MIMBAR KUTBAH LEBIH DARI 3 TINGKAT BID’AH?

August 17, 2015 at 5:53 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MIMBAR KUTBAH LEBIH DARI 3 TINGKAT BID’AH?

 

Imam Al Albani tegas mengatakan bahwa Mimbar yang lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah, beliau berkata dalam Ashlu Sifat Sholat Nabi (1/113 –pen. Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh) :

هذا هو السنة في المنبر؛ أن يكون ذا ثلاث درجات، لا أكثر، والزيادة عليها بدعة أمَوِيَّة

Ini adalah Sunnah dalam mimbar, yaitu memiliki 3 tingkat, tidak lebih. Dan menambah lebih dari 3 tingkat adalah Bid’ahnya Bani Umayyah.

Bahkan ketika dikonfirmasi ulang oleh muridnya, Imam Al Albani tetap berpendapat bid’ahnya tambahan mimbar lebih dari 3 tingkat, dalam website http://albanyimam.com/play.php?catsmktba=13007# dinukil Tanya jawab beliau dengan salah satu muridnya :

الحلبي : ذكرتم في صفة صلاة النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم أنّ الزّيادة في المنبر عن ثلاث درجات بدعة نرجو بيان ذلك ؟

الشيخ : ما يحتاج الأمر إلى بيان لأنّ منبر الرّسول عليه السّلام كان له ثلاث درجات فقط و الزّيادة على ما كان عليه الرّسول عليه السّلام من الهدى والنّور في مثل هذه الأمور يدخل في باب ( كلّ بدعة ضلالة و كلّ ضلالة في النّار )

Al-Halabiy : “engkau menyebutkan dalam sifat sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa tambahan pada mimbar lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah. Kami mohon penjelasan terhadap masalah ini?

Syaikh menjawab : “masalah ini tidak butuh penjelasan, karena mimbar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memiliki 3 tingkat saja, sehingga menambahkan apa yang Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam telah memberinya petunjuk dan cahaya dalam perkara seperti ini, masuk kedalam bab “setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”.

Sebelum beliau, Al Hafidz Ibnu Rojad dalam Fathul Bari (8/242 –Maktabah Darul Haromain, Kairo) sebagaimana dinukilkan oleh ikhwan di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-13007.html telah menyebutkan beberapa ulama yang mengatakan bid’ahnya mimbar lebih dari ukuran seharusnya, beliau berkata :

والصحيح: أن المنبر كانَ ثلاث مراق، ولم يزل على ذَلِكَ في عهد خلفائه الراشدين، ثُمَّ زاد فيهِ معاوية. وقد عد طائفةٌ من العلماء: تطويل المنابر من البدع المحدثة، منهم: ابن بطة من أصحابنا وغيره. وقد روي في حديث مرفوع: أن ذَلِكَ من أشراط الساعة، ولا يثبت إسناده. وكره بعض الشافعية المنبر الكبير جداً، إذا كانَ يضيق به المسجد.

Yang shahih bahwa mimbar itu adalah 3 tingkat, hal tersebut terus berlangsung semenjak masa Khulaur Rosyidin, kemudian ditambahi oleh Mu’awiyyah Rodhiyallahu ‘anhu. Sebagian ulama menganggap menambah mimbar adalah bid’ah, diantara mereka adalah Ibnu Bathoh dari madzhab kami dan selainnya. Telah diriwayatkan dalam hadits marfu’ bahwa hal tersebut adalah diantara tanda kiamat, namun tidak shahih sanadnya. Sebagian Syafi’iyyah memakruhkan mimbar jika sangat besar, dimana masjidnya sempit.

Namun sebagian ulama memandang bahwa permasalahan 3 tingkat mimbar bukan perkara Ta’abudiyyah, hanya perkara mubah dan melihat kepada kebutuhannya. Hal ini dikatakan oleh asy-Syaikh Musthofa al-‘Adawiy dalam pelajarannya Syarah Kitab Bid’ul Wahyu min Shahih Bukhori. Dalilnya kata beliau adalah pada awalnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkhutbah di atas batang Kurma, kemudian ada salah seorang sahabat yang menawarkan untuk membuatkan mimbar yang dipakai oleh Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk berkhutbah.

Imam Syafi’I dalam kitabnya al-Umm (1/228-229 –pen. Daarul Ma’rifah, Beirut) menyebutkan tentang kisah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkhutbah diatas batang Kurma, kemudian salah seorang sahabat Beliau menawarkan untuk membuat mimbar, maka Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam pun menyetujuinya, kemudian dibuatkan mimbar dengan 3 tingkat yang senantiasa Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam gunakan untuk berkhutbah di masjid Beliau. Oleh karena itu, Imam Syafi’I memahami bahwa tingkatan mimbar ini bukan perkara Ta’abudiyyah, beliau berkata dalam kitabnya diatas (1/229) :

فَبِهَذَا قُلْنَا لَا بَأْسَ أَنْ يَخْطُبَ الْإِمَامُ عَلَى شَيْءٍ مُرْتَفِعٍ مِنْ الْأَرْضِ وَغَيْرِهَا

Oleh karenanya kami katakana, tidak mengapa seorang Imam berkhutbah di suatu tempat yang tinggi dari permukaan bumi atau semisalnya.

Barangkali atas hal ini, al-‘Alamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Rahimahullah, tidak berani untuk mengatakan bid’ah mimbar yang lebih dari 3 tingkat, beliau berfatwa :

لا نستطيع أن نطلق عليها بدعة ؛ من حيث أن امرأة هي التي أمرت غلامها أن يصنع لرسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – فصنعه ثلاث درج ، فأُتي إلى النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – .

لكن نقول : إن ثلاث درج هي الأفضل والأكمل لأن الله اختارها لنبيه محمد – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – ، وأقرها أيضاً النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – ، فالسنة قولٌ وفعلٌ وتقرير .

فلو زاد بحيث لا يقطع الصفوف ، بعض المنابر يقطع صفاً أو صفين ، فلا يقطع الصفوف ، فلو زاد على الثلاث لا نستطيع أن نقول أنه بدعة ، لكننا ننصح بثلاث درج ؛ لأنه هو الذي اختاره الله لنبيه محمد – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – ، وأقره النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – .

Kami tidak mampu untuk memutlakkan hal tersebut sebagai bid’ah, karena wanita yang memerintahkan budaknya untuk membuat mimbar 3 tingkat untuk Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu dihadiahkan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Namun kami katakana sesungguhnya 3 tingkat adalah yang paling utama dan paling sempurna, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah memilihkan untuk Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam, dan disetujui juga oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka ini adalah sunnah qoul, fi’il dan taqriir.

Seandainya ditambahkan tingkatannya yang tidak sampai memutus shof, karena sebagian mimbar memutus 1 sampai 2 shoff-, maka kami tidak mampu untuk mengatakan itu bid’ah, namun kami menasehatkan dengan 3 tingkat, karena ini adalah pilihan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan disetujui oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam (http://www.djelfa.info/vb/archive/index.php/t-1675660.html#).

Bahkan secara khusus asy-Syaikh al-Muhaddits as-Sa’ad menyanggah pendapat yang mengatakan bahwa jumlah mimbar adalah Ta’abudiyyah, beliau berkata sebagaimana dinukil oleh salah seorang ikhwan :

ملاحظات الشيخ السعد كتاب الأسئلة الجامعة المقصد من المنبر إن يراه الناس فالنبي صلى الله عليه وسلم صعد الصفا وخطب وخطب على الدابه ولا شك ان الدابة أعلى من المنبر اننا لسنا متعبدين بعدد الدرجات والا كم مقدار كل درجة

Syaikh as-Sa’ad memberikan catatan terhadap kitab as’ilah Jamiah : “maksud dari mimbar adalah agar dapat dilihat manusia (ketika berkhutbah –pent.), maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah naik Shofa untuk berkhutbah dan pernah berkhutbah diatas hewan tunggangannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hewan tunggangan lebih tinggi dari mimbar. Sesungguhnya kita tidak beribadah dengan jumlah mimbar, jika seperti itu, maka berapa ukuran setiap tingkatnya” (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-53508.html).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: