WANITA HAIDH TETAP BERHAJI

June 12, 2015 at 3:57 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابٌ: تَقْضِي الحَائِضُ المَنَاسِكَ كُلَّهَا إِلَّا الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ

Bab 7 Wanita Haidh Melaksanakan Manasik Haji Semuanya, Kecuali Thowaf di Baitullah

 

Penjelasan Bab :

Yakni penjelasan hukum bahwa seorang wanita yang sedang mengalami haidh pada saat haji, tetap melaksanakan urutan manasik haji semuanya, kecuali thowaf di Baitullah, dan amalan-amalan lain yang dipersyaratkan kesucian padanya, seperti sholat. Asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih dalam Fatwanya (no. 22153) pernah berkata :

واعلم أنه لا يشترط لشيء من أفعال الحج الطهارة إلا الطواف بالبيت

Ketahuilah bahwa tidak disyariatkan kesucian dalam pelaksanaan ibadah haji, kecuali thowaf di Baitulllah.

Imam Bukhori berkata :

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: «لاَ بَأْسَ أَنْ تَقْرَأَ الآيَةَ»، وَلَمْ يَرَ ابْنُ عَبَّاسٍ «بِالقِرَاءَةِ لِلْجُنُبِ بَأْسًا» وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ ” وَقَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ: «كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ يَخْرُجَ الحُيَّضُ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ» وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو سُفْيَانَ، أَنَّ هِرَقْلَ دَعَا بِكِتَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَرَأَ فَإِذَا فِيهِ: ” بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَ {يَا أَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ} [آل عمران: 64] ” الآيَةَ وَقَالَ عَطَاءٌ: عَنْ جَابِرٍ، حَاضَتْ عَائِشَةُ فَنَسَكَتْ المَنَاسِكَ غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصَلِّي وَقَالَ الحَكَمُ: ” إِنِّي لَأَذْبَحُ وَأَنَا جُنُبٌ، وَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ} [الأنعام: 121]

Ibrohim berkata : ‘tidak mengapa (wanita haidh) membaca Al Qur’an”. Ibnu Abbas menganggap tidak masalah bagi wanita junub membaca Al Qur’an”. Nabi sholallahu alaihi wa salam senantiasa berzikir kepada Allah dalam semua kondisinya. Ummu ‘Athiyyah berkata : “kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita haidh, lalu mereka bertakbir mengikuti takbir mereka dan ikut berdoa bersama mereka”. Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata, akhbaroni Abu Sufyaan bahwa Hiroql meminta surat Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu membacanya dan didalamnya terdapat : “Bismillahir Rokhmanir Rokhiim {Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)} (QS. Ali Imroon : 64)”. ‘Athoo’ berkata, dari Jaabir : “Aisyah rodhiyallahu anha haidh, lalu beliau melaksanakan manasik haji, selain thowaf di Baitullah dan sholat”. Al-Hakam berkata : “saya menyembelih, dalam keadaan junub”. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : {Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya} (QS. Al An’aam : 121).

Penjelasan :

Atsar Ibrohim ini, diriwayatkan dengan sanad bersambung, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (1/408) :

وَأَوْرَدَ الْمُصَنِّفُ أَثَرَ إِبْرَاهِيم وَهُوَ النَّخعِيّ إشعارا بِأَنَّ مَنْعَ الْحَائِضِ مِنَ الْقِرَاءَةِ لَيْسَ مُجْمَعًا عَلَيْهِ وَقَدْ وَصَلَهُ الدَّارِمِيُّ وَغَيْرُهُ بِلَفْظِ أَرْبَعَةٌ لَا يقرؤون الْقُرْآنَ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ وَعِنْدَ الْخَلَاءِ وَفِي الْحَمَّامِ إِلَّا الْآيَةَ وَنَحْوَهَا لِلْجُنُبِ وَالْحَائِضِ وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ نَحْوُ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ وَرُوِيَ عَنْهُ الْجَوَازُ مُطْلَقًا وَرُوِيَ عَنْهُ الْجَوَازُ لِلْحَائِضِ دُونَ الْجُنُبِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّهُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي الْقَدِيمِ

Imam Bukhori menginginkan dari atsar Ibrohim –yakni an-Nakho’i – sebagai isyarat terlarangnya wanita haidh membaca Al Qur’an bukan perkara yang disepakati atasnya, Imam Darimi dan selainnya telah menyambungkan atsar ini dengan 4 lafadz yaitu tidak boleh orang yang junub, wanita haidh, orang sedang buang hajat, dan orang yang masuk kamar mandi membaca Al Qur’an, kecuali satu dua ayat. Diriwayatkan dari Imam Malik semisal ucapan Ibrohim, yang mana menurut beliau boleh secara mutlak bagi wanita haidh, namun tidak bagi orang yang junub. Dikatakan juga ini adalah pendapat Imam Syafi’i yang terdahulu.

Adapun atsar Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, dikatakan oleh Al Hafidz masih dalam kitab dan halaman yang sama :

ثمَّ أورد أثر بن عَبَّاس وَقد وَصله بن الْمُنْذر بِلَفْظ إِن بن عَبَّاس كَانَ يَقْرَأُ وِرْدَهُ وَهُوَ جُنُبٌ

Lalu Imam Bukhori mendatangkan atsar Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu yang disambungkan sanadnya oleh Ibnul Mundzir dengan lafadz : “sesungguhnya Ibnu Abbas membaca wirid dalam kondisi junub”.

Adapun hadits Ummu ‘Athiyyah rodhiyallahu anha, kata Al Hafidz :

وَأَمَّا حَدِيثُ أُمِّ عَطِيَّةَ فَوَصَلَهُ الْمُؤَلِّفُ فِي الْعِيدَيْنِ وَقَوْلُهُ فِيهِ وَيَدْعُونَ كَذَا لِأَكْثَرِ الرُّوَاةِ وَلِلْكُشْمِيهَنِيِّ يَدْعِينَ بِيَاءٍ تَحْتَانِيَّةٍ بَدَلَ الْوَاوِ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ مِنْهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ التِّلَاوَةِ وَغَيْرِهَا

Adapun hadits Ummu ‘Athiyyah, telah disambungkan oleh Imam Bukhori dalam pembahasan 2 hari raya, dan ucapannya : “pada saat itu mereka berdoa”, demikian yang banyak diriwayatkan oleh para perowi, namun al-Kasmihiiniy meriwayatkannya dengan “mereka (wanita) berdoa”. Sisi pendalilannya telah disinggung bahwa tidak ada perbedaan antara membaca dengan selainnya (dzikir, doa dan semisalnya –pent.).

Sedangkan kisah Hiraklius telah kita singgung pada permulaan Shahih Bukhori. Kemudian 2 atsar terakhir, dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar :

وَقَالَ عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ هُوَ طَرَفٌ مِنْ حَدِيثٍ مَوْصُولٍ عِنْدَ الْمُصَنِّفِ فِي كِتَابِ الْأَحْكَامِ وَفِي آخِرِهِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَلَا تُصَلِّي وَأَمَّا أَثَرُ الْحَكَمِ وَهُوَ الْفَقِيهُ الْكُوفِيُّ فَوَصَلَهُ الْبَغَوِيُّ فِي الْجَعْدِيَّاتِ مِنْ رِوَايَتِهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْجَعْدِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْهُ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ مِنْهُ أَنَّ الذَّبْحَ مُسْتَلْزِمٌ لِذِكْرِ اللَّهِ بِحُكْمِ الْآيَةِ الَّتِي سَاقَهَا

Athoo’ berkata dari Jaabir rodhiyallahu anhu ini adalah ujung dari hadits yang disambungkan oleh Imam Bukhori dalam kitab al-Ahkaam, dalam akhir lafadnya bahwa Aisyah rodhiyallahu anha tidak thowaf di Baitullah dan tidak sholat.

Adapun atsar al-Hakam yaitu al-Faqiih al-Kuufiy, telah disambungkan oleh al-Baghowiy dalam “al-Ja’diyaat” dari riwayatnya Ali ibnil Ja’di dari Syu’bah dari al-Hakam. Sisi pendalilannya adalah bahwa menyembelih pasti disebutkan nama Allah padanya sebagaimana disebutkan dalam ayat yang disertakan oleh Imam Bukhori.

Dalam bab ini, Imam Bukhori condong kepada pendapat diperbolehkannya seorang yang berhadats untuk membaca Al Qur’an, dzikir, berdoa dan semisalnya. Sehingga ketika seorang wanita yang sedang haidh melaksanakan ibadah haji, yang didalamnya penuh dengan dzikir berupa kalimat-kalimat talbiyyah dan semisalnya, maka tidak terlarang mereka untuk mengerjakannya, berbeda dengan thowaf dan sholat yang mutlak dipersyaratkan kesucian baik hadats besar maupun hadats kecil padanya.

 

Imam Bukhori berkata :

305 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ القَاسِمِ، عَنِ القَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ نَذْكُرُ إِلَّا الحَجَّ، فَلَمَّا جِئْنَا سَرِفَ طَمِثْتُ، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، فَقَالَ: «مَا يُبْكِيكِ؟» قُلْتُ: لَوَدِدْتُ وَاللَّهِ أَنِّي لَمْ أَحُجَّ العَامَ، قَالَ: «لَعَلَّكِ نُفِسْتِ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «فَإِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي»

12). Hadits no. 305

Haddatsanaa Abu Nu’aim ia berkata, haddatsanaa Abdul Aziz bin Abi Salamah dari Abdur Rokhman ibnul Qoosim, dari al-Qoosim bin Muhammad dari Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata : “kami keluar bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam, dan kami tidak bertujuan, selain menunaikan ibadah haji. Ketika kami tiba di Mekkah, aku haidh, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam masuk ke kemahku dan aku sedang menangis, Beliau berkata : “kenapa engkau menangis?”, aku berkata : “aku sangat menginginkan demi Allah untuk berhaji pada tahun ini”, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “mungkin engkau haidh?”, aku menjawab : “iya”, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sesungguhnya itu adalah sesuatu yang Allah tuliskan untuk anak perempuan Adam, maka lakukanlah apa yang dilakukan dalam manasik Haji, kecuali thowaf di Baitullah, hingga engkau suci”.

  1. Muslim no. 1211 dengan lafadz yang lebih panjang.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Haidh tidak menghalangi wanita untuk melaksanakan ibadah haji, hanya amalan-amalan tertentu saja yang tidak boleh dilaksanakan, seperti thowaf.
  2. Keutamaan Aisyah rodhiyallahu anha yang merasa bersedih ketika menurut anggapannya akan kehilangan amalan yang besar –yaitu haji-, ketika dirinya terkena Haidh pada saat itu.
  3. Ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak perlu untuk diratapi, namun hendaknya tetap bersabar dan ridho atas semua ketetapan yang Allah telah berikan diluar kuasa seorang manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu (QS. Al Israa’ : 77).

  1. Ungkapan Rasullah sholallahu alaihi wa salam haidh dengan nifas, menunjukkan bahwa hukum-hukum wanita nifas, sama dengan hukum-hukum terkait haidh.
  2. Hadits ini menunjukkan bahwa thowaf dipersyaratkan suci, sebagaimana dipersyaratkan juga dalam sholat. Lajnah Daimah pernah berfatwa (no. 11885) :

الطواف بالبيت العتيق كالصلاة؛ فيشترط له ما يشترط لها، إلا أنه أبيح في الطواف الكلام، فالطهارة شرط لصحة الطواف، فلا يصح من الحائض الطواف حتى تطهر، ثم تغتسل

Thowaf di baitullah adalah seperti sholat, dipersyaratkan padanya seperti apa yang dipersyaratkan ketika sholat, kecuali bahwa diperbolehkan berbicara dalam thowaf. Maka bersuci adalah syarat ketika akan thowaf, maka tidak sah thowaf bagi wanita haidh sampai ia suci terlebih dahulu lalu mandi.

  1. Ketika seorang wanita haidh tiba di Mekkah untuk melaksanakan haji dan ternyata ia suci dari haidh, maka ketika akan melaksanakan thowaf ia mandi terlebih dahulu, sebagai tatacara bersucinya. Dalam riwayat Muslim ada tambahan lafadz :

إِنَّ هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَغْتَسِلِي

Itu adalah sesuatu yang Allah tetapkan atas anak wanitanya Adam, maka lakukanlah apa yang dilakukan dalam haji, kecuali untuk melakukan thowaf hingga ia mandi.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: