HUKUM MAKAN DAGING AYAM

April 25, 2015 at 1:32 am | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MAKAN DAGING AYAM

 

Dulu saya punya teman orang Mesir, ketika melihat kami makan ayam goreng dan hampir rutin mengkonsumsinya, sempat mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang makan daging ayam. Namun ketika diminta menyebutkan dalilnya, teman saya tersebut tidak bisa menunjukkannya, bahkan akhirnya saya menyampaikan hadits bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah makan daging Ayam. Haditsnya dibawakan oleh Imam Bukhori dan Imam Ahmad dari jalan Abu Qilaabah, lalu oleh Imam Tirmidzi dari jalan Qotadah, semuanya dari Zahdam al-Jurmiy dari Abu Musa al-Asy’ariy rodhiyallahu anhu beliau berkata :

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ دَجَاجًا

aku melihat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam makan daging ayam.

Kemudian dalam lafadz lainnya yang lebih panjang dari jalan al-Qoosim dari Zahdam, beliau berkata :

كُنَّا عِنْدَ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ هَذَا الحَيِّ مِنْ جَرْمٍ إِخَاءٌ، فَأُتِيَ بِطَعَامٍ فِيهِ لَحْمُ دَجَاجٍ، وَفِي القَوْمِ رَجُلٌ جَالِسٌ أَحْمَرُ، فَلَمْ يَدْنُ مِنْ طَعَامِهِ، قَالَ: ادْنُ، فَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ مِنْهُ، قَالَ: إِنِّي رَأَيْتُهُ أَكَلَ شَيْئًا فَقَذِرْتُهُ، فَحَلَفْتُ أَنْ لاَ آكُلَهُ، فَقَالَ: ادْنُ أُخْبِرْكَ، أَوْ أُحَدِّثْكَ: إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنَ الأَشْعَرِيِّينَ، فَوَافَقْتُهُ وَهُوَ غَضْبَانُ، وَهُوَ يَقْسِمُ نَعَمًا مِنْ نَعَمِ الصَّدَقَةِ، فَاسْتَحْمَلْنَاهُ فَحَلَفَ أَنْ لاَ يَحْمِلَنَا، قَالَ: «مَا عِنْدِي مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ» ثُمَّ أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَهْبٍ مِنْ إِبِلٍ، فَقَالَ: «أَيْنَ الأَشْعَرِيُّونَ؟ أَيْنَ الأَشْعَرِيُّونَ» قَالَ: فَأَعْطَانَا خَمْسَ ذَوْدٍ غُرَّ الذُّرَى، فَلَبِثْنَا غَيْرَ بَعِيدٍ، فَقُلْتُ لِأَصْحَابِي: نَسِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينَهُ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ تَغَفَّلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينَهُ لاَ نُفْلِحُ أَبَدًا، فَرَجَعْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا اسْتَحْمَلْنَاكَ، فَحَلَفْتَ أَنْ لاَ تَحْمِلَنَا، فَظَنَنَّا أَنَّكَ نَسِيتَ يَمِينَكَ، فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ هُوَ حَمَلَكُمْ، إِنِّي وَاللَّهِ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – لاَ أَحْلِفُ عَلَى يَمِينٍ، فَأَرَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَتَيْتُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَتَحَلَّلْتُهَا»

kami sedang bersama dengan Abu Musa al-Asy’ariy, antara kami dengan kampung ini ada suku dari Jarmi Ikhoo’, lalu dihidangkan makanan yang terdapat daging Ayam padanya, dan ada seorang laki-laki diantara kaum tersebut  yang duduk  dalam keadaan marah, ia tidak mau mendekati hidangan. Abu Musa rodhiyallahu anhu berkata : “mendekatlah!, aku melihat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam makan (daging ayam). Laki-laki tadi berkata : ‘aku melihat Ayam makan sesuatu, lalu aku menahan diri untuk tidak makan daging Ayam, aku bersumpah tidak akan makan Ayam’. Lalu Abu Musa rodhiyallahu anhu berkata : “mendekatlah akan aku beritahu atau aku ceritakan kepadamu, sesungguhnya dulu aku pernah menemui Nabi sholallahu alaihi wa salam sebagai utusan dari Asy’ariyyin, aku menemuinya dalam keadaan Beliau sedang marah, Beliau sedang membagi Unta shodaqoh, lalu kami meminta agar membawakannya, namun Beliau bersumpah agar kami tidak membawanya, Beliau berkata : “aku tidak punya apa yang bisa aku bawakan kepada kalian”. Lalu didatangkan kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam hibah Unta, maka Beliau berkata : “mana orang-orang Asy’ariyyin?, mana orang-orang Asy’ariyyin?”. Lalu Beliau memberi kami 5 ekor yang putih bagus, lalu kami menungganginya tidak jauh dari itu, aku berkata kepada rekan-rekanku : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam telah lupa dengan sumpahnya, demi Allah, jika Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak lupa dengan sumpahnya, kita tidak akan beruntung selama-lamanya”. Lalu kami kembali kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam dan kami berkata : “wahai Rasulullah, kami telah minta dibawakan kepada engkau, lalu engkau bersumpah untuk tidak akan membawakan kami, lalu kami menduga engkau telah lupa dengan sumpahmu”. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “sesungguhnya Allah-lah yang akan membawakan kalian, aku demia Allah –insya Allah- tidak bermaksud untuk bersumpah, aku memandang selainnya lebih baik darinya, kecuali aku datang dengan yang lebih baik, dan aku menghalalkannya”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 5518) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1649).

Imam Muslim dalam Syarah Shahih Muslim (11/111-112 –cet. Daaru Ihyaaut Turots) berkata :

فيه إباحة لحم الدجاج وملاذ الأطعمة ويقع إسم الدجاج على الذكور والإناث بكسر الدال وفتحها قوله

Hadits ini mengandung dalil mubahnya (baca : halalnya) daging Ayam dan berlezat-lezat dalam memakannya.  Nama ad-Dajaaj mencakup didalamnya ayam jantan dan betina, dengan mengkasroh atau memfathah huruf daal-nya –selesai-.

Imam Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (1/128) menukil pendapat Imam Malik bin Anas dengan perkataannya :

وَهُوَ يَرَى لَحْمَ الدَّجَاجِ حَلالا طَيِّبًا

Imam Malik memandang bahwa daging Ayam adalah halalal thoyiiban –selesai-.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (9/648) menukil ijma para ulama tentang kehalalan daging Ayam, beliau berkata :

وَفِيهِ جَوَاز أَكْل الدَّجَاج إِنْسِيّه وَوَحْشِيّه ، وَهُوَ بِالِاتِّفَاقِ إِلَّا عَنْ بَعْض الْمُتَعَمِّقِينَ عَلَى سَبِيل الْوَرَع ، إِلَّا أَنَّ بَعْضهمْ اِسْتَثْنَى الْجَلَّالَة وَهِيَ مَا تَأْكُل الْأَقْذَار

Ini dalil halalnya makan daging Ayam baik yang dipelihara maupun yang liar, ini adalah kesepakatan para ulama, namun sebagian al-Muta’amiqiin (tidak mau makan) karena waro’. Dan sebagian ulama mengecualikannya jika si Ayam makan kotoran –selesai-.

Barangkali cara untuk menjadikan halal Ayam yang makan kotoran adalah dengan mengurungnya selama 3 hari, sambil diberi makanan yang baik, sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّهُ كَانَ يَحْبِسُ الدَّجَاجَةَ الْجَلَّالَةَ ثَلَاثًا

Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengurung ayam jalaalah (yang makan kotoran) selama 3 hari (HR. Mushonaf Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Rozaq, dengan sanad shahih, dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: