NABI MUSA ALAIHI SALAM TIDAK FASIH?

September 5, 2015 at 3:36 am | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

NABI MUSA ALAIHI SALAM TIDAK FASIH?

 

Para Rasul diperintahkan untuk berdakwah kepada kaumnya agar senantiasa beribadah hanya kepada Allah saja. Tentunya Rasul yang diutus kepada mereka adalah dengan bahasa kaumnya agar dapat dimengerti oleh objek dakwahnya. Nabi Musa alaihi salam, yang sekaligus juga Rasul, Allah utus kepada Bani Isroil untuk mengajak mereka menempuh agama yang hak dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah utus juga kepada Fir’aun, penguasa pada waktu itu yang berbuat dholim dan mengaku dirinya tuhan, yang wajib disembah oleh rakyatnya.

Namun ketika perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala datang kepada Nabi Musa alaihi salam untuk berdakwah kepada Fir’aun, beliau memohon kepada Allah untuk mengangkat saudaranya Harun, dan juga beliau memohon kepada Allah agar dilancarkan ucapannya. Allah abadikan permohonan Nabi Musa alaihi salam dalam Firman-Nya :

ذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (24) قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28) وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (29) هَارُونَ أَخِي (30) اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (31) وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (32) كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا (33) وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (34) إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا (35)

Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thoha : 24-35).

Para ulama tafsir ketika menyebutkan alasan Nabi Musa alaihi salam berdoa untuk dilepaskan kekakuan lidahnya, adalah karena Beliau cedal. Hal ini diakibatkan kejadian pada waktu beliau masih anak kecil, pernah menarik janggut Fir’aun, -dimana setelah Ibu Nabi Musa melahirkannya, atas perintah Allah membawa anaknya ke sungai, agar tidak dibunuh oleh tentara Fir’aun yang mengumumkan bahwa barangsiapa dari kalangan Bani Isroil yang melahirkan anak laki-laki akan dibunuh, kemudian –Qodarullah- bayi tersebut ditemukan oleh kerabat raja Fir’aun, kemudian atas permintaan istri Fir’aun –Aasiyah- bayi tersebut dipelihara dibawah naungan keluarga Fir’aun-. Akibat janggutnya ditarik Musa kecil, Fir’aun naik pitam, karena berfirasat bahwa kelak anak kecil ini akan menjadi musuhnya, dan sangat bernafsu untuk membunuhnya. Namun istri Fir’aun menghalangi niat suaminya, dan mengatakan bahwa dia anak kecil yang belum berakal, untuk membuktikan hal tersebut, maka Musa kecil diuji dengan kurma dan bara api, kemudian umumnya anak kecil menyukai sesuatu yang bercahaya, sehingga Musa kecil memakan bara, yang mengakibatkan lidahnya kelu.

Sanad kisah diatas telah disebutkan dalam artikel yang dipublikasikan oleh http://www.eltwhed.com/vb/showthread.php?28893. Kesimpulan dari sanad yang disebutkan, bahwa kisah ini bermuara dari cerita Ibnu Abbas –rodhiyallahu anhu- dan beliau biasa mengambil cerita dari Bani Isroil, sehingga kisah ini merupakan Isroiliyyat. Dan kaedah yang masyhur kisah bani Isroil tidak dibenarkan dan tidak didustakan, sebagaimana dalam hadis Bukhori :

لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ

Janganlah kalian membenarkan atau mendustakan (cerita) ahlu kitab.

Sehingga jika tidak ada pembenaran atau pendustaan dari syariat kita, maka statusnya adalah kita tawaquf.

Namun kelihatannya ada isyarat dari syariat kita yang mendustakan kisah Isroiliyyat diatas, sebagaimana diisyaratkan oleh guru kita asy-Syaikh DR. Fathi al-Hijaziy dalam pelajarannya Kitab al-Iidhoh, menegaskan bahwa Nabi Musa adalah fasih, dengan bukti dalam Firman Allah lainnya :

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku (QS. Al Qoshshoh : 34).

Kata asy-Syaikh penggunaan kata Afshohu, dengan sighot Tafdhiil (penyangatan) menunjukkan bahwa Nabi Musa alaihi salam fasih, hanya saja Harun alaihi salam lebih fasih darinya. Jadi dalam ayat diatas terdapat dalil bahwa Nabi Musa alaihi salam fasih tidak cedal, sebagaimana kisah Isroiliyat yang banyak dinukil ulama tafsir, hanya saja Beliau butuh teman perjuangan dalam menghadapi Fir’aun yang kata-katanya lebih fasih, sehingga dapat menyentuh hati Fir’aun, dengan harapan Fir’an mau berubah ke jalan yang benar, sekalipun pada kenyataannya Fir’un mati dalam kekafiran dan permusuhan terhadap agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: