ADAB-ADAB BERTETANGGA

August 18, 2015 at 12:05 am | Posted in Nasehat | 1 Comment

ADAB-ADAB BERTETANGGA

 

Sebagai makhluk sosial, manusia mau tidak mau akan hidup bersama dalam sebuah komunitas masyarakat. Sehingga dalam interaksinya dengan tetangga kanan-kirinya, dibutuhkan sebuah akhlak atau adab yang melanggengkan kehidupan sehari-harinya. Islam sebagai agama paripurna telah memberikan bimbingan yang sangat jelas terkait masalah ini, dan pendekatan yang digunakan adalah bahwa melaksanakan adab-adab bertetangga merupakan bagian dari keimanan. Jadi Islam memotivasi umatnya agar hidup bertetangga dengan menerapkan adab-adab yang tinggi sebagai ‘Ibaadur Rokhman, dan atas semua perbuatannya yang baik dengan tetangga akan mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan di akhirat.

Begitu agungnya hak tetangga atas kita, sampai-sampai Jibril alaihi salam sebagai Malaikat pembawa wahyu kepada Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam, berulangkali mewasiatkan kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam agar berbuat baik kepada tetangga, tentunya Jibril alaihi salam melakukan hal tersebut atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga penunaian hak-hak tetangga merupakan ajaran syariat yang agung. Nabi mengungkapan permasalahan ini dengan perumpaman yang sangat gamblang, seolah-olah perintah berbuat baik kepada tetangga, menjadikan tetangga kita kedudukannya seperti saudara kandung atau karib kerabat dekat yang berhak atas warisan kita. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku terkait hak tetangga, sampai aku mengira tetangga akan mewarisi (Muttafaqun ‘alaih).

Oleh karena itu, seorang Muslim yang baik adalah mereka yang mampu berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan adab-adab islami. Terhadap mereka-mereka inilah, bagi seseorang yang sedang mencari tempat tinggal untuk menentukan pilihannya, yakni hendaknya ketika ia memutuskan tinggal di suatu tempat, ia perlu mempertimbangkan tetangga kanan-kirinya, tetangga yang sholih akan menyebabkan kehidupannya menjadi bahagia. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

Diantara kebahagian seorang Muslim adalah memiliki tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih dan kendaraan yang menyenangkan (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod, Shahih Ibnu Hibban dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Kemudian berikut akan kami sebutkan beberapa adab-adab bertetangga yang disarikan dari syariat Islam yang mulia :

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga secara umum, Firman-Nya :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An Nisaa’ : 36).

Imam Qurthubi dalam Tafsirnya mengomentari perintah Allah untuk berbuat baik kepada tetangga kata beliau (5/183) :

أَمَّا الْجَارُ فَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِحِفْظِهِ وَالْقِيَامِ بِحَقِّهِ وَالْوَصَاةِ بِرَعْيِ ذِمَّتِهِ فِي كِتَابِهِ وَعَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ. أَلَا تَرَاهُ سُبْحَانَهُ أَكَّدَ ذِكْرَهُ بَعْدَ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

Adapun tetangga maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan untuk menjaganya, menunaikan hak-haknya, dan berwasiat untuk menjaga dzimahnya dalam kitab-Nya melalui lisan Nabi-Nya. Bukankah engkau melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan penyebutannya setelah (perintah berbuat baik) kepada kedua orang tua dan karib kerabat.

  1. Hendaknya ia menjadikan timbangan dirinya secara adil dalam berinteraksi dengan tetangga, jika suatu perbuatan menyenangkan pada dirinya, maka demikianlah yang ia harus perbuat kepada tetangganya, sebaliknya jika suatu perbuatan tidak memberikan rasa nyaman kepada dirinya, maka hendaknya jangan ia lakukan kepada tetangganya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ – أَوْ قَالَ: لِأَخِيهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang hingga ia mencintai untuk tetangganya –atau untuk saudaranya- sebagaimana ia mencintai untuk dirinya (HR. Muslim).

  1. Tidak memberikan gangguan kepada tetangga baik dengan ucapan maupun perbuatannya yang menyakitkan. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya (Muttafaqun ‘alaih).

Barangkali diantara perkara yang dapat mengganggu tetangganya adalah ketika ia memasak atau membawa makanan yang memiliki bau yang menyebabkan tetangganya akan merasa terganggu, entah karena alergi dengan bau tersebut atau karena tidak sukanya dengan bau tersebut, terutama bagi seorang Muslim yang tempat tinggalnya sangat berdekatan dengan tetangganya, seperti di apartemen, rumah kontrakan atau semisalnya.tau karena tidak sukanya dengan bau tersebut,bab

  1. Sabar dalam menghadapi kejelekan tetangga. Berbuat baik kepada tetangga yang berbuat baik kepada kita adalah suatu amalan yang mungkin akan mudah bagi kita. namun jika –qodarullah- kita memiliki tetangga yang akhlaknya buruk, tentu berbuat baik kepadanya akan sulit diterima oleh jiwa kita. namun syariat tetap menganjurkan agar kita tidak membalas perbuatan buruk tetangga, dengan perbuatan buruk juga, yang perlu dikedepankan adalah membalasnya dengan berbuat baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (QS. Fushshilat : 34).

Dan pada kesempatan ini kami ingatkan bahwa seseorang yang berbuat jelek kepada tetangganya, akan mendapatkan siksa yang keras dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pernah ditanyakan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun malam dan berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti tetangganya melalui ucapan.” Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan baginya, dan dia termasuk penghuni neraka.” Kemudian para sahabat berkata, “Ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib, berseedekah dengan susu yang dikeringkan dan dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari tetangganya.” Maka Rasulullah menajwab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari) (http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/menuai-pahala-dalam-hidup-bertetangga.html#).

  1. Membagi makanan kepada tetangga, terlebih lagi jika tetangganya adalah orang yang miskin. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

Tidaklah beriman seseorang yang dalam kondisi kekenyangan, sedangkan tetangganya dalam kondisi lapar (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam kesempatan lain Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا طَبَخَ أَحَدُكُمْ قِدْرًا فَلْيُكْثِرْ مَرَقَهَا ثُمَّ لْيُنَاوِلْ جَارَهُ مِنْهَا

Jika kalian masak, perbanyaklah kuahnya, lalu bagikan kepada tetangga kalian (HR. Thabrani dalam Mu’jam Ausath, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Mengizinkan tetangga untuk memasang kayu di tembok rumahnya, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

لاَ يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ

Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk memasang kayu (misalnya sebagai atap rumahnya-pent.) menempel tembok rumahnya (Muttafaqun ‘alaih).

  1. Dan kebaikan-kebaikan lainnya baik secara umum maupun secara khusus kepada tetangga, seperti ikut larut dalam kegembiraan ketika tetangga mendapatkan kebahagian atau nikmat dari Allah dan turut berduka cita ketika tetangga tertimpa musibah, membantu meminjamkan uang atau memberikan uang ketika tetangga membutuhkan dan ada keluangan rizki, membantu acara-acara tetangga selama tidak bertentangan dengan syariat dan lain sebagainya.

Yang jelas syariat Islam memberikan perhatian yang lebih kepada adab-adab bertetangga, dimana keimanan seseorang akan menjadi sempurna dengan makin sempurnanya ia didalam menunaikan hak-hak bertetangga. Sebagian ulama menyebutkan siapa yang dimaksud dengan tetangga, atau sampai sejauh mana cakupan keluasan tetangga. Asy-Syaikh DR. Abdul Aziz bin Fauzan al-Fauzan, setelah beliau menyebutkan pendapat para ulama terkait batasan tetangga, kemudian beliau merajihkan bahwa yang dimaksud dengan tetangga adalah :

والراجح أن حد الجوار يرجع فيه إلى العرف، لأن القاعدة الشرعية تقول: كل ما ورد به الشرع مطلقًا، ولا ضابط له فيه، ولا في اللغة، يرجع فيه إلى العرف.

وعلى هذا فما اعتبره العرف جارًا فإنه جار، له حق الجوار من الإكرام وبذل الندى وكف الأذى ونحو ذلك.

Yang rajih bahwa batasan tetangga dikembalikan kepada Urf (kebiasaan masyarakat), karena kaedah syariah berbunyi : “setiap apa yang datang dalam syariat secara mutlak, tidak ada batasannya dan juga dalam bahasa, maka dikembalikan kepada Urf”.

Berdasarkan ini, maka apa yang Urf menganggap itu adalah tetangga, maka ia memiliki hak tetangga untuk dimuliakan, berbuat baik kepadanya dan menahan diri dari berbuat jahat kepadanya

(http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=5730).

 

Artikel ini banyak menyadur dari tulisan Abdul Aziz bin Fathi Nida di http://www.denana.com/main/articles.aspx?article_no=2146&pgtyp=66#

 

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bagus nih artikel! akhirnya aku tahu bagaimana kita bertetangga dengan baik? terimakasih ilmunya. 🙂

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: