Sholat dengan Berdiri dan Duduk dalam Sholat Lail

August 4, 2015 at 11:55 pm | Posted in Sifat Sholat Nabi antara Al Albani dengan Syafi'iyyah | Leave a comment

SIFAT SHOLAT NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM

ANTARA AL ALBANI DENGAN SYAFI’IYYAH

 

Sholat dengan Berdiri dan Duduk dalam Sholat Lail

 

Imam Al Albani berkata tentang tatacara sholat sunnah, terkait masalah al-Qiyaam (berdiri), kata beliau :

كان صلى الله عليه وسلم يصلي ليلا طويلا قائما وليلا طويلا قاعدا وكان إذا قرأ قائما ركع قائما وإذا قرأ قاعدا ركع قاعدا

Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah sholat malam yang panjang dengan berdiri dan pernah juga sholat malam yang panjang dengan duduk. Beliau sholallahu alaihi wa salam jika membaca dengan berdiri, maka ruku’-nya dengan berdiri juga dan Beliau jika membaca dengan duduk, maka ruku’-nya juga dengan duduk –selesai-.

Apa yang disebutkan oleh Imam Al Albani adalah variasi pertama dalam mengerjakan sholat lail (tahajud) yakni Beliau sholallahu alaihi wa salam terkadang melakukannya dengan duduk pada seluruh sholatnya.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (6/10 –cet. Daar Ihyaaut Turots) berkata ketika mengomentari hadits diatas :

فيه جواز النفل قاعدا مع القدرة على القيام وهو اجماع العلماء

Ini dalil bolehnya sholat sunnah dengan duduk, sekalipun mampu berdiri. Hal tersebut kesepakan para ulama –selesai-.

Imam Al Albani menukil perkataan Al Hafidz yang merupakan pendapat gurunya juga Imam al-‘Iroqi dalam al-Ashlu (1/104) :

بل كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يفعل هذا تارة، وهذا تارة؛ كما ذهب إليه الحافظ ابن حجر؛ تبعاً لشيخه الحافظ العراقي، وقد ذكر كلامه في ذلك الشوكاني في ” النيل ” (3/70 – 71)

Bahkan Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan sholat dengan berdiri pada satu kesempatan dan sholat lail dengan duduk pada kesempatan lain, sebagaimana pendapat Al Hafidz Ibnu Hajar yang mengikuti pendapat gurunya Al Hafidz al-‘Iroqiy. Ucapan ini disebutkan oleh asy-Syaukaniy dalam an-Nail (3/70-71) –selesai-.

Imam Al Albani berkata selanjutnya :

كان أحيانا يصلي جالسا فيقرأ وهو جالس فإذا بقي من قراءته قدر ما يكون ثلاثين أو أربعين آية قام فقرأها وهو قائم ثم ركع وسجد ثم يصنع في الركعة الثانية مثل ذلك

Beliau terkadang sholat dengan duduk, lalu membaca ayat dengan duduk. Ketika tersisa bacaannya sekitar 30 atau 40 ayat, Beliau berdiri, lalu melanjutkan sisa bacaannya dengan berdiri, kemudian Beliau rukuk (dengan berdiri) dan sujud. Pada rakaat kedua, Beliau melakukan hal yang sama.

Dalam al-Ashlu (1/105), Imam Al Albani menukil perkataan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari :

فِيهِ رَدٌّ عَلَى مَنِ اشْتَرَطَ عَلَى مَنِ افْتَتَحَ النَّافِلَةَ قَاعِدًا أَنْ يَرْكَعَ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا أَنْ يَرْكَعَ قَائِمًا وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَشْهَبَ وَبَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحُجَّةُ فِيهِ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ عَائِشَةَ فِي سُؤَالِهِ لَهَا عَنْ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِ كَانَ إِذَا قَرَأَ قَائِمًا رَكَعَ قَائِمًا وَإِذَا قَرَأَ قَاعِدًا رَكَعَ قَاعِدًا وَهَذَا صَحِيحٌ وَلَكِنْ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ مَنْعُ مَا رَوَاهُ عُرْوَةُ عَنْهَا فَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ كُلًّا مِنْ ذَلِكَ بِحَسَبِ النَّشَاطِ

Padanya terdapat bantahan bagi yang mempersyaratkan kepada orang yang sholatnya sunnahnya dengan duduk, agar ia ruku’ dengan duduk atau berdiri, ruku’nya harus berdiri. Pendapat ini dinukil dari Asyhab dan sebagian Hanafiyyah. Dalilnya adalah riwayat Imam Muslim dan selainnya dari jalan Abdullah bin Syaqiiq dari Aisyah rodhiyallahu anha terkait pertanyaan Abdullah bin Syaqiiq kepada Aisyah tentang sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam, didalamnya disebutkan jika Beliau membaca dengan berdiri, maka ruku’ dengan berdiri dan jika Beliau membaca dengan duduk, maka ruku’nya dengan duduk juga. Hadits tersebut shohih namun tidak mengharuskan bertentangan dengan apa yang diriwayatkan Urwah dari Aisyah rodhiyallahu anhu (hadits diatas). Maka dapat dikompromilan bahwa kedua tatacara sholat ini dapat dilakukan sesuai dengan kadar semangatnya.

Dari penjelasan Al Hafidz, dapat kita simpulkan bahwa Syafi’iyyah bersama dengan 2 madzhab lainnya (Malikiyyah dan Hanabilah) berpendapat sebagaimana hadits yang dinukil oleh Imam Al Albani diatas, bahwa boleh seseorang yang sholat sunnah dengan duduk, kemudian ketika sisa bacaannya 30 atau 40 ayat untuk berdiri melanjutkan sisa bacaannya, kemudian ia ruku’ dalam keadaan berdiri.

Kemudian imam Al Albani menyebutkan tatacara sholat dengan duduk, beliau berkata (hal. 79) :

كان يجلس متربعا

Nabi sholallahu alaihi wa salam biasanya duduk dengan bersila.

Dalam madzhab Syafi’i sendiri ada dua pendapat tentang tatacara duduk ini. Imam al-Maawardiy (w. 450 H) dalam al-Hawi Kabiir (2/197 –pen. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut) menukil perkataan Imam Syafi’i :

قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” وَكُلُّ مَنْ لَمْ يُطِقِ الْقِيَامَ إِلَّا بِمَشَقَّةٍ غَيْرِ مُحْتَمَلَةٍ صَلَّى الْفَرْضَ قَاعِدًا يَعْنِي: بِمَشَقَّةٍ غَلِيظَةٍ فَإِذَا أَرَادَ الصَّلَاةَ قَاعِدًا فَفِي كَيْفِيَّةِ قُعُودِهِ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا: مُتَرَبِّعًا، وَأَصَحُّهُمَا مُفْتَرِشًا

قَالَ الشَّافِعِيُّ: لِأَنَّ الْقُعُودَ مُتَرَبِّعًا يُسْقِطُ الْخُشُوعَ، وَيُشْبِهُ قُعُودَ الْجَبَابِرَةِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْمُصَلِّي امْرَأَةً فَالْأَوْلَى أَنْ تَتَرَبَّعَ فِي قُعُودِهَا، لِأَنَّ ذَلِكَ أَسْتَرُ لَهَا

Setiap orang yang tidak mampu untuk berdiri, kecuali alasan ketidakmampuannya tidak kuat, maka sholat fardhu dengan duduk, yaitu ketika ia memiliki alasan ketidakmampuan yang kuat. Maka jika ia hendak sholat dengan duduk, bagaimana cara duduknya?, ada dua pendapat, yang pertama dengan bersila dan yang rajih dengan iftirasy (seperti duduk tasyahud pertama).

Karena duduk dengan bersila dan menghilangkan kekhusyu’kan, menyerupai duduknya orang yang terpaksa. Dikecualikan bagi wanita, maka yang lebih utama untuk duduk dengan bersila, karena lebih menutupi dirinya.

Imam Abul Khoir (w. 558 H) dalam al-Bayaan fii madzhabis Syafi’I (2/443 –pen. Daarul Minhaj, Jeddah) pun berkata senada :

أحدهما: يقعد متربعًا؛ لما روت عائشة: «أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صلى متربعًا» .

والثاني: يقعد مفترشًا؛ لأن ذلك قعود العبادة، والتربع قعود العادة.

والذي يقتضي القياس: أن القولين في الاستحباب، لا في الوجوب. إذا ثبت هذا: فإن الجالس إذا أمكنه الركوع والسجود فعل ذلك.

Salah satunya cara duduk dengan bersila, karena diriwayatkan Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat dengan duduk bersila.

Yang kedua dengan duduk iftirasy, karena itu adalah duduk ibadah, sedang bersila adalah duduk kebiasaan.

Berdasarkan analogi, maka kedua pendapat diatas adalah dalam kesunahannya saja, bukan sesuatu yang wajib. Jika telah tetap seperti itu, maka jika duduknya memungkinkan untuk ruku’ dan sujud, silakan lakukan demikian.

Dalam al-Ashlu (1/107), Imam Al Albani menukil penjelasan Imam Syaukani dalam Nailul Author (3/71) :

قال الشوكاني (3/71) : ” والحديث يدل على أن المستحب لمن صلى قاعداً أن يتربع، وإلى ذلك ذهب أبو حنيفة، ومالك، وأحمد، وهو أحد القولين للشافعي، وذهب الشافعي في أحد قوليه إلى أنه يجلس مفترشاً، كالجلوس بين السجدتين، وحكى صاحب ” النهاية ” عن بعض الحنفيين أنه يجلس متوركاً؛ قال: وهذا الخلاف إنما هو في الأفضل، وقد وقع الاتفاق على أنه يجوز له أن يقعد على أي صفة شاء من القعود “.

Hadits diatas menunjukkan bahwa disunahkan bagi orang yang sholat dengan duduk untuk duduknya dengan bersila, ini adalah pendapatnya Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan salah satu pendapatnya Syafi’i. dalam salah satu pendapatnya yang lain, Syafi’I berpendapat untuk duduk iftirasy, seperti duduk diantara dua sujud.

Dinukil oleh penulis an-Nihaayah dari sebagian hanafiyyah bahwa duduknya dengan tawaruk (seperti duduk tasyahud akhir-pent.).

Perselisihan ini, hanyalah dalam masalah keuatamaannya saja, karena telah terjadi kesepakatan bolehnya duduk dengan cara duduk mana saja yang dikehendakinya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: