KEUTAMAAN PUASA BULAN SYA’BAN

May 24, 2015 at 11:20 pm | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

KEUTAMAAN PUASA BULAN SYA’BAN

 

Karena posisi bulan Sya’ban yang terjepit antara Rajab dan Romadhon, maka kebanyakan orang tidak memperhatikan untuk berpuasa pada bulan ini. Mereka beranggapan sebentar lagi masuk bulan Romadhon, dimana diwajibkan berpuasa pada bulan tersebut, sehingga dianggap berat kalau berpuasa pada bulan ini, atau mereka belum mengetahui keutamaan berpuasa pada bulan ini, sehingga tidak perhatian untuk berpuasa padanya. Namun berbeda dengan kebanyakan umatnya, Nabi sholallahu alaihi wa salam banyak berpuasa pada bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan-bulan lain, selain Romadhon. Atas hal ini maka salah seorang sahabat yang merupakan kesayangan Nabi sholallahu alaihi wa salam yang merupakan anak dari bekas anak Beliau pada masa sebelum Nabi sholallahu alaihi wa salam diutus menjadi Nabi, yaitu Zaid bin Haritsah rodhiyallahu anhu, yang memiliki anak yang bernama Usamah bin Zaid rodhiyallahu anhumaa. Usamah sempat bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam perihal banyaknya Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan puasa pada bulan ini, tanya beliau :

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: «ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa  (hampir sebulan penuh –pent.) pada bulan-bulan lain, selain bulan Sya’ban?

Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, yaitu karena terletak diantara Rojab dan Romadhon. Pada bulan ini seluruh amalan dilaporkan kepada Rabb semesta alam, maka aku senang jika amalku diangkat kepada-Nya dalam keadaan berpuasa”.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. 2357 –pen. Maktabah al-Mathbu’ah Islamiyyah), Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 21753 –pen. Ar Risalah), dan selainnya dari jalan (lafadznya Sunan Nasa’i –pent.) :

حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ، شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ:

Haddatsanaa Tsaabit bin Qois Abul Ghusn –syaikh dari Madinah – ia berkata, haddatsani Abu Sa’id al-Maqbariy ia berkata, haddatsani Usaamah bin Zaid ia berkata : “aku bertanya : …”.

Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad” berkata tentang sanad hadits ini :

إسناده حسن، ثابت بن قيس أبو غصن صدوق حسن الحديث، وباقي رجاله ثقات رجال الشيخين. أبو سعيد المقبري: اسمه كَيْسان.

Sanadnya Hasan, Tsaabit bin Qois Abu Gushn, shoduq hasan haditsnya, sisa perowinya adalah para perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim. Abu Sa’id al-Maqbariy namanya adalah Kaisaan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam dalam Dakhirotul Uqbaa (21/268) menyebutkan tentang pemahaman hadits ini dengan hadits lainnya, beliau menukil :

قال الشيخ وليّ الدين -رحمه اللَّه تعالى-: إن قلت: ما معنى هذا مع ما ثبت في “الصحيحين” أن اللَّه تعالى يُرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار، وعمل النهار قبل عمل الليل”؟.

قلت: يحتمل أمرين:

(أحدهما): أن أعمال العباد تُعرض على اللَّه تعالى كلّ يوم، ثم تعرض عليه أعمال الجمعة في كلّ اثنين وخميس، ثم تعرض عليه أعمال السنة في شعبان، فتعرض عرضًا بعد عرض، ولكلّ عرض حكمة يُطْلِع عليها من يشاء من خلقه، أو يستأثر بها عنده مع أنه تعالى لا يخفى عليه من أعمالهم خافية ..

(ثانيهما): أن المراد أنها تُعرض في اليوم تفصيلاً، ثم في الجمعة جملة، أو بالعكس انتهى

Asy-Syaikh Waliyyuddiin berkata : ‘jika engkau bertanya, apa makna hadits ini dengan yang telah tsabit dalam shahihain bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dilaporkan kepada perbuatan hamba pada malam hari sebelum siang, dan perbuatan hamba pada siang hari, sebelum malam?’.

Jawabannya adalah : ‘(yang pertama) seluruh perbuatan hamba dilaporkan kepada Allah setiap hari, lalu dilaporkan per minggunya pada hari Senin dan Kami, lalu dilaporkan per tahunnya pada bulan Sya’ban, maka dilaporkan secara berkala, setiap laporan ada hikmahnya tersendiri bagi makhluk yang dikehendaki-Nya atau ada pengaruhnya hal tersebut disisi-Nya, sekalipun Allah Subhanahu Wa Ta’ala maha mengetahui tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Yang kedua, bahwa yang dimaksud adalah laporan secara terperinci setiap harinya dan secara global pada tiap minggunya, atau kebalikannya –selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: