MENIKAHI WANITA YANG HAMIL AKIBAT ZINA

June 12, 2015 at 3:56 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

M.B.A

 

Judul diatas bukan sebuah gelar akedemik yang prestisius, namun ini adalah fenomena yang banyak terjadi di masyarakat kita, yaitu married by accident (menikah karena kecelakaan). Apa karena kecelakaan lalu lintas?, bukan itu yang dimaksud, namun kecelakaan karena perzinaan yang dilakukannya. Setelah mereka mabuk kepayang dilanda cinta terlarang, bingunglah pasangan kekasih ini, ketika mengetahui cewek pelampiasan nafsunya, ternyata sudah berbadan besar. Sebagian laki-laki ada yang pengecut, sehingga segera lari dari tanggung jawab, dan sebagiannya lagi berani bertanggung jawab untuk menutupi aib keluarga sang perempuan. Maka kontan saja orang tua si wanita marah bercampur malu, ketika menghadapi kenyataan ini, sehingga memaksa laki-laki yang menggagahi putrinya untuk bertanggung jawab menikahinya.

Dalam pembahasan kali ini, saya mencoba menukil penjelasan ulama tentang hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (20/379-380 –pen. Daarul Wafaa’) :

وَكَذَلِكَ نِكَاحُ الْحَامِلِ أَوْ الْمُعْتَدَّةِ مِنْ الزِّنَا بَاطِلٌ فِي مَذْهَبِ مَالِكٍ وَهُوَ أَشْبَهُ بِالْآثَارِ وَالْقِيَاسِ لِئَلَّا يَخْتَلِطَ الْمَاءُ الْحَلَالُ بِالْحَرَامِ . وَقَدْ خَالَفَهُ أَبُو حَنِيفَةَ فَجَوَّزَ الْعَقْدَ دُونَ الْوَطْءِ وَالشَّافِعِيُّ جَوَّزَهُمَا . وَأَحْمَد وَافَقَهُ وَزَادَ عَلَيْهِ ؛ فَلَمْ يُجَوِّزْ نِكَاحَ الزَّانِيَةِ حَتَّى تَتُوبَ لِدَلَالَةِ الْقُرْآنِ وَالْأَحَادِيثِ عَلَى تَحْرِيمِ نِكَاحِ الزَّانِيَةِ .

Demikian juga menikahi orang yang hamil atau pelacur adalah batil menurut madzhabnya Malik, dan ini semisal dengan atsar dan qiyas yang mengatakan agar tidak bercampur air yang halal dengan yang haram. Abu Hanifah telah menyelisihi pendapat ini, dengan mengatakan bolehnya pernikahan tersebut, tapi tidak boleh disetubuhi (setelah menikah, sampai lahir anaknya terlebih dahulu –pent.), sedangkan Syafi’I membolehkan menyetubuhinya (setelah menikahinya –pent.). Ahmad juga menyepakatinya dan memberikan tambahan, tidak boleh menikahi pezina, sampai ia bertaubat, sebagaimana ditunjukkan oleh Al Qur’an dan hadits atas diharamkannya menikahi pezina –selesai-.

Asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih dalam Fatwanya (no. 50045) berkata :

فقد اختلف الفقهاء رحمهم الله في نكاح من زنى بامرأة وحملت منه فقال المالكية والحنابلة وأبو يوسف من الحنفية : لا يجوز نكاحها قبل وضع الحمل، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : لا توطأ حامل حتى تضع . رواه أبو داود والحاكم وصححه، ولما روي عن سعيد بن المسيب : أن رجلا تزوج امرأة، فلما أصابها وجدها حبلى، فرفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم، ففرق بينهما . وذهب الشافعية والحنفية: إلى أنه يجوز نكاح الحامل من الزنى لأنه لا حرمة لماء السفاح بدليل أنه لا يثبت به النسب، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : الولد للفراش وللعاهر الحجر . أخرجه البخاري ومسلم .

وإذا تزوجها غير من زنى بها، فلا يحل له وطؤها حتى تضع، عند الحنفية كما في الدر المختار للحصكفي لحديث : لا توطأ حامل حتى تضع . ولقول النبي صلى الله عليه وسلم : لا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقي ماءه زرع غيره . رواه أبو داود .

وأما الشافعية فذهبوا إلى جواز الوطء بالنكاح كما في فتوحات الوهاب لسليمان الجمل .

وإذا تزوجها من زنى بها، فله وطؤها، ولكن الولد الأول لا يلحق بهذا الرجل على واحد من القولين، فلا علاقة بينه وبين الزاني البته، فلا يتوارثان ولا ينسب إليه.

والله أعلم.

Para fuqoha telah berselisih pendapat tentang pernikahan orang yang menzinahi wanita, hingga hamil. Malikiyyah, Hanabilah dan Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyyah mengatakan : ‘tidak boleh menikahinya, sampai ia melahirkan’. Berdasarkan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “ tidak boleh berjima dengan wanita hamil, hingga ia melahirkan” (HR. Abu Dawud dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim). Dan apa yang diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyib : “bahwa seorang menikahi perempuan, ketika hendak berhubungan badan, ia mendapati ternyata wanita tersebut dalam keadaan hamil, lalu hal ini diadukan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, kemudian Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam memisahkan mereka berdua”.

Syafi’iyyah dan Hanafiyyah berpendapat bolehnya menikahi wanita yang hamil karena zina, karena tidak ada penghormatan untuk benih yang hina (hasil zina), berdasarkan hadits bahwa anak zina tidak dinisbatkan kepada laki-laki yang menzinahinya, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “anak adalah bagi yang meniduri (ibunya) dan anak zina untuk batu”. (muttafaqun ‘alaih).

Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang bukan menzinahinya, maka tidak boleh berjima dengannya, sampai ia melahirkan dulu, menurut Hanafiyyah sebagaimana dikatakan al-Haskafiy dalam “Durul Mukhtaar”, berdasarkan hadits : “tidak boleh disetubuhi wanita hamil, sampai ia melahirkan”, dan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan air diladang milik orang lain” (HR. Abu Dawud).

Adapun Syafiyyah berpendapat bahwa ia boleh bersetubuh dengannya (setelah dinikahi), sebagaimana disebutkan oleh Sulaimaan al-Jamal dalam Futuuhaatul Wahhaab.

Jika yang menikahi adalah orang menzinahinya, maka ia boleh bersetubuh, namun anak dari wanita yang dihamilinya tidak dinasabkan kepada laki-laki tadi, menurut salah satu pendapat, sehingga tidak ada hubungan antara laki-laki pezina dengan wanita pezina, tidak mewarisi dan tidak dinasabkan kepadanya. Wallahu A’lam –selesai-.

Kemudian karena mayoritas penduduk Negara kita menganut madzhab Syafi’I maka saya ingin menambahkan penjelasan asy-Syaikh Abdullah al-Faqiih yang telah menukil pendapat Syafi’iyyah tentang bolehnya menikahi wanita hamil akibat zina (inilah wanita yang memiliki gelar MBA –pent.). saya akan menyebutkan perkataan asy-Syairoziy (w. 476 H) dalam kitabnya al-Muhadzdzab –ini adalah kitab yang disyarah oleh Imam Nawawi yang beliau beri judul al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab- (juz 2 hal. 445 –pen. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah) :

ويجوز نكاح الحامل من الزنا لأن حملها لا يلحق بأحد فكان وجوده كعدمه

Boleh untuk menikahi wanita yang hamil karena zina, dikarenakan kehamilannya tidak dinasabkan kepada seorang pun, sehingga keadaanya dianggap seperti tidak ada.

Pendapat bolehnya menikahi wanita zina dirajihkan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Faqiih sebagaimana beliau tegaskan dalam Fatwanya (no. 72365) :

فنكاح الحامل من الزنا محل خلاف بين العلماء سبق ذكره في الفتوى رقم : 50045 ، والذي نرجحه هو مذهب الحنفية والشافعية لأنه لا حرمة لماء السفاح بدليل أنه لا يثبت به النسب ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : الولد للفراش وللعاهر الحجر . أخرجه البخاري ومسلم

Maka menikahi wanita yang hamil karena zina adalah masalah yang diperselisihkan dikalangan ulama sebagaimana telah kami sebutkan dalam fatwa no. 50045. Dan yang kami rajihkan adalah pendapatnya Syafi’iyyah dan Hanafiyyah, karena tidak ada penghormatan untuk benih yang hina (dari hasil zina), berdasarkan hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam: “anak adalah bagi yang meniduri (ibunya) dan anak zina untuk batu”. (muttafaqun ‘alaih).

Kelihatannya negara juga mengakui pendapat dari Syafi’iyyah ini terkait pernikahan wanita hamil akibat zina, dalam kompilasi hukum islam (KHI) dikatakan :

 Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”), yaitu seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Lihat lebih lengkap di http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt512b54117aa15/keabsahan-perkawinan-saat-istri-hamil-di-luar-nikah

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: