TAFSIR QS. AL BAQOROH AYAT 3

May 3, 2015 at 2:59 pm | Posted in Tafsir Al Baqoroh | Leave a comment
Tags: , , ,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

 Tafsir “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (Al Baqoroh : 3)

 I. Mufrodat Ayat

الَّذِينَ ” (yaitu) adalah isim maushuul (kata sambung) untuk al-Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa).

يُؤْمِنُونَ” (mereka yang beriman), Imam secara bahasa telah dijelaskan dengan baik oleh Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarah al-Washitiyyah (1/27) :

الإيمان في اللغة: يقول كثير من الناس: إنه التصديق، فصدقت وآمنت معناهما لغة واحد، وقد سبق لنا في التفسير أن هذا القول لا يصح بل الإيمان في اللغة: الإقرار بالشيء عن تصديق به، بدليل أنك تقول: آمنت بكذا وأقررت بكذا وصدقت فلانا ولا تقول: آمنت فلاناً.

إذا فالإيمان يتضمن معنى زائداً على مجرد التصديق، وهو الإقرار والاعتراف المستلزم للقبول للأخبار والإذعان للأحكام، هذا الإيمان، أما مجرد أن تؤمن بأن الله موجود، فهذا ليس بإيمان، حتى يكون هذا الإيمان مستلزما للقبول في الأخبار والإذعان في الأحكام، وإلا، فليس إيماناً

Imam secara bahasa telah disebutkan oleh banyak ulama, bahwa itu adalah at-Tashdiiq (pembenaran), maka shodaqta (engkau telah membenarkan) dan Amanta (engkau telah beriman) maknanya secara bahasa adalah sama. Telah berlalu penjelasan kami bahwa makna ini tidak benar, namun (yang benar) Iman secara bahasa adalah “mengakui sesuatu yang telah dibenarkannya”, buktinya engkau mengatakan : ‘aku beriman terhadap hal itu’, yakni aku mengakui terhadap hal itu. Kemudian engkau mengatakan : ‘aku membenarkan fulan’, tidak lah engkau katakan : ‘aku beriman kepada fulan’.

Maka, Imam mencakup makna tambahan dari sekedar pembenaran saja, yaitu mengakui dan mengetahui yang berkonsekuensi diterimanya pengabaran dan penetapan hukum-hukumnya, inilah Imam. Adapun sekedar engkau beriman bahwa Allah itu ada, maka ini bukan iman, sampai iman ini berkonsekuensi menerima berita dan penetapan hukumnya, jika tidak seperti itu maka itu bukan iman.

بِالْغَيْبِ ” (kepada yang ghaib) dari sisi i’rob bisa dikatakan sebagai shilah (sambungan) dari Yu’minuun. Tim penerjemah DEPAG RI berkata : “Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya”.

Sementara itu Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsirnya menyebutkan 6 pendapat para ulama tafsir terhadap yang dimaksud dengan ghoib dalam ayat ini, yaitu :

  1. Wahyu, ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dan Ibnu Juraij.
  2. Al Qur’an, ini adalah pendapatnya Abu Riziin dan Zurr bin Khubaisy.
  3. Allah Azza wa Jalla, ini adalah pendapatnya ‘Athoo’ dan Sa’id bin Jubair.
  4. Surga dan neraka, ini adalah pendapatnya Abul ‘Aaliyah dan Qotaadah.
  5. Takdir Allah Azza wa Jalla, ini adalah pendapatnya az-Zuhriy.
  6. Iman kepada Rasulullah bagi orang yang tidak melihat langsung beliau, ini dikatakan oleh ‘Amr bin Murroh.

Namun dapat dikatakan bahwa ghoib yang maksud disini adalah umum, mencakup seluruh apa yang tidak terlihat dihadapan kita, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hujuraat : 18).

وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ“, (yang mendirikan shalat), adapun definisi sholat telah kami sebutkan dalam Mukadimah Syarah Kitab Sholat min Shahih Muslim. Imam as-Sa’di dalam Tafsirnya telah menjelaskan makna mendirikan sholat, kata beliau :

لم يقل: يفعلون الصلاة، أو يأتون بالصلاة، لأنه لا يكفي فيها مجرد الإتيان بصورتها الظاهرة. فإقامة الصلاة، إقامتها ظاهرا، بإتمام أركانها، وواجباتها، وشروطها. وإقامتها باطنا بإقامة روحها، وهو حضور القلب فيها، وتدبر ما يقوله ويفعله منها،

Tidak dikatakan : ‘mengerjakan sholat’, atau ‘mendatangi sholat’, dikarenakan hal tersebut tidak cukup mendatanginya secara lahirnya saja. Maka mendirikan sholat adalah mendirikannya secara lahir, dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, kewajibannya, dan syarat-syaratnya. Kemudian mendirikannya secara batin, dengan mendirikan ruh sholat, yaitu hadirnya hati ketika mengerjakannya, dan merenungi apa yang diucapkan dan dikerjakan ketika sholat.

Sholat merupakan tiang agama, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (no. 2616), Imam Ibnu Majah (no. 3973) dan Imam Ahmad (5/231, 237), lalu dishahihkan oleh Imam Tirmidzi, dari hadits Muadz bin Jabal t dimana Nabi r bersabda :

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pucuk urusan adalah Islam, Tiangnya adalah Sholat dan punuknya adalah Jihad”.

Dalam beberapa ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyifatkan orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang mendirikan sholat, sebagaimana dalam Firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. At Taubah : 71).

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ” (dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka), Miim dalam ayat diatas bermakna sebagian, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Syinqithi dalam Tafsirnya :

« من » التبعيضية الدالة على أنه ينفق لوجه الله بعض ماله لا كله . ولم يبين هنا القدر الذي ينبغي إنفاقه ، والذي ينبغي إمساكه . ولكنه بين في مواضع أخر أن القدر الذي ينبغي إنفاقه هو الزائد على الحاجة وسد الخلة التي لا بد منها ،

Miin bermakna “tab’idhiyyah” yang menunjukkan bahwa yang dinafkahkannya karena mengharap wajah Allah adalah sebagian hartanya, bukan keseluruhannya. Dan disini tidak dijelaskan ukuran yang harus dikeluarkannya, dan juga yang harus ditahannya. Namun dalam ayat lain dijelaskan ukuran yang harus dinafkahkan, yaitu yang merupakan kelebihan dari kebutuhannya yang merupakan pengeluaran yang mau tidak mau harus dikeluarkan.

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan 4 pendapat ulama tafsir terkait makna nafkah dalam ayat ini yaitu :

  1. Itu adalah nafkah kepada keluarganya, ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan Khudzaifah rodhiyallahu anhumaa.
  2. Itu adalah zakat wajib, dikatakan oleh Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dan Qotaadah.
  3. Itu adalah sedekah sunnah, dikatakan oleh Mujaahid dan adh-Dhohaak.
  4. Itu adalah nafkah wajib, sebelum diwajibkannya zakat.

Namun bisa saja hal tersebut umum, meliputi nafkah wajib, baik berupa zakat, kewajiban kepada keluarga, maupun infak dan sedekah lainnya. Imam as-Sa’di berkata dalam Tafsirnya :

يدخل فيه النفقات الواجبة كالزكاة، والنفقة على الزوجات والأقارب، والمماليك ونحو ذلك. والنفقات المستحبة بجميع طرق الخير

Masuk didalamnya nafkah wajib, seperti zakat, nafkah kepada istri dan karib kerabat, dan budaknya serta semisalnya. Demikian juga nafkah sunnah, berupa semua jalan-jalan kebaikan.                                                                           

 II. Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini sebagian kriteria orang-orang yang bertakwa yang mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an, yaitu orang yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian hartanya.

III. Faedah Ayat

  1. Beriman kepada yang ghoib merupakan motivasi yang besar seseorang menjalankan agama dengan benar, karena semua tindak tanduknya di dunia akan dhisab nanti di hari kiamat, sehingga ia berusaha mempersiapkan bekal yang terbaik dalam menempuh perjalanan yang jauh nanti di akhirat, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al Baqoroh : 197).

  1. Termasuk keimanan terhadap yang ghoib adalah keimanan kepada Allah, Malaikat-Nya, hari akhir dan segala sesuatu yang saat ini tidak nampak dihadapan kita. dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan ampunan yang besar kepada orang yang takut kepada Rabbnya, sekalipun saat ini tidak tampak olehnya, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (QS. Al Mulk : 12).

  1. Menegakkan sholat berupa secara lahir yaitu hukum-hukumnya, sebagaimana yang diajarkan Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam sabdanya :

Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat (HR. Bukhori).

Dan untuk merealisasikan hal tersebut, mestilah mempelajari tatacara sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam yang diajarkan secara turun-temurun oleh para ulama kita.

Sedangkan menegakkan sholat secara batin, maka ini tidak lepas kaitannya dengan keimanan kepada yang ghoib, terutama kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena sholat ini sesuatu yang harus murni ditujukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana ikrar seorang Muslim :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS. Al An’aam : 162).

Dan menegakkan sholat secara batin adalah dengan menghadirkan ruh sholat yaitu rasa khusyu’ kepada Allah, dan hal ini tidak berat bagi seorang menghadirkan rasa khusyu’ ketika ia yakin akan berjumpa dengan Rabbnya dan akan dihidupkan pada hari kiamat nanti, sebagaimana firman-Nya :

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (QS. Al Baqoroh : 45-46).

  1. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap bakhil alias kikir, namun umatnya diajarkan untuk saling berbagi kepada sesamanya. Namun juga tidak melepas mereka untuk mengeluarkan harta, sehingga akhirnya mereka mengalami kesulitan tersendiri, namun yang benar adalah pertengahan itu semua, Firman-Nya :

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (QS. Al Furqoon : 67).

Dan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sebagai panutan umatnya adalah orang yang sangat dermawan, bahkan kedermawanannya akan lebih tampak pada bulan Romadhon. Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

Rosulullah sholallahu alaihi wa salam orang yang palin dermawan, Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Romadhon pada saat bertemu Jibril alaihi salam (HR. Bukhori-Muslim).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: