KAPAN WAKTU MUSTAJABNYA DOA PADA HARI JUM’AT

June 2, 2015 at 3:04 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KAPAN WAKTU MUSTAJABNYA DOA PADA HARI JUM’AT

 

Telah tsabit dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau sholallahu alaihi wa salam memberitahukan kepada kita semua ada satu waktu pada hari Jum’at, dimana orang yang berdoa pada waktu tersebut akan dikabulkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, dimana beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: «فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyebutkan tentang hari Jum’at, lalu Beliau bersabda : “didalamnya ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menjumpainya –dalam keadaan berdiri untuk sholat-, lalu ia memohon kepada Allah tentang apapun, kecuali Allah akan memberikannya”. Nabi sholallahu alaihi wa salam mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan pendeknya waktu tersebut.

Kemudian para ulama kita dengan penuh semangat mencari kapan tepatnya waktu tersebut. Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyebutkan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (1/376 –pen. Muasasah ar-Risaalah) ada 11 pendapat tentang kapan waktu tersebut :

  1. Dari terbitnya fajar sampai terbitnya matahari dan setelah sholat Ashar sampai tenggelamnya Matahari;
  2. Ketika tergelincirnya Matahari (pada siang hari);
  3. Ketika muadzin adzan pada sholat Jum’at;
  4. Ketika Imam duduk diatas mimbar berkhutbah sampai selesai;
  5. Waktu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala pilih waktunya untuk sholat (waktu-waktu masuknya sholat);
  6. Diantara zawal (tergelincirnya) Matahari sampai masuk Sholat Jum’at;
  7. Diantara beranjak Matahari yang bayangannya seukuran satu jengkal, sampai satu hasta;
  8. Antara Ashar sampai terbenamnya Matahari;
  9. Waktu terakhir setelah Ashar;
  10. Dari keluarnya Imam sholat sampai selesai sholat Jum’at;
  11. Waktu ketiga pada siang hari.

Kemudian Syaikhul Islam memilih 2 dari 11 pendapat diatas, karena ada hadits yang menyinggungnya, yaitu :

A. Dari duduknya Imam diatas mimbar sampai selesai sholat Jum’at. Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abu Burdah bin Abi Musa Al Asy’ariy beliau berkata :

قَالَ لِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ»

Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu berkata kepadaku : ‘apakah engkau mendengar bapakmu menceritakan hadits dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tentang waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at?, aku berkata : ‘iya’, aku mendengar Beliau berkata : aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “waktu tersebut adalah antara Imam duduk, sampai selesai sholat”.

Hadits riwayat Muslim diatas diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Wahab, dari Mukhromah bin Bukair dari Bapaknya dari Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ariy.

Namun para ulama mengkritik hadits ini, Imam Al Albani dalam Dhoif Abu Dawud (1/397-410 –pen. Muasasah Ghiros li Nasyr wat Tauzii’, Kuwait) menjelaskan kritikan Al Hafidz Ibnu Hajar terhadap hadits ini, yaitu ada 2 :

  1. Terputus sanadnya antara Mukhromah dengan Bapaknya, karena berdasarkan pengakuan Mukhromah sendiri, beliau tidak mendengar dari bapaknya. Namun Imam Al Albani tidak sependapat dengan pen-cacat-an ini, karena Mukhromah mendapatkan kitab Bapaknya secara Wijadatan (nemu).
  2. Yang rajih hadits ini mauquf kepada Abu Burdah (mungkin lebih tepatnya Maqtu’), sebagaimana dirajihkan oleh Imam Daruquthni dalam al-Illal, alasannya adalah perowi selainnya yaitu Abu Ishaq, Waashil Al Ahdab, Mu’awiyyah bin Qurroh dan selainnya meriwayatkan dari Abu Burdah secara maqtu’(hanya Perkataan Abu Burdah), dan ketiga perowi tersebut adalah penduduk Kufah, senegeri dengan Abu Burdah juga, sehingga riwayatnya lebih arjah dibanding selainnya.

Imam Al Albani menambahkan kecacatan hadits ini, disamping cacat mauquf juga hadits ini bertentangan dengan hadits shahih berikut ini.

 

B. Waktunya setelah Ashar, dalilnya adalah riwayat Abu Huroiroh dan Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad shahih lighoirihi, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرً إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ

Sesungguhnya pada hari Jum’at ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menjumpainya lalu ia memohon kepada Allah tentang apapun, kecuali Allah akan memberikannya, yaitu setelah Ashar.

Lalu Syaikh Syu’aib menyebutkan syawahid dari Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu beliau berkata bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Hari Jum’at ada 12 waktu, yang tidaklah seorang Muslim menjumpainya lalu ia memohon kepada Allah tentang apapun, kecuali Allah akan memberikannya. Carilah pada akhir waktu setelah Ashar (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Kemudian dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

التَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الجُمُعَةِ بَعْدَ العَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ

Carilah waktu yang diharapkan pada hari Jum’at, yaitu setelah Ashar sampai terbenamnya Matahari (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Kemudian Abu Salamah bin Abdur Rokhman berkata :

أن أناساً من الصحابة اجتمعوا، فتذاكروا ساعة الجمعة، ثم افترقوا، فلم يختلفوا أنها آخر ساعة من يوم الجمعة

Para sahabat berkumpul, lalu mereka saling mudzakaroh terkait waktu Jum’at, kemudian mereka berpisah, dan mereka tidak berselisih pendapat bahwa waktu itu adalah akhir waktu pada hari Jum’at (HR. Sa’id bin Manshur, dishahihkan sanadnya oleh Al Hafidz Ibnu Hajar).

Pendapat kedua inilah yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. Syaikh Syu’aib Arnauth menukil ucapan Al Hafidz Ibnu Hajr dalam  :

ورجحه كثير من الأثمة أيضاً كأحمد وإسحاق، ومن المالكية الطرطوشي، وحكى العلائي أن شيخه ابن الزملكاني شيخ الشافعية في وقته كان يختاره ويحكيه عن نصِّ الشافعي.

Dirajihkan oleh kebanyakan Aimah, seperti Ahmad, Ishaq, dari kalangan Malikiyyah ada at-Thurthuusiy, al-‘Alaa’i menukil bahwa gurunya Ibnu Zamlakaaniy –masyaikh Syafi’iyyah pada waktu itu- memilih pendapat ini, dan menukilkan bahwa ini adalah pendapatnya Imam Syafi’i –selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: