KAEDAH BAKU BAGI WANITA KARIR

June 13, 2015 at 1:02 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KAEDAH BAKU BAGI WANITA KARIR

 

Soal : apa hukum wanita bekerja?

Jawab :

Pada asalnya seorang wanita itu tetap tinggal di rumahnya, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (QS. Al Ahzab : 33).

Namun jika terpaksa ia keluar untuk bekerja, maka wajib memenuhi beberapa syarat berikut :

  1. Diantara syaratnya adalah ia tidak bertabaruj (berhias ala jahiliyyah), sebagaimana Firman-Nya :

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. Al Ahzab : 33).

Imam Ibnu Jariir dalam tafsirnya berkata : ‘seorang wanita yang berhias ala jahiliyyah dulu, yaitu dengan menampakkan bagian depan rambutnya, serta dahinya, demikian gaya berhiasnya wanita jahiliyyah dulu’.

Seandainya Imam Ibnu Jariir melihat wanita kita pada zaman ini, apa yang akan beliau katakan terkait berhiasnya mereka? Kita memohon kepada Allah ampunan.

Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman dalam surat al-Qoshshos tentang kisah Musa yang bertanya kepada kedua wanita :

قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya (QS. Al Qoshshos : 23).

Musa ‘alaihi as-Salaam melewati 2 orang wanita yang sedang menambatkan kambingnya untuk memberi minun, lalu Beliau heran dengan apa yang dilakukan oleh kedua wanita tersebut, sehingga bertanya. Kemudian kedua wanita tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak ingin kambingnya bercampur dengan kambing lain, yang nantinya menyebabkan mereka bercampur baur dengan laki-laki, sehingga mereka mengikat kambingnya, menunggu penggembala laki-laki mengambil air, dan kedua wanita tersebut tidak akan keluar memberi minum ternaknya, melainkan karena kondisi bapaknya yang sudah berusia lanjut, seandainya bapaknya mampu keluar memberi minum ternak, niscaya mereka berdua tidak perlu keluar untuk memberi minum ternaknya.

Keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja menyebabkan bala bagi masyarakat, dan juga bala bagi kesehatan badan dan kemulian mereka. Umumnya suami akan keberatan istrinya keluar rumah untuk bekerja, demikian juga keluarnya mereka untuk bekerja menyebabkan kebatilan dalam masyarakat. Seorang wanita yang sungguh-sungguh dalam meniti karier ia tidak akan mampu untuk mengurus rumah dan anak-anaknya, yang mana itu adalah tugas yang lebih penting yang Allah wajibkan kepada mereka. Bekerjannya mereka juga sebab menjadikannya perawan tua, karena kebanyakan bapak, tidak akan menikahkan anak perempuannya karena factor uang yang biasa diberikan oleh anak perempuannya.

  1. Syarat berikutnya adalah wanita tersebut menjaga dirinya, janganlah ia terfitnah atau membuat fitnah kepada lainnya. Ia tinggal di tempat tersendiri yang terjaga dari percampuran dengan laki-laki dan bercakap-cakap dengan mereka. Ini adalah sesuatu yang sedikit sekali tempat kerja bisa seperti ini. Wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan menyebabkan wanita tersebut hilang rasa malunya, kurang ajar, membuka aurat, ia akan meninggikan suaranya dan menampakkan apa yang seharusnya wanita malu terhadapnya, seorang wanita yang bekerja bareng sama laki-laki akan menghilangkan rasa malu ini, dan akan hilang keindahan yang seharusnya ada padanya, maka percampur bauran laki-laki dengan wanita adalah haram. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Janganlah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

Dalam hadits lain :

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ» فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ الحَمْوَ؟ قَالَ: «الحَمْوُ المَوْتُ»

Waspadalah kalian dari masuk kepada wanita. Seorang dari Anshor berkata : “wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang ipar?”. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “ipar adalah kematian” (Muttafaqun ‘alaih).

Maka seorang wanita hendaknya menjaga dari hal tersebut, seandainya seorang wanita mengetahui bagaimana pandangan laki-laki kepadanya, yang mana laki-laki biasanya akan mengajak ngobrol kepada wanita mukminat yang lalai. Pandangan seorang wanita kepada laki-laki tidak sama seperti pandangan laki-laki kepada wanita, karena wanita itu adalah obyek yang diinginkan, tidaklah seorang laki-laki memandang wanita, kecuali dengan syahwat dan syahwatnya laki-laki lebih kuat daripada syahwatnya wanita berlipat-lipat. Pendapat yang mengatakan sebaliknya adalah keliru, oleh karenanya wanita itu yang diinginkan bukan mereka yang menginginkan.

  1. Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang halal, sehingga ia tidak boleh bekerja di Bank.
  2. Wajib bagi wanita dalam bekerja, hendaknya tidak mempengaruhi tugas pokoknya yaitu mengurus rumah tangga, mengawasi anak-anaknya dan melayani suaminya, jika pekerjaannya bertentangan dengan hal tersebut, maka mengurus rumah suaminya dan anak-anaknya lebih harus diprioritaskan.
  3. Harus memakai pakaian yang syar’I, dan hendaknya ia mengetahui hukum-hukum Allah dalam berhias agar tidak menimbulkan mudhorot.
  4. Harus mendapatkan izin walinya, janganlah ia keluar rumah tanpa izin suaminya atau bapaknya atau orang yang menduduki posisi walinya.

Ini semua adalah syarat-syarat seorang wanita yang akan bekerja, walaupun pada asalnya wanita tidak dituntut untuk memberikan nafkah. Jika melihat kondisi kebanyakan kaum muslimin pada zaman ini, niscaya akan didapatkan penyelisihan yang sangat banyak dan mereka menggampangkan dalam bab ini. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla petunjuk kepada para wanita kita agar mereka melakukan apa yang dicintai dan diridhoi Allah.

 

Mufti : Asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman

Sumber : http://ar.islamway.net/fatwa/30970/ما-حكم-عمل-المرأة#

 

Kemudian kami ingin tambahkan penjelasan Imam Ibnu Utsaimin yang dinukil dalam Fatwa Sual wal Jawab berikut ini :

Asy-Syaikh Muhammad Sholih al-Utsaimin berkata : “lapangan kerja bagi wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan bagi wanita, seperti bekerja sebagai guru anak-anak perempuan, sama saja apakah sebagai pengurus atau pengajar, atau bekerja dirumahnya menjahit baju-baju wanita dan yang semisalnya. Adapun lapangan pekerjaan yang dikhususkan bagi laki-laki, maka ini tidak boleh untuk bekerja disana karena itu pasti menyebabkan bercampur baur dengan laki-laki, ini adalah fitnah yang sangat besar yang mengharuskan peringatan darinya. Harus diketahui bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki, dibandingkan fitnah wanita (Muttafaqun ‘alaih).

Maka wajib bagi setiap orang untuk menjahkan keluarganya dari terjerumus kedalam fitnah-fitnah dan penyebabnya dalam kondisi apapun –selesai- (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah (2/981)).

 

Sumber : http://majles.alukah.net/t83102/

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: