PENDAPAT ULAMA TENTANG KATA ASING DALAM AL QUR’AN (1)

August 30, 2015 at 2:15 am | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

PENDAPAT ULAMA TENTANG KATA ASING DALAM AL QUR’AN

Imam Ibnu Jariir dalam tafsirnya (15/551) berkata tentang turunnya Al Qur’an dengan bahasa Arab :

إنا أنزلنا هذا الكتاب المبين، قرآنًا عربيًّا على العرب، لأن لسانهم وكلامهم عربي، فأنزلنا هذا الكتاب بلسانهم ليعقلوه ويفقهوا منه

Sesungghuanya kami menurunkan kitab yang sangat jelas ini, berupa bacaan dalam bahasa arab, karena lisan dan ucapan mereka menggunakan bahasa arab, sehingga kami pun menurunkan kitab ini dengan bahasa mereka, supaya mereka berpikir dan memahaminya.

Kemudian terjadi perdebatan yang sengit terkait apakah didalam Al Qur’an terdapat bahasa ajam (asing/bukan arab) yang telah mengalami serapan. Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsirnya (2/412) membuka wacana tersebut :

وقد اختلف الناس، هل في القرآن شيء بغير العربية، أم لا، فمذهب أصحابنا أنه ليس فيه شيء بغير العربية. وقال أبو عبيدة. من زعم أن في القرآن لساناً سوى العربية فقد أعظم على الله القول، واحتجّ بقوله: إِنَّا جَعَلْناهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا  . وروي عن ابن عباس، ومجاهد، وعكرمة أن فيه من غير لسان العرب، مثل: «سجيل» و «المشكاة» و «اليم» و «الطور» و «أباريق» و «إِستبرق» وغير ذلك. وقرأت على شيخنا أبي منصور اللغوي قال: قال أبو عبيد: وهؤلاء أعلم من أبي عبيدة، ولكنهم ذهبوا إِلى مذهب، وذهب هو إِلى غيره، وكلاهما مصيب إِن شاء الله، وذلك أن هذه الحروف بغير لسان العرب في الأصل، فقال: أولئك على الأصل، ثم لفظت به العرب بألسنتها فعربته فصار عربياً بتعريبها إِياه، فهي عربية في هذه الحالة، أعجمية الأصل، فهذا القول يصدِّق الفريقين جميعاً

Ulama berselisih apakah dalam Al Qur’an terdapat kata yang bukan bahasa arab atau tidak?, madzhab kami mengatakan tidak ada sedikit pun kata asing, Abu Ubaid berkata : “barangsiapa yang mengklaim dalam Al Qur’an terdapat kata selain bahasa arab, maka ia telah berbuat sesuatu yang besar dihadapan Allah, sesuai dengan Firman-Nya : “sesungguhnya kami menjadikan kitab ini bacaan yang berbahasa Arab”. Continue Reading PENDAPAT ULAMA TENTANG KATA ASING DALAM AL QUR’AN (1)…

Advertisements

AL QUR’AN MENGGUNAKAN BAHASA ARAB YANG JELAS (1)

August 28, 2015 at 11:32 pm | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

DALIL-DALIL TURUNNYA AL QUR’AN MENGGUNAKAN BAHASA ARAB

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan sebuah kitab kepada Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam dengan bahasa yang digunakan kaum Nabi-Nya pada waktu itu, yaitu bahasa Arab. Sekurang-kurangnya ada 10 tempat dalam Al Qur’an yang menegaskan bahwa Kitab ini diturunkan menggunakan bahasa Arab. Ayat tersebut adalah :

  1. Yusuf (12) ayat ke-2 :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

  1. Ar-Ra’du (13) ayat ke-37 :

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.

  1. An Nahl (16) ayat ke-103 :

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. Continue Reading AL QUR’AN MENGGUNAKAN BAHASA ARAB YANG JELAS (1)…

FIQIH ABSATH IMAM ABU HANIFAH (2)

August 28, 2015 at 10:13 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Fiqih al-Absath (hal 3-6)

FIQIH ABSATH IMAM ABU HANIFAH (1)

August 27, 2015 at 10:13 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

Fiqih al-Absath (hal 1-3)

BERSUCI DENGAN AIR ZAM ZAM

August 20, 2015 at 1:11 am | Posted in fiqih | Leave a comment

BERSUCI DENGAN AIR ZAM ZAM

 

Air Zam Zam yang terletak di Mekkah adalah air yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi kaum Muslimin. Air tersebut adalah air yang memiliki berkah, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Sesungguhnya air zam zam adalah air yang berkah, dan ia dapat berfungsi seperti makanan (HR. Muslim). Continue Reading BERSUCI DENGAN AIR ZAM ZAM…

ADAB-ADAB BERTETANGGA

August 18, 2015 at 12:05 am | Posted in Nasehat | 1 Comment

ADAB-ADAB BERTETANGGA

 

Sebagai makhluk sosial, manusia mau tidak mau akan hidup bersama dalam sebuah komunitas masyarakat. Sehingga dalam interaksinya dengan tetangga kanan-kirinya, dibutuhkan sebuah akhlak atau adab yang melanggengkan kehidupan sehari-harinya. Islam sebagai agama paripurna telah memberikan bimbingan yang sangat jelas terkait masalah ini, dan pendekatan yang digunakan adalah bahwa melaksanakan adab-adab bertetangga merupakan bagian dari keimanan. Jadi Islam memotivasi umatnya agar hidup bertetangga dengan menerapkan adab-adab yang tinggi sebagai ‘Ibaadur Rokhman, dan atas semua perbuatannya yang baik dengan tetangga akan mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan di akhirat.

Begitu agungnya hak tetangga atas kita, sampai-sampai Jibril alaihi salam sebagai Malaikat pembawa wahyu kepada Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam, berulangkali mewasiatkan kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam agar berbuat baik kepada tetangga, tentunya Jibril alaihi salam melakukan hal tersebut atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga penunaian hak-hak tetangga merupakan ajaran syariat yang agung. Nabi mengungkapan permasalahan ini dengan perumpaman yang sangat gamblang, seolah-olah perintah berbuat baik kepada tetangga, menjadikan tetangga kita kedudukannya seperti saudara kandung atau karib kerabat dekat yang berhak atas warisan kita. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku terkait hak tetangga, sampai aku mengira tetangga akan mewarisi (Muttafaqun ‘alaih).

Continue Reading ADAB-ADAB BERTETANGGA…

MIMBAR KUTBAH LEBIH DARI 3 TINGKAT BID’AH?

August 17, 2015 at 5:53 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MIMBAR KUTBAH LEBIH DARI 3 TINGKAT BID’AH?

 

Imam Al Albani tegas mengatakan bahwa Mimbar yang lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah, beliau berkata dalam Ashlu Sifat Sholat Nabi (1/113 –pen. Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh) :

هذا هو السنة في المنبر؛ أن يكون ذا ثلاث درجات، لا أكثر، والزيادة عليها بدعة أمَوِيَّة

Ini adalah Sunnah dalam mimbar, yaitu memiliki 3 tingkat, tidak lebih. Dan menambah lebih dari 3 tingkat adalah Bid’ahnya Bani Umayyah.

Bahkan ketika dikonfirmasi ulang oleh muridnya, Imam Al Albani tetap berpendapat bid’ahnya tambahan mimbar lebih dari 3 tingkat, dalam website http://albanyimam.com/play.php?catsmktba=13007# dinukil Tanya jawab beliau dengan salah satu muridnya :

الحلبي : ذكرتم في صفة صلاة النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم أنّ الزّيادة في المنبر عن ثلاث درجات بدعة نرجو بيان ذلك ؟

الشيخ : ما يحتاج الأمر إلى بيان لأنّ منبر الرّسول عليه السّلام كان له ثلاث درجات فقط و الزّيادة على ما كان عليه الرّسول عليه السّلام من الهدى والنّور في مثل هذه الأمور يدخل في باب ( كلّ بدعة ضلالة و كلّ ضلالة في النّار )

Al-Halabiy : “engkau menyebutkan dalam sifat sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa tambahan pada mimbar lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah. Kami mohon penjelasan terhadap masalah ini? Continue Reading MIMBAR KUTBAH LEBIH DARI 3 TINGKAT BID’AH?…

MENGAMBIL PENDAPAT YANG PALING RINGAN YANG TERCELA

August 14, 2015 at 11:50 pm | Posted in Nasehat | Leave a comment

MENCARI KERINGANAN-KERINGANAN DARI KETERGELINCIRAN ULAMA ADALAH PERBUATAN ORANG ZINDIK

 

Para ulama telah bersepakat bahwa tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk sengaja mencari keringanan-keringanan dalam syariat dari pendapat-pendapat para ulama yang lemah. Asy-Syaikh as-Safaariniiy (w. 1188 H) dalam Lawaamiul Anwaar Bahiyyah (2/466 –pen. Muasasah al-Haafiqiin) menukil perkataan beberapa ulama terkait mencari-cari rukhsoh :

قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: لَا يَجُوزُ لِلْعَامِّيِّ تَتَبُّعُ الرُّخَصَ إِجْمَاعًا. وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: لَوْ أَنَّ رَجُلًا عَمِلَ بِكُلِّ رُخْصَةٍ؛ يَعْمَلُ بِمَذْهَبِ أَهْلِ الْكُوفَةِ فِي النَّبِيذِ، وَأَهْلِ الْمَدِينَةِ فِي السَّمَاعِ، وَأَهْلِ مَكَّةَ فِي الْمُتْعَةِ لَكَانَ فَاسِقًا. وَقَالَ مَعْمَرٌ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا يَأْخُذُ بِقَوْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فِي السَّمَاعِ – يَعْنِي الْغِنَاءَ – وَإِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ، وَبَقَوْلِ أَهْلِ مَكَّةَ فِي الْمُتْعَةِ وَالصَّرْفِ، وَبَقَوْلِ أَهْلِ الْكُوفَةِ فِي الْمُسْكِرِ؛ كَانَ أَشَرَّ عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى. وَقَالَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ: لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ – أَوْ قَالَ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ – اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

Imam Ibnu Abdil Bar berkata : ‘tidak boleh bagi orang awam mencari-cari rukhshoh, berdasarkan kesepakatan ulama’. Imam Ahmad berkata : ‘seandainya seseorang mengerjakan semua keringanan, mengambil keringanan madzhab ahlu kufah terkait nabiidz (minuman keras dari Kurma), madzhab Madinah terkait musik, madzhab Mekkah terkait nikah mut’ah, niscaya ia adalah seorang Fasik’. Ma’mar berkata : ‘seandainya seseorang mengambil keringanan ulama Madinah tentang musik dan berhubungan dengan istri lewat dubur, lalu mengambil pendapatnya ulama Mekkah tentang Mut’ah dan shorf, lalu berpegang dengan pendapatnya ulama Kufah tentanfg minuman keras, niscaya ia akan menjadi hamba Allah yang paling jelek’. Sulaiman at-Taimiy berkata : ‘seandainya ia mengambil keringanan seluruh ulama atau –beliau berkata : ‘semua ketergelinciran ulama- berarti ia telah mengumpulkan kejelekan seluruhnya’. Continue Reading MENGAMBIL PENDAPAT YANG PALING RINGAN YANG TERCELA…

SEJARAH PENULISAN ULUUMUL QUR’AN

August 12, 2015 at 12:19 am | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

SEJARAH PERKEMBANGAN ULUUMUL QUR’AN

 

Tatkala Al Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam,maka setiap Muslim yang ingin mendalami agamanya, mau tidak mau ia harus mempelajari ilmu-ilmu alat yang dapat menyampaikannya kepada apa yang diinginkan atau dimaksudkan Al Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk didalam mengarungi kehidupannya. Diantara ilmu yang harus dipelajarinya adalah apa yang dinamakan dengan Uluumul Qur’an.

Uluumul Qur’an adalah kumpulan dari pembahasan-pembahasan yang dapat menyampaikan kepada mempelajari Al Qur’an (Muhammad Bakr Ismail, Diroosat fii uluumil Qur’an, hal. 12 –Daarul Manar). Ilmu ini sebagaimana ilmu-ilmu alat lainnya, seperti ilmu mustholah hadits, ilmu ushul fiqih dan semisalnya tumbuh mula-mula bercampur dengan cabang-cabang ilmu lainnya, kemudian semakin berkembang sehingga menjadi cabang ilmu tersendiri.

Continue Reading SEJARAH PENULISAN ULUUMUL QUR’AN…

SHOLAT MENGGUNAKAN SANDAL DAN SEPATU

August 10, 2015 at 11:45 pm | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

Sholat Menggunakan Sandal dan Perintah Terkait Penggunaannya

Sifat sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam berikutnya adalah sholat menggunakan sandal. Imam Al Albani berkata (hal. 80) :

كان يقف حافيا أحيانا ومنتعلا أحيانا

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam terkadang sholat dengan bertelanjang kaki dan terkadang menggunakan sandal.

Al-Akh Ro’fat Haamid al-‘Adni telah membuat sebuah risalah terkait hukum penggunaan sandal dalam sholat yang dipublikasikan di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208190#, beliau berkata :

لصلاة في النعلين مختلف فيهما بين أهل العلم على قولين:
الأول: أنها جائزة ورخصة ،غير مستحبة،وهذا مذهب المالكية والشافعية .

Sholat menggunakan sandal para ulama berbeda pendapat dan ada 2 pendapat tentang hal ini :

  1. Diperbolehkan dan diberikan keringanan menggunakannya, bukan mustahab. Ini adalah pendapatnya Malikiyyah dan Syafi’iyyah

لمذهب الشافعي :
الصلاة في النعل الطهارة جائزة ويجوز المشي في المسجد بالنعل .المجموع (3 / 156)
وقال ابن رجب :وقال الشافعي – ونقلوه عنه – : أن خلع النعلين في الصلاة أفضل .فتح الباري (2 / 276)

Madzhab Syafi’I : sholat menggunakan sandal yang suci diperbolehkan dan boleh juga berjalan di Masjid menggunakan sandal (al-Majmu’ 3/156). Ibnu Rojab berkata : ‘Imam Syafi’I berkata : ‘melepas sandal dalam sholat lebih utama’ (Fathul Baari 2/276). Continue Reading SHOLAT MENGGUNAKAN SANDAL DAN SEPATU…

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: