MENGENAL SHAHIFAH SHODIQOH

July 26, 2015 at 6:06 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

MENGENAL SHAHIFAH SHODIQOH

 

Ketahuilah bahwa penulisan hadits sudah dimulai sejak Nabi sholallahu alaihi wa salam masih hidup. Sebagian sahabat yang memiliki kemampuan dalam baca tulis, mencatat apa yang disampaikan Nabi sholallahu alaihi wa salam sebagai sebuah sunnah yang dijadikan pedoman. Sekurang-kurangnya ada 3 orang sahabat rodhiyallahu anhum yang telah melakukan aktivitas penulisan hadits pada masa Nabi sholallahu alaihi wa salam masih hidup, sebagaimana disebutkan oleh DR. Subhi Ibrohim ash-Shoolih (w. 1407 H) dalam kitabnya Uluumul Hadits wa Mustholalihi (hal. 27-32  -pen. Daarul ‘ilmi lil Malaayyiin, Beirut). Meraka adalah Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu anhu (w. 65 H), Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu (w. 69 H), dan Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu (w. 58 H).

Kemudian DR. Maajid Ahmad dalam kitabnya at-Tadwiinal-Mubakar lis Sunnah (hal-9-10 –pen. Jaami’ah al-Jinaan, Toroblus) menambahkan 3 sahabat lagi yang memiliki catatan hadits-hadits Nabawi, yaitu : Sa’ad bin ‘Ubaadah rodhiyallahu anhu (w. 15 H atau sebelumnya), Samurah bin Jundub rodhiyallahu anhu (w. 60 H), dan Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu (w. 78 H).

Pada kesempatan ini, kami sekilas membahas catatan hadits yang dimiliki oleh sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyallahu anhumaa, yang diberi judul dengan ash-Shahiifah ash-Shoodiqoh. Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhumaa memiliki nasab lengkap sebagaimana disebutkan oleh Imam ibnu Sa’ad (w. 230 H) dalam ath-Thobaaqotul Kubro (4/197  -pen. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut) yaitu : Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aash bin Wail bin Haasyim bin Sa’id bin Sahm. Dilahirkan dari pasangan ‘Amr bin al-‘Aash rodhiyallahu anhu dengan Roithoh bintu Munabbih bin al-Hajjaaj bin ‘Aamir bin Khudzaifah bin Sa’ad bin Sahm. Beliau lahir pada tahun sebelum 3 H dan wafat pada tahun 69 H dalam usia 72 tahun, pada masa kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyyah (Taarikh Kabir al-Bukhori). Beliau masuk Islam lebih dahulu dibandingkan ayahnya ‘Amr bin al-‘Aash rodhiyallahu anhu. Ayahnya masuk Islam pada masa antara perjanjian Hudaibiyyah dengan perang Khoibar.

Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhumaa adalah sahabat yang rajin mencatat pelajaran yang disampaikan oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam. Imam Ibnu Sa’ad dalam Thobaqohnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhumaa bahwa beliau berkata :

اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي كِتَابَةِ مَا سَمِعْتُهُ مِنْهُ. قَالَ فَأَذِنَ لِي فَكَتَبْتُهُ

Ana minta izin kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk menulis apa yang ana dengar dari Beliau. Maka Beliau sholallahu alaihi wa salam mengizinkanku dan ana pun menulis (hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam).

Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu menulis apa saja informasi yang disampaikan oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam, sampai pernah untuk sementara waktu beliau menghentikan penulisannya, karena adanya masukan dari sebagian orang. Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang dishahihkan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu, beliau berkata :

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُرِيدُ حِفْظَهُ ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ عَنْ ذَلِكَ، وَقَالُوا: تَكْتُبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا؟ فَأَمْسَكْتُ، حَتَّى ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: ” اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ “

Ana menulis semua hal yang ana dengar dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, untuk tujuan menghapal. Sebagian orang Quraisy melarangku untuk menulis, mereka berkata : “engkau menulis, sedangkan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata dalam kondisi marah dan ridho?”, maka ana pun sempat vakum untuk menulis, hingga ana ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Maka Beliau bersabda : “tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidak keluar dari sini, kecuali kebenaran”.

Dalam lafadz lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdulullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu, beliau berkata :

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ أَشْيَاءَ، أَفَأَكْتُبُهَا؟ قَالَ: ” نَعَمْ “، قُلْتُ: فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا؟ قَالَ: ” نَعَمْ، فَإِنِّي لَا أَقُولُ فِيهِمَا إِلَّا حَقًّا

Wahai Rasulullah, sesungguhnya ana mendengar darimu semua hal, apakah aana menulisnya?, Nabi menjawab : “iya”. Sambungku : “dalam kondisi engkau marah dan ridho?”, Beliau menjawab : “iya, karena sesungguhnya aku tidak berucap pada saat marah dan ridho, kecuali kebenaran” (dishahihkan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth).

Para ulama menyebutkan bahwa Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu menamai catatannya tersebut dengan ash-Shoodiqoh. Imam Ibnu Sa’ad dalam Thobaqohnya (4/198) meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujaahid bahwa beliau berkata :

رَأَيْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو صَحِيفَةً فَسَأَلْتُهُ عَنْهَا فَقَالَ: هَذِهِ الصَّادِقَةُ. فِيهَا مَا سَمِعْتُ مِنَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فِيهَا أُحُدٌ.

Ana melihat Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu memiliki Shahiifah, maka ana bertanya terkait shahiifah tersebut, maka beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “ini adalah ash-Shoodiqoh, didalamnya berisi apa yang ana dengar dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, tidak ada antara ana dengan Beliau seorang pun”.

Namun yang menceritakan atsar ini adalah Ishaq bin Yahya bin Tholhah, seorang perowi yang dhoif. barangkali kelemahannya bisa terangkat dengan mutaba’ah yang diriwayatkan oleh Imam ar-Roomahumurziy dalam al-Muhaaditsul Faasil dari jalan al-Laits bin Abi Sulaim, sebagaimana disebutkan oleh Imam Umar bin Ruslaan (w. 805 H) dalam kitabnya Mahaasinul Istilaahiy. Al-Laits bin Abi Sulaim dinilai oleh Imam adz-Dzahabi :

فيه ضعف يسير من سوء حفظه ، بعضهم احتج به

Ia sedikit lemah karena hapalannya yang jelek, sebagian ulama berhujjah dengannya.

Shahiifah Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu ini berisi sekitar 1000 hadits, namun sayang manuskripnya tidak sampai kepada kita. akan tetapi Imam Ahmad telah menyalin isinya melalui para perowinya dalam kitabnya al-Musnad, sebagaimana dikatakan DR. Subhi Ibrohim dalam Uluumul Hadits (hal. 27) :

وقد اشتملت على ألف حديث كما يقول ابن الأثير ، وإذا لم تصل هذه الصحيفة – كما كتبها عبد الله بن عمرو بخطه فقد وصل إلينا محتواها، لأنها محفوظة في ” مسند الإمام أحمد “

Shahiifah tersebut berisi 1000 hadits, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atsiir, sekalipun shahiifah ini tidak sampai kepada kita, dengan tulisan tangan asli Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu, namun isinya telah sampai kepada kita, karena telah dijaga didalam Musnad Imam Ahmad.

Kemungkinan shahiifah ini dulu pernah disimpan oleh cucu beliau, yaitu ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash. Imam Ahmad banyak meriwayatkan dari jalannya ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya (yaitu Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu) dalam kitab Musnadnya.

Keberadaan tulisan Abdullah bin ‘Amr terkait hadits nabawi, juga diakui oleh sahabat lainnya, seperti sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu yang berkata :

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ

Tidak ada sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam yang paling banyak haditsnya dibandingkan dengan diriku, kecuali apa yang dimiliki Abdullah bin ‘Amr, karena dia menulis, sedangkan aku tidak menulis (HR. Bukhori).

Singkat kata bahwa tradisi penulisan hadits telah dimulai semenjak zaman Nabi sholallahu alaihi wa salam, karena hadits adalah sumber hukum Islam disamping Kitabullah, yang mana seseorang tidak akan tersesat ketika berpegang teguh dengan keduanya, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan untuk kalian 2 perkara yang tidak akan tersesat selama kalian berpegang kepada keduanya yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.

Imam Al Albani dalam kitabnya Manzilahas-Sunnah fiil Islam (hal. 18 –pen. Daarus Salafiyyah, Kuwait) berkata setelah meriwayatkan hadits ini :

رواه مالك بلاغا والحاكم موصلا بإسناد حسن

Diriwayatkan Malik secara balaghon/mu’alaq, dan al-Hakim dengan sanad yang bersambung dengan sanad yang hasan.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: