HUKUMAN BAGI ORANG YANG TIDAK BERPUASA TANPA UDZUR

June 21, 2015 at 5:26 am | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

HUKUMAN BAGI ORANG YANG TIDAK BERPUASA TANPA UDZUR

 

Tidak ada perselisihan dikalangan kaum Muslimin, orang yang tidak mengerjakan puasa tanpa ada udzur (alasan) syar’i pada bulan Romadhon, telah melakukan dosa yang besar dan perkara yang sangat berbahaya bagi keimanannya. Namun bukan berarti harus gelap mata dalam membawakan hadits-hadits tentang ancaman bagi orang yang meninggalkan puasa tanpa ada udzur. Tentunya hadits-hadits shahih saja yang perlu disampaikan kepada mereka orang-orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur.

Diantara hadits yang masyhur yang sering disampaikan oleh para penceramah terkait dengan tema ini adalah hadits yang berbunyi :

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ، لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

Barangsiapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Romadhon tanpa ada uzur dan juga tidak sakit, tidak akan bisa digantikan dengan puasa sepanjang tahun, sekalipun ia sanggup mengerjakannya.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Shahihnya (3/32 –pen. Daaru Thuqun Najaah) secara Mu’alaq (yaitu gugur pada awal sanadnya) dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu (tanpa sanad) dengan sighot Tamridh (kata kerja pasif). Kemudian disambungkan sanadnya oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 10080 –pen. Muasasah ar-Risalah), Imam Nasa’i dalam Sunan al-Kubro (no. 3266 –pen. Muasasah ar-Risaalah), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 2396 –pen. Maktabah al-‘Ishriyyah), Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 723 –pen Musthofa Baabi Al Halabi), Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 1672 –pen. Daarul Ihya Kutubil ‘Ilmiyyah), Imam Ibni Bisyron dalam Amaaliy (no. 1489 –pen. Daarul Wathon), dan Imam Thohawi dalam Syarah Musykilul Atsar (no. 1523 –pen. Muasasah ar-Risaalah. Semuanya dari jalan Habiib bin Abi Tsaabit, dari Abil Muthowwis dari Bapaknya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al Hadits”.

Kedudukan sanad :

Habiin bin Abi Tsaabit perowi tsiqoh faqiih dan Jaliil, dipakai oleh Bukhori-Muslim. Dalam riwayat Musnad Ahmad, beliau meriwayatkannya dari ‘Umaaroh bin ‘Umair –seorang perowi tsiqoh-, baru dari Abul Muthowwis.

Abul Muthowwis, ada yang mengatakan nama aslinya Yaziid ibnul Muthowwis, ada juga yang mengatakan Abdullah ibnul Muthowwis. Imam Yahya bin Ma’in berkata tentangnya :

أبو المطوس اسمه : عبد الله بن المطوس ، أراه كوفيا ثقة

Abul Muthowwis namanya adalah Abdullah ibnul Muthowwis, aku melihatnya sebagai penduduk Kufah yang tsiqoh.

Sedangkan Imam Ahmad dan Imam Bukhori memajhulkannya. Imam Ahmad berkata :

لا أعرفه ، و لا أعرف حديثه عن غيره

Ana tidak mengenalnya, dan ana tidak mengetahui haditsnya kecuali ini (yakni hadits yang kita bahas –pent.).

Imam Bukhori berkata :

لا أعرف له غير حديث الصيام ، و لا أدرى سمع أبوه من أبى هريرة أم لا

Ana tidak mengenalnya, kecuali hadits puasa, ana tidak tahu apakah ia mendengar dari bapaknya dari Abi Huroiroh atau tidak.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzib menilainya : “Layyinul Hadits”.

Adapun bapaknya adalah perowi yang majhul. Berdasarkan hal ini. Maka hadits ini lemah yang tidak bisa dijadikan hujjah. Imam Al Albani dalam Dhoif Abu Dawud (2/273 –al-Umm) berkata :

(قلت: إسناده ضعيف؛ ابن المُطوِّس- أو: أبو المُطوِّس- لا يعرف؛ لا هو ولا أبوه. وقد أشار الإمام البخاري إلى تضعيفه، وصرح بذلك القرطبي وغيره)

Sanadnya dhoif, Ibnul Muthowwis atau Abul Muthowwis, tidak dikenal dan tidak juga bapaknya. Imam Bukhori telah mengisyaratkan kedhoifannya, dan ditegaskan oleh Imam Qurthubi dan selainnya.

Penilaian senada diberikan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad :

إسناده ضعيف لجهالة ابن المطوِّس وأبيه

Sanadnya dhoif, karena kemajhulan Ibnul Muthowwis dan bapaknya.

Lantas bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur tidak berpuasa tanpa udzur apa yang harus dilakukannya? Imam bin Baz yang akan menjawabnya :

عليه التوبة إلى الله؛ لأنها جريمة ومنكر عظيم, وكبيرة من الكبائر عليه التوبة إلى الله، وعليه القضاء، وليس عليه كفارة. الكفارة في الجماع خاصة، الجماع في رمضان. أما الفطر بالأكل والشرب ونحو ذلك ليس فيه كفارة بل فيه التوبة إلى الله والندم والعزم أن لا يعود في ذلك، وكثرة الاستغفار, مع القضاء -قضاء اليوم الذي أفطره- أما حديث (من أفطر يوم من رمضان عمداً لم يقضه صيام الدهر وإن صامه) فهذا حديث ضعيف عند أهل العلم ليس بصحيح، حديث مضطرب ليس بصحيح، والصواب أنه يقضي يوماً فقط، مع التوبة إلى الله -عز وجل-.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah, dikarenakan itu adalah kejahatan dan kemungkaran yang sangat besar, termasuk dosa besar yang wajib kepadanya untuk bertaubat kepada Allah, dan wajib baginya qodho, bukan kafarah. Kafarah hanya untuk orang yang berhubungan badan pada siang romadhon saja. Adapun berbuka dengan makan dan minum atau yang semisalnya, tidak ada kafarah, namun wajib bertaubat, menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya, serta memperbanyak istqighfar, disamping ia mengqodho hari yang ditinggalkannya.

Adapun hadits : Barangsiapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Romadhon tanpa ada uzur dan juga tidak sakit, tidak akan bisa digantikan dengan puasa sepanjang tahun, sekalipun ia sanggup mengerjakannya.

Maka ini adalah hadits dhoif, menurut ulama tidak shahih, goncang sanadnya, yang benar ia mengqodho hari yang tidak berpuasanya saja, diiringi dengan taubat kepada Allah. (Sumber : http://www.sahab.net/forums/?showtopic=131459)wajib in Baz yang akan menjawabnya :

eliau ber. dan ditegaskan oleh Imam Qurthubi dan selainnya.tidak.llah ibnul Muthowwis. ngar

Pada kesempatan ini, kami akan membawakan hadits yang menunjukkan siksa yang pedih di neraka bagi orang yang sengaja meninggalkan puasa. Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah mencer :

ثُمَّ انْطَلَقَا بِي، وَإِذَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ دَمًا، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ مَحِلَّةِ إِفْطَارِهِمْ

Kemudian keduanya membawaku, dan ketika aku melihat suatu kaum yang digantung kakinya, rahangnya pecah, dan darah bercucuran darinya. Saya pun bertanya : siapa mereka?, malaikat menjawab : “mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan shahih mereka masing-masing).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: