DOA SEBELUM MAKAN

April 19, 2015 at 2:43 am | Posted in fiqih | 3 Comments

DOA SEBELUM MAKAN YANG DHOIF

 

Pada waktu kecil, kita biasanya diajari oleh guru kita ketika hendak makan untuk senantiasa berdoa. Tentu ini adalah ajaran yang bagus yang berasal dari syariat Islam –Jazakumullah khoir kepada guru kita atas pengajarannya-. Biasanya doa yang diajarkan adalah :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami dan jagalah kami dari azab neraka.

Tentunya doa yang terbaik adalah doa-doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam, karena Beliau sendiri bersabda :

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad sholallahu alaihi wa salam (HR. Muslim).

Dalam lafadz Imam Bukhori di kitab Shahihnya :

وَأَحْسَنَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuknya Muhammad sholallahu alaihi wa salam

Oleh karenanya kami –bi idznillah- akan melakukan takhrij terhadap doa sebelum makan diatas yang masyhur diajarkan oleh guru-guru kita, sehingga diketahui apakah doa tersebut bersumber dari Nabi kita atau tidak?.

Takhrij hadits :

Fiimaa na’lam doa diatas kami dapat dengan sanad yang bersambung dengan berbagai variasinya, dari yang marfu’ (sampai kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam), maupun yang mauquf (terhenti hanya kepada sahabat rodhiyallahu anhum), dan yang maqtu’ (terhenti kepada Tabi’in rahimahumullah). Adapun riwayat yang marfu’ adalah sebagai berikut :

  • Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu anhuma, diriwayatkan oleh Imam Ibnus Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 457 –cet. Daarul Kiblah) :

حَدَّثَنِي فَضْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللَّهِ»

Haddatsani Fadhl bin Sulaiman, haddatsanaa Hisyaam bin ‘Ammaar, haddatsanaa Muhammmad bin Isa bin Sumai’, haddatsanaa Muhammad bin Abi az-Zu’aizi’ah, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau berdoa jika makanan sudah disajikan : “Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami dan jagalah kami dari azab neraka, dengan nama Allah”

 

Kedudukan sanad :

(haditsnya sangat lemah), didalam sanadnya ada perowi yang bernama Muhammad bin Abi az-Zu’aizi’ah. Berikut komentar ulama terhadapnya :

  • Imam Bukhori dalam Tarikh Kabiir mengomentarinya :

منكر الحديث جدا

Sangat mungkarul hadits.

  • Imam Abu Hatim dalam Jarh wa Ta’dil (no. 1425) berkata tentangnya :

لا يشتغل به، منكر الحديث.

Jangan menyibukkan diri dengan haditsnya, ia mungkarul hadits.

  • Imam Ibnu Hibban dalam al-Majruhiin (2/289) mengomentarinya :

دجال من الدجاجلة كان يروى الموضوعات.

Dajjal dari para Dajjal, ia meriwayatkan hadits-hadits palsu.

  • Imam Abu Nu’aim dalam adh-Dhuu’aafaa (no. 227) menilainya : “مناكير”.

Oleh karenanya berdasarkan kondisi salah satu perowi dalam sanad hadits ini, maka para ulama menilainya dhoif.

  • Dari Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

دَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَخَالِدُ بْنُ الوَلِيدِ عَلَى مَيْمُونَةَ فَجَاءَتْنَا بِإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عَلَى يَمِينِهِ وَخَالِدٌ عَلَى شِمَالِهِ، فَقَالَ لِي: «الشَّرْبَةُ لَكَ، فَإِنْ شِئْتَ آثَرْتَ بِهَا خَالِدًا»، فَقُلْتُ: مَا كُنْتُ أُوثِرُ عَلَى سُؤْرِكَ أَحَدًا، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ “. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ شَيْءٌ يَجْزِي مَكَانَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرُ اللَّبَنِ»

aku masuk bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan juga Khoolid ibnul Waliid ke rumah Maimunah rodhiyallahu anha, lalu Maimunah membawakan kepada kami bejana yang berisi susu. Kemudian Rasulullah sholallahu alaihi wa salam meminumnya, aku disebelah kanan Beliau dan Khoolid disebelah kiri Beliau, lalu Nabi berkata kepadaku : “minumlah ini, jika engkau mau maka sisakan untuk Khoolid”. aku berkata : “aku tidak akan menyisakan bekas air liurmu kepada seorang pun”. Lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “barangsiapa yang diberi makanan oleh Allah maka berdoalah : “Yaa Allah berikan kepada kami berkah didalamnya dan beri kami makan yang lebih baik darinya”. Dan barangsiapa yang diberi minum susu oleh Allah, maka berdoalah : “yaa Allah berkahilah padanya dan tambahkankam darinya”. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “tidak ada sesuatupun yang mencukupi makanan dan minuman, selain susu”.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dalam Sunan Kubro (no. 10118), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 3730), Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3455), Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 1978) semuanya dari jalan :

عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ حَرْمَلَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Ali bin Zaid dari Umar bin Harmalah dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu.

Kedudukan sanad :

  • Ali bin Zaid yang terkenal dengan Ibnu Jud’an, dinilai dhoif oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.
  • Umar bin Harmalah, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Abu Zur’ah dan Al Hafidz Ibnu Hajar memajhulkannya.

Sehingga berdasarkan hal tersebut hadits ini lemah. Namun Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 3322) memiliki mutaba’ah untuk sanad ini, dari jalan

حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Haddatsanaa Ibnu Juraij, dari Ibnu Syihaab dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu.

Kedudukan sanad :

Semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, namun Ibnu Juraij seorang mudallis, dan disini meriwayatkan dengan ‘an’anah, sehingga lemah sanadnya. Namun sanad ini memperkuat sanad sebelumnya, sehingga haditsnya naik menjadi hasan lighoirihi. Dihasankan oleh Imam Tirmidzi, Imam Al Albani, asy-Syaikh Syu’aib A’nauth dan selainnya.

Adapun riwayat yang mauquf dari sahabat adalah :

  • Dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 1313 –cet. Ar Risaalah), Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 6040 –cet. Daarul Kitaabil Ilmiyyah), Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya (1/70 –cet. Daarul Kitaabil ‘Arobiy), Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf (no. 24509 –cet. Maktabah ar-Rusydi), dan Imam Thabrani dalam ad-Du’aa’ (no. 235 –cet. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah), semuanya dari jalan :

سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدَ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: ” يَا ابْنَ أَعْبُدَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ ؟ ” قَالَ: قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ ؟ قَالَ: ” تَقُولُ بِسْمِ اللهِ اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا “، قَالَ: وَتَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ ؟ قَالَ: قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ ؟ قَالَ: ” تَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا “

Sa’id al-Juroiriy dari Abil Wardi dari Ibnu A’bad ia berkata : ‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku : “wahai ibnu A’bad apakah engkau tahu apa hak makanan itu?”, aku menjawab : “apa hak makanan itu wahai ibnu Abi Tholib?”, beliau berkata : “engkau berdoa : “dengan nama Allah, Ya Allah berkahilah apa yang telah engkau rizkikan kepada kami”. Lanjutnya : “tahukah engkau apa syukurnya jika telah usai makan?”. Jawabku : “apa syukurnya?”, beliau menjawab : berdoa : “segala puji bagi Allah yang telah membei kami makan dan minum”.

Kedudukan sanad :

  • Sa’id bin Iyaas al-Jurairiy, dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib, dipakai oleh Bukhori-Muslim.
  • Abul Wardi adalah Tsumaamah bin Khazin, dinilai maqbul oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.
  • Ibnu A’bad, dikatakan nama aslinya adalah Ali. Imam ibnu Abi Hatim dalam Jarh wa Ta’dil (no. 1369) menukil :

قال على ابن المدينى: ابن اعبد ليس بمعروف ولا اعرف له غير حديثه

Ali Ibnul Madini berkata : ‘ibnu A’bad tidak ma’ruf, aku tidak mengetahui selain haditsnya Ali rodhiyallahu anhu’.

Oleh karenanya, sanad ini dhoif, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liqnya alaa Musnad Ahmad (2/436).

  • Dari ‘Amr rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abid Dunya dalam asy-Syukur (no. 166 & 169 –cet. Al-Maktabul Islamiy) dari jalan :

حدثنا علي بن حرب الطائي حدثنا حسين بن علي الجعفي عن أبي موسى قال : كان عمرو إذا أتي بطعامه لم يزل مخمرا حتى يقول هؤلاء الكلمات الحمد لله الذي هدانا وأطعمنا وسقانا ونعمنا الله أكبر اللهم ألفتنا نعمك ونحن بكل شر فأصبحنا وأمسينا فيها بكل خير شاء لك عامها وشكرها لا خير إلا خيرك ولا إله غيرك إله الصالحين ورب العالمين الحمد لله لا إله إلا أنت ما شاء الله لا قوة إلا بالله اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار

Haddatsanaa Ali bin Harb ath-Tho’i, haddatsanaa Husain bin Ali al-Ju’fiy dari Abi Musa ia berkata : “’Amr rodhiyallahu anhu jika dihadirkan makanan, senantiasa beliau berdoa dengan kalimat-kalimat berikut : “segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada kami, memberi makan, minum dan segala kenikmatan. Allah maha besar. Yaa Allah Engkau berikan kenikmatan kepada kami, sedangkan kami dalam kejelekan, maka jadikan kami pada waktu pagi dan petang dengan semua kebaikan yang engkau kehendaki semuanya, dan mensyukurinya, yang tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak Tuhan, selain diri-Mu,kepada-Nya orang-orang sholih berharap, Rabb semesta alam. Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, apa yang Allah kehendaki, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami dan jagalah kami dari azab neraka.

Kedudukan sanad :

  • Ali bin Harb, dinilai shoduq oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib.
  • Husain bin Ali, perowi tsiqoh dipakai Bukhori-Muslim.
  • Abu Musa, nama aslinya Isroil bin Musa, perowi tsiqoh, dipakai oleh Bukhori.

Sanad ini hasan, seandainya tidak terjadi keterputusan antara Abu Musa dengan ‘Amr rodhiyallahu anhu. namun sanad ini dhoif, karena adanya intiqo’ dalam sanadnya.

Adapun riwayat yang maqtu’ yaitu terhenti sampai tabi’in adalah :

  • Riwayat Urwan bin Zubair, diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatho’ (no. 1672 –cet. Daaru Ihyaaut Turots), dan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf (no. 24512 –cet. Maktabah Ar Rusydi) semuanya dari jalan Hisyaam bin Urwah beliau berkata tentang kebiasaan Bapaknya :

أَنَّهُ كَانَ لاَ يُؤْتَى أَبَدًا بِطَعَامٍ وَلاَ شَرَابٍ حَتَّى الدَّوَاءُ فَيَطْعَمَهُ أَوْ يَشْرَبَهُ إِلاَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى هَدَانَا وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَنَعَّمَنَا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَلْفَتْنَا نِعْمَتُكَ بِكُلِّ شَرٍّ فَأَصْبَحْنَا مِنْهَا وَأَمْسَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ نَسْأَلُكَ تَمَامَهَا وَشُكْرَهَا لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ إِلَهَ الصَّالِحِينَ وَرَبَّ الْعَالَمِينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Bahwa Urwah senantiasa tidaklah didatangkan makanan, tidak juga minuman atau obat, lalu ia mau makan atau minum, kecuali berdoa terlebih dahulu : “segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada kami, memberi makan, minum dan segala kenikmatan. Allah maha besar. Yaa Allah Engkau berikan kenikmatan kepada kami, sedangkan kami dalam kejelekan, maka jadikan kami pada waktu pagi dan petang dengan semua kebaikan yang kami mohon kepada Engkau secara sempurna, dan mensyukurinya, yang tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak Tuhan, selain diri-Mu,kepada-Nya orang-orang sholih berharap, Rabb semesta alam. Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, apa yang Allah kehendaki, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami dan jagalah kami dari azab neraka.

Kedudukan sanad :

Sanad ini tidak diragukan lagi keshahihannya, namun hanya perkataan Urwan bin Zubair salah satu Aimah Tabi’in.

Berdasarkan pemaparan sanad-sanad riwayat diatas, doa sebelum makan yang masyhur yang diajarkan oleh guru-guru kita, yaitu doa : “Allahumma Baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa, waqinaa adzaban naar”, adalah doa yang tidak berasal dari petunjuk Nabi sholallahu alaihi wa salam. Adapun doa sebelum makan yang merupakan petunjuk dari Nabi sholallahu alaihi wa salam diantaranya :

  1. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ”, Allahumma Baarik laana fiih, wa ath’amnaa khoiron minhu. Haditsnya Hasan, sebagaimana telah kami takhrij diatas.
  2. Cukup mengucapkan Bismillah, yang telah kami kupas dalam artikel kami yang dapat dilihat di https://ikhwahmedia.wordpress.com/2013/12/04/cukup-bismillah-ketika-makan/

Demikian pembahasan terkait doa sebelum makan, kami berharap para guru, sudah tidak mengajarkan doa yang sangat lemah diatas kepada anak didiknya, namun mencukup diri dengan mengajarkan dan mengamalkan doa yang tsabit dari Nabi sholallahu alaihi wa salam, karena dalam mengikuti sunnah ada keberkahan didalamnya.

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalaamu’alaykum.
    Ustadz bagaimana syarat hadits dhoif terangkat jadi hasan karena ada beberapa jalan riwayat? tidak bisakah hadits dhoif yg pertama di atas menjadi hasan karena hadits pendukung lainnya?

    Like

  2. Imam Al Albani telah menyinggung terkait permasalahan terangkatnya status hadits karena banyak jalannya dalam Tamamul minnah sebagai berikut :
    القاعدة العاشرة تقوية الحديث بكثرة الطرق ليس على إطلاقه
    من المشهور عند أهل العلم أن الحديث إذا جاء من طرق متعددة فإنه يتقوى بها ويصير حجة وإن كان كل طريق منها على انفراده ضعيفا ولكن هذا ليس على إطلاقه بل هو مقيد عند المحققين منهم بما إذا كان ضعف رواته في مختلف طرقه ناشيءا من سوء حفظهم لا من تهمة في صدقهم أو دينهم وإلا فإنه لا يتقوى مهما كثرت طرقه وهذا ما نقله المحقق المناوي في “فيض القدير” عن العلماء قالوا:
    “وإذا قوي الضعف لا ينجبر بوروده من وجه آخر وإن كثرت طرقه ومن ثم اتفقوا على ضعف حديث: “من حفظ على أمتي أربعين حديثا”1 مع كثرة طرقه لقوة ضعفه وقصورها عن الجبر خلاف ما خف ضعفه ولم يقصر الجابر عن جبره فإنه ينجبر ويعتضد”.
    dari penjelasan beliau diatas, salah satu syarat menaikkan derajat hadits adalah kedhoifan perowinya karena jelek hapalannya, bukan karena masalah cacat pada agamanya.
    dalam hadits doa sebelum makan yang masyhur diatas yaitu Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa adzabannaar, ada 3 versi riwayat :
    1. marfu’ sampai kepada Nabi sholallahu alaihi wa salaam, melalui Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu. namun dalam sanadnya ada perowi yang mungkar, bahkan dituduh Dajjal oleh Imam Ibnu Hibban. nah cacat ini terkait agama si rowi, sehingga haditsnya tidak bisa dikuatkan atau menguatkan, atau gampangnya anggap sanad ini zonk.
    2. mauquf ada 2 dari Ali bin Abi Tholib rhodiyallahu anhu, sanadnya ada perowi yang majhul, sebenarnya ini bisa dikuatkan atau menguatkan, tapi saya belum mendapati jalan lain dari Ali rodhiyallahu anhu yang menguatkan sanadnya.
    yang kedua dari ‘Amr, juga terputus sanadnya, dan saya belum mendapati jalan lain dari beliau
    3. maqtu’ yakni sampai kepada Tabi’i yaitu Urwah bin zubair, dan ini sanadnya shahih dengan doa yang panjang, yang pada ujungnya terdapat doa tersebut.
    jadi doa sebelum makan yang masyhur tersebut bukan berasal dari Nabi sholallahu alaihi wa salaam, tapi yang saya temukan berasal dari tabi’i yaitu Urwah bin Zubair dan yang shahih dari Nabi ada 2 sebagaimana telah saya sebutkan di akhir artikel. wallahu A’lam.

    Like

  3. Sungguh penjelasan ustadz ini tambahan ilmu baru bagi saya.
    Jazakallahu Khoiron.

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: