TAFSIR BIR RO’YU

July 25, 2015 at 6:16 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR BIR RO’YU

 

Dalam khazanah ilmu tafsir ada beberapa macam corak metode dalam menafsirkan Al Qur’an. diantara metode tersebut adalah menafsirkan Al Qur’an dengan ro’yu semata, yakni memahami Al Qur’an dengan jalan pikirannya semata. Inilah metode yang diistilahkan ulama dengan tafsir bir ro’yu.

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي القُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Barangsiapa mengatakan tentang (makna) Al Qur’an dengan pikirannya (semata), (sekalipun) mencocoki kebenaran, ia tetap keliru.

Takhrij Hadits :

Ditulis haditsnya oleh beberapa ulama berikut :

  1. Imam Abu Dawud Sulaiman ibnul al-Asy’ats (w. 275 H) dalam as-Sunan (no. 3652 –pen. Maktabah al-‘Ishriyyah, Beirut);
  2. Imam Muhammad bin Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) dalam as-Sunan (no. 2952 –pen. Musthofa al-Baabil Halaabiy, Mesir);
  3. Imam Abu Ya’la al-Maushuliy (w. 307 H) dalam al-Musnad (no. 1520 –pen. Daarul Ma’mun lit Turots, Damaskus);
  4. Imam Abu Bakar ar-Ruyaaniy (w. 307 H) dalam al-Musnad (no. 968 –pen. Maktabah al-Qurthubah, Kairo);
  5. Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabraniy (w. 360 H) dalam Mu’jam al-Kabiir (no. 1672 –pen. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo) & Mu’jam al-Ausath (no. 5101 –pen. Daarul Haromain, Kairo);
  6. Imam Ibnu Bathoh (w. 387 H) dalam al-Ibaanah Kubro (no. 421, 798, & 806 –pen. Daarur Royaah, Riyadh);
  7. Imam Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’abul Iman (No. 2018 –pen. Maktabah Ar-Rusydi, Riyadh);

Semuanya meriwayatkan dari jalan (ini lafadznya Sunan Tirmidzi) :

حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَزْمٍ، أَخُو حَزْمٍ القُطَعِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الجَوْنِيُّ، عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Haddatsanaa Suhail bin Abdullah yaitu Ibnu Abi Hazm, saudaranya Hazm al-Qutho’iy ia berkata, haddatsanaa Abu ‘Imroon al-Jauniy, dari Jundub bin Abdullah rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al-Hadits”.

Kedudukan Perowi Hadits :

  1. Suhail bin Abi Hazm, Al Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqriib menyimpulkan beliau sebagai perowi dhoif.
  2. Abu Imron Abdul Malik bin Umair (33 – 136 H), perowi tsiqoh dipakai oleh Bukhori-Muslim.
  3. Jundub bin Abdullah rodhiyallahu anhu (w. >60 H), salah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Berdasarkan hal tersebut, hadits diatas dhoif, karena kelemahan yang ada pada Suhail bin Abi Hazm. Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata :

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الحَدِيثِ فِي سُهَيْلِ بْنِ أَبِي حَزْمٍ

Ini adalah hadits ghorib (dari jalan tunggal –pent.), sebagian ahli hadits telah mengkritik Suhail bin Abi Hazm.

Ahli hadits kontemporer seperti Imam Al Albani dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth telah mendhoifkan hadits diatas, asy-Syu’aib Arnauth berkata dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud :

إسناده ضعيف لضعف سهيل بن مهران -وهو سهيل بن أبي حزم-

Sanadnya dhoif karena kedhoifan Suhail bin Mihroon –yaitu Suhail bin Abi Hazm-.

Namun yang benar hadits diatas adalah Maqtu’ yakni disandarkan kepada Tabi’i, sebagaimana perkataan Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Tirmidzi :

صحيح الإسناد مقطوع (يعني أثر قتادة وأثر مجاهد كليهما أما الحديث المرفوع فقد قال: ضعيف)

Sanad yang shahih adalah maqtu’ –yakni atsar dari Qotadah dan Mujahid-. Adapun hadits yang marfu’ (ini) adalah dhoif.

Kemudian dalam riwayat lain, hadits diatas mendapat dukungan atau syawahid dengan lafadz :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa mengatakan tentang (makna) Al Qur’an tanpa ilmu, maka siapkanlah tempat duduknya di Neraka.

Takhrij Hadits :

Ditulis haditsnya oleh beberapa ulama berikut :

  1. Imam Abu Bakar ibnu Abi Syaibah (w. 235 H) dalam al-Mushonaf (no. 30101 –pen. Maktabah ar-Rusydiy, Riyadh);
  2. Imam Ahmad (w. 241 H) dalam al-Musnad (no. 2069, 2429, & 2974 –pen. Muasasah ar-Risalah, Beirut);
  3. Imam Abu Dawud Sulaiman ibnul al-Asy’ats (w. 275 H) dalam as-Sunan (no. 3652 –pen. Daarul Risaalah Aalimiyyah);
  4. Imam Muhammad bin Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) dalam as-Sunan (no. 2950 –pen. Musthofa al-Baabil Halaabiy, Mesir);
  5. Imam al-Bazaar (w. 292 H) dalam Musnad al-Bazaar / al-Bahr az-Zujjaaj (no. 4757 & 5083 –pen. Maktabah al-Uluum wal Hikaam, Madinah al-Munawaroh);
  6. Imam Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’iy (w. 303 H) dalam Sunan al-Kubro (no. 8030 –pen. Muasasah ar-Risalah, Beirut);
  7. Imam Abu Ja’far ath-Thohawi (w. 321 H) dalam Syarah Misykalul Atsar (no. 392 –pen. Muasasah ar-Risalah, Beirut);
  8. Imam Ibnu Bathoh (w. 387 H) dalam al-Ibaanah Kubro (no. 799, & 805 –pen. Daarur Royaah, Riyadh);
  9. Imam al-Qodho’iy dalam (w. 454 H) dalam Musnad asy-Syihaab (no. 554 –pen. Muasasah ar-Risalah, Beirut);
  10. Imam Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’abul Iman (No. 2079 & 2080 –pen. Maktabah Ar-Rusydi, Riyadh);

Semuanya meriwayatkan dari jalan  :

عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى الثَّعْلَبِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdul A’laa ats-Tsa’labiy, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “al-Hadits”.

Kedudukan Perowi Hadits :

  1. Abdul A’laa bin ‘Aamir ats-Tsa’labiy : Imam Ahmad dan Imam Abu Zur’ah berkata tentangnya : “ضعيف الحديث” (lemah haditsnya). Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Ma’in, Imam Nasa’i, dan Imam Daruquthni menilainya : “ليس بقوى” (tidak kuat). Imam al-Uqoiliy berkata tentangnya : “تركه ابن مهدى و القطان” (Ibnu Mahdiy dan al-Qoththoon mematrukkannya). Imam Ibnu Sa’ad menilainya : “كان ضعيفا فى الحديث” (ia dhoif haditsnya). Namun beberapa ulama memberikan penilaian positif kepadanya, seperti Imam ath-Thobari yang menshahihkan hadits darinya tentang sholat Kusuf, dan Imam Al Hakim juga menshahihkan haditsnya. Kemudian Imam Ya’qub bin Sufyan dalam kesempatan lain berkata : “فى حديثه لين ، و هو ثقة” (haditsny lunak, namun ia perowi tsiqoh). Imam Daruquthni dalam kesempatan lain juga berkata : “يعتبر به” (haditsnya dapat dijadikan penguat). Dan Imam as-Saaji menilainya : “صدوق يهم” (jujur keliru). Barangkali atas baik sangka kepadanya, Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits diatas, beliau berkata : “هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ” (hadits ini hasan). (lihat jarh wa ta’dil ini dalam Tahdzibain).
  2. Sa’id bin Jubair (w. 95 H), salah satu Aimah di kalangan Tabi’in.
  3. Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu (w. 68 H), sahabat mulia, ahli tafsirnya para sahabat.

Kesimpulannya para ulama jarh wa ta’dil yang kredibel dan mu’tamad, seperti Imam Ahmad, Imam Abu Hatim, Imam Abu Zur’ah, Imam Ibnu Ma’in, Imam Nasa’i dan selainnya menilai lemah perowi yang bernama Abdul A’laa diatas, dimana hadits yang kita bahas ini, sanadnya berporos kepadanya. Bahkan Imam Abu Zur’ah memberikan tambahan penilainya untuknya bahwa ia : “ربما رفع الحديث و ربما وقفه” (terkadang ia memarfukan hadits dan terkadang memauqufkannya). Kebiasaan Abdul A’laa ini terbukti dalam riwayat Imam Ibnu Bathoh dalam al-Ibaanah (no. 422) dari jalan Abu Awaanah dari Abdul A’laa,  dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu (secara mauquf) beliau berkata :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa mengatakan tentang (makna) Al Qur’an tanpa ilmu, maka pada hari kiamat akan dikalungkan api dari Neraka.

Oleh sebab itu ulama hadits kontemporer seperti Imam Al Albani mendhoifkan hadits diatas, begitu juga asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, dimana beliau berkata :

إسناده ضعيف لضعف عبد الأعلى الثعلبي، ومع ذلك فقد حسنه الترمذي وصححه ابن القطان كما في “النكت الظراف” 4/423.

Sanadnya dhoif, karena kedhoifan Abdul A’laa ats-Tsa’labiy, namun Imam Tirmidzi menghasankannya dan dishahihkan juga oleh Ibnul Qothoon, sebagaimana dalam an-Nukat adh-Dhoroof (4/423).

Namun sekalipun hadits dalam bab ini semuanya tidak ada yang shahih, akan tetapi secara makna dapat dibenarkan. Asy-Syaikh DR. Musaa’id bin Sulaiman dalam Syarah Muqodimah Fii Ushulit Tafsir li ibni Taimiyyah (hal. 296-297 –pen. Daarul Ibnul Jauzi) berkata :

إنَّ التفسير بمجرد الرأي، دون أن يكون مستندًا على دليل علميٍّ صحيح، وأسلوبٍ علمي معتبر يُعتبرُ تفسيرًا بالرأي المذموم، وهو حرام، والأحاديث التي أوردها شيخ الإسلام من رواية الترمذي ـ مع أنها لا تصح؛ لضعفها ـ إلا أنَّ فيها من المعنى ما هو حقٌّ تشهد له نصوص أخرى، ومن ذلك قوله تعالى: {قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّي الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ} [الأعراف: 33]، فجعل القول عليه بغير علم من المحرمات، والتفسير قول على الله، فإن كان بغير علم كان من المحرمات كما ورد في الآية. وهذا النوع من الرأي هو الذي نهى عنه السلف، وعليه تُحمل نصوصهم الواردة في النهي عن الرأي في التفسير، والله أعلم.

Sesungguhnya penafsiran sekedar menggunakan akal pikirannya, tanpa menyandarkannya kepada dalil ilmu yang benar dan kaedah ilmiyyah yang baku, maka dianggap sebagai tafsir bir ro’yu yang tercela, dan ini haram. Hadits-hadits yang dibawakan oleh Syaikhul Islam dari riwayatnya Imam Tirmidzi, sekalipun tidak shahih, karena dhoifnya, namun secara makna benar.

Hal ini didukung oleh nash-nash lainnya, diantaranya Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : { Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” } (QS. Al A’raaf : 33).

Maka ucapan tanpa ilmu adalah termasuk hal-hal yang diharamkan, dan tafsir adalah ucapan atas nama Allah, sehingga jika tidak berdasarkan ilmu, maka ini termaksuk perkara yang diharamkan sebagaimana dalam ayat diatas. Ini adalah jenis ro’yu yang dilarang oleh para salaf, dan atas hal ini nash-nash yang datang terkait larangan menggunakan ro’yu dalam penafsiran, dibawakan kepadanya.

Asy-Syaikh Manaa’ ibnu Kholiil al-Qoththoon (w. 1420 H) dalam kitabnya Mabaakhits fii uluumil Qur’an pada (hal. 362 –pen. Maktabah al-Ma’aarif) mendefinisikan tafsir bir ro’yu dengan :

هو ما يعتمد فيه المفسر في بيان المعنى على فهمه الخاص واستنباطه بالرأي المجرد -وليس منه الفهم الذي يتفق مع روح الشريعة، ويستند إلى نصوصها- فالرأي المجرد الذي لا شاهد له مدعاة للشطط في كتاب الله، وأكثر الذين تناولوا التفسير بهذه الروح كانوا من أهل البدع الذين اعتقدوا مذاهب باطلة وعمدوا إلى القرآن فتأولوه على رأيهم وليس لهم سَلَف من الصحابة والتابعين لا في رأيهم ولا في تفسيرهم، وقد صنفوا تفاسير على أصول مذهبهم، كتفسير عبد الرحمن بن كيسان الأصم، والجبائي، وعبد الجبار، والرماني، والزمخشري وأمثالهم.

Tafsir bir ro’yu adalah seorang ahli tafsir menyandarkan dalam menjelaskan makna Al Qur’an dengan pemahaman tertentu dan mengambilnya dari akal pikirannya semata –bukan pemahaman yang sesuai dengan ruh syariat dan sandaran nash-nash dalil-. Akal pikiran semata yang tidak didukung oleh dalil-dalil, akan menyebabkan penyimpangan dalam memahami Kitabullah.

Kebanyakan yang melakukan penafsiran dengan model seperti ini adalah kalangan ahlu bid’ah yang memiliki keyakinan dan madzhab batil. Mereka berusaha menyandarkannya kepada Al Qur’an, sehingga menakwilkan Al Qur’an sesuai dengan akal pikirannya yang hal tersebut tidak dijumpai pendahulunya dari kalangan para sahabat, dan tabi’in, tidak dari hasil pikiran mereka dan tidak juga dari penafsiran mereka.

Ahlu bid’ah tersebut telah menulis tafsir sesuai dengan pokok madzhab mereka, seperti tafsir Abdur Rokhman bin Kaisan al-Ashom, al-Juba’I, Abdul Jabbaar, ar-Rumaaniy, az-Zamakhsyariy, dan semisalnya.

Kemudian asy-Syaikh masih dalam kitab yang sama, menyebutkan pada hal. 377-378, kitab-kitab tafsir yang termasyhur yang menggunakan metode tafsir bir ro’yi, beliau menyebutkan 14 kitab tafsir yaitu :

  1. Tafsir Abdur Rokhman bin Kaisan al-Asham;
  2. Tafsir Abu Ali al-Jubba’I;
  3. Tafsir Abdul Jabbaar;
  4. Tafsir az-Zamakhsyariy;
  5. Tafsir ar-Razi;
  6. Tafsir Ibnu Faurak;
  7. Tafsir an-Nasafiy;
  8. Tafsir al-Khazin;
  9. Tafsir Abu Hayyan;
  10. Tafsir al-Baidhowiy;
  11. Tafsir Jalalain;
  12. Tafsir al-Qurthubiy;
  13. Tafsir Abu Su’ud;
  14. Tafsir al-Alusi.

yang menarik beliau memasukkan tafsir Jalalain dalam deretan kitab yang menggunakan metode bir ro’yi. Tafsir Jalalain merupakan karya 2 orang ulama Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Barangkali sisi ro’yu-nya adalah dalam kitab tafsir ini, ditemukan sering sekali mereka mentakwil ayat-ayat Sifat Allah Subhanahu wa Ta’alaa dengan penakwilan yang biasa dilakukan oleh ahli tahrif. Asy-Syaikh Abdul Kariim al-Khudhoir dalam pelajarannya yang kemudian ditranskip dan diberi judul at-Ta’liq ‘alaa Tafsiir Jalalain menyebutkan tentang madzhab aqidah dari kedua penulis kitab Jalalain ini, kata beliau :

أما المذهب العقدي بالنسبة للجلالين فقد سلكا مسلك التأويل لكثير من الصفات التي يؤولها الأشاعرة، من الأمثلة على ذلك: {إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللهُ} [(210) سورة البقرة] أي أمره {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} [(88) سورة القصص] أي إلا إياه {وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} [(67) سورة الزمر] بقدرته {وَجَاء رَبُّكَ} [(22) سورة الفجر] أي أمره، ومثل هذا كثير

Adapun madzhab aqidahnya kedua penulis Jalalain adalah berjalan dengan metode takwil terhadap ayat-ayat sifat yang biasanya dilakukan oleh al-‘Asyaa’iroh, contohnya (sebagaimana diatas).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: