SEORANG MUKMIN TIDAK JATUH KEDALAM LUBANG YANG SAMA UNTUK KEDUA KALINYA

July 27, 2015 at 10:49 pm | Posted in Nasehat | Leave a comment

SEORANG MUKMIN TIDAK JATUH KEDALAM LUBANG YANG SAMA  UNTUK KEDUA KALINYA

 

Setiap insan yang bernama manusia diberikan akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barangkali suatu saat karena kurang waspada atau minim pengalaman, seseorang mendapatkan suatu masalah yang tidak mengenakan dalam kehidupannya. Permasalahan tersebut akan menjadi bahan pelajaran yang dikenangnya sepanjang hidup, dan mencoba agar tidak terjadi permasalahan yang sama, karena sebab yang sama seperti kasus sebelumnya.

Seorang Mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain, karena khusnu dzon yang besar kepada orang tersebut. Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

المُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ

Seorang Mukmin itu minim pengalaman dan dermawan.

Continue Reading SEORANG MUKMIN TIDAK JATUH KEDALAM LUBANG YANG SAMA UNTUK KEDUA KALINYA…

SYAIR-SYAIR HARI IED

July 26, 2015 at 6:37 pm | Posted in Nasehat | Leave a comment

SYAIR-SYAIR HARI IED

 

ليس العيد لمن لبس الجديد

Bukanlah Ied orang yang memakai baju baru…

إنما العيد لمن طاعاته تزيد

Hanyalah Ied bagi orang yang bertambah ketaatannya…

ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب

Bukanlah Ied orang yang indah pakaian dan kendaraannya…

إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

Continue Reading SYAIR-SYAIR HARI IED…

MENGENAL SHAHIFAH SHODIQOH

July 26, 2015 at 6:06 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

MENGENAL SHAHIFAH SHODIQOH

 

Ketahuilah bahwa penulisan hadits sudah dimulai sejak Nabi sholallahu alaihi wa salam masih hidup. Sebagian sahabat yang memiliki kemampuan dalam baca tulis, mencatat apa yang disampaikan Nabi sholallahu alaihi wa salam sebagai sebuah sunnah yang dijadikan pedoman. Sekurang-kurangnya ada 3 orang sahabat rodhiyallahu anhum yang telah melakukan aktivitas penulisan hadits pada masa Nabi sholallahu alaihi wa salam masih hidup, sebagaimana disebutkan oleh DR. Subhi Ibrohim ash-Shoolih (w. 1407 H) dalam kitabnya Uluumul Hadits wa Mustholalihi (hal. 27-32  -pen. Daarul ‘ilmi lil Malaayyiin, Beirut). Meraka adalah Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu anhu (w. 65 H), Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu (w. 69 H), dan Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu (w. 58 H).

Kemudian DR. Maajid Ahmad dalam kitabnya at-Tadwiinal-Mubakar lis Sunnah (hal-9-10 –pen. Jaami’ah al-Jinaan, Toroblus) menambahkan 3 sahabat lagi yang memiliki catatan hadits-hadits Nabawi, yaitu : Sa’ad bin ‘Ubaadah rodhiyallahu anhu (w. 15 H atau sebelumnya), Samurah bin Jundub rodhiyallahu anhu (w. 60 H), dan Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu (w. 78 H).

Continue Reading MENGENAL SHAHIFAH SHODIQOH…

TAFSIR BIR RO’YU

July 25, 2015 at 6:16 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR BIR RO’YU

 

Dalam khazanah ilmu tafsir ada beberapa macam corak metode dalam menafsirkan Al Qur’an. diantara metode tersebut adalah menafsirkan Al Qur’an dengan ro’yu semata, yakni memahami Al Qur’an dengan jalan pikirannya semata. Inilah metode yang diistilahkan ulama dengan tafsir bir ro’yu.

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي القُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Barangsiapa mengatakan tentang (makna) Al Qur’an dengan pikirannya (semata), (sekalipun) mencocoki kebenaran, ia tetap keliru.

Takhrij Hadits :

Ditulis haditsnya oleh beberapa ulama berikut :

  1. Imam Abu Dawud Sulaiman ibnul al-Asy’ats (w. 275 H) dalam as-Sunan (no. 3652 –pen. Maktabah al-‘Ishriyyah, Beirut);
  2. Imam Muhammad bin Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) dalam as-Sunan (no. 2952 –pen. Musthofa al-Baabil Halaabiy, Mesir);
  3. Imam Abu Ya’la al-Maushuliy (w. 307 H) dalam al-Musnad (no. 1520 –pen. Daarul Ma’mun lit Turots, Damaskus);
  4. Imam Abu Bakar ar-Ruyaaniy (w. 307 H) dalam al-Musnad (no. 968 –pen. Maktabah al-Qurthubah, Kairo);
  5. Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabraniy (w. 360 H) dalam Mu’jam al-Kabiir (no. 1672 –pen. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo) & Mu’jam al-Ausath (no. 5101 –pen. Daarul Haromain, Kairo);
  6. Imam Ibnu Bathoh (w. 387 H) dalam al-Ibaanah Kubro (no. 421, 798, & 806 –pen. Daarur Royaah, Riyadh);
  7. Imam Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’abul Iman (No. 2018 –pen. Maktabah Ar-Rusydi, Riyadh);

Semuanya meriwayatkan dari jalan (ini lafadznya Sunan Tirmidzi) :

حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَزْمٍ، أَخُو حَزْمٍ القُطَعِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الجَوْنِيُّ، عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Haddatsanaa Suhail bin Abdullah yaitu Ibnu Abi Hazm, saudaranya Hazm al-Qutho’iy ia berkata, haddatsanaa Abu ‘Imroon al-Jauniy, dari Jundub bin Abdullah rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al-Hadits”.

Kedudukan Perowi Hadits :

  1. Suhail bin Abi Hazm, Al Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqriib menyimpulkan beliau sebagai perowi dhoif.
  2. Abu Imron Abdul Malik bin Umair (33 – 136 H), perowi tsiqoh dipakai oleh Bukhori-Muslim.
  3. Jundub bin Abdullah rodhiyallahu anhu (w. >60 H), salah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Berdasarkan hal tersebut, hadits diatas dhoif, karena kelemahan yang ada pada Suhail bin Abi Hazm. Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata :

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الحَدِيثِ فِي سُهَيْلِ بْنِ أَبِي حَزْمٍ

Ini adalah hadits ghorib (dari jalan tunggal –pent.), sebagian ahli hadits telah mengkritik Suhail bin Abi Hazm.

Ahli hadits kontemporer seperti Imam Al Albani dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth telah mendhoifkan hadits diatas, asy-Syu’aib Arnauth berkata dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud :

إسناده ضعيف لضعف سهيل بن مهران -وهو سهيل بن أبي حزم-

Sanadnya dhoif karena kedhoifan Suhail bin Mihroon –yaitu Suhail bin Abi Hazm-.

Namun yang benar hadits diatas adalah Maqtu’ yakni disandarkan kepada Tabi’i, sebagaimana perkataan Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Tirmidzi :

صحيح الإسناد مقطوع (يعني أثر قتادة وأثر مجاهد كليهما أما الحديث المرفوع فقد قال: ضعيف)

Sanad yang shahih adalah maqtu’ –yakni atsar dari Qotadah dan Mujahid-. Adapun hadits yang marfu’ (ini) adalah dhoif.

Kemudian dalam riwayat lain, hadits diatas mendapat dukungan atau syawahid dengan lafadz :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa mengatakan tentang (makna) Al Qur’an tanpa ilmu, maka siapkanlah tempat duduknya di Neraka.

Takhrij Hadits : Continue Reading TAFSIR BIR RO’YU…

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: