PEMBACA DAN PENGAMAL AL QUR’AN AKAN MEMAKAIKAN MAHKOTA KEPADA KEDUA ORANG TUANYA

May 15, 2015 at 11:52 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

PEMBACA DAN PENGAMAL AL QUR’AN AKAN MEMAKAIKAN MAHKOTA KEPADA KEDUA ORANG TUANYA

 

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟

Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, lalu mengamalkan isinya, niscaya ia akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat, yang cahayanya lebih bagus dari cahaya matahari di dunia, yang menyinari rumah kalian. Maka bagaimana pendapat kalian terhadap orang yang mengamalkan hal tersebut?.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1453 –pen. Maktabah al-‘Ishriyyah), dan Imam Abu Ya’laa dalam al-Musnad (no. 1493 –pen. Daarul Ma’muun liturots, cet. Ke-1 1404 H) semuanya dari jalan :

ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ زَبَّانِ بْنِ فَائِدٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Ibnu Wahab, akhbaroni Yahya bin Ayyub, dari Zabbaan bin Faaid, dari Sahl bin Mu’adz al-Juhni, dari bapaknya –Mu’adz bin Anas- rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al Hadits”.

Kedudukan sanad :

Abdullah bin Wahhab dan Yahya bin Ayyub adalah aimah hadits yang masyhur. Zabbaan ini dinilai oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib : “ضعيف الحديث مع صلاحه و عبادته” (dhoif haditsnya, bersama kebaikan dan ibadahnya). Sedangkan Sahl bin Mu’adz, Al Hafidz berkomentar tentangnya : “لا بأس به إلا فى روايات زبان عنه” (Tidak mengapa, kecuali riwayatnya Zabban darinya).

Berdasarkan kondisi perowi dalam sanad hadits diatas, maka hadits tersebut dhoif, didhoifkan oleh Imam Al Albani, asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud, asy-Syaikh Husain Saliim Asad dalam Ta’liq Musnad Abu Ya’laa, dan para ulama lainnya.

Namun hadits ini memiliki syawahid dari jalan lain, yaitu :

  1. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu secara marfu’, diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath (no. 5764 –pen. Daarul Haroimain) dari jalan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ قَالَ: نا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْحِمَّانِيُّ قَالَ: نا شَرِيكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، يَقُولُ لِصَاحِبِهِ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ أَنَا الَّذِي كُنْتُ أُسْهِرُ لَيْلَكَ، وَأُظْمِئُ هَوَاجِرَكَ، وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَأَنَا لَكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تَاجِرٍ، فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ، وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَانِ، لَا يَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، فَيَقُولَانِ: يَا رَبُّ، أَنَّى لَنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ لَهُمَا: بِتَعْلِيمِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ يُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: اقْرَأْ، وَارْقَ فِي الدَّرَجَاتِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ مَعَكَ

Haddatsanaa Muhammad bin Abdullah al-Hadromiy ia berkata, akhbaronaa Yahya bin Abdul Hamiid al-Himmaaniy ia berkata, akhbaronaa Syariik, dari Abdullah bin Isa, dari Yahya bin Abi Katsiir, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al Qur’an didatangkan pada hari kiamat seperti orang yang bermuka pucat, ia berkata kepada pembacanya : ‘apakah engkau mengenalku?, akulah yang sering engkau bergadang karenanya, dan membuatmu haus pada siang harimu, sesungguhnya setiap pedagang berada dibelakang barang dagangannya, dan engkau berada dibelakangku sebagaimana seorang pedagang, lalu diberikan kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya, kemudian diletakkan diatas kepada mahkota yang kokoh, lalu kedua orang tuanya diberikan perhiasan yang tidak ada bandingannya dengan dunia dan seisinya, kedua orang tua tersebut berkata : “wahai Rabb, apa ini?”, maka dijawab : “karena belajar Qur’annya anak kalian”. Sesungguhnya pemilik hapalan Al Qur’an dikatakan kepadanya pada hari kiamat : “bacalah, dan naiklah derajatmu, serta tartilkan, sebagaimana engkau tartilkannnya sewaktu di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau hapal”.

Kedudukan sanad :

Yahya bin Abdul Hamiid dikatakan oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib : “حافظ إلا أنهم اتهموه بسرقة الحديث” (hafidz, namun dituduh mencuri hadits), kemudian Syariik bin Abdullah al-Qodhiy, berubah hapalannya setelah menjabat hakim. Dikhawatirkan ini adalah pencurian yang dilakukan oleh Al Hafidz Yahya bin Abdul Hamiid, disamping kelemahan yang ada pada Syariik. Sehingga sanad hadits ini lemah. Namun Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 2829) mengatakan bahwa Yahya bin Abdul Hamiid dimutaba’ahi oleh Yahya bin Haruun, sehingga kelemahan tersisa pada diri Syariik yang jelek hapalannya.

 

  1. Buraidah ibnul Hushoib al-Aslamiy Rodhiyallahu ‘anhu hampir sama lafadznya dengan hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 22950 –pen. Muasasah ar-Risalah, cet. Ke-1 1421 H), Imam ad-Darimi dalam Sunannya (no. 3434 –pen. Daarul Mughni, cet. Ke-1 1421 H), Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 1835 –pen. Maktabah ar-Rusydi, cet. Ke-1 1423 H), Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf (no. 30095 –pen. Maktabah ar-Rusydi, cet. Ke-1 1409 H) semuanya dari jalan :

حَدَّثَنَا بَشِيرُ بْنُ الْمُهَاجِرِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ

Haddatsanaa Basyiir ibnul Muhaajir, haddatsani Abdullah bin Buraidah dari Bapaknya –Buraidah- Rodhiyallahu ‘anhu dst.

Kedudukan sanad :

Abdullah bin Buraidah, seorang perowi tsiqoh, dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim. Sedangkan Basyiir ibnul Muhaajir, maka terjadi perbedaan ulama dalam menilainya :

  • Yang memberikan penilaian positif, yaitu yang mentsiqohkan beliau diantaranya : Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam al-‘Ijli, serta Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab ats-Tsiqoot.
  • Yang memberikan penilian negative : Imam al-‘Uqoiliy mengatakan bahwa ia murji, tertuduh berdusta; Imam Ahmad dan Imam as-Saaji, menilainya sebagai mungkarul hadits; Imam Bukhori menilainya, diselisihi sebagian hadits-haditsnya.
  • Yang memberikan penilaian pertengahan, diantara : Imam Abu Hatim dan Imam Ibnu Adiy yang mengatakan ditulis haditsnya. Al Hafidz ibnu Hajar lebih condong kepada pendapat ini, sehingga beliau menilainya : “صدوق لين الحديث رمى بالإرجاء” (jujur, lunak haditsnya, tertuduh murjiah).

Sebagian ulama menghasankan hadits diatas, karena Basyiir bin al-Muhaajir dikuatkan haditsnya oleh riwayat pertama yang telah kami sebutkan diatas. Diantara mereka adalah Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 2829), asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, dan asy-Syaikh Husain bin Salim Asad dalam Ta’liq Sunan Darimi.

Kesimpulannya hadits yang hasan adalah dengan lafadz yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dan Buraidah Rodhiyallahu ‘anhu.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: