TAFSIR SURAT AL BAQOROH AYAT 2

May 3, 2015 at 11:48 pm | Posted in Tafsir Al Baqoroh | Leave a comment
Tags: , ,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Tafsir “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Al Baqoroh : 2)

 

I. Mufrodat Ayat

ذَلِكَ” (ini/itu) adalah isim isyaroh (kata petunjuk), sedangkan huruf lam dalam kata ini menunjukkan isyarat yang jauh dan huruf kaaf untuk khithob yakni yang diajak bicara, demikian penjelasan Imam Abu Su’ud dalam tafsirnya. Adapun maknanya, kata Imam Ibnul Jauzi ada 2 pendapat yaitu :

  1. Maknanya “هذا ” (ini), pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, Mujahid, Ikrimah, al-Kisaa’i, Abi Ubaidah dan al-Akhfasy.
  2. Maknanya adalah Isyarat kepada kata ganti ketiga. Kemudian ulama yang mengatakan ini, berbeda pendapat dalam menafsirkan apa atau siapa yang dimaksud dengan kata ganti ketiga tersebut? Imam Ibnul Jauzi menyebut ada 3 pendapat yakni :

A. Yang dimaksud adalah Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam.

B. Apa yang dijanjikan untuk diwahyukan kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, sebagaimana Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat (QS. Al-Muzammil : 5).

C. Apa yang dijanjikan kepada ahli kitab sebelumnya, karena mereka berjanji akan menolong agama Allah jika turun kepada mereka kitab dan diutus kepada mereka seorang Nabi.

الْكِتَابُ” (Al Qur’an) bisa dikatakan sebagai khobar untuk isim isyaroh (kata petunjuk), sehingga dapat diterjemahkan dengan itu adalah al-Qur’an  atau sifat baginya, sehingga terjemahannya al-qur’an itu. Al-Qur’an dikatakan sebagai kitab karena terkumpul didalamnya bagian-bagian yang terpisah, yakni ayat-ayat dan surat-surat yang turun terpisah, kemudian terkumpul dan dinamakan al-Qur’an, karena kitab secara bahasa maknanya الجمع (kumpulan). Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya mengatakan bahwa al-Qur’an dalam ayat ini menggunakan kata isyarat yang menunjukkan jauh, yaitu Dzalika, karena ketinggian kedudukan al-Qur’an dan bahwa ia adalah kitab yang palling agung dan paling mulia.

لاَ رَيْبَ فِيهِ” (tidak ada keraguan padanya) dari sisi i’rob bisa dikatakan sebagai khobar dari “ذَلِكَ الْكِتَابُ “, sehingga terjemahannya al-Qur’an itu adalah tidak ada keraguan didalamnya. Atau bisa juga sebagai khobar tsani (kedua) dari Dzalika, sehingga terjemahannya itu adalah al-Qur’an yang itu tidak ada keraguan didalamnya, dan masih ada beberapa pendapat yang bisa dilihat di tafsir Abu Su’ud. Sedangkan kata لاَ  adalah nafiyah liljinsi yang maknanya menafikan secara umum, yaitu sama sekali tidak ada keraguan didalam al-Qur’an sedikitpun, ada juga yang mengatakan maksudnya adalah larangan (laa nahiy), yakni janganlah kalian ragu terhadap al-Qur’an. Kedua makna ini bisa dikompromikan yakni dari sisi hakikat al-Qur’an itu sendiri memang tidak ada keraguan bahwa itu adalah petunjuk dari sang Pencipta, adapun dari sisi pembacanya, maka hendaknya mereka jangan ragu didalam menerima kebenaran al-Qur’an, seandainya mereka ragu, maka Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa menantang mereka melalui lisan Nabi-Nya :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir (QS. Al-Baqoroh : 23-24).

Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya mengatakan bahwa sebagian ahli qiro’ah ada yang memberikan waqof (berhenti) pada kalimat لَا رَيْبَ kemudian dilanjut bacaanya فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِين dan sebagian lagi memberikan waqof pada kalimat لَا رَيْبَ فِيه  kemudian dilanjut bacaannya هُدًى لِلْمُتَّقِينَ “. biasanya dalam mushaf al-Qur’an akan terdapat tanda tiga titik , inilah yang dinamakan dalam ilmu tajwid dengan istilah waqof mu’anaqoh dan hukumnya adalah wajib berhenti di salah satu tanda tersebut.

هُدًى لِلْمُتَّقِينَ” (petunjuk bagi mereka yang bertakwa), kata Huda jika waqofnya adalah pada laa roiba, maka ia sebagai mubtada muakhor, khobarnya muqodam yaitu kata fiihi. Adapun jika diwaqof pada laa roiba fiih, maka huda sebagai khobar, mubtadanya adalah makhdhuf, taqdirnya huwa hudal lil Muttaqiin.

Imam Abu Su’ud mencoba mendefinisikannya dengan mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang dapat mengantarkan seseorang ke tujuannya, karena jika seseorang tidak mendapatkan petunjuk ia akan tersesat. Al-Qur’an sendiri sebenarnya adalah petunjuk bagi manusia secara umum, sebagaimana firman-Nya :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al Baqoroh : 185).

Namun qodarullah, hanya orang-orang yang bertakwa saja yang mendapatkan manfaat dari petunjuk al-Qur’an, oleh karenanya Imam Syinqithi dalam tafsirnya mengatakan bahwa mafhum mukholafah (pemahaman terbalik) dari ayat ini bahwa selain orang-orang yang bertakwa tidak mendapatkan manfaat petunjuk dari al-Qur’an. Hal ini telah disinggung oleh Allah dalam beberapa firman-Nya :

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌ والذين لاَ يُؤْمِنُونَ في آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى } [ فصلت : 44 ]

 وقوله : { وَنُنَزِّلُ مِنَ القرآن مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظالمين إَلاَّ خَسَاراً } [ الإسراء : 82 ]

 وقوله : { وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هذه إِيمَاناً فَأَمَّا الذين آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الذين فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إلى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ } [ التوبة : 124-125 ]

 وقوله تعالى : { وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيراً مِّنْهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَاناً وَكُفْراً } [ المائدة : 64 ] الآيتين  

Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka (QS. Fushulat : 44).

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS. Al Israa’ : 82).

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (QS. At Taubah 124-125).

Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka (QS. Al Maidah : 64).

لِلْمُتَّقِينَ” (bagi mereka yang bertakwa), Imam Baghowi dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu yang berkata :

المتقي من يتقي الشرك والكبائر والفواحش وهو مأخوذ من الاتقاء

Orang yang bertakwa adalah orang yang terjaga dari syirik, dosa besar dan perbuatan keji, ia terambil dari kata al-ittiqoo’ (terjaga).

Suatu ketika Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu berkata kepada Ka’ab al-Ahbar : ‘ceritakan kepadaku apa itu takwa?’, Ka’ab menjawab : ‘pernahkan engkau berjalan di jalanan yang penuh duri?’, Umar rodhiyallahu anhu menjawab : ‘iya, pernah’, Ka’ab berkata lagi : ‘lantas apa yang engkau lakukan?’, Umar rodhiyallahu anhu menjawab : ‘aku menghindari durinya’, kata Ka’ab : ‘itulah takwa’. (tafsir al-Baghowi).         

Barangkali definisi yang bagus untuk takwa adalah apa yang dinukil oleh Imam al-Baghowi dari Imam Umar bin Abdul Aziz, kata beliau :

التقوى ترك ما حرم الله وأداء ما افترض الله فما رزق الله بعد ذلك فهو خير إلى خير

Takwa adalah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan, lalu apa yang dikaruniakan Allah setelah itu adalah kebaikan diatas kebaikan.

Siapakah yang dimaksud dengan orang yang bertakwa dalam ayat ini? Penyebutan sebagian sifat-sifatnya ada pada ayat-ayat sesudahnya.

 

II. Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Al-Qur’an yang merupakan kitab yang paling agung dan paling mulia, sama sekali tidak ada keraguan didalamnya, isinya adalah pasti dan yakin dari Rabbunaa Azza wa Jalla, ia akan menjadi petunjuk yang berguna bagi umat manusia, terutama bagi orang-orang yang bertakwa. –kita berharap, termasuk orang-orang yang bertakwa- amiin.

 

III. Faedah Ayat

  1. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dan berupa kalam-kalam-Nya, ia merupakan kitab yang mulia dan sebagai kitab yang terakhir yang membenarkan seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Firman-Nya :

وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآَنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam (QS. Yunus : 37).

  1. Tidak selayaknya seorang Muslim meragukan al-Qur’an, karena al-Qur’an turun dari sisi Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa dan isinya adalah kebenaran, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS. Al-Baqoroh : 147).

  1. Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah warisan terbesar Nabi sholallahu alaihi wa salam kepada umatnya, barangsiapa yang berpegang teguh dengan keduanya, tidak akan tersesat hidupnya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara, yang tidak akan tersesat, selama kalian berpegang kepada keduanya yaitu, Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya (HR. Malik, dihasankan oleh Imam al-Albani).

  1. Hanya orang yang hatinya hidup yang akan mendapatkan petunjuk dari Rabbnya, itulah orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya. Firman-Nya Subhanaahu wa Ta’aalaa :

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ (70)

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (QS. Yasin : 69-70).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: