HADITS YANG SANGAT LEMAH TIDAK BOLEH DIGUNAKAN SECARA MUTLAK

June 2, 2015 at 12:57 am | Posted in Hadits | Leave a comment
Tags: ,

 

HADITS YANG SANGAT LEMAH TIDAK BOLEH DIGUNAKAN SECARA MUTLAK

 

Para ulama membagi hadits dari sisi diterima atau tidaknya menjadi 3 jenis, yaitu Shahih, Hasan dan Dhoif. Hadits shahih adalah hadits yang memenuhi 5 syarat ini yaitu : bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh perowi yang adil, diriwayatkan oleh perowi yang dhobit (hapalannya) kuat, tidak syadz (menyelisihi hadits yang lebih kuat), dan tidak ada illat (cacat) yang tersembunyi. Kemudian hadits hasan adalah hadits yang memenuhi kriteria hadits shahih, hanya saja ke-dhobit-an perowinya dibawah perowi hadits shahih. Sedangkan hadits dhoif adalah hadits yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria hadits shahih.

Kemudian hadits dhoif ini tidak dalam satu tingkatan, kalau boleh kita katakan bahwa hadits dhoif memiliki tingkatan sebagai berikut :

  1. Dhoif ringan, yakni hadits dhoif yang dapat menguatkan/dikuatkan dengan hadits yang sejenisnya, sehingga naik menjadi hasan lighoirihi. Biasanya perowi hadits ini dikatakan Layyin, atau Al Hafidz Ibnu Hajar memiliki peristilahan khusus dalam kitanya Taqribut Tahdzib dengan memberi penilaian Maqbul untuk perowi jenis ini.
  2. Dhoif pertengahan, yakni biasanya perowi haditsnya dikatakan dhoif, atau marduud dan semisalnya.
  3. Dhoif yang syadiid/parah, yakni biasanya terdapat perowi yang matruk atau tertuduh berdusta dan yang semisalnya.
  4. Hadits palsu, yakni hadits yang dibuat oleh pendusta yang memalsukan hadits atas nama Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Terkait dengan pembahasan judul artikel diatas, maka kami perlu sampaikan kesepakatan-kesepakatan terkait hal tersebut :

  1. Berkata al-‘Alamah al-Muhaddits DR. Abdur Rokhman al-Bir :

أجمع العلماء على أنه لا يجوز الاحتجاجُ بالحديث الضعيف في مسائل العقيدة التي تتصل بأسماء الله وصفاته وما يجب له وما يجوز في حقه وما يستحيل عليه، إلى غير ذلك من مسائل العقيدة في أصولها وفروعها.

Para ulama telah sepekat bahwa tidak boleh berhujjah dengan hadits dhoif dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan masalah Asma dan Shifat Allah, apa yang wajib, apa yang tidak boleh, apa yang mustahil terkait dengan hak Allag Subhanahu wa Ta’alaa, dan semisalnya dari permasalahan-permasalahan aqidah didalam pokok dan cabangnya. (http://www.3refe.com/vb/showthread.php?t=167043)

  1. Berkata Fadhilatus Syaikh DR. Mahmud ath-Thohaan dalam Taisir Mustholah Hadits :

أجمع العلماء على أنه لا تحل ورايته لأحد عَلِمَ حالَهُ في أي معنى كان إلا مع بيان وضعه

Para ulama telah bersepakat tidak halal bagi seseorang meriwayatkan hadits palsu bagi yang mengetahui kondisinya untuk kegunaan apapun (termasuk didalamnya fadhoilul amal –pent.), kecuali bersama penjelasan tentang kepalsuannya. (http://vb.kuwait25.com/archive/index.php/t-291459.html)

  1. Para ulama telah sepakat hadits dhoif yang parah/syadid ke-dhoif-annya tidak boleh juga diamalkan. Imam Sakhowi dalam al-Qoulul Badii’ (hal. 255 –pen. Daarur Royyan) berkata :

وقد سمعت شيخنا مراداً يقول وكتبه لي بخطه أن شرائط العمل بالضعيف ثلاثة، الأول متفق عليه أن يكون الضعف غير شديد فيخرج من أنفرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه

Saya mendengar guru kami (Al Hafidz Ibnu Hajar –pent.) berkata dan menuliskan sebuah surat kepadaku bahwa syarat beramal dengan hadits dhoif ada 3, yaitu : yang pertama, telah disepakati bahwa hadits dhoif tersebut bukan hadits yang parah kelemahannya, sehingga keluar dari cakupan ini hadits yang didalamnya terdapat perowi pendusta, yang tertuduh berdusta dan yang parah kekeliruannya, … –selesai-.

Imam Suyuthi dalam Tadribur Rowi (1/298 –pen. Maktabah ar-Riyaadh) berkata yang senada :

وهو كونه في الفضائل ونحوها وذكر شيخ الإسلام له ثلاثة شروط أحدها أن يكون الضعف غير شديد فيخرج من انفرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه نقل العلائي الاتفاق عليه

Yakni terkait penggunaan hadits lemah dalam fadhoil dan semisalnya, telah disebutkan oleh Syaikhul Islam (Ibnu Hajar) bahwa ia memiliki 3 syarat, yang pertama dhoifnya tidak parah, sehingga keluar dari cakupan ini hadits yang didalamnya terdapat perowi pendusta, yang tertuduh berdusta dan yang parah kekeliruannya, dinukil oleh Imam al-‘Alaa’i kesepakatan ulama terkait hal ini –selesai-.

Sehingga berdasarkan pemaparan tersebut tidak benar untuk beramal dengan hadits dhoif secara mutlak dalam fadhoil amal, namun harus dipilah-pilah dulu derajat kelemahannya, apakah ringan, pertengahan, parah bahkan palsu. Oleh sebab itu persyaratan ini sangat sulit dipenuhi, dan kenyataannya di lapangan akhirnya dilanggar sendiri oleh orang menyatakan bolehnya beramal dengan hadits lemah dalam fadhoilul amal. Imam Al Albani telah menginformasikan kepada kita terkait pelanggaran ini dalam kitabnya Tamaamul Minnah (hal. 36 –pen. Daarur Royaah) :

ومن المؤسف أن نرى كثيرا من العلماء فضلا عن العامة متساهلين بهذه الشروط فهم يعملون بالحديث دون أن يعرفوا صحته من ضعفه وإذا عرفوا ضعفه لم يعرفوا مقداره وهل هو يسير أو شديد يمنع العمل به. ثم هم يشهرون العمل به كما لو كان حديثا صحيحا ولذلك كثرت العبادات التي لا تصح بين المسلمين وصرفتهم عن العبادات الصحيحة التي وردت بالأسانيد.

Yang sangat disayangkan bahwa kami melihat kebanyakan ulama terlebih lagi orang umumnya sangat bermudah-mudahan dengan syarat ini, maka mereka beramal dengan hadits yang mereka tidak mengetahui kesahihan dari kedhoifannya, dan jika mereka mengetahui kelemahannya, mereka tidak bisa membedakan kadar kelemahannya, apakah ia ringan, atau parah yang melarang beramal darinya. Lalu mereka memasyhurkan beramal dengannya sebagaimana perlakuan yang sama terhadap hadits shahih. Oleh karena itu banyak ibadah yang tidak valid yang tersebar dikalangan kaum Muslimin, dan mereka malah berpaling dari ibadah yang shahih haditsnya –selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: