنَّهُ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ تَزْكِيَةَ مَا هُوَ فِيهِ “

Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang yang kaya, sekali-kali engkau tidak akan masuk surga, kecuali dalam keadaan merangkak, maka pinjamillah Allah (sedekahkan harta), niscaya Allah akan membebaskan kedua kakimu!. Ibnu Auf berkata : “wahai Rasulullah, apa yang harus saya pinjamkan kepada Allah?”, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “berlepas dirilah dari apa yang engkau miliki saat ini!”. Ibnu Auf berkata : “wahai Rasulullah, apakah seluruh yang aku punyai?”. Jawab Nabi : “iya”. Maka Ibnu Auf keluar dan beliau sangat mementingkan wejangan Nabi tadi, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengutusnya, sambil bersabda : “Jibril alaihi salam mendatangiku lalu berkata : “perintahkan Ibnu Auf untuk menyantuni orang lemah, memberi makan orang miskin, memberi orang yang meminta-minta, dimulai dari orang yang membutuhkan. Karena jika ia melakukan hal tersebut, maka itu adalah sebagai pensucian apa yang dimilikinya”.

Takhrij Hadits :

Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok (no. 5338 –cet. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah), Imam Thabrani dalam Mu’jam Syamiyyiin (no. 1589), Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa (1/99 –cet. Daarul Kitaabil ‘Arobiy), dan Imam Ibnu Zanjawaih dalam al-Amwaal (no. 1366 –cet. Markaz Malik Faishol) semuanya dari jalan :

خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ أَبِي مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Kedudukan sanad :

Khoolid bin Yaziid (105 – 185 H), beliau dinilai dhoif oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Nasa’i, Imam Abu Zur’ah, Imam Daruquhni dan selain mereka (lihat tahdzibain).

Sedangkan ayahnya Yaziid bin Abdir Rokhman bin Abi Malik (60 – 130 H), dinilai shoduq oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib. Sedangkan perowi diatasnya adalah para perowi tsiqoh.

Imam al-Hakim tasahul dalam menilai hadits ini, beliau berkata setelah meriwayatkan hadits diatas :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

Hadits ini shahih sanadnya, namun tidak dikeluarkan oleh Bukhori-Muslim –selesai-.

Kontan saja Imam adz-Dzahabi yang meneliti kitab al-Mustadrok, berkomentar :

خالد بن يزيد ضعفه جماعة

Khoolid bin Yaziid, didhoifkan oleh sejumlah ulama.

kemudian saya mendapati Imam Ibnul Jauzi dalam al-Maudhuu’aat menukil mutaba’ah untuk riwayat diatas :

وقد روى الجراح بن منهال إسنادا له عن عبدالرحمن بن عوف فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال

Al-Jarooh bin Minhaal meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdur Rokhman  bin Auf rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam : disebutkan hadits diatas –selesai-.

Kemudian Imam Ibnul Jauzi menukil perkataan Aimah hadits tentang haditsnya al-Jarooh bin Minhaal diatas :

قال النسائي: هذا حديث موضوع، والجراح متروك الحديث.

وقال يحيى ليس حديث الجراح بشئ.

وقال ابن المدينى: لا تكتب حديثه.

وقال ابن حبان: كان يكذب.

وقال الدار قطني: روى عنه ابن إسحاق فقلب اسمه فقال منهال بن الجراح وهو متروك.

قال المصنف قلت: وبمثل هذا الحديث الباطل تتعلق جهلة المتزهدين ويرون أن المال مانع من السبق إلى الخير ويقولون إذا كان ابن عوف يدخل الجنة زحفا لاجل ماله كفى ذلك في ذم المال، والحديث لا يصح، وحوشى عبدالرحمن المشهود له بالجنة أن يمنعه ماله من السبق لان جمع المال مباح. وإنما المذموم كسبه من غير وجهه ومنع الحق الواجب فيه، وعبد الرحمن منزه عن الحالين.

Nasa’I berkata : ‘hadits ini palsu, al-Jarooh matrukul hadits’.

Yahya berkata : ‘haditsnya al-Jarooh tidak ada apa-apanya’.

Ibnul Madini berkata : ‘tidak ditulis haditsnya’.

Ibnu Hibban berkata : ‘ia seorang pendusta’.

Daruquthni berkata : ‘diriwayatkan oleh Ishaq, lalu terbalik namanya menjadi Minhaal ibnul Jarooh, beliau matruk’.

Imam ibnul Jauzi berkata : ‘semacam hadits batil ini terkait dengan kebodohan orang-orang yang zuhud, mereka memandang bahwa harta menghalangi untuk bersegera dalam kebaikan. Mereka mengatakan : ‘jika ibnu Auf Rodhiyallahu ‘anhu masuk surga dengan merangkak, karena hartanya, maka cuckuplah hal ini sebagai celaan terhadap harta. Namun haditsnya tidak shahih, terlebih lagi Abdur Rokhman Rodhiyallahu ‘anhu dipersaksikan masuk surga, tidak menghalangi hartanya untuk bersegera masuk surga, karena mengumpulkan harta itu mubah. Hanyalah yang yang dicela, mencarinya dengan cara tidak benar dan tidak menunaikan kewajiban hartanya, sedangkan Abdur Rokhman bin Auf Rodhiyallahu ‘anhu tersucikan dari 2 hal tersebut’ –selesai-.

Pada akhirnya, hendaknya para penulis yang menyebutkan biografi Abdur Rokhman bin Auf Rodhiyallahu ‘anhu tidak menisbatkan atau menjustifikasi bahwa beliau masuk surga dengan merangkak, karena hadits yang berkaitan dengannya tidak shahih dan sangat lemah. Yang benar beliau adalah sahabat yang mulia yang merupakan 1 dari top ten umatnya Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam, yang Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam ridho kepadanya, dan memberinya kabar gembira dengan masuk surga. Dan kami berdoa dengan ajaran dari Rabbunaa :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10).

 

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya rasa ada beberapa salah ketik ustadz:

    1.”Karena jika ia melakukan hal tersebut, maka itu adalah sebagai pensucian apa yang dimilikinya”.termasuk”

    2. “130 okhman bin Abi Malikereka (lihat tahdzibain).pensucian apa yang dimilikinya.orangkan membebaskan kedua kakimu!.”

    Tulisan yang sangat mencerahkan seperti biasa. Barakallahu fiikum

    Like

  2. Jazakallah khoir atas koreksiannya, sudah saya ralat.

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: